
Setelah kejadian kemarin itu Alterio dan Bulan benar-benar menjauhi Diana. Diana dan Alterio masih satu meja, hanya saja keadaannya sekarang canggung sekali. Alterio yang biasanya menyapa, memberikan perhatian lebih padanya tapi sekarang jangankan sapaan, menatapnya saja tidak.
Apa mungkin, Alterio sakit hati? Memangnya Alterio mencintainya? Sampai-sampai dia sakit hati. Dari kejadian ini Bulan dan Alterio semakin dekat tanpanya. Baguslah, itukan yang ia mau?
Tapi entah kenapa matanya berair melihat kedekatan Bulan dan Alterio. Dadanya sesak, beginikah rasanya sakit hati. Merelakan cinta untuk sahabatnya.
Cepat-cepat ia hapus air matanya. Orang lain tidak boleh tahu kalau dirinya sedang menangis terutama Alterio dan Bulan.
"Eh Lang, ini gimana sih caranya?"tanya Bulan sedari menunjukan soal pada Alterio.
Lang? Langit? Bukankah Alterio melarang Bulan untuk memanggilnya dengan Langit? Ia tersenyum tipis, semuanya sudah berubah. Dirinya sekarang tak dianggap, serasa kalau dirinya ini adalah makhluk astral.
"Hai Diy! Lo sendiri aja?"
Diana menoleh mendapati Dean yang sedang memegangi dua gelas jus. Ia tersenyum ke arah Dean.
"Halo juga Dean,"balas Diana diiringi senyuman manis.
Tanpa disadari Alterio sedari tadi mengamati pergerakan Diana. Saat Diana menoleh ke arahnya, ia malah pura-pura sibuk dan mengobrol asik dengan Bulan. Hatinya memanas saat Dean datang menghampiri Diana, sungguh ini adalah penampakan yang sangat menjengkelkan.
"Gue bawa jus buat lo, nih!"Dean menyodorkan segelas jus mangga kepada Diana.
Diana tersenyum kembali, menerima jus pemberian dari Dean dengan senang hati. Dean duduk di samping Diana.
"Diy kalo lo kesepian di sini, telpon gue aja, gue bakal datang kok buat lo,"ujar Dean sedikit melirik Alterio yang sudah terbakar cemburu.
Alterio berdecak keras hingga Diana pun menoleh ke arah Alterio. Saat Diana menatap Alterio, dia sedang sibuk dengan soal-soal matematika. Entah kenapa ia berharap Alterio akan mencibir Dean, berharap Alterio merasa cemburu tapi, Alterio tidak merasa terganggu sedikitpun dengan keberadaan Dean. Perkataan Bulan kalau Alterio mencintainya ternyata salah, dia tidak mencintainya.
"Iya Dean. Aku gak kesepian kok, kan di sini rame."Diana menoleh ke segala arah, menunjukan kalau di sini memang ramai.
"Temen lo kemana?"
"Mereka semua temen aku, jadi aku ngak tau maksud kamu itu temen yang mana?"Diana menaikan bahunya.
"Maksud gue, sahabat lo! Emang lo gak punya sahabat gitu?"Alterio mendongkak, menyipitkan matanya saat Dean memberikan pertanyaan seperti itu pada Diana.
"Mereka sahabat aku--"Diana menoleh ke tempat Alterio dan Bulan duduk, "kamu juga."sambungnya.
Dean memutar bola matanya malas. "Memangnya mereka nganggep kamu sahabat?"
Kali ini Bulan yang mendongkak, menatap tajam ke arah Dean sedangkan yang di tatap merasa tidak peduli.
__ADS_1
"Hmm... gak tau--"
"Dulu kita nganggap dia sahabat tapi sekarang gak! Mau ngapain punya sahabat yang lupa diri, susahnya ke kita tapi kalo udah seneng aja ninggalin cih!"potong Bulan berdiri dari duduknya.
"Bul!"tegur Alterio tak terima.
"Kenapa Ter! Kalau kita diem aja, dia gak bakalan pernah mikir! Gue berdoa aja semoga gagap dia kabuh lagi dan saat itu kita gak akan ada di sampingnya lagi!"
"BULAN!"teriak Dean.
"Diem aja lo b****t! Kemana aja lo dulu saat Diana gagap huh? Lo di sini seakan yang paling bener\, halah monyet!"maki Bulan.
Diana tak pernah mendengar ucapan Bulan yang begitu pedas. Menancap langsung ke hatinya. Kenapa ucapan Bulan lebih sakit daripada ucapan Dessi yang bahkan lebih pedas daripada ucapan Bulan. Ia tersenyum tipis, tak berniat untuk mengeluarkan air matanya. Kalau air matanya sampai gagal itu artinya dia orang yang sama sekali tidak berguna. Buktikan pada mereka kalau ia bisa dan kuat.
"Sok manis lo nj***!"kelakar Bulan melihat Diana yang sedang tersenyum.
Diana lagi-lagi hanya tersenyum. Ia melihat Bulan yang terbakar emosi sedangkan Alterio, dia hanya diam bak patung.
"Lo yang sok manis!"sahut seseorang.
Bulan dan Diana menoleh secara bersamaan. Mendapati Dessi yang sedang menatap songong dengan kedua lengan yang terlipat di dada.
"Ckckckck bener gak Yan?"
Dean mengangguk menyetujui ucapan Dessi. "Betul!"sahut Dean menunjukan ibu jarinya.
"Sejak kapan lo ngebela Diana?"tanya Bulan malas.
"Sejak kapan ya..."Dessi mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke dagu. "Dari dulu sih hahaha,"lanjut Dessi sambil tertawa kencang.
Bulan berdecak malas menanggapi Dessi yang sangat receh. Kenapa dia tertawa, memangnya ada yang lucu? Pikirnya.
"Lo gak mau ganggu Diana karena lo takut kan sama kita? Lo tenang aja, sekarang kita gak bakal ngehentiin lo lagi deh."
"Ck lo pikir gue sadar karena takut? Takut di keluarin gitu? Hey sekolah ini bukan cuma satu-satunya, gue bisa aja sekolah yang lebih bagus dari sekolah ini."
"Hey Sa! Dia itu muka dua, gue udah bilangin berkali-kali kalau dia itu muka dua tapi, lo seakan gak peduliin ucapan gue. Sekarang liat kan akibatnya? Dia udah nge--"
Tawa Diana memotong ucapan Dessi. Ia tertawa sangat keras, hingga warga kelas dan murid yang melintasi kelasnya pun ikut menontonnya.
"Makasih atas lawakannya, tadi bener-bener ngehibur aku banget hahahahha,"ucap Diana kemudian berlari ke luar kelas.
__ADS_1
Alterio diam saja. Dia hanya penonton, penonton yang merasa tersiksa melihat pemeran utama tersenyum pedih ke arahnya. Bulan telah menyakiti hati Bintangnya, tapi kenapa ia diam saja seakan membiarkan semuanya terjadi.
Kakinya kaku, antara mengejar Diana atau duduk diam di sini sambil tertawa kebahagian. Sungguh, ia tidak bisa merasa bahagia di atas penderitaan orang lain. Ia masih mempunyai hati, yang bisa merasakan apa yang orang rasakan.
PLAK
Dean menampar Bulan dengan keras. Katakanlah ia ini banci yang seenaknya menyakiti perempuan. Dia salah, dia telah membuat sahabatnya menangis lebih tepatnya menangis dalam diam.
Alterio bangun menghampiri Dean dengan wajah yang penuh amarah.
Plak
Alterio menampar Dean sama kerasnya dengan tamparan Dean kepada Bulan. Ia menatap kedua telapak tangannya. "Banci!"sakras Alterio.
"Ya memang gue banci! Mau apa lo huh?! Mau cewe atau cowo, kalau dia nyakitin pacar gue, gue gak akan tinggal diam."Dean menunjuk Alterio,"dan satu lagi! Bilangin ke pacar lo, punya mulut tuh di jaga! Nanti kena azab baru tahu,"lanjutnya menatap sengit ke arah Bulan kemudian pergi keluar kelas.
Alterio menatap Desi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Apa! Mau keluarin gue dari sekolah? Oke sekarang juga gue angkat kaki dari sekolah ini, udah muak gue satu sekolah sama muka dua!"
Padahal bukan itu maksud Alterio. Tapi sudahlah, ia tidak mau memperpanjang masalah.
__ADS_1