Tentang Diana

Tentang Diana
Sebuah kotak berpita hitam


__ADS_3

Shinta menatap tak percaya pada sesuatu yang bertumpuk di teras depan rumahnya. Tak terasa, air mata meluncur begitu saja di wajahnya. Tangannya bergetar, meremas-remas ujung bajunya. Ini adalah kado yang ia berikan untuk Diana dari 9 tahun yang lalu.


Semenjak Revan datang ke sini, dia selalu mentransfer balik uang yang telah diberikan. Masalah uang mungkin tidak malasah, karena ia yakin Revan akan membiayai semua kebutuhan Diana tapi, ini kado pemberiannya dari 9 tahun yang lalu masih terjaga rapih tanpa ada lecet sedikitpun. Itu artinya, Diana tidak pernah membuka dan menerima kado pemberiannya.


Sangat sakit. Inikah yang dinamakan penyesalan? Hari-harinya tidak tenang karena ia tega meninggalkan putri kandungnya sendiri dalam kondisi terpuruk. Seumur hidupnya tidak akan pernah tenang, diliputi rasa bersalah yang tak kunjung terselesaikan. Bagaimana mau selesai, kalau ia tidak pernah bertindak. Saat sudah sadar, ia tidak bisa melakukan apapun.


Tangannya terulur mengambil sebuah kado yang sudah agak lusuh karena tersimpan bertahun-tahun. Ia meyobek kertas kado bertema kartun hello kitty dengan sekali sobek. Air matanya kembali mengaliri wajahnya. Boneka barbie mermaid yang ia berikan kepada Diana saat dia berumur 8 tahun.


"Hiks... Sasa, maafin Bunda. Bunda-Bunda udah nyesel dari dulu tapi, Bunda gak tau harus ngapain."


"Shin?"


Shinta menoleh ke belakang. Ada suaminya di sana, dia berjalan mendekat ke arahnya.


"Mas,"panggil lirih Shinta.


Diko-suami Shinta menatap kado-kado yang berserakan di lantai. Ia mengelus rambut Shinta lembut, berusaha untuk menenangkannya.


"Kenapa Mas! Kenapa kita jahat banget sama Diana hiks...."


"Kenapa waktu Revan ke sini, kita gak minta maaf aja!"teriak Shinta.


Diko memeluk Shinta. Shinta menangis kencang, tidak peduli para tetangga yang akan berekerumun karena merasa kebisingan.


"Mas salah, ini semua salah Mas. Mas egois, Mas hanya memikirkan diri sendiri. Kita sudah mendapat karma Shin, buktinya kita tidak dikaruniai anak setelah meninggalkan Sasa,"sesal Diko.


"Maaf Mas."


"Kamu tidak salah Shin, aku yang salah!"


"Aku mau ketemu Diana Mas, aku gak peduli kalau nanti Revan mengusir kita atau--Diana yang membenci kita."


"Iya, kita besok ke sana. Barang-barang itu kita sumbangkan saja ke panti asuhan."Diko melepaskan pelukannya.


Shinta mengangguk lemah.


                           OoO


"Bang!"


"Bang Le!"


"Alleo!"


Alleo menghentikan langkahnya. Badannya berbalik, rahangnya mengeras, matanya pun sudah memerah karena marah.


"Demi apapun, saya tidak suka kamu memanggil saya tanpa embel-embel!"


Alterio menunduk. "Maaf bang, Tero salah."


"Hm."


"Abang kenapa menghindar? Tero ingin bertanya sesuatu pada abang,"kata Tero tak berani menatap kedua bola mata Alleo.


"Abang sengaja menghindar demi kamu Ter. Entah apa yang bakal terjadi kalau Abang tidak menghindar, kamu adik saya satu-satunya. Abang gak mau karena emosi kamu terluka. Biarkan Abang seperti ini, satu minggu! Setelah itu semuanya kembali normal."Alleo membalikan badannya.


"Jangan pernah berani memancing sisi gelap saya, kamu ingat itu kan Ter?" Alleo pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban darinya.


Alterio menundukan kepalanya lagi. Ia mengaku salah, ia telah menyakiti Diana dan Alleo mengetahui itu. Alleo sangat marah, dia marah tanpa ia ketahui. Dia mendiaminya, menghindari kontak mata dengannya, dan dia tiba-tiba sibuk dengan pekerjaannya. Hari yang aneh dan menyedihkan, satu hari tidak berbicara dengan Alleo rasanya sangat menyakitkan.


Diana pergi ke Bandung. Hanya itu yang ia tahu, ia tidak bisa menelusuri keberadaan Diana. Biasanya ada Alleo yang ia andalkan untuk mencari informasi tapi, dia sedang marah besar.


Ia marah pada dirinya sendiri, pada Bulan, pada orang-orang sekitar dan semuanya ia salahkan. Bahkan kucing tetangga pun ia maki-maki karena kekesalannya sendiri. Tidak berfaedah, hanya hal itu yang bisa ia lakukan saat ini.


"Stars kamu kemana?"

__ADS_1


TING


Ia melihat handphonenya ada sebuah pesan masuk. Sepertinya ini penting, buktinya si pengirim pesan melakukan spam chat.


Adrian


Liat postingan Dessi cepet!


P


P


P


P


Woi


P


Liat postingan Dean juga


Read


Setelah membaca pesan dari Adrian. Ia langsung beralih ke Instragram. Tangannya lincah, mengetikan nama akun Dessi.


Ketemu!


Destha_humay2


Sial! Akun terprivat. Ia berdecak kesal, ingin sekali membating Hp-nya. Tidak papa, masih ada akun Dean, semoga saya aku dia tidak terkunci dan--


Tidak


Akunnya tidak terkunci. Ia melihat postingan teratas, yang diposting dari 20 menit yang lalu.


Bandara soekarno hatta


Ia berdecih, saat melihat caption yang Dean buat.


Seperti foto keluarga. Ya ngak kakak ipar?😂 @Rvdra_Aldiano


Kolom komentar


Rvdra_Aldiano ngarep!


Destha_humay2 betul tuh! @DeanDean_


DeanDean_ yee lo kayak gitu karna ada ini kan? @Rvdra_Aldiano


Destha_humay2 kak @Rvdra_Aldiano gimana Diana di sana bang?


Rvdra_Aldiano alhamdulilah, dia seneng dan dapet temen baru juga @Destha_humay2


DeanDean_ boleh ya, aing dikacangin


Bulbul212_Ini Bintang mau kemana?


Rvdra_Aldiano Tutup! @DeanDean_


@DeanDean_ menonaktifkan komentar


Alterio menghembuskan nafas kasarnya. Jadi, dua hari yang lalu Diana masih ada di rumah? Apa Revan sudah menipunya? Menempelkan tulisan yang membuatnya percaya. Sebenarnya Diana pergi ke mana, jujur saja ia sangat merasa kesepian. Memang benar ia salah, ia mengakui semua kesalahannya.


Dean mungkin tahu semuanya. Ia akan pergi ke rumah Dean hari ini dan detik ini juga, untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


                            OoO


"Dean! Dean! Keluar lo!"


Dari lima menit yang lalu, Bulan di sini di rumah Dean. Mengedor-gedor pintu rumah Dean seakan rumah Dean adalah rumah tak berpenghuni. Memang sih, tempatnya sepi dan suasananya horor. Semenjak ia melihat postingan Dean, perasaannya tidak karuan. Sebelah sisi ia ingin merendahkan Diana karena berkat ucapannya, Diana sekeluarga pergi dari rumah begitu lemah bukan? sedangkan di sisi ia benar-benar merasakan kehilangan Diana.


Ceklek.


Terlihat Dean dengan penampilan  sangat berantakan. Bulan menggeleng, kenapa ia jadi menatap lelaki di hadapannya? Sangat menjijikan.


"Napa lo?! Teriak-teriak di rumah orang? Dikira rumah gue punya nenek moyang lo apa?"ketus Dean.


"Hey! Ini rumah punya orang tua lo! Anak bocah mana punya rumah!"balas Bulan nyolot.


Dean berdecak. "Nih rumah punya gue dan gue gak punya ortu, nyokap sama bokap gue udah mati! Tau mati gak? Is death."Dean pura-pura memotong lehernya mengunakan jari telunjuknya.


"Lo di sini sendiri?"


"Iya napa lo!"


Bulan mengacak rambutnya sendiri. Tujuan ia ke sini bukan untuk berdebat masalah rumah, ia ke sini ingin meminta penjelasan ke Dean, sebenarnya Diana ingin pergi ke mana.


"Kok kita malah bahas rumah? Gue ke sini mau nanyain--"


"Apa?! Diana? Basi!"ketus Dean kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.


"DEAN! GUE SERIUS!"teriak Bulan menghalangi pintu yang hendak ditutup oleh Dean.


"DEAN! gue-gue mau minta maaf ke Diana,"ucap Bulan lirih.


Dean akhirnya membuka pintunya kembali. "Alasan lo basi! Gue udah tau kelicikan lo Lan, lo mau nyamperin Diana bukan untuk minta maaf kan? Tapi membuat Diana makin terpuruk kan?"


Cess


Ucapan Dean begitu menusuk hatinya. Matanya memerah, menahan air mata yang hendak keluar.


"Gue gak seperti itu--"


"Lebih baik Dessi yang langsung blak-blakan bilang kalau dia benci Diana! Ngak kayak lo, muka dua. Lebih nyakitin, serius deh. Lo belum pernah ngerasain sih,"potong Dean.


"Hiks... gue gak kayak gitu."


Dean memutar bola matanya malas. "Nangis buaya kan lo? BASI!"


Bulan menggeleng lemah. "Lo jahat bang--"


"LO YANG JAHAT! ***G!"bentak Dean.


"Lo--"


"Apa? Mau ngadu sama Alter? Silahkan gue gak takut sama sekali, mau di keluarin juga gue oke aja,"sela Dean.


"Bukan gitu!"


"Tunggu sebentar,"ucap Dean masuk ke dalam rumahnya.


Tak lama menunggu, Dean sudah kembali membawa sebuah kotak berpita hitam. Dia melempar kotak itu tepat mengenai perutnya.


"Dari Diana! Ck, heran gue sama Diana, udah di jahatin tapi masih aja mikirin sahabat laknatnya."setelah mengatakan itu Dean masuk ke dalam rumah. Gebrakan yang sangat kencang hingga Bulan kaget.


Bulan mengambil kotak kecil yang terjatuh itu. Menatap sendu ke arah pintu kemudian melangkah keluar gerbang.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2