Tentang Diana

Tentang Diana
Penyesalan


__ADS_3

"Kamu makin hari, makin kurus aja Shin?"


"Iya nih nda, aku setress mikirin anak aku,"sahut Shinta sambil memijit-mijit pelipisnya.


"Kalau kamu terus begini, kamu bisa gila Shint! Aku saranin, buang Diana jauh-jauh! Diana cuma bisa mempermalukan keluargamu dan keluarga besar kita."


Shintha terdiam. Memandang serius kakak kandungnya. "Sebaiknya aku yang akan pergi Nda, biarkan anak itu tinggal disini sendirian."


"Ide bagus, aku juga tidak sudi mempunyai keponakan seperti anakmu."


Shintha berdecih. "Dia bukan anakku!"


Diana diam, mendengarkan semua ucapan Bunda dan tantennya dibalik pohon. Air matanya mengalir, tangan dan kakinya bergetar hebat menahan isakan tangis yang hendak keluar dari mulut Diana.


"Bunda!!!!"


Diana bangun dari tidurnya, mengambil gelas berisi air yang ada di atas nakas. Ia meminum dengan sekali tegukan, keringat dikeningnya bercucuran, ia hanya tidur tapi keringatnya seperti habis keliling lapangan 10 kali putaran.


Lagi dan lagi, mimpi itu hadir. Mimpi yang selalu menghantuinya setiap hari, mimpi yang menjadi awal pemisah antara dirinya dan orang tuanya. Ia membenci orang tuanya tapi, ia juga sayang orang tuanya. Sejahat jahat orang tua keanaknya, orang tua tetap menjadi orsng tua, yang melahirkan, mengurus dan memberikannya makan sejak bayi.


Orang tuanya malu, jika ia teringat akan orang tuanya, ia akan merasa tak berguna. Mereka pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana nasibnya, mereka tak peduli ia mati ataukah masih hidup. Akankah bisa mereka datang ketika ia terbaring lemah dirumah sakit, diantara hidup dan matinya? Akankah mereka menangis dipelukannya, disaat dirinya menutup mata untuk selama-lamanya?


Diana sadar, mau seburuk apapun kondisinya bahkan nyawanya tiada pun mereka tidak akan pernah peduli. Miris sekali hidupnya, mereka malu mengakui bahwa dirinya adalah anak mereka.


Kadang ia ingin memberontak pada takdir. Tapi lagi-lagi ia diingatkan, kalau beban dan penderitaan dirinya tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh orang diluaran sana.


Seseorang menepuk bahu Diana pelan. Diana tersentak kaget, ia menoleh kebelakang.


"Kamu kenapa Star?"tanya Alterio duduk disampingnya.


Diana menggeleng lemah.


"Gak biasanya kamu tidur didalam kelas, kamu semalem gak tidur emang?"


"Kamu gak sakit kan, Bin?"sambar Bulan yang baru saja datang.


"Gak kok, cu-cuma pusing aja,"balas Diana sambil memejamkan matanya sebentar, menahan rasa pusing yang mendera.


"Kamu itu sakit Diana, kita ke UKS ya? Kamu bisa tidur disana,"ucap Bulan menarik kursi sebelah untuk didudukinya.


Diana menggeleng lemah.


"Kamu mimpi itu lagi?"tanya Alterio tiba-tiba.


"Iya."


Tepat sasaran. Mimpi buruk Diana adalah orang tuanya, semua tentang orang tuanya adalah mimpi buruk. Jika ia menjadi Diana, ia akan membenci mereka, ia akan bersumpah akan mencaci maki mereka disaat dirinya sukses nanti tapi ini Diana, bukan dirinya, Diana mempunyai hati yang lembut, dia pasti akan memaafkan siapapun yang telah berbuat salah.


"A-aku rindu mereka, a-aku takut mereka kenapa-kenapa,"lirih Diana menundukan kepalanya.


"Tenang saja Star, orang tua kamu tidak kenapa-kenapa tapi kamu yang kenapa-kenapa,"ujar Alterio.


Diana menatap Alterio dengan penuh pertanyaan sedangkan Bulan, merangkul Diana, memberikannya kekuatan.


"Jangan pikirin mereka Star, untuk sekarang kamu pikirin diri kamu sendiri."


"Iya Bintang, kamu harus bahagia, dan kita akan buat kamu bahagia,"tambah Bulan melirik sekilas Alterio, meminta persetujuan.


Diana beruntung, ia sangat beruntung bertemu dengan Alterio dan Bulan. Mereka selalu ada untuknya, mereka tidak pernah memandang kekurangannya, mereka selalu membuatnya semangat dalam menjalani hari-hari dan membuatnya tersenyum.


Andai saja ia selalu seperti ini, ada Alterio dan Bulan disampingnya. Tidak berpisah ataupun terpisah, semoga takdir menuliskan hal terbaik untuknya. Tak apa orang tuanya tak peduli, yang terpenting mereka ada disini, didekatnya.


                           OoO


Kaki Diana melangkah ringan kearah kamar mandi sekolah. Wajahnya sangat kering, ia ingin membasuh wajahnya. Semakin hari ia sudah tidak takut lagi dengan orang yang suka membullynya, ia juga lebih bisa mengatur kapan dan dimana saja suara terbata-batanya akan muncul. Sulit memang, tapi selama ia berusaha dan mencoba pasti akan bisa.

__ADS_1


Wajahnya terbasuh dengan air yang mengalir, rasanya sejuk sekali sampai-sampai ia tidak sadar kalau bajunya ikut basah karena cipratan air. Diana mematikan kerannya, ia mundur beberapa langkah kebelakang dan-


Buk


Diana menabrak seseorang, dengan ragu ia membalikan badannya kebelakang. Jatungnya berdebar, menatap seseorang yang berdiri angkuh didepannya. Ia berusaha untuk melarikan diri tapi sayang, tangannya dicekal kuat oleh orang itu.


Ia meringis kesakitan, wajahnya memelas, meminta orang orang itu melepaskan cekalannya.


"Lo pikir, lo sekarang bebas? Karena ada Alterio huh?!"


"Sakit Des!"ketus Diana.


"Bisa ngelawan huh!"


"Ak-aku salah apa Des?"tanya Diana.


"BIN-- eh,"


Diana dan Dessi menoleh, mendapati Bulan yang sedang marah. Tentu saja marah, sahabat mana yang diam saja melihat sahabat lainnya disakiti apalagi oleh teman sekelasnya. Bulan mendorong Dessi kasar sampai dia jatuh tersungkur kelantai.


"Tolol! Berani nyakitin sahabat gue, lo menderita!"ancam Bulan sambil menarik rambut Dessi.


Diana menangis, menyaksikan Dessi yang tak berdaya berhadapan dengan Bulan. Ia senang karena Bulan datang menolongnya tapi, melihat Bulan menyakiti Dessi rasanya ia merasa bersalah.


Bulan semakin menjadi jadi menghadapi Dessi, Diana mencoba untuk memisahkan mereka tapi hasilnya nihil, malahan ia sendiri yang terkena imbas. Bulan menghentikan aksinya melihat sahabatnya terjatuh karena tak sengaja terdorong olehnya.


"Bulan cukup!"tegas Diana menepis tangan Bulan yang hendak membangunkannya.


"Ma-makasih udah nolongin aku tapi aku mohon kamu jangan sakitin De-desi, Dessi kayak gini karena itu hobinya...."


"Tapi Bin! Dia udah keterlaluan! Mempunyai hobi menyakiti orang lain itu harus dibasmi!"tekan Bulan menatap Dessi dengan aura kemarahan.


Diana menatap Dessi sebentar kemudian menunduk. "Bi-biarin aja Bul, nanti juga dia sadar sendiri,"ucap Diana pelan.


Bukannya tenang, kemarahan Bulan semakin menjadi-jadi. Keinginan untuk mencabik-cabik wajah Dessi semakin membesar dalam diri Bulan. Diana, menepuk bahu Bulan memperingatkan dia untuk sedikit memendam emosinya.


Bulan masih menatap Dessi kesal, Dessi tidak peduli pada tatapan itu. Tapi, sekarang ini yang menjadi perhatiannya adalah air mata Diana dan tatapan Diana kepadanya, seolah mengatakan kalau dia lelah akan semuanya. Bulan dan Diana pergi dari kamar mandi, dengan setia Dessi memperhatikan punggung mereka berdua yang tak lagi tampak.


                         OoO


"Kenapa sih lo? Heran gue marah-marah terus?"tanya Alterio kesal karena sedari tadi Bulan terus-terus memaki-maki, entah siapa yang dimakinya.


"Gue kesel! Kesel! Kesel banget sama si gentong minyak!"teriak Bulan, menghentak-hentakan kakinya ke lantai.


"Dessi?"


"Yaiyalah! Siapa lagi!"kesal Bulan.


"Kenapa emangnya?"tanya Alterio.


"Tadi di kamar mandi, Bintang dibully gentong minyak!"


Uhuk


Alterio yang baru saja menyeruput minumnya tiba-tiba saja tersedak karena mendengar ucapan Bulan. Ia menarik tisu dan mengelap mulutnya.


"Terus?"


"Gue jambakin rambutnya."


"Terus?"


"Gue cakar tangannya!"


"Terus?"

__ADS_1


"Gu-- eh, kok lo ngomong terus mulu sih?!"dengus Bulan kesal.


"Kenapa gak lo kulitin aja Bul? Lo jadi mirip psikopat,"ujar Alterio enteng.


Bulan melotot, apa katanya psikopat? Memikirkan tentang bagaimana kejamnya seorang psikopat saja ia sudah bergidik takut apalagi menjadi psikopat? Heran dengan mulut Alterio, sikap cuek dan dingin ternyata mulutnya seperti cabe setan, pedas gila.


"Bulan!"panggil Alterio.


"Hmm?"


"Ada sesuatu dipipi lo,"ucap Alterio menunjukan pipinya.


"Apaan?"


"Noh"unjuk Alterio.


"Mana?"


"Ah, sini lah!"Alterio menarik tisu lagi dan membersihkan noda saos dipipi Bulan.


Bulan diam membeku, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Sedikit perhatian Alterio membuatnya terbawa perasaan, dengan cepat ia menggeleng, jangan sampai ia mencintai Alterio.


"Makan yang bener! Saos kok ada dipipi."cibir Alterio.


Bulan mencebik. "Ya namanya juga laper, pasti pengen buru-buru."


"Laper apa emang kebiasaan?"tanya Alterio meledek.


"Ish! Alter!!"


"Noh masih ada saos dipipi." Alterio menunjuk pipi sebelah kiri Bulan.


Bulan menutup wajahnya malu, cepat-cepat ia membersihkan wajahnya mengunakan air mineral. Saat air benar-benar mengenai wajah Bulan, Alterio tertawa membuat Bulan menatap Alterio bingung.


"Kasian kena tipu,"ejek Alterio.


Bulan kesal, ia melempari botol kosong kewajah Alterio tapi sayang, Alterio selalu berhasil menghindar. Ia mengambil ancang-ancang, kali ini ia tidak boleh gagal. Tangannya terayun, bersiap untuk melepar botol ke Alterio dan--


Bukk


Tepat sasaran, walau itu botol kosong tapi tetap saja lumayan jikalau terkena kepala. Bulan menjulurkan lidahnya meledek, kemudian berlari meninggalkan area kantin sambil tertawa puas.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2