
Daffa, Shane dan Nick kembali ke ruangan Sean, saat di depan ruangannya sudah tidak terdengar suara-suara yang membuat merinding sehingga mereka memberanikan diri masuk.
Terlihat meja kerja Sean yang sedikit berantakan bahkan beberapa berkas ada yang sampai terjatuh. Kursi kebesarannya sedikit menjauh dari meja. Tiga orang ini yang melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepala.
Sean dan Arini bersantai di sofa sambil menghabiskan minuman mereka.
"Apa yang telah kalian lakukan kenapa meja kerjamu sedikit berantakan Sean?" tanya Daffa. Kemudian mereka bertiga ikut bergabung Sean dan Arini.
"Biasa kena goncangan jadi agak berantakan," jawab Sean asal
"Goncangan apa Pak?" tanya Nick memancing
"Sodokan rudal Nick," sahut Shane dengan tertawa.
Mereka bertiga tertawa sehingga membuat Sean kesal. "Brengsek kalian, tertawa lah sepuasnya jika kalian punya istri kelak pasti akan seperti aku," timpal Sean.
"Di sini yang paling me sum kan dirimu," ujar Daffa.
Sean semakin kesal,
"Ada urusan apa kalian kesini! mengganggu saja," kata Sean dengan kesal
"Karena ada yang dibahas Sean," sahut Daffa.
Arini hanya menundukkan kepala lalu dia pun beranjak dan merapikan meja kerja Sean. Sebenarnya Sean sudah melarangnya namun Arini tak mengindahkan larangan Sean.
"Nggak papa lagian cuma beresin gini doang," ujar Arini.
*******
Hubungan Nick dan Vani semakin dekat bahkan mereka berdua sudah berencana untuk melangsungkan pernikahan.
"Van, aku kangen nih," kata Nick yang bersandar di dinding menunggui Vani mengelap kaca.
"Kan ini udah ketemu pak Nick," sahut Vani asal sambil mengusap peluh yang keluar.
Nick mengambil sapu tangannya lalu mengusap kening Vani yang basah karena keringat yang keluar.
Vani tersenyum dan bilang terima kasih pada Nick.
"Makasih pak," kata Vani
"Sama-sama," sahut Nick
Vani yang tiba-tiba ingin buang air kecil pun langsung memberikan kanebonya pada Nick.
"Nitip bentar pak," kata Vani lalu berlari kecil menuju toilet.
Nick tersenyum, dia pun melepas jasnya dan melipat kemejanya sampai ke lengan. Dia mulai mengelap kaca yang kotor
Tak selang berapa lama, Via pun datang tanpa tau kalau Nick yang mengelap kaca.
"Hey kamu, pel loby biar Vani nanti yang mengelap kaca,' perintah Via
__ADS_1
Nick menoleh, "Kamu berani menyuruhku?" tanya Nick dengan tangan yang masih memegang kanebo
Via yang kaget membuka mulutnya, "Pa pa pak Nick," kata Via dengan terbata
Vani yang sudah selesai mengambil kanebo dari tangan Nick.
"Aku kembali ke ruangan ku dulu ya, nanti makan siang bersama," kata Nick lalu mengambil jasnya dan berlalu.
Vani yang serba bingung hanya terdiam, pasalnya ada Via yang masih terpaku di tempatnya.
Vani mengemasi alat perangnya, karena dia akan pindah tempat.
"Saya kesana dulu mbak," pamit Vani
Via yang sudah sadar memanggil Vani, "Van tunggu," teriak Via. "Apa hubunganmu dengan pak Nick?" tanya Via
"Nggak ada hubungan apa-apa," jawab Vani dan berlalu.
Via sungguh kesal, dia sungguh heran karena dulu Arini sedangkan sekarang Vani yang dapat boz.
Di sisi lain, Putri sibuk mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Bekerja di perusahaan besar tidak segampang kelihatannya, karena besar juga tanggung jawab yang dipikul.
"Put, kerjakan ini juga," titah Shane
Putri menerima berkas dari Shane lalu mengeceknya setelah itu dia meletakkannya.
Setelah Shane pulang dari Kota Shanghai, dia atas perintah Daffa membuatkan ruangan untuk Putri.
"Put," panggil Shane
Shane pun duduk di depan Putri, kini posisi mereka saling berhadapan.
"Kamu kuliah dimana?" tanya Shane
Putri mengerutkan alisnya, tumben si Shane ingin tau dia kuliah dimana.
"Ingin tau apa ingin tau banget?" goda Putri sambil tertawa
"Bedanya tau dan tau banget tu apa?" tanya Shane dengan terkekeh,
"Ada deh," jawab Putri
"Ah nggak asik," sahut Shane.
"Aku kuliah di universitas xxx pak, dengan beasiswa full. Baru Kuliah saja aku udah dapat tawaran jadi Asisten dosen, namun aku menolaknya karena kan aku harus bekerja," ungkap Arini.
Shane mengangguk paham, "Aku salut padamu Put, pasti orang tua kamu bangga dengan kamu yang memiliki IQ seperti Albert Einstein," puji Shane
Putri tersenyum mendapat pujian dari Shane, "Ini semua berkat ayah saya pak Shane yang telah mendidik, merawat dan juga mengajari saya," ucap Putri.
"Mana ibu kamu?" tanya Shane
"Ibu pergi meninggalkan kami karena ayah tidak bisa memberikan kehidupan yang seperti dia inginkan," jawab Putri dengan nanar.
__ADS_1
Melihat Putri bersedih membuat Shane merasa bersalah, "Maafkan aku Put," kata Shane
Putri mengangguk dan tersenyum.
Karena harus melanjutkan pekerjaannya, Shane kembali ke ruangannya.
********
Hari pernikahan Sean dan Arini semakin dekat, mereka menyiapkan pesta yang megah untuk resepsi nanti, mereka juga meminta designer ternama untuk menggarap baju pernikahan mereka.
Resepsi mereka rencannya diadakan di hotel bintang lima, kurang lebih tiga ribu undangan disebar.
"Bagaimana Nick persiapannya?" tanya Sean
"Hampir selesai pak," jawab Nick
Nanti sore rencannya Arini dan Sean fitting baju, mereka memesan kebaya putih untuk akad, kebaya abu-abu dan juga gaun simpel tapi elegan untuk resepsi nanti.
Berita nikahnya Sean membuat para kekasih Sean sebelumnya jadi patah hati.
Bahkan ada wanita penghibur Sean yang sampai datang ke rumah untuk mencari Sean.
"Siapa kamu?" tanya Arini dengan wanita yang berparas menor.
"Kenalkan aku teman ranjang Sean," jawab wanita tersebut.
Arini tersenyum
"Wao, kita sama-sama teman ranjang Sean cuma bedanya aku halal sedangkan kamu Nggak," sahut Arini
"Bagiku hal itu nggak penting asalkan aku bisa mendapat banyak uang," timpal wanita itu
"Nantang malaikat ni cewek," batin Arini sambil terkekeh.
Wanita tersebut berusaha memprovokasi Arini, namun kelihatannya bukan Arini yang kesal dan marah melainkan dirinya.
Kamu tidur dengan Sean dapat apa?" tanya Arini. "Paling mentok dapat sepuluh juta," imbuh Arini sesudahnya yang membuat wanita itu kesal.
"Aku dapat kepuasan dan juga dapat banyak uang," jawab wanita tersebut.
Wanita tersebut selalu memanas manasi Arini namun bukannya sedih Arini malah sangat puas karena beberapa kali melihat wajah lawan bicaranya menjadi panas.
"Lihat saja Sean pasti kembali lagi padaku jika sudah bosan padamu," kata wanita tersebut
"Bagus dong, jadi aku bisa kencan dengan sugar dady," sahut Arini
"Dasar sinting," umpat wanita tersebut
"Dasar Mak lampir," sahut Arini
Merasa tak terima dikatai Mak Lampir, wanita itu hendak menarik rambut Arini sehingga Arini memelintir tangan wanita tersebut dan membuatnya memekik kesakitan.
"Kapok nggak, mau menarik rambutku?" kata Arini
__ADS_1
"Iya iya kapok, lepaskan aku," pinta wanita tersebut
Arini tersenyum licik, dia pun ada ide untuk mengerjai wanita tersebut.