
"Baik bu, saya akan tunggu." ucap dokter kembali masuk ke dalam ruang UGD tempat dimana Keinara berbaring koma saat ini.
"Percuma, Mami menghubungi keluarga kita. Mereka semua ada di luar kota. Sudahlah, biar Papi saja. Papi juga tidak apa-apa." ucap Nayaka menyakinkan Kumala dengan raut wajah yang sembab karena menangisi keadaan Keinara.
"Dokter ambil darah saya sekarang saja." ucap Nayaka berjalan melangkah mendekati dokter.
"Kita harus pastikan kondisi bapak sehat dulu ya, baru setelahnya kita bisa ambil tindakan." ucap dokter menjelaskan dengan senyuman ramah.
Kumala terus menghubungi keluarganya, namun tidak ada satupun keluarganya yang bisa datang dalam waktu yang sangat singkat. Sedangkan Nayaka tidak diizinkan oleh dokter mendonorkan darahnya karena penyakit jantung yang dia derita tidak memungkinkannya untuk menjadi pendonor.
"Pi, bagaimana ini? Mami sangat takut sekali, seandainya Zayn ada di sini dia pasti bisa mendonorkan darahnya untuk Keinara." ucap Kumala mondar-mandir di depan pintu UGD.
Zayn adalah adik laki-lakinya Keinara yang kuliah di London dan semenjak kuliah belum pernah pulang ke Indonesia.
"Papi akan menghubungi teman-teman, Papi. Siapa tahu ada yang sama golongan darahnya dengan, Keinara." ucap Nayaka segera menghubungi teman-temannya, tapi tidak ada yang sama golongan darah mereka dengan Keinara satu pun. Ada satu teman yang cocok darahnya untuk di donorkan tapi sedang pergi di luar kota.
Nenek Nina yang masih aktif dengan media sosialnya, membuka group WhatsApp teman arisannya.
"Ya ampun kasihan sekali korbannya. Tapi tunggu, ini bukannya mobil, Keinara. Jadi, Keinara kecelakaan!" gumam Nenek Nina meninggikan intonasi suaranya, ia tidak percaya kalau Keinara yang berada di dalam mobil itu.
Dave keluar dari kamarnya karena mendengar suara Neneknya. Ia sedang siap-siap mau pergi ke suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya setiap akhir pekan.
"Nenek kenapa sih teriak? Suara Nenek sampai terdengar sampai ke kamar, Dave." tanya Dave yang sudah berpakaian rapi.
"Dave, lihat ini." ucap Nenek Nina menunjukkan foto kecelakaan yang tersimpan di ponselnya kepada Dave.
"Itu foto mobil kecelakaan, terus kenapa, Nek?" tanya Dave balik.
"Kamu tidak tahu itu mobil siapa? Bagaimana sih kamu ini, menjadi suami tapi tidak tahu itu mobil siapa?" ucap Nenek Nina geram melihat Dave.
"Ya, Dave memang tidak tahu, Nek. Emang itu mobil siapa? Lagi pula mobilnya hancur gitu." ucap Dave cuek tidak memalingkan wajahnya dari ponsel Nenek Nina.
"Astaga itu mobil istrimu, Dave! Keinara kecelakaan!" teriak Nenek Nina menatap lekat ke wajah Dave.
"Apa? Keinara kecelakaan?" ucap Dave membulatkan matanya lebar.
__ADS_1
"Nenek serius? Terus dimana Keinara sekarang, Nek?" tanya Dave menggoyangkan tubuh Neneknya, ia panik mendengar istrinya mengalami kecelakaan.
"Teman Nenek bilang kalau, Keinara di bawa ke rumah sakit Health Medika. Sekarang kita kesana, cepat!" ucap Nenek Nina menarik tangan Dave.
Dave terdiam, ia teringat kata-katanya beberapa jam yang lalu kepada Keinara.
"Ya Tuhan, aku tidak bermaksud berkata seperti itu tadi. Aku hanya sedang emosi jadi kata-kata itu tidak serius keluar dari hatiku. Aku tidak ingin, Keinara kenapa-kenapa." gumam Dave dengan raut wajah bersedih.
"Dave ayo! Malah melamun." ajak Nenek Nina menarik tangan Dave kembali.
"Iya ayo, Nek." ucap Dave bergegas menuntun tangan Nenek Nina masuk ke dalam mobilnya.
Dave menancapkan gas mobilnya menuju rumah sakit. Dipikirannya saat ini hanya ada Keinara dan Keinara.
"Dave pelan-pelan kamu membuat, jantung Nenek terasa mau lepas saja. Nenek tahu kamu sangat khawatir kepada, Keinara. Tapi tidak usah kencang-kencang juga bawa mobilnya, nanti kalau kita kecelakaan juga bagaimana?" tegur Nenek Nina mengingatkan sambil memasangkan sabuk pengamannya.
"Iya, Nek. Dave hanya ingin cepat sampai di rumah sakit saja, Nek. Siapa tahu, Keinara membutuhkanku. Maaf kalau sudah membuat Nenek khawatir, Dave akan mengurangi kecepatannya." ucap Dave memegang kemudi mobilnya dan fokus pada jalanan.
Sekitar dua puluh menit mereka tiba di rumah sakit. Dave membantu Neneknya masuk ke dalam.
"Kamu adalah orang terakhir yang tahu Keinara mengalami kecelakaan. Suami macam apa kamu ini? Kalau kamu tidak bisa menjaga putriku, lebih baik kamu pulangkan dia kepadaku!" bentak Nayaka kepada menantunya dihadapan Kumala dan Nenek Nina.
"Pi, tolong jaga emosinya. Ingat kondisi Papi." ucap Kumala menenangkan suaminya.
"Papi tidak akan tinggal diam kalau terjadi apa-apa dengan anak kita, Mi. Semenjak menikah dengan laki-laki ini, Keinara selalu mendapatkan sial." ucap Nayaka meredam emosinya namun tetap tidak bisa.
"Keluarga Keinara." panggil dokter dari dalam ruang UGD.
"Iya, dokter." jawab Kumala bergegas menuju masuk ke dalam ruang UGD.
"Bagaimana Bu? Apakah sudah mendapatkan donornya?" tanya dokter antusias.
"Belum dokter, kami sedang mengusahakannya. Tapi kami bingung, mau mencari dimana lagi." ucap Kumala tertunduk lemas.
"Donor? Donor, apa dokter?" tanya Dave penasaran berjalan menghampiri dokter.
__ADS_1
"Keinara sedang membutuhkan donor darah secepatnya, tapi stok darah di rumah sakit tidak cukup." jawab dokter menjelaskan tentang apa yang sedang dibutuhkan untuk Keinara.
"Kalau boleh tahu, apa golongan darahnya, dokter? Mungkin saja golongan darah kami sama." tanya Dave menyelidik.
"Golongan darah Keinara B. Kebetulan di rumah sakit golongan darahnya tinggal satu kantong." ucap dokter menjelaskan tersenyum ramah.
"Ambil darah saya, Dok. Golongan darah kami sama, tolong selamatkan istri saya." ucap Dave menawarkan bantuannya.
Kumala bernapas lega, saat Dave bersedia mendonorkan darahnya kepada, Keinara.
"Kalau begitu ikut dengan saya sekarang." ucap dokter yang menangani Keinara.
"Dave, terima kasih ya." ucap Kumala sebelum Dave pergi.
"Sudah menjadi tugas saya, Bu. Seorang suami harus menolong istrinya, saya permisi dulu." ucap Dave bergegas pergi meninggalkan mereka yang sedang duduk menjaga Keinara di ruang UGD.
Berbeda dengan Nayaka. Nayaka melayangkan tatapan sinis kepada Dave, ia belum bisa menerima pernikahan Dave dan Keinara yang terkesan mendadak.
"Pak Nayaka, Bu Kumala. Saya turut prihatin atas kejadian ini. Jujur, saya sangat menyayangi Keinara seperti cucu saya sendiri. Beberapa jam yang lalu Keinara masih baik-baik saja, tapi kita tidak ada yang tahu kapan musibah akan datang menimpa kita." ucap Nenek Nina berkaca-kaca.
"Sudah Bu, sebaiknya kita berdoa saja untuk keselamatan, Keinara. Semoga dengan, Dave mendonorkan darahnya, Keinara cepat sadar." ucap Kumala mengusap bahu Nenek Nina.
Keinara terbaring lemah diatas brankarnya. Alat-alat kesehatan menempel di tubuhnya.
Tit... tit... tit...
Suara bib menunjukkan suara detak jantung Keinara yang lemah.
"Dokter detak jantung pasien melemah." ucap salah seorang suster yang sedang memeriksa infus Keinara.
Dokter pun bergegas langsung memeriksa kondisi Keinara.
"Astaga, kenapa bisa menjadi seperti ini, kita harus melakukan sesuatu. Kita harus tenang jangan panik." ucap dokter yang menangani Keinara memberikan instruksi kepada para perawat yang sedang menangani, Keinara di sana.
__ADS_1