
"Terima kasih Jonathan karena telah mengkhawatirkan saya, kami pergi dulu." pamit Keinara pada Jonathan yang masih berdiri mematung.
"Bro, titip perusahaan Keinara ya." ucap Dave sambil menepuk bahu Jonathan.
Selepas kepergian Dave dan Keinara, Jonathan terlihat memikirkan sesuatu.
"Aku semakin penasaran, apa aku ikuti saja mereka?" gumam Jonathan mengeryitkan keningnya.
Keinara tidak mau jalan beriringan dengan Dave karena bisa menimbulkan gosip bagi para karyawannya yang suka kepo dengan kehidupan pribadinya.
Tapi Dave malah menjahili Keinara.
"Keinara kita ini suami istri bukan musuh. Jadi, seperti ini akan terlihat lebih baik." ucap Dave menggandeng tangan Keinara, tidak lupa ia tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Dave, ini tempat umum. Mereka pasti akan curiga dengan kita, lepaskan tanganmu!" sentak Keinara menatap Dave tajam.
"Biar saja mereka curiga, aku juga sudah memikirkan semua konsekuensinya nanti seperti apa kalau mereka bertanya, kita ada hubungan apa ya, tinggal jawab saja kalau kita sudah menikah." jawab Dave tidak mempedulikan tatapan Keinara.
Keinara mencubit kuat pinggang Dave, membuat Dave meringis dan histeris.
"Awww... Keinara sakit tahu." pekik Dave menahan rasa sakit cubitan yang baru saja mendarat di pinggangnya.
"Itu hukuman buatmu karena tidak mau mendengarku." ucap Keinara tidak peduli melihat Dave memegang pinggangnya.
"Keinara, lebih baik kamu menciumku saja dari pada mencubitku. Aku rasa itu jauh lebih nikmat." ucap Dave menggoda Keinara sambil terkekeh.
"Jangan harap aku mau menciummu. Tuh sama dinding kamu pasti puas menciumnya, bila perlu tempelkan saja bibirmu di sana dasar mesum." ucap Keinara kesal, ia semakin gemas dengan sikap Dave.
"Galak amat jadi cewek, lagi pula kalau ciuman sama dinding mana enak, nggak ada perlawanan. Istri seorang Dave Abimanyu Prayata Salendra itu tidak boleh cerewet apalagi keras kepala." ucap Dave, ia sengaja meninggikan intonasi suaranya agar ia terus bisa melihat wajah kesal Keinara.
Spontan saja Keinara menutup mulut Dave dengan tangannya karena sekarang mereka sedang berada di lobby perusahaan. Dengan sikap mereka seperti itu saja sudah banyak yang bertanya-tanya dalam hati.
"Dave, diam!" pekik Keinara membulatkan matanya lebar.
__ADS_1
"Iya, aku sudah diam. Galak amat." jawab Dave merapikan jasnya.
"Begitu lebih baik." ucap Keinara melangkahkan kakinya menuju parkiran diikuti oleh Dave.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Keinara mengedarkan pandangannya keluar, memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di jalanan ibukota Jakarta yang terlihat padat merayap di waktu siang hari.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Dave menepikan mobilnya di sebuah rumah makan langganan favoritnya. Keinara mengerutkan keningnya saat Dave membukakan pintu mobil untuknya.
"Dave kita mau makan di sini?" tanya Keinara menatap Dave aneh mencari jawaban di matanya.
"Iya, rumah makan ini memang sederhana tapi makanan di sini tidak diragukan lagi. Aku sering makan di sini bersama dengan, Alpha. Kamu adalah wanita pertama yang aku bawa makan di sini. Aku yakin, kamu pasti akan ketagihan dengan masakan di sini, ayo kita masuk." ucap Dave mengajak dan menggandeng tangan Keinara dengan mesra.
Keinara melangkahkan kakinya dengan ragu, maklum selama ini ia belum pernah makan di pinggir jalan. Tapi ia merasa senang karena sedikit tahu kalau laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu ternyata mau makan di rumah makan yang sederhana.
"Selamat siang pak Dave." sapa pemilik rumah makan dengan senyum ramah.
"Siang juga, bu. Seperti biasa ya, bu. Tapi kali ini dua porsi." ucap Dave sambil berjalan memilih meja dan kursi untuk Keinara.
"Bukan, tapi dia_" Dave menghentikan kalimatnya karena mendapat cubitan kecil dari Keinara.
"Ehemm, ya sudah pak, saya siapkan dulu pesanannya ya." pamit pemilik rumah makan meninggalkan Dave dan Keinara.
"Apa sih cubit-cubit." tanya Dave meringis kesakitan.
"Jangan mengatakan apapun kepada orang lain tentang hubungan kita, paham!" ucap Keinara tegas.
"Nggak paham." ucap Dave sambil mengambil posisi duduk di samping Keinara.
Keinara terlihat kesal mendengar jawaban Dave yang menurutnya sudah merusak moodnya.
Dave melirik Keinara, ada kesenangan tersendiri dalam dirinya setiap kali melihat Keinara kesal.
"Silahkan di makan pak, bu. Saya melayani yang lain dulu." ucap pemilik rumah makan setelah mengantar pesanan Dave.
__ADS_1
"Terima kasih, bu." jawab Dave tersenyum ramah.
Dari pintu masuk dua orang wanita memasuki rumah makan Bu Ami yang terkenal enak dan juga murah di daerah itu.
"Halo, bu Ami kami pesan dua ya satu porsi lauk dan dua piring nasi putih, nggak pakai lama soalnya tadi pagi kami tidak sempat sarapan." ucap seorang wanita berambut sebahu, penampilannya sangat sederhana tapi ia memiliki wajah yang begitu manis.
"Hilda, kita duduk di sana saja." ucap Jovanka menunjuk ke sebuah meja kosong berdekatan dengan meja Dave dan Keinara duduk.
Mereka berdua itu adalah Hilda dan Jovanka yang tinggal di daerah dekat rumah makan itu dan Jovanka adalah calon sekretaris Dave. Tapi Dave tidak mengetahui kalau Jovanka adalah calon sekretarisnya, begitu juga sebaliknya Jovanka dan Dave sama-sama tidak tahu.
"Kei, kenapa makanannya dianggurin?" tanya Dave melihat Keinara yang memandangi makanannya tanpa niat untuk menyentuhnya karena ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Aku bingung bagaimana cara makannya?" jawab Keinara jujur, karena selama ini ia tidak pernah makan menggunakan tangan. Sedangkan makanan yang di hadapannya makannya harus pakai tangan.
Dave terkekeh kecil melihat kepolosan Keinara.
"Sini biar aku ajarin, buka dulu cangkangnya baru di makan dagingnya." ucap Dave mempraktekkan bagaimana cara membuka cangkang kepiting, makanan yang mereka pesan adalah kepiting saus asam manis.
Keinara mempraktekkannya dan ia pun berhasil, rasanya ia sangat senang karena sudah berhasil membuka cangkang kepiting.
"Enak, aku suka." ucap Keinara menikmati makanannya.
"Memang enak, makanya aku tadi mengajakmu makan di sini." ucap Dave menambahkan.
"Oh ya, kenapa makannya harus pakai tangan nggak pakai sendok saja." tanya Keinara penasaran.
"Makan pakai tangan itu jauh lebih nikmat dan cepat, kalau pakai sendok kamu pasti akan kesusahan." jawab Dave memasukkan nasi bersama lauk kepiting asam manis ke dalam mulutnya.
"Iya juga ya Dave, aku boleh pesan satu lagi?" tanya Keinara tersipu malu.
"Ya bolehlah, Kamu mau pesan berapapun ya pesan saja." ucap Dave yang masih menikmati kepiting saus asam manis sebagai menu makan siangnya dengan lahap.
"Tapi tolong pesankan ya dan aku juga mau membawanya pulang. Nenek harus merasakan kepiting saus asam manis ini juga." ucap Keinara senang melahap makanannya hingga tidak tersisa.
__ADS_1