
"Hehehe...ternyata kamu jago juga dalam tebak menebak. Aku laki-laki normal jadi wajar berpikiran mesum, jika hanya berdua-duaan di tempat gelap seperti ini pasti setan yang baik itu datang." ucap Dave cengengesan.
"Memangnya ada setan yang baik? Alasan saja, mencari kesempatan dalam kesempitan. Dasar mesum, wekk." ucap Keinara menjulurkan lidahnya mengejek Dave kembali.
Dave gemas dibuat Keinara yang mengejeknya. Ada kebahagiaan tersendiri dalam dirinya saat mereka berdua berdebat hal yang tidak penting tanpa marah-marah seperti biasanya.
"Baiklah, malam ini kamu menang. Kamu baru saja pulang dari rumah sakit, jadi tidak boleh tidur larut malam. Tidur di tempat tidur jangan di sofa. Tidurlah yang tenang jangan banyak protes." ucap Dave tegas sambil mencubit gemas hidung mancung milik Keinara.
"Hanya itu?" tanya Keinara menaikkan alisnya.
"Kamu mau aku menambahinya?" tanya Dave mulai kesal.
"Nggak, itu saja sudah cukup. Jangan menggangguku kalau aku sudah berbaring." ucap Keinara meminta sambil menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
"Ia, bawel. Tidurlah." jawab Dave lembut.
Keinara membaringkan tubuhnya, ia tidur miring membelakangi Dave yang tidur di sampingnya.
"Kalau kamu memunggungiku, aku akan memelukmu." ucap Dave terus mengganggu kenyamanan tidur Keinara.
Keinara cepat membalikkan badannya dan memejamkan matanya. Dave tersenyum tipis melihat Keinara yang berpura-pura tidur.
"Aku tahu kamu pura-pura tidur. Keinara, apa kamu tidak penasaran dengan siapa yang datang tadi ke rumah?" tanya Dave melihat Keinara dengan mata yang pura-pura terpejam.
__ADS_1
"Kenapa aku harus penasaran?" tanya Keinara yang masih kesulitan untuk memejamkan mata sepenuhnya.
"Ya, setidaknya kamu bertanya kek." ucap Dave kesal menunggu jawaban dari Keinara.
"Memangnya siapa yang datang?" tanya Keinara mengabulkan permintaan Dave.
"Om Nirwana, Papanya Ayyasha. Masih ingat dengan, Ayyasha?" tanya Dave mencoba kembali mengingatkan memori Keinara.
"Ayyasha yang hampir tidur denganmu itu, bukan? Kenapa dengan, Papanya?" tanya Keinara balik.
"Jadi, tadi Om Nirwana memintaku datang ke rumahnya membujuk, Ayyasha agar mau makan dan keluar dari kamarnya. Katanya, sudah seminggu Ayyasha mengurung diri dan teriak-teriak tidak jelas. Jadi, Om Nirwana minta tolong padaku." ucap Dave membuka mulutnya mulai bercerita.
"Seperti anak kecil saja, padahal bukan anak-anak. Aku sangat heran wanita seperti, Ayyasha. Kenapa sih dia jadi wanita kok murahan sekali, seperti tidak ada laki-laki lain saja di dunia ini. Mengejar-ngejar pria yang sudah punya istri. Apa dia mau dijuluki sebagai pelakor?" ucap Keinara menggerutu kesal.
Dave tersenyum mendengar Keinara yang menurutnya cerewet. Ia sangat senang Keinara menganggap dirinya sebagai suami.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Keinara menatap Dave dengan tatapan mata sayu.
"Seandainya ada seorang wanita yang meminta pertanggungjawaban padaku. Dia mengatakan kalau dirinya sedang mengandung anakku. Apa kamu percaya kalau anak yang di kandung wanita itu adalah anakku? Dan apakah kamu percaya kalau aku sudah meniduri wanita itu?" tanya Dave panjang dengan sorot mata tajam ke arah Keinara.
"Kenapa, Dave bertanya seperti itu? Apa ia sedang mengatakan kalau ia sudah menghamili wanita lain? Terus bagaimana denganku kalau ternyata nanti, aku juga mengandung anaknya? Apa sebenarnya yang sudah terjadi sebelum, Dave menikahiku?" tanya Keinara dalam hatinya, ia merasa takut kalau semua pertanyaan yang ada di benaknya terjadi.
"Keinara, kenapa kamu tidak menjawab? Aku sangat membutuhkan jawaban darimu." ucap Dave yang melihat Keinara hanya terdiam.
__ADS_1
"Dave, aku mau tidur. Lain kali saja kita bahas itu." jawab Keinara membalikkan badannya, tanpa ia sadari cairan bening itu keluar dari pelupuk matanya. Tubuhnya bergetar menahan tangisannya agar Dave tidak mengetahuinya.
Dave memiringkan wajah melihat ke sampingnya, karena ia merasa Keinara sedang menangis.
"Kenapa dia malah menangis? Emang aku salah apa?" tanya Dave dalam hatinya.
Dave bukanlah laki-laki yang tega. Ia paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Dave menggeser tubuhnya mendekati Keinara, lalu memeluknya dengan erat. Jantungnya berdegup kencang saat ia bersentuhan dengan Keinara.
"Keinara, aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis." ucap Dave lirih, suasana hatinya kini ikut larut terbawa oleh kesedihan yang dialami Keinara.
Mendengar kata maaf dari Dave, membuat Keinara semakin yakin kalau Dave sudah menghamili wanita lain diluar sana. Saat ini perasaannya sangat kacau, baru saja ia merasa nyaman dengan Dave tapi sudah dibuat patah hati.
"Kamu tidak salah apa-apa, aku yang salah karena sudah memaksamu untuk menikahiku. Tidak seharusnya aku memaksamu karena kita bukan jodoh yang sudah di takdirkan. Kita menikah karena sebuah insiden, jadi kamu tidak perlu minta maaf. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita yang sedang mengandung anakmu itu. Aku akan melepaskanmu untuk wanita itu." ucap Keinara menahan tangisnya, ia terisak namun tetap bisa di dengar Dave.
Dave mengerutkan keningnya atas apa yang baru saja Keinara katakan.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti?" pekik Dave berbisik pelan di telinga Keinara.
Keinara membalikkan badannya lalu duduk. Air mata yang dari tadi ditahannya keluar, ia biarkan membasahi pipinya diikuti Dave yang juga ikut duduk bersandar pada ujung dinding ranjang.
"Dave mulai sekarang kamu tidak perlu menganggap aku sebagai istrimu lagi. Aku akan pergi dari kehidupanmu agar kamu tidak terbebani dengan pernikahan terpaksa ini. Apapun nanti yang terjadi denganku, kamu tidak perlu bertanggung jawab karena ini semua salahku." ucap Keinara terisak.
"Aku semakin tidak mengerti dengan semua yang kamu katakan, Keinara. Aku bertanya, tapi jawabanmu entah kemana-mana nggak nyambung dengan apa yang aku tanyakan." ucap Dave menautkan kedua alisnya, ia terlihat kesulitan mencerna perkataan Keinara.
__ADS_1
"Dave kamu tidak usah pura-pura tidak mengerti, aku tahu sebelum kita menikah, kamu sudah tidur dengan wanita lain, dan mungkin wanita lain itu yang kamu bilang wanita yang kamu cintai dan sekarang dia sedang hamil anakmu. Lalu sekarang kamu minta pendapatku melalui sebuah pertanyaan." ucap Keinara mengusap air matanya yang mengalir semakin deras, perlahan isak tangisnya pun mereda.
"Astaga, jadi Keinara pikir aku sudah tidur dengan wanita lain sampai wanita itu hamil? Padahal tadi aku hanya ingin mengetahui bagaimana perasaannya saat ini padaku, apakah dia cemburu atau tidak? Tapi kenapa dia jadi salah paham begini? Aku bahkan belum pernah tidur dengan wanita manapun selain dia waktu di hotel." gumam Dave dalam hatinya, ia mulai dapat mencerna perkataan Keinara.