
"Pak, tolong aku pak!"
Ternyata ada seorang anak remaja terperangkap di dalam lubang besar.
"Oouuww... Iya, kamu tenang ya nak. Bapak pasti membantumu!"
Samuel meletakkan tas ranselnya di sembarang tempat, karena ia terburu-buru untuk menolong anak yang terperangkap di lubang besar itu. Samuel mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai alat untuk membantu anak itu keluar daru lubang besar itu.
"Sebentar, kamu tenang ya nak!" entah kenapa Samuel merasa senang dan dekat dengan anak yang ada di lubang besar itu. Wajah anak itu mirip sekali dengan Ismail. Anaknya Nisya.
"Ini, pegang lah yang kuat!" Samuel menjulurkan kayu kecil tapi panjang kepada si anak remaja, yang menurutnya sangat kuat untuk menarik anak remaja itu.
"I, iya pak!" si anak, yang Samuel tidak ketahui namanya itu memegang kuat kayu itu.
"Iya, kamu pasti bisa..!" teriak Samuel dengan semangat, sambil menarik anak itu agar keluar daei lubang besar itu.
"Iya pak..!" Si anak membuat dinding lubang besar, Sebagai landasan untuk berpijak. "Aauuww..!" Ia terpleset, dan kembali mendarat di dasar lubang besar itu.
"Kamu baik-baik saja nak?" Samuel tersenyum tipis pada remaja itu. "Ayo coba lagi, Kamu pasti bisa!" ia condong kan tangannya ke arah si anak memberikan semangat.
"Saya baik-baik saja pak!" sahut si anak, bangkit lagi, dan meraih kayu panjang dan kecil itu.
"Kita coba lagi!" Samuel kembali menarik kuat kayu itu. Begitu juga dengan si anak berusaha keras untuk naik.
"Aaahhkk... Akhirnya....!" ujar Si anak ngos-ngosan, setelah mendarat.
__ADS_1
"Alhamdulillah..!" ujar Samuel tersenyum tipis menatap anak yang masih terlihat lelah itu. Dadanya masih naik turun, sepertinya ia sudah lama terperangkap di lubang besar itu.
"Koq bisa masuk lubang itu nak?" tanya Samuel menatap lekat si anak.
Si anak bangkit, sambil membersihkan tanah, daun daunan yang menempel di bajunya. "Gak hapal medan aku pak!" sahut si anak, yang sesekali melirik Samuel, yang kini berjalan untuk meraih tas ransel nya, yang tergeletak di semak-semak.
"Gak hapal medan? emang kamu bukannya orang kampung sebelah?" tanya Samuel, sambil menyandang tas ranselnya. Samuel beranggapan anak remaja di hadapannya, adalah anak petani kampung, yang cari kayu atau makanan di hutan.
"Gak pak, aku tinggal di hutan yang jauh di sana!"
Deg
Samuel terkejut mendengar penjelasan si anak, rasanya jantungnya mau copot saja. Karena hutan yang ditunjuk si anak adalah tempat nenek, Nisya dan Ismail tinggal dulu.
"Hu, hutan itu?" dengan tergagap Samuel menunjuk hutan yang ia akan tuju.
Samuel semakin dibuat jantungan mendengar ucapan si anak. Hatinya menduga duga saat ini. Tapi, tidak mungkin juga anak ini adalah anaknya Nisya. Mana mungkin Nenek dan Nisya kembali ke hutan.
"Aku tidak hapal jalan, Karena aku jarang ke sini. Ceeehh... Gara-gara aku ter perangkap di lubang itu, aku jadi telat. Lihatlah hari sudah hampir sore, padahal aku belum sampai di kampung, ke kota lagi!" keluh si anak sedih, ia sudah rapi dan siap-siap melanjutkan perjalanannya. "Terimakasih banyak ya pak!"
"Heeii.. Tunggu nak!" Samuel menahan tangan si anak, saat berbalik badan.
"Iya pak, maaf. Aku terburu-buru sekali. Sekali lagi aku ucapkan Terimakasih banyak!" sahut si anak sopan, ia mencoba melepaskan tangannya Samuel yang membelit pergelangan tangannya.
"Apakah namamu Ismail Nak?" tanya Samuel dengan penuh kehati-hatian. Ia tatap lekat si anak.
__ADS_1
Anak remaja itu dibuat heran dengan pertanyaan Samuel. Ia tatap Samuel dari kaki hingga kepala dengan penuh selidik. "I, iya pak. Namaku Ismail!"
Graapp..
Dalam satu tarikan, tubuh anak remaja itu kini sudah berada dalam pelukan nya. Ia peluk dengan erat Ismail, sambil mengecup puncak kepalanya. Samuel merasa terharu, orang-orang yang ia hindari selama ini, malah bertemu di tempat yang tidak sangka. Pria Itu tidak bisa menyembunyikan rasa haru, karena bahagianya. Air mata kini menggenang di pelupuk mata, tidka bisa untuk ditahan lagi. Ia terisak, sambil mengusap-usap lembut punggungnya Ismail.
Ismail jelas dibuat heran, dengan pria yang memeluknya ini. Ia pun berontak kecil, agar Samuel mengendurkan pelukannya. Samuel yang mengerti akan sikapnya Ismail. Akhirnya mengurai pelukannya itu. Dan ia buru-buru melap air matanya dengan jemarinya. Ia buang sejenak tatapannya, dari tatapan mata Ismail yang penuh selidik. Ia belum bisa tenang saat ini, Samuel masih emosional. Ia sangat senang, bisa bertemu Ismail di tempat itu.
"A, ayah...!"
Deg
Samuel putar lehernya cepat, tadi ia sempat membuang pandangan dari anak itu, karena ia malu saat menangis. Dipanggil dengan sebutan ayah tentu membuatnya heran, bingung dan tidak percaya. Sejak ia bertemu dengan Nisya di hutan, Samuel sempat yakin Ismail adalah anaknya. Tapi, Nisya tidak pernah bahas soal pemerkosa saan padanya, saat mereka sama-sama tinggal di hutan. Ternyata, Nisya mengalami amnesia. Pantas saja, Nisya tidak kenal Samuel waktu di hutan. Padahal Samuel lah yang melecehkan Nisya dengan bringasnya, dan dilempar ke hutan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tapi, mengetahui fakta Nisya adalah istrinya Fredy, membuat Samuel kembali tidak yakin, kalau Ismail adalah anaknya. Tapi, saat Ini anak di hadapannya memanggilnya Ayah. Berarti benar, Ismail adalah anaknya.
"A, Ayah Samsul...!" ujar Ismail dengan tergagap, ia tidak yakin dengan apa yang ia katakan sebenarnya. Karena, pria paruh baya yang ada di hadapannya sedikit kurus dan wajahnya penuh jambang. Sangat berbeda dengan foto yang selalu ia lihat selama ini. Foto Samuel yang ada padanya, wajahnya bebas dari jambang. Tubuhnya juga kekar berotot.
"I, iya, aku ini ayahmu. Ayah Samsul!" ujar Samuel dengan menangis sesenggukan. Sungguh saat ini, mereka sedang memerankan adegan yang mengharukan di tengah hutan belantara itu. Suara. bising burung, jangkrik dan hewan lainnya adalah sound latar yang indah saat pertemuan ayah dan anak itu.
Graaap...
Samuel kembali menarik Ismail dalam dekapannya. Ia kecupi seluruh wajah anak itu. Dari cara Ismail bicara. Ia yakin, Kalau selama ini Nisya menceritakan dirinya kepada anak mereka Ismail. Kenapa Ismail memanggilnya Samsul? Hanya Nenek dan Nisya yang tahu nama itu, karena saat Samuel masuk islam. Nenek mengganti namanya menjadi Samsul.
"Terima kasih Ya Allah... Ini karunia yang tidak terduga darimu." Ujar Samuel dengan bercucuran air mata, saat memeluk Ismail. Sehingga air matanya jatuh membasahi punggung anak itu. "Ya Allah... Terima kasih banyak!" bergetar hatinya Ismail, mendengar ucapan sang ayah yang penuh Syukur itu.
__ADS_1
***