
Keinara berlari kecil menuju kamarnya setelah menyapa Nenek Nina yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Sesampainya di kamar, ia melihat kalender.
"Ya Tuhan, aku baru sadar dua bulan kemarin tamu bulananku tidak datang dan bulan ini juga seharusnya juga sudah datang, tapi ini belum juga datang. Apa jangan-jangan aku _" Keinara menghentikan ucapannya menutup mulutnya tidak percaya.
Keinara menjatuhkan bokongnya duduk di tepi tempat tidur king zisenya. Kemungkinan besar terlintas di pikirannya kalau dia sedang mengandung anaknya Dave.
"Jadi malam itu telah membuahkan hasil? Bagaimana ini? Apa aku beritahu saja, Dave? Tapi aku akan memastikannya dulu, aku akan periksa ke dokter dulu. Kalau aku memang hamil, aku akan memberitahu, Dave." gumam Keinara berusaha tetap tenang.
Ada rasa bahagia dan ada rasa takut dalam dirinya. Sebelum Keinara masuk ke dalam kamar mandi, ia memandangi dirinya di depan cermin.
"Aku agak gemukan dan wajahku juga agak kusam, apa karena selama ini aku tidak pernah perawatan lagi? Baiklah, besok setelah pulang dari rumah sakit, aku mampir dulu ke salon." gumam Keinara di depan cermin memutar-mutar tubuhnya lalu ia melihat keseluruhan perubahan yang terjadi di tubuhnya.
Setelah selesai memandangi dirinya di depan cermin, Keinara membersihkan dirinya. Ia berendam di bathtub yang berisikan air hangat yang bisa membuat tubuhnya rileks, matanya terpejam menikmatinya.
Dave sudah sampai di rumah, ia tidak melihat Alpha di sana.
"Jadi, Alpha sudah pulang? Baguslah, daripada melihatnya di sini membuatku kesal. Bisa-bisanya dia tidak memberitahuku kalau dia sudah mengantar, Keinara pulang? kalau tadi aku tahu, Keinara sudah aman bersamanya aku tidak perlu seperti orang gila." gerutu Dave, mempercepat langkahnya kemudian ia masuk ke dalam kamar.
"Dave kenapa kamu dan Keinara pulang terpisah? Kalian bertengkar lagi?" tanya Nenek Nina menyelidik.
"Bukan, Nek. Tadi kami terjebak macet, jadi Keinara memilih pulang naik ojek rupanya ojeknya nggak ada. Untung tadi Alpha bertemu dengan Keinara di jalan, jadi Alpha yang mengantar Keinara pulang." ucap Dave menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Oh, Nenek pikir kalian bertengkar lagi. Ya sudah, bersihkan diri kamu dulu sana. setelah itu kita makan malam." perintah Nenek Nina pada cucu kesayangannya.
"Baik, Nek. Dave masuk ke dalam kamar dulu ya Nek." pamit Dave berjalan melangkah meninggalkan Nenek Nina.
Dave bergegas masuk ke kamarnya, kedua bola matanya menyapu seluruh sudut ruangan kamarnya akan tetapi ia tidak menemukan Keinara ada di sana.
"Di mana dia? Apa dia sedang mandi?" batin Dave bertanya pada dirinya sendiri.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan sosok Keinara yang baru saja selesai dari ritual mandinya, ia hanya memakai handuk yang menutupi seluruh tubuhnya. Langkahnya terhenti saat melihat Dave berdiri berkacak pinggang menatap tajam ke arahnya.
"Dave, balikkan badanmu." perintah Keinara ketus sambil berjalan melangkah menuju lemari pakaiannya.
"Kenapa aku harus membalikkan badan?" tanya Dave menaikkan kedua alisnya dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak mau kamu melihat tubuhku." jawab Keinara tersipu malu karena Dave terus memandanginya.
"Bukankah aku sudah pernah melihatnya? Bahkan kita juga sudah pernah melakukannya, jadi untuk apa kamu menutupinya lagi dariku." ucap Dave tidak terima, ia menolak permintaan Keinara.
Keinara tidak ingin berdebat dengan Dave, ia melewati Dave begitu saja menuju lemari pakaian.
Malam sudah berganti menjadi pagi. Pagi ini Keinara sangat bahagia, ia sudah melupakan kesalahan Dave semalam. Dave mengerjapkan kedua bola matanya karena merasa silau akibat cahaya matahari yang masuk dari celah jendela kamarnya.
"Selamat pagi Dave." sapa Keinara tersenyum senang sambil menyingkap gorden jendela kamarnya.
"Pagi Keinara. Tumben sekali kamu menyapaku begitu manis? Biasanya juga ketus." jawab Dave menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Apa kamu sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Dave mengedipkan matanya.
"Menurutmu apa aku sedang terlihat marah?" tanya Keinara balik.
"Nggak sih, aku melihatmu aneh saja." ucap Dave menyunggingkan senyumnya.
"Aku mau siap-siap dulu." ucap Keinara bangkit berdiri dari duduknya bergegas berjalan melangkah ke meja hiasnya untuk berdandan.
Kini mereka bertiga sudah berada di meja makan menikmati sarapan pagi. Keinara terlihat begitu lahap menyantap makanannya membuat kening Dave berkerut.
"Keinara apa kamu tidak takut gemuk? Makanmu banyak sekali." ucap Dave menegur sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Apakah kalau aku gemuk kamu akan meninggalkanku?" tanya Keinara membuat Dave menghentikan sejenak aktivitas sarapan paginya.
"Dave kenapa kamu berhenti sarapan dan tidak menjawab pertanyaan, Keinara?" tanya Nenek Nina memperhatikan Dave yang menghentikan sarapannya.
__ADS_1
"Oh iya, Nek. Dave akan melanjutkan sarapannya lagi" jawab Dave tanpa menjawab pertanyaan Keinara.
Mereka sudah selesai sarapan, Dave dan Keinara berpamitan dengan Nenek Nina untuk berangkat ke kantor. Dave terlebih dulu mengantarkan Keinara ke kantornya. Sepanjang perjalanan menuju kantor Lexie Group, Keinara terlihat bahagia.
"Sepertinya mood, Keinara hari ini sangat baik. Dari tadi aku perhatikan, dia terus tersenyum tidak seperti biasanya." batin Dave dalam hati, sesekali ia melirik ke arah Keinara yang duduk di jok samping mobilnya.
"Ehemm... sepertinya ada yang sedang bahagia nih. Baru dapat undian berhadiah ya, Non?" tanya Dave dengan senyum mengejek.
"Hahaha... nggak juga." jawab Keinara singkat.
"Terus apa yang sudah membuatmu bahagia?" tanya Dave penasaran mengerutkan keningnya.
"Nggak tahu, aku hanya merasa bahagia saja. Mungkin sebentar lagi aku akan mendapat hadiah tak terduga." ucap Keinara tersenyum memandang ke arah Dave yang duduk di depan kemudi setirnya.
"Amin." ucap Dave tersenyum, ia tidak sadar mengamini perkataan Keinara.
"Dave tolong hentikan mobilnya, aku mau beli batagor dulu. sepertinya enak sekali." ucap Keinara melihat penjual batagor yang sedang mangkal di depan sekolah dasar.
"Hah! Bukannya kamu sudah sarapan banyak tadi di rumah? Apa sekarang kamu lapar lagi? Sebenarnya perutmu ini terbuat dari apa sih?" tanya Dave heran, ia membulatkan matanya lebar.
"Sudah, nggak usah banyak protes turuti saja semua apa yang aku katakan." jawab Keinara ketus tidak ingin disanggah.
"Ok, kita akan berhenti." ucap Dave mengalah menghentikan mobilnya tidak jauh dari penjual batagor. Keinara turun dari mobil tapi tidak dengan Dave, dia menunggu Keinara di dalam mobilnya.
"Semakin hari Keinara semakin aneh saja. Nggak biasanya dia mau jajan di pinggir jalan, kenapa sih dia?" gumam Dave bertanya dalam hati memperhatikan Keinara dari dalam mobilnya.
Tidak berapa lama Keinara sudah kembali masuk ke dalam mobil sambil makan batagor yang baru saja ia beli.
"Dave kamu mau?" tanya Keinara menawarkan.
"Nggak untukmu saja." ucap Dave menolak halus.
Dave kembali melajukan mobilnya. Keinara fokus pada makanan yang berada di tangannya, tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di kantor Lexie Group.
__ADS_1