Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Sean tahu


__ADS_3

Arini merasa ada yang aneh dengan Sean, tidak biasa Sean menghindarinya.


Sean pergi mengambil pakaian kerjanya dan pergi ke kantor,


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Arini


"Ke kantor, aku lupa kalau ada meeting penting yang nggak bisa aku tinggal," jawab Sean dengan dingin.


Arini menatap Sean yang tiba-tiba berubah bahkan setelah siap dengan pakaiannya dia langsung keluar tanpa kecupan untuk Arini.


Perubahan sikap Sean membuat Arini gusar, bertanya-tanya ada apa dengan Sean yang tiba-tiba berubah.


Saat keadaanya yang seperti itu Marcel menghubunginya, namun tidak Arini angkat karena hatinya tidak tenang memikirkan Sean.


Di kantor Sean menyuruh Nick untuk menyelidiki siapa yang sering mengirim makanan untuk Arini.


Dia juga mengecek CCTV di rumahnya dan betapa terkejutnya Sean saat melihat Arini keluar rumah untuk menemui Marcel.


"Apa yang kamu lakukan Arini," gumam Sean dengan marah.


Dia membuang semua benda yang ada di mejanya, sehingga membuat Nick yang berada di depannya menjadi kaget.


Terlihat Sean mengamuk, hancur dan sakit hati Sean mengetahui kalau istri tercintanya berhubungan dengan Marcel saingan bisnisnya.


"Arini! teganya dirimu," ucap Sean dengan mata yang sedikit basah di ujung.


Lalu Sean pergi ke klub untuk minum, saat dia minum banyak wanitanya dulu yang datang mendekat untuk menggoda Sean,


Karena hati Sean yang kacau, dan amarah yang bergemuruh dia menyiram setiap wanita yang berusaha menyentuhnya.


"Kalian berani menyentuhku lagi, aku bunuh kalian! tubuhku hanya milik istriku," bentaknya yang membuat semua wanita pergi meninggalkan Sean.


Dalam mabuk pun Sean masih ingat akan Arini, dia terus meracau betapa kecewanya Sean pada Arini.


Nick menyusul Sean ke bar, saat kesana dia melihat keadaan Sean yang kacau, entah berapa botol minuman yang dia habiskan.


Nick mendekati Sean yang masih saja minum,


"Pak sudah pak, anda sudah minum dengan banyak," kata Nick


"Arini tega padaku, dia menghianati aku dengan Marcel," sahut Sean


Melihat Sean seperti ini membuat Nick iba, Nick yang memeriksa CCTV tadi juga ikut menyayangkan sikap Arini yang berani menemui Marcel di depan rumah Sean.


"Anda mau pulang?" tanya Nick


Sean tidak menjawab pertanyaan Nick, akhirnya dia menyewa kamar untuk Sean supaya Sean bisa istirahat.

__ADS_1


Di sisi lain Arini menunggu kedatangan Sean, dia sungguh cemas sekali karena tadi Sean berangkat dengan tubuh yang kurang fit.


Arini berkali-kali menghubungi Sean namun tidak diangkat bahkan sekarang ponsel Sean tidak aktif.


Arini semakin cemas, dia mencoba menghubungi Nick namun Nick juga tidak mengangkatnya.


"Ada apa ini," gumam Arini.


Air matanya lolos begitu saja, cemas memikirkan Sean, baru kali ini Arini merasakan hal seperti ini, dia benar-benar kalut.


Hingga malam tiba namun Sean masih belum pulang, ponselnya juga masih non aktif.


"Sayang, kamu kenapa?" Arini bermonolog dengan dirinya sendiri.


Dia mondar mandir dengan memegangi ponselnya dan sesekali melihat bawah dari jendelanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun Sean belum pulang, Arini sangat gusar. Dia bingung harus bagaimana, nggak mungkin juga menyusul Sean ke kantor.


Merasa leleh Arini merebahkan diri dan mencoba memejamkan matanya meski pikirannya jauh melayang ke Sean.


Di bar Nick tetap setia menunggui Sean yang masih memejamkan matanya, hingga Sean akhirnya sadar dan dia meminta Nick untuk mengantarnya pulang.


"Kenapa tidak menginap di sini saja pak?" tanya Nick


"Pulang saja, aku tidak mau membuat Arini khawatir.


Selama perjalanan Sean hanya terdiam, dia masih tak habis pikir bagaimana Marcel dan Arini begitu dekat.


Setibanya di rumah, kepala pelayan menyambut Sean, "Apa sudah makan malam?" tanya nya


"Siapkan makanan saja buat Tuan Sean karena tadi dia belum makan," perintah Nick.


Kepala pelayan mengangguk dan saat hendak membalikkan badannya, Sean melarangnya karena dia tidak nafsu makan.


"Kalau anda tidak makan, anda bisa sakit," sahut Nick


"Benar Tuan, nyonya Arini juga belum makan," imbuh kepala pelayan.


Sean melemparkan tatapan mautnya pada kepala pelayan, "Bodoh! kenapa kalian membiarkan nyonya tidak makan! apa kalian mau aku pecat," maki Sean


"Maaf tuan tapi nyonya benar-benar tidak mau makan," sahut kepala pelayan


"Sudah lah, sana! kamu juga Nick pulanglah," ucap Sean lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Sean melihat Arini terlelap. Dia merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi istrinya tersebut.


Pagi sekali Sean sudah bangun, dia mandi dan bersiap. Setalah Sean menutup pintu Arini terbangun, dia memutar bola matanya mencari Sean, dia melihat baju kotor di sofa itu membuat Arini senang bearti Sean semalam pulang.

__ADS_1


Arini segera membersihkan diri lalu menyusul Sean di luar, Sean nampak sedang menikmati sarapannya.


"Kok aku nggak ditunggu sih sayang," kata Arini manja lalu hendak mengecup kening Sean.


Namun Sean menolak dengan memalingkan wajahnya.


Sikap Sean kali ini benar-benar membuat Arini bingung dan juga sakit apalagi banyak pelayan yang menatapnya.


Arini menarik kursi lalu ikut makan, Sean yang sudah selesai beranjak dari tempat duduknya dan pergi tanpa sepatah kata sedikitpun.


Arini memakan sarapannya dengan air mata yang jatuh, sikap Sean benar-benar membuatnya lemah kali ini, ada apa sebenarnya? pertanyaan itulah yang kini menari-nari di pikiran Arini.


Arini tidak menghabiskan makanannya dia segera kembali lagi di kamarnya.


Saat memikirkan Sean, Marcel menghubunginya. Di sana Marcel juga khawatir kenapa Arini tidak membalas dan juga tidak mengangkat telponnya.


Meskipun terkadang juga cuek namun Arini masih mau mengangkat panggilannya dan menjawab pesan berbeda dengan kali ini.


Marcel berencana menemui Arini di depan rumahnya, Sean yang kebetulan kembali lagi karena ada berkas yang tertinggal curiga pasalnya ada mobil mewah di depan pagar rumahnya.


"Kita berhenti di sini dulu," titah Sean


Marcel terus saja menghubungi Arini,


Arini yang pusing akhirnya mengangkat panggilan Marcel,


~ Ada apa! ~ Arini


~ Aku di depan rumah, temui aku ya please, ~ Marcel


~ Ogah ~ Arini


~ Ya sudah aku masuk saja dan menunggu sampai kamu keluar ~ Marcel


Arini mematikan sepihak panggilan Marcel, dia kesal sekali dengan Marcel.


"Tidak tau apa kalau aku lagi galau," gerutu Arini.


Arini melempar ponselnya ke tempat tidur, lalu dia ikut merebahkan dirinya.


Lagi-lagi Marcel memanggil,


Arrrrgggggggg


Arini frustasi, dengan amarah yang menggebu-gebu dia keluar untuk menemui Marcel ingin rasanya memaki Marcel.


Arini keluar begitu pula dengan Marcel yang juga keluar dari mobil.

__ADS_1


Sean sangat hancur melihat Arini dan Marcel, "Lihatlah Nick kelakuan istriku saat aku tidak di rumah,"


__ADS_2