TAWANAN CEO AROGAN

TAWANAN CEO AROGAN
Larangan Untuk Bekerja


__ADS_3

"Kita sudah sampai." ucap Jonathan tersenyum memberikan kode pada Jovanka dan Hilda.


"Terima kasih ya, sudah mengantar temanku ke rumah sakit ini. Kami berdua masuk dulu." pamit Hilda yang menggandeng tangan Jovanka di sampingnya segera memasuki ruang UGD.


"Aku juga ikut dengan kalian, karena aku harus memastikan keadaan Jovanka kalau dia baik-baik saja." ucap Jonathan berjalan melangkah menyusul mereka dari belakang.


Jovanka dan Hilda membiarkan Jonathan ikut dengan mereka masuk ke dalam ruang UGD. Jonathan langsung menyuruh dokter untuk mengobati luka di tangan Jovanka.


"Dokter, tolong obati teman saya. Dia baru saja terluka akibat terkena benda tajam." ucap Jonathan meminta menunjukkan luka gores pada dokter di tangan Jovanka.


"Baik pak, kalian berdua tunggu di sini ya! Biar teman kalian saya periksa lukanya dan diobati terlebih dahulu di dalam ruangan." pamit dokter bergegas masuk ke dalam ruang UGD yang dimana Jovanka sudah lebih dulu masuk.


Kini tinggal Jonathan dan Hilda menunggu di luar ruangan, ponsel Jonathan berdering panggilan dari Keinara.


"Jonathan apa kalian sudah sampai di rumah sakit? Terus Jovanka bagaimana? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Keinara, rentetan pertanyaan yang Kienara lontarkan membuat Jonathan bingung mau jawab yang mana dulu.


Mendengar tidak ada jawaban dari Jonathan membuat Keinara memutuskan sambungan telponnya sepihak dan mengajak Dave ke rumah sakit.


Jonathan yang kebingungan, ia baru saja mau menjawab tapi panggilan telponnya sudah terputus.


"Lho kok sudah di matikan?" gumam Jonathan bingung melihat layar ponselnya yang sudah tidak menyala.


Tidak berapa lama dokter keluar dari ruang UGD. Jonathan langsung berjalan menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan teman saya?" tanya Jonathan antusias.


"Lukanya tidak terlalu parah, dia juga sudah boleh pulang. Saya permisi dulu ya." ucap dokter menjelaskan yang menangani kondisi Jovanka, dokter pun bergegas pergi keluar dari ruangan UGD.


Tidak berapa lama, seorang perawat keluar dari ruang UGD bersama Jovanka.


"Jovanka, syukurlah kamu tidak apa-apa." ucap Jonathan menghampiri Jovanka yang sedang berbincang dengan perawat tersebut.


"Tadi bukannya sudah aku katakan kalau aku baik-baik saja. Kalian saja yang terlalu mengkhawatirkanku." jawab Jovanka memutar bola matanya membuang napas panjangnya.

__ADS_1


"Pak, sebelum pulang tolong administrasinya di selesaikan dulu ya." ucap perawat yang dari tadi menemani Jovanka, setelah mengatakan itu, lalu perawat itu pergi meninggalkan mereka.


"Kalian tunggu di sini saja, aku mau menyelesaikan administrasinya dulu." ucap Jonathan berjalan melangkah mendekati Jovanka dan Hilda.


"Jonathan biar aku saja yang mengurus administrasinya, aku tidak mau merepotkanmu." ucap Jovanka mencegah Jonathan untuk melunasi pembayaran administrasinya.


"Kamu sama sekali tidak merepotkanku, jadi biar aku saja yang menyelesaikan pembayarannya. Kalian tunggu di sini, jangan kemana-mana." ucap Jonathan tegas, berjalan melangkah meninggalkan Jovanka dan Hilda di ruang tunggu.


Jovanka tidak mencegah Jonathan, tapi ia berjanji akan mengembalikan uang Jonathan dan kebetulan juga malam itu Jovanka tidak membawa uang banyak.


Hilda menyentuh lengan Jovanka, sebagai isyarat.


"Sepertinya ia menyukaimu, Jovanka. Tadi waktu kamu masih di dalam, dia terus mondar-mandir menunggu dokter keluar, dia mengkhawatirkanmu. Tunggu apa lagi, dia tampan, berwibawa, orangnya juga kelihatan baik. Jangan di sia-siakan orang seperti itu." ucap Hilda mengingatkan Jovanka berbisik lirih di telinga sahabatnya itu.


"Bicara apa sih kamu ini? Kalau kamu suka sama dia, ya udah kejar sana." jawab Jovanka cepat, ia mengelak apa yang ada di pikiran Hilda.


"Orang dia sukanya sama kamu kok. Malah aku yang di suruh ngejar. Saranku ya bukalah hatimu untuk orang lain. Dave sudah menikah dan kamu sudah mengikhlaskannya, jadi jangan mengharapkan yang tidak mungkin bisa kamu miliki lagi." ucap Hilda menasehati memutar bola matanya malas.


"Helo! Aku tidak mengharapkan Dave lagi, karena aku tahu cinta tidak selamanya harus memiliki. Tapi bukan berarti aku mau membuka hatiku untuk laki-laki lain, semuanya butuh waktu, Hilda." ucap Jovanka menjelaskan, tidak mau kalah.



"Jadi, Jovanka menyukai Dave? Tapi bukannya mereka sudah berteman dari remaja ya? Apakah Keinara sudah mengetahuinya kalau Jovanka menyukai, Dave?" batin Jonathan dalam hatinya mengerutkan keningnya.



Beberapa bulan kemudian, Dave semakin posesive kepada Keinara, di mana kehamilan Keinara yang sudah memasuki usia hampir menginjak sembilan bulan membuat Keinara semakin kesulitan melakukan aktivitas. Dave memintanya untuk bekerja dari rumah saja. Karena dia tidak mau Keinara kelelahan.


Pagi ini Keinara hendak pergi ke kantor, tapi Dave melarangnya.


"Sayang sudah berapa kali aku mengatakan bekerjanya dari rumah saja. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu dan calon anak kita. Di sini ada Nenek yang selalu menjaga dan mengawasimu." ucap Dave tegas mengingatkan.


"Suamiku sayang, dokter menyarankan agar aku banyak bergerak kalau mau lahiran secara normal. Makanya aku mau bekerja di kantor, kalau aku hanya di rumah saja bawaannya pengen tidur terus." ucap Keinara memasang wajah memelas.

__ADS_1


"Aku tetap tidak mengijinkanmu, sayang. Aku juga akan bekerja dari rumah. Sebentar lagi kamu akan melahirkan jadi aku harus menjadi suami yang siaga." ucap Dave menunjukkan perhatiannya.


"Ya sudah terserah kamu saja kalau nanti pekerjaanku tidak selesai, kamu harus bantu untuk menyelesaikannya. Aku mau ke belakang dulu." pamit Keinara keluar dari kamar menuju taman belakang.


Di sana sebelum dia melakukan berbagai aktivitasnya. Keinara melakukan olahraga ringan, meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Terutama bagian pinggangnya yang setiap hari semakin sakit.


Sedangkan Dave sekarang berada di ruang kerjanya yang ada di kamar mereka juga. Dave sedang melakukan zoom meeting bersama para karyawannya.


Dua puluh lima menit kemudian Keinara masuk ke dalam kamar tidak menemukan Dave di sana, ia membuka pintu yang terhubung ke ruang kerja Dave.


Keinara tidak tahu kalau suaminya itu sedang meeting, ia pun dengan santai duduk di pangkuan Dave serta mengalungkan tangannya di leher Dave, bergelayut manja di sana.


"Sayang, aku mau makan sesuatu. Bisakah kamu membuatnya untukku?" tanya Keinara dengan nada suara manja.


Dave tersenyum membiarkan para karyawannya melihat kemesraan mereka. Alpha dan Jovanka yang ada di ruang meeting berdehem pelan.


"Ehemm... dunia serasa milik berdua ya?" ucap Alpha menyindir halus.


"Sayang, siapa yang berbicara tadi?" tanya Keinara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kerja Dave. Namun ia tidak menemukan siapapun di sana.


"Alpha yang berbicara sayang." jawab Dave terkekeh.


"Alpha? Emang dia ada di sini?" tanya Keinara balik mengerutkan keningnya.


"Bukan hanya Alpha saja, tapi mereka semua juga ada di sini dan melihat kita." ucap Dave menunjuk layar laptopnya kepada Keinara.


Sontak Keinara melepaskan tangannya lalu bangkit berdiri dari pangkuan Dave. Wajahnya merona merah menahan rasa malu.


"Sayang kenapa sih kamu tidak bilang kalau sedang zoom meeting, aku jadi malu tahu." ucap Keinara ketus, membuang pandangannya dari layar laptop.


"Bagaimana aku mau mengatakannya, kamu datang langsung duduk di pangkuanku dan mengajakku bicara. Untuk apa malu, bukannya mereka juga sudah dewasa semua. Ya sudah, aku mau melanjutkan meeting lagi ya, kamu duduk di sana temani aku meeting." ucap Dave menunjuk ke sebuah kursi yang berada di ruang kerjanya.


"Tapi aku tetap saja malu, aku di kamar saja. Aku takut mengganggu meetingmu." ucap Keinara berjalan melangkah meninggalkan Dave kembali ke kamarnya dengan wajah bersemu merah.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Dave pun sudah selesai meeting. Dave menghampiri Keinara masuk ke dalam kamar dan ternyata Keinara sudah tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya.


__ADS_2