Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Apa Daffa cemburu?


__ADS_3

Rudal Daffa berdiri sempurna seperti tugu Monas, Putri yang dipeluknya pun bertanya 


"Apa mas yang mengeras di bawah ini?" tanya Putri 


"Udah abaikan saja, sekarang fokus ma suhu tubuh kamu," jawab Daffa.


"Gimana udah hangat?" tanya Daffa kemudian.


"Masih dingin mas," jawab Putri 


Daffa semakin mengeratkan pelukannya, dia sungguh cemas dan takut terjadi apa-apa dengan Putri, mengingat dia pernah memiliki teman yang meninggal karena hipotermia.


Daffa memiringkan tubuh Putri supaya dengan mudah dia memeluknya, lalu Daffa membawa Putri dalam pelukannya.


Putri merasakan ada yang mengganjal di pahanya, dia menatap wajah Daffa yang sepertinya menahan sesuatu.


Mata Daffa dan Putri saling memandang, Daffa yang sudah terhasut bisikan pihak ketiga pun mendekatkan wajahnya ke wajah Putri yang masih agak pucat.


"Put," panggilnya dengan suara yang berat karena Daffa kini sedang melawan hasrat yang sedari tadi bergejolak di dalam dadanya.


"Iya," sahut Putri lirih


Tanpa aba-aba Daffa menyambar bibir Putri, tentu hal ini membuat Putri kaget tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa tubuhnya saja terbungkus selimut. persis seperti lemper cuma bedanya kalau lemper pembungkusnya daun pisang kalau dia pembungkusnya adalah selimut.


Putri yang belum mahir sama sekali alias masih polos hanya diam saja, sedangkan Daffa menggigit kecil bibir putri supaya dia membuka mulutnya, meskipun ini adalah yang pertama untuk Daffa tapi dia tau lah cara berciuman yang baik dan benar.


Puas mencium Putri, Daffa pun melepaskannya lalu dia mengecup kening Putri.


"Put, maafkan aku. Aku sungguh tak bisa menahan gejolak dalam dadaku yang saat ini sungguh-sungguh menyiksaku," bisik Daffa dengan suara berat.


"Lalu mas Daffa mau apa?" tanya Putri


"Ya nggak ngapa-ngapain Put," jawab Daffa


Oh ya, aku sudah menyuruh Shane kesini untuk membelikan kita baju," imbuh Daffa.


Suasana hening terjadi diantara mereka, namun Daffa masih memeluk Putri yang suhu tubuhnya yang semakin normal.


"Mas," panggil Putri 


"Apa?" tanya Daffa


"Tadi itu ciuman pertamaku lo mas ," jawab Putri 


"Sama," sahut Daffa.


Putri tersenyum, "Mas," panggil Putri lagi 


"Kamu ini Put, mas mas dari tadi," sahut Daffa yang membuat Putri terkekeh.


Dia ingin bertanya sesuatu namun Putri mengurungkannya.


"Put," panggil Daffa


"Kamu ini mas, Put Put dari tadi." Putri membalas Daffa sehingga Daffa menggelitik Putri yang masih terbungkus selimut.

__ADS_1


Karena nggak tahan dengan rasa geli yang dilayangkan Daffa Putri memberontak sehingga tubuh sebagian tubuhnya terekspose dan Daffa yang melihatnya langsung menelan ludah.


Sungguh berbeda saat tadi dia membuka baju Putri, mungkin nafsunya kalah dengan rasa cemasnya berbeda dengan saat ini, kini nafsunya sudah di ubun-ubun.


Dengan penuh nafsu, Daffa mencium bibir Putri lalu dia menciumi leher Putri bahkan dia meninggalkan jejak di sana.


Dengan nafsu yang membara Putri meminta Daffa untuk menghentikan aktivitasnya.


"Mas udah mas, nanti kita bisa khilaf. Kita masih belum menikah," kata Putri dengan tangan yang semakin menenggelamkan wajah Daffa ke lehernya.


Sikap dan perkataan Putri sungguh tidak sinkron, dia menyuruh berhenti namun tangannya malah melakukan sebaliknya.


"Bentar Put," sahut Daffa kemudian.


Setelah itu mereka mengakhiri aktivitas semi panas mereka.


Putri dan Daffa saling diam sambil mengontrol nafsu mereka yang masih bergejolak.


"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Putri


"Apa?" tanya Daffa balik.


"Mas Daffa nggak ingin menikah? tanya Putri balik.


"Kenapa memangnya? kamu mau menikah?" tanya Daffa balik.


Mereka berdua saling melempar pertanyaan,


"Tapi kamu masih di bawah umur Put, usia saja baru delapan belas tahun. Menikah itu nggak seperti yang kita pikirkan, nggak cuma enaknya saja tidur ada yang nemenin tapi ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi," jelas Daffa yang membuat Putri mengangguk paham.


"Jujur, mas Daffa cinta sama aku apa nggak?" tanya Putri


"Entahlah Put," jawab Daffa bias.


Mendengar jawaban Daffa membuat Putri membalikkan badannya.


"Brengsek kamu mas, nggak cinta tapi udah dua kali mencium bibirku dan leherku," umpat Putri dengan meneteskan air mata.


Segera dia mengusap air matanya, dia nggak mau Daffa melihatnya menangis.


Putri memejamkan matanya dan tak terasa dia malah terlelap.


Saat Putri tidur, Shane datang dengan membawa pakaian untuk mereka.


"Gimana pak, apa udah unboxing tu bocah?" tanya Shane


"Ya nggak lah Shane, aku masih punya iman," jawab Daffa bohong padahal tadi hampir saja terjadi hal-hal yang sangat sangat diinginkan.


Setelah memakai pakaiannya Daffa membangunkan Putri,


"Put bangun Put, ini pakaian kamu," kata Daffa


Putri membuka matanya, kemudian Daffa dan Shane pamit keluar, dia juga berpesan kalau akan pulang sekarang untuk itu setelah memakai baju Putri disuruh untuk segera menyusul ke mobil.


Putri segera memakai pakaiannya dan memunguti baju Daffa dan dirinya yang basah setelah itu Putri keluar kamar untuk segera menyusul Shane dan Daffa.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, Putri hanya terdiam dia melemparkan tatapannya ke luar jendela.


Entah apa yang dia rasakan kini, kata-kata bias Daffa membuat Putri merasa sakit.


Arrgggh


"Sudahlah," batin Putri dengan memegangi kepalanya.


Daffa yang melihatnya pun bertanya, "Kamu kenapa Put?" tanya Daffa


"Nggak papa kok mas," jawab Putri lalu menghela nafas dan menenangkan dirinya.


Daffa hanya tersenyum lalu memfokuskan pandangannya ke depan.


Sesekali Putri melirik Daffa, "Sudahlah Put, jangan baper tadi yang dilakukannya padamu bukan cinta melainkan nafsu," batin Putri menyemangati dirinya sendiri.


Inilah yang membuatnya lemah, baper yang ujung-ujungnya sakit. Putri sadar sepenuhnya dia nggak ada hak untuk sakit hati pada Daffa, karena bagiamana pun juga Daffa lah malaikat penolongnya. Dia memiliki pekerjaan dan bisa kuliah juga berkat Daffa.


Semenjak kejadian itu Putri terlihat agak menjauh bukannya karena membenci Daffa melainkan dia mencoba menekan perasaanya pada Daffa.


Pagi itu Putri melamun di mejanya, dia masih memikirkan kejadian dua hari yang lalu.


"Pak Daffa apa yang harus aku lakukan, rasa ini benar-benar membunuhku," batinnya


Shane yang hendak mengantar berkas-berkas pada Putri pun mengerutkan alisnya pasalnya nggak biasanya Putri melamun pagi-pagi.


Shane meletakkan berkas-berkas di meja Putri namun Putri tidak merespon, dia masih saja menikmati lamunannya.


"Woy kerja, jangan ngelamun saja," kata Shane yang menyeret Putri kembali dari dunia lamunannya.


Putri terkekeh karena ketahuan melamun saat jam kerja.


"Nggak ngelamun kok pak Shane," elak Putri


"Nggak ngelamun tapi pikirannya kemana-mana," sahut Shane.


Putri menggaruk kepalanya yang nggak gatal sambil terkekeh karena ketahuan bohong.


Setelah jam kerja Putri segera membereskan meja kerjanya karena sore ini dia ada jam kuliah.


Daffa yang kebetulan juga sudah selesai pergi ke ruangan Putri, rencananya dia akan mengajak Putri untuk bareng.


"Put, kamu kuliah?" tanya Daffa.


"Iya mas," jawab Putri


Daffa pun mengajak Putri bareng karena kebetulan rumah Daffa dan kampus Putri searah.


Tak berselang lama, mereka sudah sampai di kampus.


Putri segera turun, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berjalan bareng Putri.


Daffa yang melihatnya pun mengerutkan alisnya,


"Beraninya dia dekat dengan lelaki lain, padahal tujuan utamanya adalah kuliah," gumam Daffa dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2