
Pikiran yang kacau dan bingung membuat Sean tidak berfikir jernih dia langsung saja mengendarai mobilnya tanpa membawa apa untuk keselamatannya.
Daffa, Nick dan Shane bingung dan frustasi, mereka mengejar Sean namun ketinggalan jejaknya.
"Berfikir lah kalian berdua kalau Sean kesana sendirian aku takut terjadi apa-apa dengannya," suruh Daffa dengan raut wajah yang khawatir.
Nick mengotak Atik ponselnya lalu melajukan mobilnya, Nick melacak lokasi Sean melalui ponselnya.
"Shane siagakan orang-orang kita," perintah Daffa.
Tiba-tiba di tengah jalan mobil mereka mogok, Nick yang mengendarai mobilnya menoleh dengan raut wajah yang sulit di artikan, "Maaf kita kehabisan bahan bakar," kata Nick
"What," Daffa dan Shane ucap mereka barengan seperti paduan suara
"Nggak lucu banget mobil seharga milyaran bisa kehabisan bensin, kamu ini bagaimana sih Nick, memangnya indikator bahan bakar nggak berfungsi," Maki Shane kesal karena sudah tegang tegangnya ngejar Sean malah ada drama mobil mogok.
"Berfungsi kok, cuma aku nggak memperhatikan indikator bahan bakar karena pikiranku ke pak Sean,"
"OMG Nick," kata Shane pusing.
Lalu Daffa menyuruh Shane menghubungi anak buahnya supaya menyusul mereka secepatnya.
"Kalau kita nggak cepat Sean keburu mati," ujar Daffa panik
"Calm down pak," sahut Nick
Di sisi lain Sean sudah datang di lokasi yang di share oleh Marcel.
Nampak anak buah Marcel pada berjaga di depan rumah.
"Mana bos kalian?" tanya Sean dengan tangan yang sudah mengepal, ingin sekali menghabisi setiap orang berada di depannya.
Pengawal Marcel masuk dan memberitahu Marcel perihal kedatangan Sean. Marcel menyunggingkan senyuman, "Habislah kamu saat ini Sean," gumamnya.
Arini yang mendengarnya menjadi pucat, "Marcel aku mohon jangan lukai Sean, kasihanilah anak yang ada di dalam perutku, apa kamu tega dia lahir ke dunia ini tanpa ayah kandungnya," bujuk Arini.
"Apa dulu dia peduli dengan adikku, apa dia iba pada adikku? tidak! lalu untuk apa aku peduli padanya sekarang," sahut Marcel
"Aku mohon," kata Arini dengan menangis.
"Hapus air matamu Arini, lelaki kejam seperti Sean tak pantas kamu tangisi," timpal Marcel
"Kamu sinting ya, dia suamiku, dia anak dari bayi yang aku kandung, dia yang mencintaiku dengan segenap jiwa dan raganya bahkan dia yang telah memanjat diriku sampai subuh, bagaimana bisa kamu bilang dia tak pantas aku tangisi," oceh Arini.
Marcel yang mendengarnya agak kesal sedangkan pengawalnya hanya diam mendengar debat dari Arini dan juga Marcel.
"Bagaimana ini boz, Sean menunggu di luar," kata Pengawalnya.
__ADS_1
"Kenapa masih di situ, suruh dia masuk!" hardik Marcel.
Pengawalnya segera keluar menemui Marcel,
"Masuklah," kata pengawal Marcel
Sean masuk ke dalam lalu dia kembali ke luar, "Aku harus masuk mana?" tanya Sean kesal sebab pengawal Marcel tidak peka sama sekali karena telah membiarkan masuk sendiri tanpa diantar, bagaimana dia tau kamar yang mana sedangkan banyak kamar dalam rumah tersebut.
Lalu pengawal Marcel mengantar Sean masuk, saat Sean masuk tangis Arini pecah, bagaimana tidak Marcel berencana membunuhnya.
"Sayang pergilah, please" pinta Arini.
"Tidak!" sahut Sean
"Dia akan membunuhmu," kata Arini
Sean menatap Marcel dengan tatapan mautnya, "Kelihatannya bogeman dariku kemarin membuatmu semakin sinting," ejek Sean yang membuat Marcel tertawa.
"Mengoceh lah sesuka hatimu Sean, karena sebentar lagi kamu akan menemui adikku di surga, berkumpul lah kalian di sana," ujar Marcel.
Sean hendak mendekati Marcel namun pistol sudah ditodongkan ke kepala Arini.
"Berani maju, aku tarik pelatuk pistol ini," ancam Marcel yang hanya menggertak Sean.
Marcel bisa saja langsung menembak Sean namun dia ingin bersenang-senang dulu memainkan emosi Sean dan menghajar Sean sebelum membunuhnya.
Arini sungguh histeris, "Aku mohon, lepaskan suamiku Marcel, aku akan melakukan apapun yang kamu mau," pinta Arini
Marcel menatap Arini dengan lekat, "Aku hanya ingin dia menderita," kata Marcel
Marcel mencengkram pipi Arini, Sean yang tidak terima berteriak, "Lepaskan tanganmu dari wajah istriku Marcel, beraninya kamu menyentuhnya," bentak Sean.
Marcel tertawa, dia sangat menikmati drama Sean,
Marcel meminta Sean mendekat dan berlutut di depannya.
Sean pun mendekat, mau nggak mau dia berlutut supaya Marcel tidak menyakiti Arini.
Sean ingin rasanya menghajar Marcel tapi anak buah Marcel sudah menguncinya.
"Puas sekali aku," kata Marcel yang bergantian mencengkeram pipi Sean.
Sean memberontak namun sebuah bogeman mendarat di wajahnya.
"Ini untuk pukulan mu kemarin," bisik Marcel
"Hanya segitu saja kekuatanmu Marcel, lemah sekali," ejek Sean yang membuat Marcel marah.
__ADS_1
Dia pun membogem Sean dengan membabi buta, Arini dibuat histeris. "Cukup ku mohon, lepaskan suamiku, aku mohon Marcel aku mohon please.... Hiks hiks hiks," pinta Arini dengan terisak.
Marcel akhirnya menghentikan bogeman nya, wajah Sean kini sudah dipenuhi darah, babak belur tak karu-karuan.
Arini menatap Sean dengan menangis, "Bodoh, kenapa berontak lah dan balas Marcel, tubuhmu lebih kuat dan besar kenapa takut dengan Curut ini," maki Arini.
Sean menatap Arini, "Kamu yang bodoh, kalau aku membalas dia akan melukaimu, bagaimana bisa aku menukar keselamatan diriku dengan mengobarkan keselamatanmu," sahut Sean.
Lalu Marcel mengkode anak buahnya untuk mengajar Sean, Arini sungguh tak sanggup melihat suaminya dihajar tanpa rasa kasian, darah segar mulai keluar, tangan kakinya dipukuli dengan balok.
Marcel mengkode mereka untuk berhenti, meski dihajar seperti itu namun Sean masih bisa berdiri,
dia tersenyum sinis, "Hanya segitu kekuatan kalian," teriak Sean.
"Cukup sayang jangan buat dia marah, dia bisa memukulmu lagi," pinta Arini dengan menangis.
Marcel sangat heran karena habis dipukuli seperti itu namun Sean masih bisa berdiri.
"Kuat juga dirimu," kata Marcel
"Kamu yang lemah Marcel," teriak Sean.
Disisi lain, Daffa, Shane dan juga Nick bergegas menaiki mobil anak buah Daffa , dia juga mengumpulkan semua anak buahnya guna menyusul ke tempat yang tadi dia share.
"Cepatlah Nick, aku khawatir terjadi apa-apa dengan Sean," kata Daffa khawatir.
"Sabar pak Daffa," sahut Nick dari depan.
Nick sungguh ahli menyetir mobilnya, kepiawaiannya dalam mengendarai mobil sudah tidak diragukan lagi. Cara mengendarai mobil hampir sama dengan para pemain Fast n furious Vin Diesel dan juga Paul Walker.
"Banyak-banyak berdoa semoga kita tidak terlambat," timpal Shane.
"Iya," ucap Daffa dan Nick barengan.
Mobil Nick meliuk liuk menghindari mobil-mobil di depannya, "Bersabarlah pak, kami datang," batin Nick.
Kini mobil Nick dan disusul mobil-mobil para anak buah sudah datang.
Mereka mengajar satu-satu anak buah Sean.
*****
Marcel yang kesal mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada Sean.
"Ucapkanlah permintaan terakhirmu," kata Marcel dengan tersenyum.
Dooooorrrrrrr
__ADS_1