
Dave mengeram melihat wanita yang semalam membuat bajunya basah pergi begitu saja tanpa menjelaskan kenapa wanita itu semalam tidak menepati janjinya untuk membersihkan bajunya.
"Bukannya minta maaf malah kabur, saraf kali ya tuh orang. Awas saja kalau bertemu denganku lagi, akan kuberi dia pelajaran. Nggak yang ada di rumah gak yang di taman buat kesal saja orang-orang yang kutemui pagi ini. Lebih baik aku pulang saja, di sini juga tidak bisa mengubah suasana hatiku menjadi lebih baik, yang ada malah makin membuat moodku bertambah rusak." gumam Dave kesal merutuki nasibnya.
Di rumah, Keinara sedang duduk di depan cermin. Ia memperhatikan kantong matanya yang menghitam. Hampir lewat seminggu menikah dengan Dave membuatnya tidak pernah tidur nyenyak lagi.
Ia pun mengatasinya agar orang tuanya tidak berpikiran yang tidak-tidak saat nanti dia pulang ke rumah Papi dan Maminya.
Setelah memastikan kantong matanya yang tidak begitu terlihat lagi, ia keluar dari kamar.
"Nek, pagi ini Keinara mau ke rumah Papi dan Mami ya. Mungkin pulangnya agak malam jadi tidak usah menunggu, Keinara pulang. Keinara pergi dulu ya, Nek." pamit Keinara sambil mencium punggung tangan Nenek Nina.
"Kamu sudah memberitahu suamimu?" tanya Nenek Nina mengingatkan yang berjalan di samping Keinara mengantarnya sampai di pintu utama.
"Dave sedang pergi, Nek. Nanti saja aku menghubunginya." ucap Keinara bergegas pergi berjalan melangkah menuju halaman rumah meninggalkan Nenek Nina.
"Ya sudah, hati-hati salam buat Papi dan Mamimu ya, nanti Nenek suruh Dave yang menjemputmu. Kamu tidak boleh pulang malam-malam sendirian, Nenek tidak mau terjadi apa-apa denganmu." ucap Nenek Nina menunjukkan kekhawatirannya.
"Tidak usah, Nek Keinara bisa pulang sendiri." jawab Keinara datar berhenti membalikkan tubuhnya menatap Nenek Nina.
"Pasti mereka bertengkar lagi." batin Nenek Nina mencoba menebak apa yang terjadi pada Keinara dan Dave.
Dave baru saja sampai di depan rumahnya, ia melihat Keinara keluar dan Keinara juga melihat Dave. Cepat-cepat Keinara masuk ke dalam mobilnya untuk menghindari Dave.
"Keinara, kamu mau kemana?" teriak Dave, ia lupa kalau semalam Keinara mengatakan akan pergi ke rumah orang tuanya.
"Bukan urusanmu!" jawab Keinara ketus menutup pintu mobilnya secepat kilat.
"Tidak tahu sopan santun suami bertanya, ya jawab yang bagus." tegur Dave dengan tatapan tajam.
"Suami? Aku tidak pernah merasa punya suami. Aku sedang tidak mau berdebat denganmu." jawab Keinara sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Jadi kamu anggap aku apa?" tanya Dave meninggikan intonasi suaranya.
"Rekan bisnisku dan juga orang yang paling aku benci. Kamu sudah puas mendengar jawabanku? Jadi minggir aku mau pergi." ucap Keinara menghunuskan tatapan tajam kepada Dave.
"Ouh begitu, ok fine. Mulai sekarang aku juga begitu menganggap dirimu sebagai rekan bisnisku. Pergilah bila perlu tidak usah kembali lagi ke rumah ini!" ucap Dave kesal, ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan berkecamuk.
Keinara melajukan mobilnya membelah jalanan kota Jakarta. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai ia tidak melihat ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan.
__ADS_1
Tin... tinn... tinnn...
suara klakson mobil dari arah depan. Membuat Keinara tersadar dari lamunan panjangnya, ia tidak bisa mengendalikan mobilnya dan pada akhirnya kecelakaan pun terjadi.
"Awww..." teriak Keinara tidak terdengar lagi disebabkan dirinya sudah tidak sadarkan diri.
Prangg!
Kumala tidak sengaja menyenggol foto Keinara yang terpajang di meja hias yang ada di ruang tamu. Seketika saja ia memunguti pecahan kaca dari bingkai itu, karena buru-buru tangannya pun tergores.
"Mi, tangan Mami berdarah." ucap Nayaka refleks berlari ke arah Kumala, ia mencoba menghentikan darah yang keluar dari jari Kumala dengan cara menghisapnya.
"Kenapa bisa sampai menyenggol foto, Keinara? Apa yang sedang Mami pikirkan?" tanya Nayaka menyelidik masih memijit perlahan jari Kumala yang terluka.
"Kamu pasti sedang merindukannya, Papi akan menelpon agar Keinara datang ke sini." ucap Nayaka masih memegang tangan istrinya.
Nayaka mengambil ponselnya yang tertinggal di kamarnya. Nayaka mengerutkan keningnya saat melihat panggilan tidak terjawab dari nomor tidak dikenal.
"Sepuluh panggilan tidak terjawab, siapa yang menghubungiku pagi-pagi begini." gumam Nayaka menautkan kedua alisnya.
Ponselnya kembali berdering dari nomor yang sama. Nayaka cepat-cepat menjawabnya, ia menggeser tombol berwarna hijau dengan segera.
"Halo, selamat pagi pak. Kami dari kepolisian mau memberitahukan bahwa putri Bapak yang bernama Keinara Lexie Abigail Douglas baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit Health Medika." ucap polisi memberikan informasi dari seberang telponnya.
"Apa? Anak saya kecelakaan?" teriak Nayaka terkejut.
"Iya, pak. Sebaiknya Bapak segera datang ke rumah sakit." jawab polisi menyarankan.
"Baik-baik, terima kasih atas informasinya." ucap Nayaka mematikan sambungan telponnya, ia menjatuhkan bokongnya duduk di atas tempat tidur, tubuhnya bergetar menahan sakit di dadanya.
"Keinara." lirih Nayaka pelan dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Pi, Papi kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang ya." ucap Kumala panik melihat kondisi suaminya yang tiba-tiba saja menjadi lemas.
Nayaka terus menyebut nama Keinara membuat Kumala bertanya-tanya.
"Kenapa dengan Keinara, Pi?" tanya Kumala menyelidik, ia menjadi sangat penasaran.
"Keinara kecelakaan, Mi. Sekarang di bawa ke rumah sakit Health Medika." jawab Nayaka dengan suara lirih.
"Apa? Tidak mungkin!" pekik Kumala sama terkejutnya seperti Nayaka.
"Iya, Mi. Baru saja pihak kepolisian menghubungi Papi." ucap Nayaka memberitahukan kabar buruk yang dialami Keinara dengan sangat hati-hati.
"Haaa... Keinara." ucap Kumala menjadi lemas.
"Pi... kita ke rumah sakit sekarang. Kita harus tahu kondisi, Keinara. Papi masih kuat bukan?" tanya Kumala yang berada duduk di samping suaminya.
"Papi akan tetap kuat, demi Keinara. Tolong bantu Papi berdiri, Mi." ucap Nayaka mengulurkan kedua tangannya ke arah Kumala.
Sopir pun mengantar mereka berdua ke rumah sakit. Kumala menangis terisak memikirkan nasib anaknya yang belum mereka ketahui seperti apa kondisinya.
Sedangkan Dave melanjutkan aktivitas olahraganya dengan berenang di rumahnya untuk mendinginkan otaknya yang sedang kacau.
Nayaka dan Kumala sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang UGD.
"Papi duduk di sini dulu ya. Papi harus tenang jangan panik ingat penyakit, Papi." ucap Kumala mengingatkan.
"Keluarga Keinara Lexie Abigail Douglas." panggil seorang dokter.
"Saya Maminya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Kumala cepat menghampiri dokter.
"Anak ibu kehilangan banyak darah, stok darah di rumah sakit hanya tinggal satu kantong. Keinara membutuhkan dua sampai tiga kantong darah lagi." ucap dokter menyampaikan kondisi pasiennya.
"Ambil darah saya, Dok. Saya dan Keinara memiliki darah yang sama." ucap Nayaka dengan suara cepat dan tatapan memohon.
"Pi, tapi kondisi Papi tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah kepada, Keinara." ucap Kumala terisak mengkhawatirkan kondisi Keinara.
"Mi, Papi tidak apa-apa yang penting, Keinara selamat." jawab Nayaka menenangkan sekaligus membesarkan hati istrinya.
"Nggak, Mami tidak setuju. Mami akan minta tolong kepada keluarga yang lain." ucap Kumala berusaha menyakinkan suaminya.
__ADS_1