
"Kita sudah sampai." ucap Dave memberitahu menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk perusahaan Lexie Group.
"Ok, aku duluan ya. Kamu hati-hati." ucap Keinara tidak lupa menunjukkan senyum termanisnya sebelum ia masuk ke dalam kantornya. Akan tetapi senyuman Keinara membuat para karyawannya keheranan, karena seingat mereka Keinara jarang tersenyum kepada mereka bahkan boleh dikatakan tidak pernah.
"Ada apa dengan, bu Keinara pagi ini?" tanya salah seorang karyawannya.
"Iya aneh, nggak biasanya. Biarku tebak mungkin perusahaan ini mengalami kenaikan yang sangat pesat." jawab karyawan yang lainnya.
Itulah obrolan para karyawan yang melihat keanehan Keinara pagi ini.
Keinara sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia memanggil Jonathan untuk datang ke ruangannya.
"Jonathan, tolong keruanganku sebentar." perintah Keinara dari balik telponnya.
"Baik, Bu Keinara." jawab Jonathan dan panggilan telpon pun berakhir.
"Ada apa bu?" tanya Jonathan, ia menutup pintu ruangan dan berjalan masuk mendekati Keinara lalu menjatuhkan bokongnya duduk di kursi depan Keinara.
"Jonathan, aku mau pergi keluar mungkin agak lama. Meeting untuk hari ini cancel semuanya karena urusanku yang ini sangat penting." ucap Keinara menjelaskan sambil membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.
"Kalau boleh tahu, mau kemana bu dan ibu pergi dengan siapa?" tanya Jonathan menyelidik menautkan kedua alisnya.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan Jonathan dan aku akan pergi sendiri menggunakan taksi saja, ya sudah aku pergi dulu ya." pamit Keinara bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan melangkah keluar ruang kerjanya.
Keinara sudah sampai di rumah sakit dan sekarang berada di ruangan dokter kandungan untuk USG.
"Selamat ya Bu, usia kandungannya sudah sembilan minggu dan bayinya juga sangat sehat. Oh ya, suaminya di mana? Kenapa tidak ikut menemani?" tanya dokter tersenyum ramah.
"Jadi saya beneran hamil, dokter? Saya sedang tidak mimpi bukan, Dok?" tanya Kienara seakan tidak percaya.
"Iya Bu, sekali lagi selamat ya. Ini detak jantungnya, Bu." jawab dokter yang memeriksanya dengan senyum senang.
__ADS_1
Keinara mendengarkan detak jantung anaknya. Air matanya lolos keluar begitu saja.
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Dave harus tahu ini, aku akan ke kantornya setelah pulang dari sini." batin Keinara menangis haru.
"Jangan terlalu banyak pikiran dulu ya Bu, dan dijaga kesehatannya." ucap dokter mengingatkan sambil menyerahkan resep yang dituliskan pada selembar kertas.
"Baik, dokter, terima kasih saya permisi dulu." pamit Keinara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter.
Setelah selesai pemeriksaan Kienara bergegas keluar dari rumah sakit, ia tidak sabar ingin mengatakannya kepada Dave. Ia sampai melupakan rencananya yang mau ke salon.
Sedangkan di perusahaan Salendra Corp, Dave sedang berada di ruangannya ingin mengatakan kepada Jovanka kalau dia adalah teman masa remajanya.
"Jovanka kamu tahu kenapa saya memanggilmu?" tanya Dave menatap lekat bola mata Jovanka.
"Ya nggak tahulah, pak. bukannya bapak tidak memberitahu saya sebelumnya." jawab Jovanka menundukkan kepalanya.
"Mulai hari ini jangan panggil saya, bapak lagi. Panggil nama saja, ada hal yang mau kusampaikan padamu." ucap Dave menghela napasnya, ia menjeda ucapannya.
Saat itu Keinara sudah berada di lobi Salendra Corp, kedatangan Keinara ke kantor Salendra Corp menimbulkan pertanyaan besar bagi karyawan Salendra Corp. Apalagi, Keinara mengatakan ingin bertemu dengan Ceo mereka.
Dave melanjutkan kalimatnya yang terjeda.
"Jovanka sebenarnya aku sudah tahu siapa kamu dan kamu juga mungkin sudah tahu siapa aku, tapi kamu tidak mengatakannya. Jadi, sekarang kita saling mengaku. Aku adalah Dave teman masa remajamu yang selama ini selalu menunggu kedatanganmu." ucap Dave mengakui dan melanjutkan kembali ucapannya yang ia sempat jeda.
Mata Jovanka berkaca-kaca setelah mendengar pengakuan Dave. Ia juga menunggu Dave yang duluan menyadarinya.
"Aku juga selama ini mencarimu, Dave. Aku sangat merindukanmu, dari awal aku bekerja di sini aku sudah menduga kalau kamu teman masa remajaku. Tapi aku takut mengatakannya, apa kamu merindukanku?" tanya Jovanka dengan suara bergetar menahan haru.
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat merindukanmu, kemana saja kamu selama ini, kenapa baru datang sekarang?" tanya Dave hatinya ikut merasakan senang ada rasa bercampur haru di sana jadi satu setelah sekian tahun dirinya sangat sulit untuk bisa bertemu kembali dengan teman masa remajanya itu.
Dave bangkit berdiri dari duduknya, ia berjalan melangkah mendekati Jovanka yang di sambut Jovanka berdiri dari duduknya.
Keinara keluar dari lift khusus Ceo, ia tidak melihat ada sekretaris Dave di sana. Ia langsung berjalan melangkah masuk ke ruangan Dave.
"Aku sangat merindukanmu, Jovanka." ucap Dave merentangkan kedua tangannya mata mereka bertemu, mereka saling memandang satu sama lain.
Jovanka menghambur ke pelukan Dave menumpahkan kerinduannya di sana. Saat itu juga Keinara membuka pintu ruangan kerja Dave dan melihat semuanya.
Keinara tidak langsung pergi melainkan ia tertarik untuk mendengar percakapan Dave dan Jovanka selanjutnya, namun matanya sudah mulai berembun berusaha menahan sesak di dadanya.
"Jadi wanita itu yang semalam kamu bela-belain antar pulang, Dave." batin Keinara yang menyaksikan Dave dan Jovanka sedang berpelukan.
Jovanka melepaskan pelukannya, kedua bola matanya menatap lekat ke dalam manik mata orang yang dia sangat rindukan selama ini.
"Dave, dulu sebelum kita berpisah kamu pernah mengatakan ingin mengatakan sesuatu padaku setelah kita bertemu lagi. Apa sebenarnya yang mau kamu katakan, Dave." tanya Jovanka penasaran.
Dave menangkup wajah Jovanka.
"Aku mau mengatakan kalau aku me\_" ucapan Dave terjeda saat kedua bola matanya tidak sengaja melihat pintu ruang kerjanya terbuka sedikit.
"Bukankah tadi pintu itu tertutup ya? Siapa yang membukanya." batin Dave, ia melepaskan tangannya lalu berjalan menutup pintu itu kembali.
"Kenapa, Dave?" tanya Jovanka menyelidik.
"Tadi pintunya seperti ada yang buka, setelah aku periksa tidak ada siapa-siapa di luar ruangan." jawab Dave kembali berjalan menghampiri Jovanka.
Kini mereka berdua telah duduk di sofa sambil menunggu pesanan makanan mereka datang. Jovanka lupa akan jawaban yang belum Dave berikan padanya, mereka berdua lebih memilih topik obrolan mengingat masa-masa mereka waktu remaja dulu.
"Aku mau bersepeda lagi denganmu seperti waktu kita remaja dulu yang sering, kita lakukan di pekarangan halaman rumahku." ucap Dave dengan mata berbinar senang.
"Ayo, kita bersepeda minggu ini di taman kota. Tapi, aku harus beli sepedanya dulu." jawab Jovanka antusias.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu beli sepeda lagi, di rumah ada dua nanti aku akan bawakan satu untukmu." jawab Dave menawarkan solusi.
Obrolan mereka terus berlanjut diiringi canda tawa. Wajah mereka berdua terlihat sangat bahagia, sepasang sahabat yang terpisah oleh keadaan kini bertemu kembali pada saat dan waktu yang tidak tepat.Tanpa mereka sadari dari tadi ada yang mendengarkan obrolan mereka.