Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Ingin ke Trunyan


__ADS_3

"Untung istriku coba istri orang lain sudah pasti aku cincang dan aku berikan pada ikan hiu," gerutu Sean


Arini yang mendengarnya melemparkan tatapan mautnya


"Terus kamu dicincang suaminya, enak aja pengen cincang istri orang," sahut Arini.


Sean terkekeh, karena gemas Sean mengacak-acak rambut Arini hingga rambut Arini berantakan.


Tepat pukul tujuh Sean berangkat ke kantor, dia meminta sopir rumah untuk mengantarnya.


Hari ini Sean berniat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, dia juga menyiapkan semua yang dibutuhkan karena kantor akan ditinggal selama tiga hari dan mungkin lebih.


Sean juga menghubungi Nick kalau selama tiga hari ini dia harus memantau perusahaan dari Belanda, tentu hal itu membuat Nick kesal.


Setelah makan siang Sean mengumpulkan petinggi perusahaan untuk menyampaikan cutinya selama tiga hari dan bisa lebih. Sean juga bilang kalau Nick lah yang akan memantau perusahaan dari Belanda.


Di rumah Arini sudah bersiap untuk besok, dia sudah berkhayal berbelanja di pasar Sukowati. Banyak yang ingin dia beli mulai dari kaos, celana dan lain-lain.


" Mama kok nggak sabar ya sayang, ingin segera terbang ke Bali," kata Arini dengan mengelus perutnya yang sudah membuncit.


Waktu berlalu dengan cepat, sudah pukul sembilan namun Sean belum pulang sehingga membuat Arini cemas.


Arini mengambil ponselnya dan menghubungi Sean


"Sayang kok belum pulang?" Arini


"Belum sayang, pekerjaanku masih banyak. Kamu tidur dulu saja." Sean


"Aku mau nunggu kamu," Arini


"Pengen aku panjat ya," Sean


"Iya," Arini


"Ya sudah tidur dulu nanti kalau aku pulang aku bangunin," Sean


"Ya sudah hati-hati ya sayang dan segera pulang," Arini


"Ok" Sean


Tut Tut Tut


Panggilan berakhir.


Karena matanya sudah tidak biasa di ajak kompromi, Arini merebahkan dirinya di tempat tidur dan baru sebentar saja dia sudah berpindah alam.


Sean masih disibukkan dengan urusan kantornya dan pukul dua dini hari dia baru pulang.


Lelahnya lenyap sudah saat melihat wajah lelap sang istri.


Ingin sekali dia memanjat Arini namun Sean tak tega jika membangunkannya.


"Besok di Bali saja panjat pinangnya," gumamnya lalu merebahkan diri di samping Arini. Tak lupa Sean mengobrol sebentar dengan Jabang bayinya.


Rasa kantuk kini menyerang Sean dan baru sebentar saja Sean sudah terlelap.


*******


Ayam berkokok mengundang mentari untuk segera keluar dari persembunyiannya,


Mengucapkan selamat tinggal pada sang bintang Kejora.

__ADS_1


Pagi cerah menyapa, menghangatkan setiap insan dengan cahayanya.


Perlahan mata Arini terbuka saat cahaya mentari masuk melalui celah-celah korden kamarnya.


Saat Arini membuka matanya yang pertama dilihat adalah wajah tampan Sean.


Tangan Arini tergerak menyusuri wajah Sean, dia tersenyum dan bersyukur atas anugerah yang Maha Kuasa padanya.


"Di antara berjuta di sana akulah yang paling beruntung karena telah dicintai oleh kamu, terima kasih sayang telah ada untuk aku, menemani hari-hariku dan memberi apapun padaku," gumam Arini.


Sean sebenarnya sudah bangun karena merasakan pergerakan pada wajahnya, namun dia pura-pura tidur supaya Arini puas memainkan wajahnya.


"Maka dari itu jangan menolak kalau aku memanjat mu," sahut Sean.


Arini tersentak kaget, dia mencubit perut Sean karena kesal.


"Kenapa aku di cubit?" tanya Sean dengan memegangi perutnya yang sakit.


"Karena kamu mengesalkan," jawab Arini.


Pukul Sembilan Arini dan Sean sudah berada di Bandara, kali ini mereka naik pesawat umum dengan naik kelas bisnis.


Kurang lebih selama dua jam mereka dalam burung besi, kini pesawat sudah landing di Bandara internasional Ngurah Rai.


Sean dijemput dan dikawal beberapa bodyguardnya, kini mobil mereka menuju hotel.


"Kita ke pasar Sukowati besok ya, karena kita harus istirahat dulu," kata Sean.


"Ok boz," timpal Arini.


Sesampainya di kamar hotel Arini dan Sean istirahat sejenak untuk merenggangkan otot-otot yang kaku.


"Apa rencana kamu setelah belanja di Sukowati?" tanya Sean.


"Lalu?" tanya Sean lagi


"Aku ingin melihat mayat," jawab Arini


Sean terkejut dengan jawaban Arini, Sean hanya bisa menggelengkan kepala dengan permintaan Arini yang menurutnya di luar nalar.


"Nggak boleh," sahut Sean.


"Kenapa nggak boleh sih sayang?" tanya Arini dengan mata yang berkaca.


Sean hanya bisa mengusap rambutnya kasar, bagiamana bisa menginginkan hal yang di luar nalar.


"Ya udah nanti ke pergi ke rumah sakit untuk melihat mayatnya," ujar Sean.


"Nggak mau,' sahut Arini


Sean semakin frustasi dengan permintaan Arini, apa dia harus membunuh orang dan membawa mayatnya ke hadapan Arini?


"Apa kamu mau aku membunuh seseorang dan membawa mayatnya di hadapan kamu?" tanya Sean kesal.


Arini nampak frustasi, dia sudah mengira kalau Sean berfikiran kalau mayat yang dimaksud adalah mayat dari sembarang orang yang meninggal.


"Aku ingin melihat mayat di desa Trunyan sayang, mayat yang digeletakkan begitu saja di bawah pohon. Mereka yang digeletakkan di sana bukan orang sembarangan, mangkanya itu aku ingin melihat bagaimana keadaan di sana," jelas Arini


"Ooohhhhh" sahut Sean.


"Ya sudah besok kita kesana, lalu pengen apa lagi?" tanya Sean

__ADS_1


"Hmmmm pengen naik boat di Tanjung Benoa, terus pengen ke GWK, lalu pengen belanja ke Joger dan Krisna juga," jawab Arini dengan terkekeh.


"Dasar Buto Ijo, woy permintaan kamu banyak sekali. Sengaja ya buat papa susah," sahut Sean kesal dengan mendekatkan bibirnya di perut Arini.


Arini hanya tertawa, bahkan sama anaknya Sean marah-marah.


**********


Mata Arini membola melihat pasar Sukowati yang telah direnovasi oleh pemerintah.


"Wah sekarang bagus sekali," gumam Arini


"Biasa saja, udah jangan lebay seperti tidak pernah melihat bangunan bagus saja," gerutu Sean.


"Kamu tu kenapa selalu iri dengan kesenanganku," sahut Arini


Sean tertawa mendengar kata-kata Arini, "Apa? aku iri, sorry ya, kesenanganku jauh lebih berbobot daripada kesenangan dirimu," timpal Sean.


Arini mencibirkan bibir, "Kesenanganmu ya memanjat diriku memangnya ada yang lain," ungkap Arini.


Sean tertawa mendengar kata-kata Arini, memang benar kalau kesenangannya adalah memanjat sang istri.


Dalam kondisi apapun memanjat sang istri tidak boleh absen, itulah motto Sean.


Sean dan Arini masuk ke dalam, pasar nampak rapi dan bersih berbeda dengan sebelumnya.


Melihat baju-baju digantung membuat mata Arini menghijau seperti bertemu dengan dolar,


Arini mendekati salah satu stand yang kebetulan penjualnya masih muda dan tampan lagi.


Arini melihat-lihat baju di sana, dan sang penjual datang menghampiri Arini.


Nampak pemuda tersebut tersenyum ramah pada Arini sehingga membuat darah Sean mendidih namun sebisa mungkin Sean mencoba menahan amarahnya.


"Baju ini berapa mas harganya?" tanya Arini


Belum sempat dijawab dengan penjualnya Sean sudah menarik tangan Arini


"Jangan lebay, panggil namanya langsung nggak udah pake mas, memangnya dia mas kamu," bisik Sean.


Arini menghela nafas dan bilang Ok.


"Berapa mas ini?" tanya Arini lagi


Lagi-lagi tangan Arini ditarik Sean, "Kenapa masih panggil mas?" tanya Sean


Arini tersenyum karena tidak ingin berdebat di depan penjualnya.


Arini kembali lagi, lalu dia mengobrol


"Berapa ini?" tanya Arini


"300.000" jawabnya.


"Mahal sekali sih, kamu mau jualan apa ngerampok," sahut Arini.


"Oh ya nama kamu siapa?" tanya Arini kemudian.


"I Gusti mbak," jawab pemuda tersebut.


Lagi-lagi Sean menarik tangan Arini, "Apa-apaan kenapa ganjen sekali tanya-tanya nama," bisiknya.

__ADS_1


Kini kesabaran Arini tengah di ambang batas yang siap-siap meledak kapan saja.


__ADS_2