Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
mulai kerja


__ADS_3

Sean menghela nafas menahan hasrat yang benar-benar memuncak, sesekali dia menatap istrinya yang terlelap. Ingin sekali membangunkan istrinya namun sisi baiknya melarang Sean untuk melakukannya.


"Jangan, kasian dia. Kamu kan bisa besok-besok meminta jatah," bisik sisi baik Sean.


"Sudahlah nggak papa, dia kan istrimu jadi wajib melayani kamu," bisik sisi jahat Sean.


Sean frustasi dengan mengusap rambutnya dengan kasar. Tak bisa menahan lagi akhirnya dia menuju kamar mandi untuk bersolo karier.


Seusai menuntaskan hasratnya, Sean kembali lagi ke tempat tidur menyusul Arini.


Sebelum tidur tak lupa Sean mengecup kening istrinya. " Good night sayang, mimpikan aku ya," ucap Sean dengan tersenyum.


Sean tidur dengan memeluk Arini, menenggelamkan wajahnya di tengkuk Arini untuk menikmati aroma tubuh Arini.


******


Perlahan mata Arini terbuka, dia menatap sekelilingnya dan betapa kagetnya dia saat bola matanya menatap benda bulat yang menempel di dinding.


"Astaga sudah jam setengah enam," gumam Arini


Bola matanya menatap Sean yang masih terlelap di sampingnya. "Aku ketiduran," gumamnya


Segera Arini beranjak dari tempatnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari ini rencananya Arini ingin membantu para pelayan masak di dapur, pagi ini ingin rasanya Arini makan makanan buatannya sendiri.


Kurang lebih satu jam dia berkutat di dapur, pikirnya setelah selesai baru membangunkan Sean namun tanpa di duga Sean sudah rapi dengan pakaian kerjanya siap untuk ke kantor.


"Lo sudah bangun sayang, baru mau aku bangunkan," kata Arini lalu mengambilkan sarapan untuk Sean.


Arini duduk di samping Sean lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Sean melirik Arini, heran dengan nafsu makan Arini yang super besar.


"Kamu makan seperti seorang kuli, banyak sekali," ejek Sean


Arini meletakkan sendok dan garpu nya lalu menatap Sean kesal.


"Kenapa? gak boleh makan banyak?" tanya Arini kesal


"Bukan gitu sayang, takutnya kalau kamu muntah," jawab Sean dengan terkekeh.


Arini menyantap makannya dengan lahap tanpa mempedulikan Sean yang menatapnya makan.


"Semalam gimana, udah kamu pelajari kan?" tanya Sean


Mendengar pertanyaan Sean, tiba-tiba dia tersedak.


Uhuk uhuk

__ADS_1


Sean segera mengambilkan minum dan memijat punggung Arini.


"Pelan-pelan kalau makan, nggak ada yang akan mengambil makanan kamu." Sean memberi nasehat pada Arini


"Aku tersedak karena mendengar pertanyaan kamu," sahut Arini


Sean tertawa, istrinya sungguh menggemaskan sekali.


"Lalu bagaimana?" tanya Sean lagi


Arini meringis, "Apanya yang bagaimana, aku nggak bisa belajar lewat video seperti itu," jawab Arini


"O ya sudah," sahut Sean


Arini mengangguk lalu melanjutkan sarapannya kembali begitu pula dengan Sean.


Nick yang sudah datang menunggu Sean di teras seperti biasa, tak selang berapa lama Sean keluar dengan Arini.


"Oh ya sayang, nanti malam tunggu aku ya, kita makan malam bersama," ujar Sean


"Nggak, pasti kamu nggak menepati janji kamu seperti yang kemarin kemarin," tolak Arini dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku usahakan sayang," sahut Sean.


Arini mengangguk lalu mencium punggung tangan Sean lalu Sean mengecup pucuk kepala Arini.


Nick membukakan pintu lalu berdiri menunggu Sean masuk mobil.


Hari ini adalah hari pertama Putri bekerja, dia memakai baju yang dia gunakan kemarin.


Karena Shane masih di luar negeri, Daffa yang memberikan berkas-berkas yang harus Putri kerjakan, dia juga menjelaskan job description pada Putri.


Putri yang paham mengangguk dengan cepat.


"Untuk sementara waktu kamu satu ruangan denganku terlebih dahulu, menunggu Shane kembali biar dia yang menyiapkan ruangan untukmu," kata Daffa


Putri mengangguk yang menandakan paham dengan perkataan Sean.


Putri segera mengerjakan laporan yang diperintahkan oleh Daffa, meskipun belum berpengalaman Putri cukup cekatan.


Dia sudah menguasai Microsoft word, office dan Exel dan beberapa lainnya.


"Ini pak Daffa laporan yang anda minta." Putri menyodorkan laporan yang yang telah ia kerjakan kepada Daffa.


Tangan Daffa mengambil laporan yang disodorkan oleh Putri, tangannya bergerak membolak balikkan beberapa laporan.


Matanya nampak serius melihat angka demi angka yang tertulis di laporan tersebut. setelahnya Daffa meletakkan laporannya di meja.


"Aku tak menyangka, meskipun hanya lulusan SMA namun kinerja mu nggak kalah dengan yang sudah sarjana." Daffa memuji Putri

__ADS_1


Putri tersenyum, "Jangan memuji saya pak, nanti saya bisa lupa diri," kata Putri


"Nanti rencananya kuliah ambil jurusan apa?" tanya Daffa


Putri nampak berfikir, sebenarnya dia ingin sekali ambil jurusan bisnis tapi dari kecil cita-citanya adalah menjadi seorang arsitek hebat.


"Saat ini saya tertarik dengan bisnis tapi cita-cita saya dari kecil ingin menjadi arsitek terkenal seperti Cesar Pelli," jawab Putri


"Wao ternyata kamu penggemar Cesar Pelli, arsitek terkenal dengan karyanya Tower Kembar Petronas, kaula lumpur, Malaysia," sahut Daffa


"Iya pak," timpal Putri


Nilai plus untuk Daffa, dia sangat salut dengan Putri meski hidup dalam keadaan yang serba kurang tapi dia sungguh pintar.


"Secepatnya carilah kampus terbaik, aku akan menguliahkan kamu secepatnya tapi kalau bisa cari jam sepulang kantor." Daffa semakin mantap menguliahkan Putri.


Putri menganga, dia tak percaya Daffa secepat ini menguliahkannya padahal katanya kemarin lusa menunggu hasil kerjanya terlebih dahulu.


"Jangan kecewakan aku," sambungnya kemudian.


Dengan mata yang berkaca Putri menyahut, " Pasti pak, saya janji akan mengabdikan diri pada pak Daffa seumur hidup, sukur-sukur kalau dijadikan istri," sahut Putri dengan terkekeh.


Daffa hanya tersenyum, kini dia menemukan kembaran Arini meskipun tak sebar-bar Arini.


Di sisi lain, Sean sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk sehingga dia tak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Karena pekerjaannya belum selesai, akhirnya Sean mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Arini Supaya tidak menunggunya namun ternyata ponsel Sean mati karena kehabisan baterai.


"Bisa-bisa Arini marah," gumam Sean


Sean menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas pulang. Tepat pukul delapan Sean baru sampai di rumah.


Sebelum keluar dari mobil dia sudah menyiapkan alasan yang tepat untuk Arini, dia juga menyiapkan ponselnya yang mati sebagai barang bukti.


Sean menghela nafas lalu keluar mobil, Sean masuk dengan hati yang was was.


Saat hendak masuk kamar, dari kejauhan nampak Arini baru makan.


"Sayang maaf, tadi pekerjaanku banyak mau menghubungi kamu tapi ponsel mati," kata Sean


"OOO ya udah, kamu sudah makan?" tanya Arini sambil mengunyah makanan yang berada dalam mulutnya


"Sudah," jawab Sean singkat.


"Kamu makan apa?" tanya Sean penasaran


Arini mengangkat piringannya dan menunjukkannya pada Sean.


"Makanan apa itu?" tanya Sean lagi


"Nasi kuning campur sambel, ada sambel goreng hati dan kentang," jawab Arini

__ADS_1


"Haduh sayang kenapa makan makanan ternak sih kalau kamu sakit perut gimana? Omel Sean


Arini hanya mendengus kesal, "Ini makanan manusia bukan makanan ternak," protes Arini kesal.


__ADS_2