
Door!
Suara tembakan menggema, tangan Marcel telah menarik pelatuk pistol yang dibawanya.
Tubuh Marcel membatu, melihat Arini lah yang telah di tembaknya.
Dia mundur selangkah lalu menjatuhkan pistol yang dibawanya.
Keringat dingin telah membanjiri keningnya, tubuhnya gemetar dadanya ikut sesak melihat peristiwa di depannya, kini bahkan rasa sesal terbesit dalam hatinya,
"Maafkan aku Arini," gumamnya.
Dengan susah payah, Arini menggantikan posisi Sean meski tangan dan kakinya terikat, kini peluru mengenai tepat di dadanya.
Setelah timah panas dari pistol Marcel menembus dadanya, Arini pun ambruk dan Sean menangkap tubuh istrinya tersebut.
Darah segar merembes keluar, Sean sangat takut dan panik namun dia bingung harus bagaimana.
"Sayangggggg!" teriakan Sean sangat keras, dia benar-benar panik, ingin sekali mengangkat Arini dan segera membawanya pergi namun apa daya karena dia juga merasakan hal yang sama karena pukulan anak buah Marcel, kepala Sean juga mengeluarkan banyak darah.
Marcel terduduk lemas dilantai, ternyata cinta Arini sangat besar pada Sean, dia jadi malu karena kini dia juga mencintai Arini.
Brakk
Saat bersamaan Daffa dan teman-temannya membuka pintu dengan keras.
Daffa membolakan matanya melihat Arini maupun Sean bersimbah darah.
"Arini! Sean!," teriknya panik.
Dengan mata sayu dan menahan sakit Arini menatap Sean, "Maafkan aku," kata Arini dengan tersenyum.
"Jangan bicara," pinta Sean lalu dia mengangguk yang bersedia memaafkan istrinya tersebut.
Setelah mengangguk lalu Sean tergeletak tak sadarkan diri.
"Aneh, aku yang tertembak mengapa dia yang tak sadarkan diri," kata Arini lalu ikut tak sadarkan diri.
__ADS_1
Daffa berhasil melumpuhkan anak buah Marcel. Anak buah Sean kini yang mengambil alih akan Marcel dan anak buahnya. Sedangkan Nick segera membawa Sean dan Arini ke rumah sakit.
Dokter segera melakukan tindakan pada Arini dan Sean.
Karena peluru cukup dalam sehingga dokter harus melakukan operasi, sedangkan Sean yang tidak mengalami luka dalam hanya melakukan perawatan biasa.
Luka Sean hanya kepala dan beberapa bagian tubuhnya nampak terkena pukulan benda keras. Meski kepalanya mengeluarkan banyak darah namun tak ada yang fatal. Tubuh Sean yang cukup berotot mampu menahan segala pukulan yang diberikan oleh Marcel dan anak buahnya.
Tim dokter berusaha menyelamatkan Arini karena pelurunya cukup dalam sehingga dua jam melakukan operasi, tapi tak kunjung selesai.
Di sisi lain, Sean yang sudah mendapatkan perawatan pun sadar. Dia melihat sekelilingnya sambil mengingat-ingat kembali apa yang terjadi.
Matanya melihat sosok Nick yang menungguinya dari tadi.
"Mana Arini?" tanya Sean lirih sambil memegangi kepalanya yang pening.
"Nona Arini Masih di ruang operasi pak, istirahatlah dulu nanti saya kabari kalau operasinya selesai," jawab Nick yang sedari tadi cemas menunggui Sean.
Sean yang sangat khawatir dengan istrinya pun tidak mengindahkan perkataan Nick, dia melepas infusnya dan pergi menuju ruang operasi meski keadaannya masih belum pulih benar.
Sean menghampiri Daffa yang sedari tadi juga menunggu di depan ruang operasi.
"Dia istriku sudah sepatutnya aku menungguinya apalagi semua terjadi karena dia mengorbankan nyawanya untuk melindungi diriku," sahut Sean.
"Tapi keadaanmu...." belum sempat Daffa melanjutkan Sean melemparkan tatapan elangnya pada Daffa.
Daffa hanya terdiam, dia tidak ingin berdebat dengan Sean karena memang sahabatnya tidak bisa di kalahkan. Dari dulu memang Sean sangat keras kepala, sering kali Daffa harus mengalah padanya untuk menghindari keributan.
Di dalam dokter sudah mengeluarkan peluru dari dalam dada Arini, mereka harus berhati-hati karena peluru hampir mengenai jantung Arini, ke kanan beberapa mili saja, sudah dipastikan Arini tidak akan selamat. Karena letaknya yang cukup dalam mengakibatkan Arini mengeluarkan banyak darah sehingga mau nggak mau harus dilakukan transfusi darah.
Dokter memerintahkan Suster untuk mengambil kantong darah, suster segera berlari keluar untuk mengambil pasokan darah.
Sean yang melihat suster berlari menjadi semakin panik begitu pula dengan Daffa.
"Kenapa suster tadi berlari? apa yang terjadi?" kata Sean dengan lirih, raut wajahnya kini berubah dari panik level 1 naik ke level 5.
Terbesit aneka pikiran negatif, dia sungguh tidak bisa membayangkan kalau sampai hal buruk terjadi pada Arini.
__ADS_1
Daffa yang tau kalau Sean sangat panik dan khawatir berusaha menenangkan sahabatnya tersebut meskipun dia sendiri tak kalah panik dan khawatir.
Suster kembali tanpa membawa kantong darah, dia melaporkan kalau stok darah dengan golongan yang Arini punyai telah kosong.
"Tanya keluarganya cepat, kita tidak punya banyak waktu," suruh dokter dengan panik.
Sister keluar dengan perasaan takut, dia sungguh takut kalau Sean mengamuk bagiamana pun juga Sean adalah seorang yang berpengaruh, direktur rumah sakit saja takut dengan Sean.
"Maaf, pasien mengeluarkan banyak darah, oleh sebab itu kamu memerlukan darah dengan golongan darah O, adakah yang memiliki golongan darah O?" tanya suster dengan menahan takut.
"Darahku B, apa bisa sus?" tanya Sean, karena panik berlebih Sean menjadi kurang fokus, jelas-jelas darahnya B mengapa masih menawarkan diri.
"Maaf pak golongan B tidak bisa," jawab Suster.
Sean nampak bingung dan khawatir, kebetulan Daffa memiliki darah O, sehingga suster mengajak Daffa untuk segera diambil darahnya
Setelah itu suster segera membawa darah Daffa ke ruang operasi.
"Ini dok, dua kantong darah," kata Suster menyerahkan kantong darah yang dibawanya.
Dokter lainnya segera mentransfer darah ke tubuh Arini karena takut kalau Arini kehabisan darah karena bisa fatal jika hal itu terjadi.
Setelah masalah darah diatasi kini detak jantung Arini sungguh lemah sekali, sekali lagi dokter dibuat khawatir dan panik oleh Arini. Detak jantung para medis di ruang operasi tersebut dibuat dag dig dug tak karuan.
"Dok, detak jantungnya lemah sekali," kata suster dengan melihat garis-garis di monitor.
Dokter seketika memucat, dia melakukan yang bisa dilakukan jabatan serta ijin rumah sakit ini sedang dipertaruhkan sekarang.
Kalau sampai terjadi hal yang buruk dengan Arini tamatlah sudah karir dan nasib rumah sakit tersebut.
"Bagaimana ini dok?" tanya dokter yang lain.
"Kita berdoa saja dok, semoga nyawa nyonya Sean belum expired sehingga dia belum meninggalkan dunia ini," jawab dokter.
"Dari tadi aku selalu berdoa dalam hati dok, jika sampai nyawa nyonya Sean sudah expired habislah kita," sahut dokter lainnya
Para suster memandang deretan Dokter yang mengoperasi Arini, bisa-bisanya Dokter tersebut malah bikin candaan saat suasana genting seperti ini.
__ADS_1
Meskipun begitu Meraka juga tidak bisa protes, mungkin itu cara supaya Dokter tidak panik, karena beban dipundak dokter sungguh berat sekali.
"Tidak, tidak please!!!" teriak dokter panik.