
Keinara tersenyum puas, ia mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
"Oh, dia sudah berani mengejekku sekarang? Tapi dia terlihat manis jika sedang mengejekku. Astaga, kenapa aku malah memujinya." ucap Dave menepuk jidatnya.
Dave berdiri dan berjalan melangkah masuk ke kamar, tidak berapa lama ia datang dengan segelas air putih ditangannya.
"Nyonya Keinara minum obat dulu ya, biar cepat sembuh terus kita bisa main kuda-kudaan lagi." ucap Dave meletakkan obat dan segelas air putih di atas nakas.
"Terima kasih sudah mengingatkanku." jawab Keinara tersenyum manis.
"Sama-sama, Nyonya." ucap Dave membungkukkan badannya terkekeh.
Keinara meminum obatnya dengan sekali minum. Nenek Nina menahan tawanya melihat tingkah lucu Dave malam ini.
"Semoga mereka berdua terus seperti malam ini." batin Nenek Nina mendoakan.
Satu jam kemudian, Nenek Nina pamit ke kamar karena ia sudah mulai mengantuk.
"Dave, Keinara. Nenek ke kamar duluan ya, Nenek sudah mengantuk." pamit Nenek Nina bangkit berdiri dari duduknya berjalan melangkah menuju masuk ke kamarnya.
"Iya, Nek." jawab Keinara yang asik menonton film kesukaannya sampai ia lupa waktu.
Dave menemani Keinara sambil ia memainkan game di ponselnya, sesekali ia melirik Keinara yang senyum-senyum sendiri.
"Ternyata si betina kutub utara bisa tersenyum juga ya." gumam Dave melihat Keinara dia pun ikut tersenyum.
Keinara mendengarnya, tapi ia tidak mempedulikannya. Ia kembali melihat layar TV.
"Ehem... kamu masih mau di sini?" tanya Dave yang terus memperhatikan Keinara.
"Iya, kenapa?" jawab Keinara menolehkan kepalanya ke arah Dave.
"Aku sudah mengantuk mau ke kamar, jangan lama-lama di sini sendirian, nanti kamu di ganggu sama penghuni rumah ini." ucap Dave menakut-nakuti Keinara.
"Aku tidak penakut seperti dirimu, kalau mau tidur ya tidur saja, nggak usah bilang ini itu." ucap Keinara menggerutu kesal.
"Aku hanya mengingatkan saja." ucap Dave bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan melangkah masuk ke kamar, ia melihat Keinara yang tidak bergeming di depan televisi.
Sebuah ide muncul di benaknya, ia ingin mengerjai Keinara lagi. Dave mengendap-endap mematikan saklar lampu ruangan tengah, lalu secepat kilat ia berlari masuk kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Dave menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
Keinara tidak takut sama sekali karena masih ada cahaya televisi yang menerangi ruangan itu, ia menganggap dirinya berada di bioskop.
"Dave pikir aku takut." batin Keinara mengetahui kejahilan Dave.
Dave mengintip dari balik pintu kamarnya untuk melihat Keinara, ia sedikit kesal karena usahanya untuk menakuti Keinara gagal.
Sebuah ide muncul lagi, ia menyuruh security depan untuk mematikan semua lampu.
"Pak Safi tolong matikan semua lampu, kalau saya suruh nyalakan baru di nyalakan kembali." ucap Dave mengirimkan kode.
Security menjalankan perintah yang majikannya itu perintahkan, tanpa ia tahu tujuannya untuk apa.
Seketika rumah menjadi gelap gulita, Keinara mulai ketakutan karena ia tidak melihat cahaya apapun.
"Ponselku mana?" gumam Keinara mulai meraba-raba sofa tempatnya duduk. Namun, ia tidak menemukan apa yang dia cari.
Keinara mulai merasakan bulu kuduknya merinding, ia merasakan aura negatif di ruangan itu.
"Jangan-jangan apa yang dikatakan, Dave itu benar kalau di sini ada penghuninya." gumam Keinara sambil merapatkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dadanya.
Dave keluar dari kamarnya menyalakan senter, Keinara bernapas dengan lega karena ia dapat melihat cahaya.
Keinara menggelengkan kepalanya.
"Aku mau ke kamar." ucap Keinara bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan melangkah menuju kamarnya.
Keinara mengikuti Dave masuk ke dalam kamar, ia ingin buang air kecil dan bergegas masuk ke kamar mandi tapi ia merasa nyalinya ciut. Ia melihat Dave dan ingin minta di temani.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Dave menaikkan alisnya.
"Dave temaniku ke kamar mandi." ucap Keinara meminta dengan terpaksa.
"Menemanimu ke kamar mandi? Katanya pemberani tapi nyatanya penakut, ke kamar mandi saja minta di temani." ucap Dave menyindir.
"Namanya juga gelap dan aku terpaksa memintamu menemaniku." ucap Keinara dengan suara lirih sambil memohon kepada Dave setengah memaksa.
"Kamu tidak takut kalau aku nanti menerkammu?" tanya Dave menggoda Keinara.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku tidak akan memintamu untuk menemaniku. Biar aku sendiri saja." ucap Keinara membalikkan badannya berjalan melangkah menuju ke kamar mandi dengan langkah ragu.
Dave melipat kedua tangannya dan meletakkan di dada bidangnya. Ia melihat Keinara yang melangkah pelan menuju ke kamar mandi.
"Dalam hitungan ke tiga, Keinara pasti akan membalikkan badannya. Satu, dua, tiga." ucap Dave menebak benar Keinara membalikkan badannya.
"Nah benarkan? ternyata ia tidak seberani yang kupikir, wajahnya saja sok garang, tapi nyatanya lemah." gumam Dave tersenyum menyeringai.
Keinara memilin ujung bajunya, merasa keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya.
"Ayo, biar aku temani." ucap Dave memegang tangan Keinara dan menuntunnya ke kamar mandi.
Keinara terlihat bingung karena tidak tahu harus bagaimana. Dave menautkan kedua alisnya karena melihat Keinara yang juga tidak melakukan kegiatan apapun di kamar mandi.
"Lho, katanya mau ke kamar mandi, tapi kok diam saja? atau kamu memang sengaja ya? Agar kita berdua berlama-lama di sini." tanya Dave menebak jalan pikiran Keinara yang masih berdiri mematung.
"Bukan begitu Dave, aku mau buang air kecil. Aku malu, bisakah kamu berbalik atau menutup matamu dulu." jawab Keinara lirih menundukkan kepalanya.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Ya sudah, aku berbalik." ucap Dave membulatkan matanya lalu ia pun membalikkan badannya membelakangi Keinara.
"Ingat, jangan mengintipku." ucap Keinara mengingatkan.
"Ya, buruan." jawab Dave singkat.
"Sudah selesai, ayo kita keluar." ucap Keinara berjalan mendahului Dave yang masih berdiri menunggunya.
"Sudah selesai? Kok cepat sekali." ucap Dave terkejut.
"Memangnya butuh waktu lama buang air kecil?" tanya Keinara memutar bola matanya.
"Ya nggak juga sih, tapi heran saja kapan kamu buang air kecilnya. Aku bahkan tidak mendengar apapun tadi, seperti suara air." ucap Dave memandang Keinara yang berjalan di depannya.
"Karena kamu terlalu fokus memikirkan yang tidak-tidak." ucap Keinara membuang napasnya.
"Maksudmu yang tidak-tidak bagaimana? Kalau bicara yang jelas." ucap Dave menegur, ia kesulitan mencerna perkataan Keinara barusan.
"Aku tahu yang ada di dalam pikiranmu saat ini. Dari raut wajahmu saja sudah sangat kelihatan." ucap Keinara tersenyum mengejek.
"Sudah seperti paranormal saja. Memang apa yang aku pikirkan? coba katakan, aku ingin mendengarnya." tanya Dave menantang.
__ADS_1
"Yang ada di dalam sini itu, otak mesum." jawab Keinara meletakkan jari telunjuknya di jidat Dave.
Dave menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu. Apa yang dikatakan oleh Keinara itu benar, saat di kamar mandi ia memikirkan Keinara sedang menciumnya.