
10 Tahun Kemudian
"Sudah sampai di terminal bapak, ibu. Bangun... Bangun...!" teriak seorang kernek dengan semangatnya. Membangunkan para penumpang yang memilih tidur selama perjalanan, yang berlangsung pada malam hari itu.
"Oohh.... Sudah sampai!" celutuk seorang pria muda, sambil mengucek kedua matanya. Setelah ia merasa nyawanya sudah terkumpul semua. Ia soroti bus yang ia tumpangi, dengan sesekali menguap. Terlihat para penumpang sudah turun dari bus, kecuali penumpang di sebelahnya, yang masih tertidur dengan tangan dilipat di dada.
"Pak, Pak Ustadz bangun...!" pria muda itu menggoyang lembut lengan pria yang duduk di sebelahnya. Tapi, pria itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda terbangun. "Pak, Pak Ustadz Samsul, bangun pak, kita sudah sampai di terminal!" seru pria itu lagi dengan suara yang lebih keras.
Pria yang bernama Samsul itu pun bangun, yang tidak lain adalah Samuel. "Oouuww.. Sudah sampai ya?" ujarnya ramah, ia soroti sekitar dengan melakukan peregangan tubuhnya. Samuel juga terlihat menguap beberapa kali.
"Ia pak, kalau bapak mau cepat ke kampung X. Ada trip angkutan jam 7 pagi itu pak.'' Jelas si pria muda pada Samuel, yang kini sudah mengganti namanya jadi Samsul.
Semalaman Samuel tidak bisa tidur diperjalanan, setelah berbincang-bincang dengan teman sebangkunya di bus. Di rest area terkahir bus berhenti, Samuel Masih sempat melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu Bus kembali melaju. Dan dia pun akhirnya tertidur.
" Iya dek, makasih ya!" sahut Samuel ramah pada pria muda di sebelahnya.
"Iya Pak Ustadz."
"Aku bukan ustadz dek!" sela Samuel cepat.
Si pemuda tersenyum tipis menatap Samuel yang nampak bingung dikatakan ustadz.
"Baru kali ini, aku lihat pak Ustadz gak mau dipanggil ustadz."
__ADS_1
"Aku memang bukan Ustadz Dek." Jelas Samuel lagi dengan tegas.
"Iya deh, baiklah aku duluan ya pak Ustadz." Pria muda itu pun melewati Samuel. Samuel memberikan akses keluar pada si pria.
"Apa orang yang berjambang, semuanya dipanggil Ustadz." Ujarnya sendiri dengan muka bingungnya. Samuel pun bersiap-siap turun dari Bus.
Tercatat sudah dalam sejarah, persidangan kejahatan seorang mafia kelas kakap berlangsung dengan singkat dan tenang. Sehingga persidangan kurang menantang. Tadinya media ingin melihat perlawanan sengit dari Samuel. Ternyata ia lebih banyak diam dan mengakui semua tuduhan kejahatan untuknya. Sikapnya yang kooperatif, jujur mengaku salah membuatnya hanya dihukum 10 tahun penjara.
Selama 10 tahun mendekam di penjara. Samuel menutup diri dari dunia luar. ia benar-benar fokus menjalani hukumannya. Dan melakukan penebusan dosa, dengan bertaubat. Bahkan ia menolak untuk bertemu dengan nenek serta Ismail dan anak buahnya yang masih setia kepadanya. Harta Samuel yang tersisa ia wakafkan, serta ia bagi-bagi pada kaum dhuafa.
Sejak Samuel diputus 10 tahun penjara, dirinya pun tidak pernah lagi mau diliput media. Bahkan ia tidak mau tahu tentang kehidupan Nisya, nenek dan Ismail. Ia melakukan itu, karena tidak mau sakit hati. Ia mencintai Nisya, dan sempat beranggapan Ismail adalah anaknya. Tapi, setelah mengetahui kenyataan bahwa Nisya benar-benar sudah menjadi istri Fredy. Ia pun menutup cerita tentang Nisya dan Ismail.
Samuel benar-benar dapat hidayah dari Allah SWT. Hatinya sangat istiqomah memeluk agama islam. Di penjara juga, ia sudah menjadi BKM mesjid. Ia juga dipercaya sebagai khatib saat sholat jumat dan sebagai penceramah diberbagai kesempatan. Tapi, ia tidak mau dipanggil sebagai ustadz. Walau penampilannya sekarang memang sudah sepeti kiyai, Samuel lebih senang memakai jubah dan sorban. Walau kadang memakai baju koko dan lobe. Sungguh transformasi yang sangat totalitas. Dari mafia berubah jadi seorang imam.
Huufftt...
10 tahun yang lalu, ia sebrangi sungai ini bersama Nisya, ismail dan nenek menuju kota. Dan setelah sampai di kota ia malah ditangkap polisi. Dan Sekarang, ia kembali lagi ke kampung ini. Ia akan masuk lagi ke hutan, kembali melanjutkan hidup di tempat tinggal si nenek dan Nisya dulunya.
Samuel akan tinggal di hutan itu. Ia sudah tidak ingin lagi hidup di keramaian yang penuh dengan drama. Di sisa hidupnya, akan ia gunakan beribadah kepada Allah. Dan menurut dia, kembali ke hutan, adalah hal yang membahagiakan. Ia akan mengenang masa-masa indah saat hidup bersama Nisya, nenek dan Ismail di hutan itu. Tidak bisa memiliki Nisya dan Ismail. Setidaknya, ia bisa mengingat kenangan indah bersama mereka dulu, di gubuk yang mereka tempati di hutan 10 tahun lalu.
"Bismillahirrahmanirrahim....!"
Mulut pria itu selalu melafazkan kalimat yang baik, setiap hendak melakukan sesuatu. Samuel mulai menyingsing kan celana, ia akan menyebarang sungai menuju hutan. 10 tahun berlalu ternyata, tidak ada perubahan yang banyak di kampung itu. Belum ada jembatan yang menghubungkan desa ke kebun warga. Syukur aur sungai surut, Sehingga celana yang Samuel singsingkan tidak basah. Sungai yang ia sebrangi itu hanya di atas lutut.
__ADS_1
Samuel sangat yakin untuk melanjutkan hidup di hutan. Karena, ia yakin rumah si nenek di hutan pasti sudah roboh dan lapuk, Karena sudah lama ditinggalkan. Samuel yakin, Nisya, nenek dan Ismail sudah hidup bahagia dengan Fredy.
Sepanjang perjalanan, kenangan bersama Nisya terus saja memenuhi pikirannya Samuel. Yang membuatnya jadi sedih. Sangat susah melupakan wanita itu. Terlalu besar dosa yang ia lakukan pada Wanita itu. Ingin meminta maaf langsung, itu tidak mungkin terjadi, karena ia tidak mau mengganggu hidupnya Nisya. Apalagi, kabar terkahir yang ia dengar dari nenek kalau Nisya mengalami amnesia.
Dia yang menghancurkan hidup wanita itu. Dia kejam.
"Aarrghhkkk....!" Samuel meluapkan kekesalan pada diri sendiri. Kenapa ia dulu sangat jahat. Membunuh manusia seperti membunuh nyamuk saja dibuatnya.
Dan perlakuannya pada Nisya juga kejam. Nisya yang dulunya ia kira, adiknya Fredy. Ia nodai dengan brutal. Bahkan dalam keadaan kritis tubuh wanita itu dilemparkan ke jurang hutan, atas perintahnya kepada anak buah nya.
Ia pun yakin, Nisya amnesia selama di hutan hidup bersamanya dan nenek, Karena ulahnya. pantes saja, Nisya tidak mengenalinya waktu itu. Karena Nisya memang Amnesia.
"Jahat.... Ya Allah.... Ampuni aku...!" teriaknya di hutan Itu. Samuel sudah seperti orang gila di hutan belantara itu. Tingkahnya yang agresif, membuat beberapa hewan merespon teriakannya. Terdengar suara monyet, serangga serta burung di sekitarnya saat ini.
"Nisya.... Maafkan Aku....!" teriaknya lagi.
"Heii... Adakah orang....?"
Seketika Samuel memutar lehernya ke asal suara. Ia mendengar suara manusia.
"Adakah orang disitu. Tolong aku pak.. Bang...!" suara itu semakin Jelas, Samuel pun menyibak dahan-dahan yang menghalangi jalannya, menuju asal suara.
Dan...
__ADS_1
Kedua matanya membeliak melihat penampakan di hadapannya.
***