Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Jangan diamkan aku


__ADS_3

Sean rasanya ingin sekali menghajar ketiga partner dan juga temannya tersebut.


Bisa-bisanya membuat lelucon konyol seperti tadi, untung dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung coba kalo iya sudah dipastikan dialah yang meninggal.


"Bagaimana? masih sakit?" tanya Sean pada Arini.


Arini mengangguk lemah, "Mana yang sakit?" tanya Sean lagi.


"Dadaku," jawab Arini lirih.


Sean pun mengelus dada Arini, dan yang dielus pun bagian yang sensitif sehingga membuat Arini melemparkan tatapan mautnya pada Sean.


"Kamu tu apa-apaan sih sayang, istri lagi sakit juga malah tangannya aneh-aneh," gerutu Arini kesal dengan Sean


Sean terkekeh, entah apa yang ada dalam pikiran Sean, bukannya mengurangi sakit istrinya malah membuat ulah.


"Kan aku coba membantu mengurangi rasa sakitnya sayang, katanya tadi dadanya yang sakit,' kata Sean berkilah


"Iya tapi bukan bagian itu," ucap Arini bersungut


Tak berselang lama ada suster datang membawa makanan Arini. Sean segera membuka penutup makananya dan segera menyuapi Arini.


Dengan telaten Sean menyuapi Arini dan sesekali dia ikut makan karena perutnya sendiri juga lapar ditambah lagi habis mengeluarkan banyak energi saat menangis tadi.


Karena Arini hanya makan sedikit akhirnya Sean lah yang menghabiskan semuanya.


Setelah itu mereka berbincang lagi.


"Sayang, maafkan aku karena berbohong padamu," kata Arini dengan menyesal.


"Sudahlah, yang penting sekarang semua jelas dan yang terlebih lagi kamu sudah selamat," sahut Sean dengan menciumi tangan istrinya.


"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Arini


Sean mengerutkan alisnya, sudah dapat di pastikan kalau dia akan memberi apapun untuk Arini.


"Boleh, kamu tentu sudah tau jawabannya kenapa masih minta ijin?" jawab Sean.


"Aku tidak ingin kamu mendiami aku sayang, asal kamu tau terlukanya aku saat kamu acuh dan acuh padaku, aku lebih suka kamu marah, membentukku bahkan menghukum aku daripada kamu diam seperti kemarin," ucap Arini dengan air mata yang jatuh.


Kini Arini seperti anak kecil, berbeda dengan sebelumnya yang seorang wonder women yang tidak akan menangis meski dalam keadaan dan situasi apapun.


Sean menghapus air mata Arini, "Baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi tapi ada syaratnya," ujar Sean dengan tersenyum licik.


Melihat senyum Sean membuat Arini pasrah, karena sudah pasti main panjat panjatan lah yang dia mau.


"Baiklah, kamu pasti minta ditemenin main panjat panjatan kan?" tebak Arini yang membuat Sean terkekeh.


"Iya, kita akan melakukannya tiga hari tiga malam," sahutnya dengan tertawa.


Arini membolakan matanya, heran dengan suaminya yang super duper me sum.

__ADS_1


"Seperti hajatan saja tiga hari tiga malam lagian memangnya kuat melakukan panjat memanjat tiga hari tiga malam?" tanya Arini.


"Kuatlah," jawab Sean percaya diri


Arini mencibirkan bibir tak percaya dengan Sean, "Kamu manusia apa jin?" tanya Arini balik.


Sean tertawa lepas, sungguh istrinya menggemaskan sekali. Ingin sekali menaikinya saat ini.


Di sisi lain Nick sungguh galau, ada berkas yang harus ditandatangi Sean. Kalau dia ke rumah sakit saat ini sudah dipastikan kalau Sean akan mencincangnya.


"Bagaimana ini?" gumam Nick bingung.


Arrrggggg


Dia sungguh frustasi, tiba-tiba Vani lewat dalam pikirannya.


"Ya, aku akan mengajak Vani. Jadi ada yang melindungi aku." Nick bermonolog dengan dirinya sendiri.


Nick segera menghubungi Vani,


*Siap-siaplah tiga puluh menit aku akan menjemputmu, karena kita akan ke rumah sakit. (Nick)


Siapa yang sakit? (Vani)


Arini, dia tertembak (Nick)


Kok bisa! (Vani)


Nick memutuskan sambungan telponnya lalu dia menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, setelah siap dia pergi menjemput Vani sekarang.


Tiga puluh menit, kini mobil Nick berhenti di depan rumah Vani, Vani yang sudah menunggu berjalan mendekat ke arah mobil Nick.


Kini mereka menuju rumah sakit bersama.


Vani yang khawatir dengan Arini memberondong Nick dengan banyak pertanyaan, hingga membuat Nick bingung menjawabnya.


"Sepulang dari rumahmu tempo hari Arini diculik, Penculiknya yang tak lain rival Pak Sean sendiri ingin membunuh pak Sean namun Arini menyelamatkan suaminya yang menempatkan tubuhnya di depan pak Sean jadi dia yang tertembak," jelas Nick


"OMG, lalu pelakunya gimana sekarang?" tanya Vani


"Masih bersama anak buah kita Van, entah apa yang akan dilakukan oleh pak Sean," jawab Nick


Boleh aku ikutan bejek-bejek tu penculik," kata Vani yang membuat Nick menggelengkan kepala.


Beberapa waktu kemudian, mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit, Nick memarkirkan kendaraannya di parkiran khusus,


Nick melangkahkan kakinya dengan berat sekali, dia juga sering-sering berdoa supaya Sean melupakan kejadian tadi.


Saat pintu dibuka, kedua boleh mata Sean dan Arini menoleh.


Raut wajah Sean seketika berubah, rasa kesalnya kembali ke ubun-ubun.

__ADS_1


Nick memegangi tangan Vani seolah meminta perlindungan pada calon istrinya tersebut.


"Nickkkk!!" Panggil Sean dengan suara menggelegar,


Sean yang kesal menarik Vani lalu mencekik Nick,


"Brengsek, awas kamu seumur hidup gajian kamu tak akan aku cairkan," ancam Sean dengan menggoyang-goyang tubuh Nick.


"Ampun pak, ini semua ide gila Shane." Nick membela diri.


Vani yang tidak tega calon suaminya dianiaya Sean pun meminta maaf dan memohon Sean melepaskannya.


"Pak Sean lepaskanlah mas Nick, kasihanilah saya pak, kalau dia meninggal bagaimana dengan nasib saya," pinta Vani dengan puppy eyes nya.


"Cari lagi," sahut Sean.


"Nggak bisa pak, mas Nick telah menDP saya pak," ujar Vani


Sean akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Nick, meskipun begitu itu hanya pura-pura Sean mana mungkin mencekik Nick beneran.


"Mana saja yang di DP?" tanya Sean.


"Bibir, leher, dan Dada" jawab Vani.


Nick meletakkan tangan di dahinya, bagaimana Vani menceritakan semua. mendengar jawaban Vani membuat Sean tertawa.


Dia membogem bahu Nick, "Kuat juga rudal mu menahan hasrat saat melakukan DP, tapi kamu bodoh kenapa nggak dibayar tuntas sekalian," kata Sean dengan terkekeh.


"Vani nggak mau pak, coba kalau mau sudah di pastikan saya akan memanjatnya sampai subuh," sahut Nick


Vani yang kesal, meninggalkan dua lelaki me sum ini, dia menuju dimana Arini berbaring.


"Astaga Arini, bagaimana bisa seperti ini sih?" tanya Vani cemas.


"Iya Van, tapi udah baikan kok," jawab Arini.


Nick sudah lega sekarang, meski sempat dianiaya sebentar oleh Sean.


Nick mengeluarkan berkas dari jas jenjangnya, dia meminta tanda tangan Sean dan setelah itu dia pamit undur diri karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Vani yang ingin menemani Arini memutuskan untuk tinggal.


"Baiklah saya balik dulu, nitip Vani ya pak?" pinta Nick lalu keluar.


"Kenapa nggak dibawa saja sih, jadi aku nggak bisa berduaan dengan Arini," gerutu Sean.


Di sisi lain, Daffa dan Shane tertawa jika ingat akan Sean, mereka rencannya akan datang lagi ke ruang sakit untuk menjenguk Arini.


"Kamu ada ide gak, lepas dari amukan Sean?" tanya Daffa


"Ada dong, nanti aku mau ngajak Amira," jawab Shane dengan terkekeh.


"Dengan begitu Pak Sean nggak akan berani menghajar saya, karena pasti Amira akan membela saya," imbuh Shane kemudian.

__ADS_1


"Sungguh ku akui, ide kamu benar-benar brilian," timpal Daffa.


__ADS_2