
"Asal apa?" tanya Sean penasaran
Sean menatap wajah istrinya, dia menunggu jawaban yang keluar dari mulut Arini dengan harap harap cemas.
"Tu beresin koperku, baju bajuku tolong digantung kembali ya sayang. Tas, sepatu taruh di tempat semula, jangan nyuruh pelayan aku maunya kamu," jawab Arini
Sean bak gunung Merapi yang siap meletus, dia kesal sekali dengan Arini bisa bisanya memerintah dirinya yang berkuasa di sini.
"Ogah," kata Sean
"Ya udah aku pergi ni," ancam Arini berjalan mendekati kopernya
"Iya, iya!" teriak Sean kesal
Arini tersenyum puas, dia senang sekali mengerjai Sean sedangkan Sean menggerutu, segala macam umpatan keluar dari mulutnya namun Arini cuek bebek dengan hal ini. Dengan menggerutu dia mulai membongkar dua koper besar yang hendak Arini gunakan untuk minggat.
"Brengsek wanita ini, aku yang berkuasa disini bisa bisanya dia mengerjai aku seperti ini," batin Sean dengan melirik Arini yang merebahkan dirinya di kasur.
Satu koper sudah kelar, tinggal satu koper lagi.
"Sudah ya, aku capek. Lagian banyak sekali barang kamu," kata Sean
"Lanjutkan lagian itu salah kamu sendiri kenapa menyakiti perasaanku begitu dalam hingga aku merasa sakit hati dan memutuskan untuk minggat darimu," sahut Arini
"Lebay sekali dirimu, seolah yang jadi korban adalah dirimu, padahal aku lah korban sesungguhnya," timpal Sean kesal
Arini hanya tertawa mendengar kata-kata Sean, tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Sean benar adanya.
Mereka berdua akhirnya berdebat lagi, Sean yang tak ingin adu mulut akhirnya membuka koper satunya. Betapa terkejutnya dia ternyata dalam koper Arini berisi baju-bajunya.
"Kenapa koper ini berisi pakaianku? kamu mencurinya ya!" seru Sean
"Sembarangan, aku tidak mencurinya. Aku hanya mengambil beberapa potong saja itupun baju yang jarang kamu pakai," sahut Arini
Sean bingung, sebenarnya untuk apa Arini membawa baju-bajunya.
"Memangnya untuk apa kamu membawa baju bajuku?" tanya Sean heran
"Untuk berjaga-jaga jikalau anak kita merindukan papanya, jadi aku bawa bajumu," jawab Arini
"Anak kita atau kamu yang akan rindu?" goda Sean
Wajah Arini nampak merona, dia sungguh malu karena Sean seakan tau apa yang dipikirkan Arini.
"Munafik, aku tau kalau kamu tidak bisa hidup tanpaku," batin Sean dengan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Sean memasukkan kembali beberapa potong bajunya yang hendak dibawa Arini, dia sungguh senang kalau ternyata Arini juga tak bisa hidup tanpa dirinya.
Setelah selesai memberesi kekacauan yang dibuat Arini, Sean ikut merebahkan dirinya di tempat tidur, dia sungguh lelah sekali.
"Jika kamu benar-benar pergi meninggalkanku apa yang kamu lakukan jika merindukan aku? apa cukup jika hanya memandangi bajuku?" tanya Sean
Arini menatap Sean,
"Gampang lah, cari saja penggantimu gitu aja repot," jawab Arini dengan tertawa
Sungguh Sean kesal sekali dengan jawaban Arini, ingin rasanya menjitak Arini sampai puas, saking kesalnya sampai Sean membayangkan mengikat Arini dan dia menjitak Arini sampai puas.
Karena bayangannya itu Sean senyum-senyum sendiri, Arini yang menatapnya pun mengerutkan alisnya.
"Kenapa dia senyum-senyum sendiri, jangan-jangan dia merencanakan sesuatu untuk membalas ku," batin Arini curiga
Sean yang sadar kalau Arini menatapnya pun terkekeh, " Apa sayang?" tanya Sean
"Aku cuma heran kenapa kamu senyum-senyum sendiri tak jelas," jawab Arini
Sean semakin mendekatkan tubuhnya ke Arini, dan ciuman panas tak dapat terelakkan.
"Tunggu sayang," kata Arini setelah mendorong tubuh Sean sehingga pautan mereka terurai
"Jika kamu memanjatku, untuk hari ini aku minta syarat," jawab Arini
Sean mengerutkan alisnya, dia sudah membereskan kekacauan yang dibuatnya lalu sekarang dia mau minta syarat apa lagi?
"Apa?" tanya Sean
"Maafkanlah mas Daffa dan segera berbaikan, aku tak mau jika karena aku persahabatan kalian putus," jawab Arini dengan sedih
Sean kembali kesal karena Arini memintanya berbaikan dengan Daffa, dia masih sakit hati dengan Daffa yang berani memeluk wanitanya.
Sean beranjak dari tempat tidur, "Kalau kamu tidak mau melayaniku tidak masalah namun jangan menyuruhku untuk memaafkan Daffa saat ini," kata Sean lalu keluar kamar.
Arini menghela nafas, dia sungguh tak bermaksud membuat Sean marah.
Dengan rasa bersalah Arini mengejar Sean yang pergi ke ruang kerjanya, Sean merebahkan diri di sofa sambil memijat keningnya yang semakin pusing.
Dengan langkah pelan Arini mendekat dia pun duduk di sofa samping Sean,
"Aku tau kamu masih kesal dan marah dengan kejadian kemarin, tapi mau sampai kapan kamu akan memusuhi sahabatmu sendiri?" kata Arini
Arini beranjak lalu memindahkan kepala Sean dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Ntah lah, untuk saat ini aku masih belum bisa memaafkannya. Dia hampir saja membuat aku kehilangan dirimu," sahut Sean
"Aku janji nggak akan pergi dari hidupmu," janji Arini
"Asal kamu nggak nyakitin aku," batin Arini dengan terkekeh.
Sean menatap Arini curiga, "Apa kamu mencintaiku?" tanya Sean
"Aku sungguh mencintai kamu sayang, nothing gonna change my love for you," jawab Arini tulus dari dalam hatinya
Sean menatap Arini dengan lekat, dia sungguh terharu akan ucapan Arini.
"Seberapa besar cintamu padaku?" tanya Sean
"Cintaku nggak sebesar cintamu, cintaku sederhana sekali, hanya sebesar ujung kuku," jawab Arini
Sean mengerutkan alisnya, "Kecil sekali," protes Sean
"Pantas saja kamu mau dipeluk Daffa karena cintamu padaku kecil sekali," imbuh Sean
Arini tersenyum, dia sudah mengira kalau Sean pasti protes tapi dia juga kesal karena menuduhnya mau dipeluk Daffa padahal kenyatannya Daffa lah yang tiba-tiba memeluk dirinya.
"Dengerin dulu dan juga jangan asal menuduh, memang cintaku cuma sebesar ujung kuku namun ujung kuku akan terus tumbuh meski berapa kali dipotong," ungkap Arini
Sean lalu beranjak dari rebahannya, dia langsung memeluk istrinya dengan penuh haru.
"Bearti cintamu sungguh besar padaku sayang," ujar Sean tapi kenapa kamu sering marah-marah padaku dan selalu saja membantah perkataan ku," protes Sean lagi
Arini tersenyum," itulah yang membuat kita semakin dekat dan saling mencintai sayang," sahut Arini
Sean tersenyum, memang benar yang dikatakan Arini, cinta mereka berawal dari cek cok setiap harinya. Dari cek Cok dan debat-debat yang nggak bermutu munculah benih benih cinta yang akhirnya tumbuh menjadi pohon cinta yang mengakar dan mendarah daging di hati mereka masing-masing.
"Jadi kamu mau kan memaafkan mas Daffa?" tanya Arini
Sean mengangguk yang tandanya dia setuju untuk memaafkan Daffa tapi tentu dengan syarat Arini mau dipanjat.
"Baiklah," sahut Arini
Adegan panas kini terjadi di ruang kerja Sean. Mereka berdua menikmati olahraga sofa dengan penuh gairah. Suara merdu Sean dan Arini saling bersautan.
Di bawah ada Nick yang harus menemui Sean sekarang juga, pelayan Sean menyuruh Nick untuk langsung ke ruang kerja Sean karena tadi pelayan tersebut melihat Sean berada di ruang kerjanya.
Saat hendak masuk telinga Nick menangkap suara suara gaib yang membuatnya merinding dan mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Busyet, pak Sean melancarkan serangan senjanya," gumam Nick dengan menggelengkan kepala
__ADS_1