
Byuurr... hujan turun sangat deras, tapi Keinara tidak berniat beranjak pergi dari tempatnya. Alpha membuka jaketnya dan berlari kecil mendekati Keinara. Alpha menutupi kepala Keinara dengan jaketnya. Keinara menundukkan wajahnya menangis tersedu-sedu.
Ia baru sadar kalau hujan sudah membuat seluruh tubuhnya basah. Jaket parasut yang Alpha pakai mampu melindungi Keinara dari tetesan air hujan yang turun amat deras sehingga tidak menjadikan tubuh Keinara basah semakin parah karena kondisi hujan saat ini.
Keinara mengangkat kepalanya melihat Alpha yang sudah basah kuyup tersenyum padanya.
"Alpha kenapa kamu bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Keinara, ia bersyukur karena kedatangan Alpha yang bisa menolongnya saat ini.
"Kerena saya tadi mengikuti bu Keinara. Bu, kita berteduh di sana saja ya." ucap Alpha membujuk Keinara dan sekaligus mengajak.
Keinara menurut, mereka pun berteduh di salah satu gazebo yang ada di taman itu.
Hening, hanya terdengar suara hujan. Keinara terus menundukkan wajahnya karena tidak ingin, Alpha tahu kalau dia sedang menangis.
"Alpha, bisakah kamu mengantarku ke apartemenku? Aku ingin di sana beberapa hari ini." ucap Keinara menjelaskan dengan suara terisak.
"Bisa, bu. Tapi kenapa tidak pulang saja?" tanya Dave menyelidik.
"Aku ingin sendiri, tapi jangan katakan kepada Dave kalau aku ada di apartemen. Nanti aku akan mengabarinya kalau untuk beberapa hari ke depan, aku ada pekerjaan di luar kota." jawab Keinara dengan suara parau.
"Bu Keinara, masalah itu seharusnya di selesaikan bukan malah di hindari. Saya sangat paham apa yang Ibu alami." ucap Alpha menghela napasnya, hatinya menjadi sedih melihat Keinara.
"Alpha, aku tahu kapan harus menyelesaikan masalahku. Tapi sekarang aku benar-benar ingin sendiri, tolong mengertilah" ucap Keinara memberi penjelasan tentang keinginannya, yang ia butuhkan saat ini yaitu ketenangan.
"Baiklah, bu kalau memang itu sudah menjadi keputusan Ibu. Saya akan memesan taksi online untuk, ibu. Saya tidak bisa mengantar Bu Keinara karena itu akan menjadi percuma, ibu akan semakin basah kuyup lagi karena saya bawa motor bukan membawa mobil." jawab Alpha memberikan solusi, dan Keinara menyetujuinya.
__ADS_1
Sebelum pergi ke apartemen Keinara mengirim pesan singkat kepada Dave.
\[Dave, beberapa hari ke depan, aku akan pergi ke luar kota ada urusan pekerjaan mendadak, sore nanti aku akan berangkat\]
Dave segera melihat layar ponselnya saat mendengar bunyi pemberitahuan pesan masuk di kotak pesannya. Ia membaca pesan dari Keinara.
"Kenapa mendadak sekali Keinara pergi ke luar kota?" batin Dave dalam hati sambil mengeryitkan keningnya.
Dave bukanlah orang yang percaya begitu saja, ia mencari kebenaran dengan cara bertanya kepada Jonathan asisten pribadinya Keinara.
"Untung saja aku menyimpan nomor Jonathan." gumam Dave sambil menempelkan benda pipih persegi itu di telinganya.
"Halo, pak Dave." sapa Jonathan langsung mengangkat panggilan telponnya.
"Jonathan, saya ingin bertanya satu hal. Apa benar sore ini Keinara akan berangkat ke luar kota dalam rangka perjalanan bisnis?" tanya Dave menyelidik dari seberang telpon genggamnya.
"Jonathan, kenapa kamu diam saja? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" tanya Dave begitu tidak sabar menunggu jawaban dari Jonathan.
"Iya pak, tadi Bu Keinara memang mengatakan kalau dia akan berangkat ke luar kota sore ini. Akan tetapi tidak untuk perjalanan bisnis. Seperti mau liburan pak." kata Jonathan menjelaskan secara rinci tidak ada yang di tutupinya.
"Ok, terima kasih atas informasinya Jonathan." balas Dave mengakhiri panggilan telponnya.
"Kenapa Keinara membohongiku, sebenarnya mau kemana dia? Aku harus mencari tahu ini." gumam Dave keluar dari ruangan kerjanya, ia pergi berjalan menuju ruangan Alpha. Namun, yang punya ruangan tidak ada di tempat.
"Alpha juga nggak ada di ruangannya, kemana anak itu? Berani sekali ia keluar tanpa permisi, awas saja kalau dia datang aku akan memberinya peringatan." gumam Dave mengumpat kesal.
__ADS_1
"Jovanka, hari ini aku tidak ada meeting penting bukan?" tanya Dave mendatangi meja Jovanka.
"Sebentar aku periksa dulu." jawab Jovanka cepat.
"Jam tiga nanti ada meeting di perusahaan Galaxy." ucap Jovanka membuka file di laptopnya yang berisi jadwal meeting Dave.
"Tolong atur ulang jadwal meetingnya, karena hari ini aku sepertinya tidak bisa datang, aku ada urusan penting. Oh ya, nanti kalau Alpha datang suruh dia langsung menghubungiku, aku pergi dulu." pamit Dave tergesa ia pergi meninggalkan Jovanka di kantornya sendirian.
"Dave mau kemana?" tanya Jovanka menahan Dave.
"Nanti aku jelaskan." ucap Dave membalikkan tubuhnya setelahnya ia melanjutkan langkah kakinya keluar dari kantor Salendra Corp menuju parkiran mobil.
Keinara sudah sampai di apartemen sedangkan Alpha memilih pulang untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Dave baru saja mau keluar melajukan mobilnya, tapi ia melihat hujan turun sangat deras.
"Hujannya deras sekali, aku khawatir kalau tetap pergi yang ada nanti aku terjebak banjir. Jadi sia-sia dong perjalananku. Niat mau mencari, Keinara tapi malah terjebak banjir, nggak lucu bukan. Lebih baik aku tunggu sampai hujannya reda saja baru aku pergi." gumam Dave menyandarkan tubuhnya di badan depan pintu mobilnya sambil menikmati suasana hujan.
Hujan tidak kunjung reda, Dave tidak jadi pergi mencari Keinara. Ia meninggalkan parkiran mobil kembali ke ruang kerjanya.
"Sepertinya ada yang aneh hari ini. Alpha tidak tahu pergi ke mana. Keinara tidak ada di kantornya yang katanya mau pergi ke luar kota. Ponsel mereka berdua tidak aktif, kenapa bisa bersamaan begini ya?" gumam Dave mengetuk-ngetukkan dagunya dengan jari telunjuknya, mencoba menjawab pertanyaan yang sudah di buatnya sendiri.
Sementara itu, di apartemen Keinara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Salah satu tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
"Sayang, kita berdua harus kuat ya dan kita harus bekerja sama. Jika nanti Mami dan Papi harus berpisah, Mami akan selalu sayang sama kamu dan Mami akan membesarkanmu sendirian. Kita hadapi dunia ini yang penuh sandiwara berdua." gumam Keinara, cairan bening itu kembali lolos keluar begitu saja dari pelupuk matanya dan kali ini lebih deras.