TAWANAN CEO AROGAN

TAWANAN CEO AROGAN
Sederhana Tapi Bahagia


__ADS_3

"Ok, siap akan aku pesankan untuk di bungkus dan di bawa pulang. Nenek sangat suka dengan kepiting saus asam manis ini, aku tadi juga berniat membawanya pulang untuk, Nenek. Sekalian saja, Papi dan Mamimu juga lagi di rumah kita, mereka pasti mau ini juga." ucap Dave dengan semangat.


"Ya sudah, aku setuju denganmu." jawab Keinara ikut senang.


Ternyata Hilda dan Jovanka mendengar obrolan orang yang duduk tidak jauh dari meja mereka makan.


"Hilda, enak ya jadi orang kaya bisa makan sepuasnya. Kalau kita satu porsi lauk harus di bagi dua hanya nasinya saja yang dua porsi sedangkan lauknya selalu kita bagi dua." ucap Jovanka tertawa, ia menertawai dirinya.


"Hahaha...tapi mulai besok kamu sudah bekerja, jadi bulan depan kamu sudah bisa makan yang enak dan sepuasnya. Gaji yang akan kamu dapatkan pasti juga sangat besar di sana, secara Salendra Corp perusahaan besar yang terkenal." ucap Hilda menghibur Jovanka, mereka tertawa bersama.


"Semoga ya, dan doakan Ceo Salendra Corp murah hati biar aku betah kerja di sana." ucap Jovanka berharap doanya terkabul.


Keinara melebarkan telinganya mendengar dua wanita yang duduk di sudut rumah makan itu sedang membahas perusahaan Salendra Corp.


"Apakah mereka karyawannya, Dave?" tanya Keinara dalam hatinya.


Keinara membalikkan badannya ingin melihat wajah wanita yang ia duga adalah karyawannya Dave.


Keinara tersenyum saat melihat Hilda dan Jovanka tersenyum padanya. Dave memperhatikan Keinara yang tersenyum entah kepada siapa.


"Kei, kamu sedang tersenyum sama siapa?" tanya Dave penasaran sambil menikmati makan siangnya.


"Di sudut sana ada dua gadis cantik, sepertinya mereka karyawanmu." jawab Keinara memandang ke wajah Dave kembali.


"Karyawan? Masa sih? Yang mana kamu maksud?" tanya Dave penasaran, ia pun membalikkan badannya.


Jovanka tertegun melihat Dave, yang pertama ia lihat adalah matanya.


"Mata itu mirip sekali dengan seseorang dari masa lalunya." batin Jovanka tertegun, ia seketika sibuk dengan pikirannya.

__ADS_1


"Apa mereka yang kamu maksud?" tanya Dave kepada Keinara sambil membalikkan tubuhnya.


"Iya, mereka karyawanmu bukan?" tanya Keinara mengulang.


"Sepertinya bukan." jawab Dave singkat kembali menyantap makanannya yang belum habis.


"Tapi tadi aku mendengar mereka menyebut perusahaanmu." jawab Keinara bersikeras menatap Dave.


"Ya mungkin saja mereka membahas hal yang lain yang ada hubungannya dengan perusahaanku. Cepat habiskan makananmu biar kita pulang, Papi dan Mamimu pasti sudah tidak sabar mau bertemu denganmu." perintah Dave tegas.


Keinara membenarkan perkataan Dave, ia pun kembali menyantap hidangan kepiting saus asam manisnya.


Selesai makan Dave dan Keinara bergegas pulang ke rumah, sedangkan Jovanka masih sibuk dengan pikirannya setelah melihat bola mata Dave yang tidak asing baginya.


Jovanka, setelah aku perhatikan kamu tadi tidak berkedip saat laki-laki tadi melihat ke arah kita, apa kamu mengenalnya?" tanya Hilda heran melihat Jovanka yang dari tadi diam.


"Apa mungkin dialah orang yang selama ini kucari?" gumam Jovanka termenung.


Jovanka tersadar dari lamunannya karena Hilda menangkup wajahnya agar menghadap dia.


"Hilda apa sih!" pekik Jovanka berusaha setenang mungkin.


"Kamu tadi mengatakan dialah yang selama ini kamu cari. Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu tadi. Tatapan laki-laki tadi membuatmu seperti orang bodoh sampai lupa melanjutkan makan." protes Hilda masih begitu penasaran dengan apa yang ada di pikiran Jovanka.


"Aku nggak ngerti apa maksudmu, Hilda. Dari tadi aku tidak mengatakan apapun." jawab Jovanka mengelak.


"Astaga, kamu benar-benar sudah membuatku pusing. Sudahlah cepat habiskan makananmu, aku mau melanjutkan pekerjaanku lagi." ucap Hilda fokus pada makannya.


"Kerja? Emang kamu sudah kerja? Kerja di mana?" tanya Jovanka memberondong Hilda dengan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


"Ya ampun, Tuhan. Kamu lupa juga kalau selama ini kita jualan online untuk menyambung hidup di Jakarta ini? Benar-benar parah." protes Hilda menepuk jidatnya.


"Hahaha... aku tidak mungkin lupa, aku sengaja biar kamu kesal. Aku habiskan dulu ya makanku, baru kita pulang. Mubazir kalau tidak dihabisin." ucap Jovanka melanjutkan makannya melahapnya hingga tandas.


"Kamu ya, senang sekali membuatku kesal." gerutu Hilda dengan wajah cemberut, ingin sekali ia mengoleskan tepung di wajah sahabatnya itu karena sudah membuatnya kesal.


"Tidak beberapa lama Jovanka dan Hilda pun kembali ke kontrakan yang tidak begitu jauh dari rumah makan itu.


Mereka pulang berjalan kaki sambil mengobrol hal yang bisa membuat mereka bahagia. Seperti itulah kedua sahabat itu, selalu bersama dalam suka maupun duka.


Sementara di rumah kediaman Salendra. Dave dan Keinara sudah sampai, tidak lupa Keinara turun dari mobilnya membawa paper bag yang berisi makanan yang mereka pesan untuk Nenek Nina dan kedua orang tuanya. Keinara masuk tanpa menunggu Dave turun dari mobil.


Keinara hendak membuka pintu, tapi ia urungkan karena ponselnya tiba-tiba berdering. Keinara melihat layar ponselnya siapa yang telah menghubunginya.


"Hemm... tumben sekali ia menghubungiku jam segini, pasti ada sesuatu nih." gumam Keinara menekan tombol jawab kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Dave menghentikan langkahnya dan berdiri agak jauh dari Keinara. Ia ingin tahu siapa yang sudah menghubungi Keinara.


"Halo, kesayanganku ada apa kamu menghubungiku? Biar aku tebak kamu pasti membutuhkan suntikan dana bukan?" ucap Keinara tersenyum menebak.


"Kesayangan? Apakah laki-laki yang waktu itu juga yang menelpon Keinara?" batin Dave, ia tidak bergeming dari posisi berdirinya dan semakin dibuat penasaran.


"Idiih, siapa juga yang mau minta suntikan dana dari kakak. Tadi Zayn menghubungi Mami terus kata Mami kakak pergi dari rumah, apa benar seperti itu kak?" tanya Zayn penasaran dari balik telpon genggamnya.


"Apa yang dikatakan Mami itu benar, tapi sekarang kakak sudah di rumah kok." balas Keinara terlihat ia sangat serius melakukan obrolan dengan Zayn adiknya.


"Syukurlah kalau begitu tapi lucu saja ya, pengantin baru kabur-kaburan segala. Apa kakak di sakiti makanya memilih pergi dari rumah?" tanya Zayn penasaran, ia menebak ada yang tidak beres dengan rumah tangga kakaknya itu.


"Hemm... tebakanmu itu salah, kakak hanya mau bersantai sejenak saja di apartemen. Ya sudah, kakak mau masuk dulu ya! jangan nakal di sana." kata Keinara mengingatkan Zayn.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kak, love you see you." pamit Zayn mengakhiri panggilan telponnya.


"Love you too." balas Keinara mengakhiri panggilannya, kemudian masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut oleh Nayaka dan Kumala juga Nenek Nina.


__ADS_2