Tentang Diana

Tentang Diana
Memaksa


__ADS_3

Diana berjalan, jalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Ia juga tidak tahu sekarang ada di mana, yang jelas di sini seperti perdesaan. Pandangan yang kosong serta air mata yang terus mengalir menarik perhatian para warga sekitar.


Haruskah ia terus bertahan di sini, sampai dirinya benar-benar merasakan keterpurukan lagi. Merasakan pedihnya kehidupan lagi. Lebih baik ia seperti dulu, tanpa Alterio dan Bulan.


Sekejap rasanya menjadi orang yang paling bahagia dan kebahagian itu hancur, tergantikan oleh penderitaan. Benar kata Revan, cinta itu indah tapi hanya sekejap.


Hari semakin larut, langit sore kini tergantikan oleh gelapnya malam. Dinginnya udara tak membuatnya rapuh sama sekali, ia kuat, fisiknya kuat tapi, hatinya lemah.


Diana menatap langit. "Maaf ya Bulbin, aku lupa sama kalian."


"Padahal dulu aku sering curhat sama kalian. Kebahagian yang sementara telah membutakanku BulBin. Maaf aku lupa sama kalian...."


"Ak-aku harus pulang! Mamah pasti nyariin aku."Diana mengecek HP-nya yang ternyata sudah mati.


Ada sorot cahaya yang menerangi jalananan. Ia lupa kalau, sekarang ini ia sedang berada di tengah-tengah jalan. Tubuhnya berbalik, ada sebuah mobil yang sedang melaju. Kakinya susah bergerak, ia berusaha untuk segera lari tapi tidak bisa.


Sedikit lagi mobil itu menabraknya.


Sedikit lagi,


"Aaaaaa!!"teriak Diana sambil menutup matanya.


Ckitttt


Diana membuka matanya perlahan. Nafasnya mengebu-gubu karena shok. Pengendara mobil itu turun, menghampirinya.


"Sorry, saya tadi sedikit mengantuk,"ujar si pengendara mobil itu.


"Loh Diana?"


Diana menatap lekat-lekat Si pengendara mobil. Wajahnya tidak begitu terlihat jelas karena terhalang oleh air mata.


"Kak Aleo?"


"Astaga kamu kenapa di sini? Ayo kakak antar kamu pulang."


Diana mengangguk lesu, kemudian masuk ke dalam mobil Alleo.


Alleo menoleh ke arah Diana. Sungguh ia sangat penasaran, kenapa Diana bisa ada di sini dan menangis? Di sini sangat berbahaya, banyak sekali penjahat yang berkeliaran. Untung saja dia tidak kenapa-kenapa.


"Diana kamu tahu, di sana sangat berbahaya! Mamah sama kakak kamu pasti khawatir,"ucap Alleo sambil melirik Diana singkat kemudian pokus kembali pada kemudi.


Diana diam. Pertanyaan Alleo terabaikan. Pikirannya sedang kosong, suara Alleo mengalun begitu saja seperti angin. Alleo menunggu jawaban tapi, percuma saja, Diana kali ini seperti tak bernyawa.

__ADS_1


"Sudah sampai."


Alleo menatap Diana. Ia menggelengkan kepalanya, dia masih saja terdiam.


"Diana kita sudah sampai!"ucap Alleo menaikan suaranya.


"Eh, i-iya kak maaf."Diana membuka safety belt dan keluar langsung dari mobil.


"Perlu bantuan?"


Diana menggeleng. "Makasih kak. Kakak mau mampir dulu?"


"Hm... sepertinya lain kali saja, saya harus pulang,"jawab Alleo menyalakan mesin mobil.


"Kalau gitu, saya permisi."


"Hati-hati kak."


Diana menghembuskan nafasnya kasar, membuka gerbang rumah dan masuk ke dalam.


"Dari mana kamu Kia?"tanya Revan yang sedaritadi berdiri di ambang pintu.


"Ka-kak udah pulang?"tanya Diana dengan suara bergetar.


Bagaimana bisa Revan tahu. Padahal sebaik mungkin masalah ini ia simpan sendiri, bahkan Felicia sekalipun. Hanya Dean yang tahu tentang masalah ini. Apa mungkin Dean memberitahu soalnya ke Revan.


Revan menghampiri Diana, menatapnya tajam. Diana menunduk takut. Diana sangat yakin kalau Revan akan memarahinya.


Revan menarik lengan Diana ke dalam dekapannya. Mengusap rambut Diana lembut sedangkan Diana hanya bisa diam di dalam pelukan Revan.


"Tiga hari lagi kita pindah, kakak gak mau nerima penolakan apapun dari kamu,"bisik Revan dagunya menempel pada bahu Diana. "Terlihat memaksa memang, tapi kakak gak mau liat kamu nangis karena mulut setan mereka lagi!"


Tangan Diana bergetar, tangannya mencengkram kemeja Revan. Ia tidak mempunyai alasan apapun untuk tinggal di sini lagi, dulu ia tidak mau ikut dengan Revan karena Alterio dan Bulan. Sekarang mereka menganggapnya sebagai musuh bukan sebagai sahabat lagi, jadi untuk apa bertahan di sini demi orang yang membencinya.


"Setelah di sana, kakak jamin kamu dapet kehidupan yang bahagia."


3 jam yang lalu


Revan baru kembali dari London dan langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia melihatĀ  seorang laki-laki berpakaian seragam sama seperti adiknya sedang berbincang-bincang dengan Felicia.


"Mah?"panggil Revan membuat Felicia menoleh.


"Revan, adikmu kabur dari sekolah,"kata Felicia langsung memeluk Revan.

__ADS_1


"Kabur? Memangnya Kia ada masalah apa?"tanya Revan tidak percaya.


Felicia menarik lengan Revan, menyuruhnya untuk duduk di sofa terlebih dahulu.


"Siapa?"Revan menatap asing ke laki-laki yang sedang berhadapan dengannya.


Laki-laki itu menjulurkan tangannya. "Gue Dean, temennya Diana."


Revan membalas jabatan tangan Dean. "Revan kakak Diana."


"Diana kabur dari sekolah karena ada perdebatan besar sebelumnya. Saya sudah berusaha mencarinya, tapi Diana tidak ketemu juga."


"Maaf sebelumnya saya lancang. Datang ke rumah ini seakan rumah sendiri--"


"Lo bukannya orang yang di tolong sama ade gue kan?"potong Revan cepat, matanya berkilat menunjukan kalau dirinya sedang marah.


"Iya. Karena itu gue ngerasa berhutang budi sama Diana, gue berjanji pada diri gue sendiri kalau gue bakal lindungin Diana tapi--sorry gue gak bisa jaga Diana dengan baik."


"Diana dibully lagi--"


"BULLY?! Alterio sama Bulan kemana? Biasanya mereka yang langsung menghadangnya!"potong Revan sambil berdiri.


Dean tersenyum kecut. "Mereka yang bully Diana,"sahut Dean.


"Hah!"Felicia dan Revan bersamaan.


"Gak mungkin! Bulan dan Alterio yang buat anak saya ceria lagi, mereka sumber kebahagian anak saya. Mereka gak mungkin ngelakuin kayak gitu!"Felicia menggeleng tak percaya.


"Kalo Tante gak percaya, saya punya vidionya. Ada seseorang yang memvidio waktu kejadian itu,"ucap Dean menyodorkan Handphone yang berisi rekaman tadi.


Revan mengambil Handphone uang disodorkan Dean. Felicia pun ikut menonton vidio itu dari awal sampai akhir. Benar! Bulan sudah membuly Diana dan Alterio, dia hanya diam saja. Alterio seakan menikmati ekspresi Diana saat di buly Bulan.


"Ini masalah percintaan?"tebak Revan.


Dean melotot kemudian mengangguk. Revan sudah bisa menebak, kalau kejadian seperti ini karena masalah percintaan. Ia tahu Bulan, dia tidak akan membuly orang kalau hanya masalah fisik atau kekurangan seseorang. Ia tahu karena tebakan saja, dari raut wajah sudah dan gaya berbicaranya, ia sudah bisa menebak sedikit sifatnya.


"Adik saya merebut Alter dari Bulan?"tebak Revan lagi.


Dean menggeleng. Ya, tebakannya kali ini meleset ternyata.


"Sebenarnya Diana dan Bulan suka Alter. Tapi, Diana memilih merelakan Alter untuk Bulan. Diana bahkan menjauhi mereka berdua, dia pikir kalau dia menjauh mereka gak bakal keganggu lagi tapi ternyata salah. Diana dan saya pura-pura berpacaran, Diana ingin menunjukan kalau dia itu bisa tanpa mereka berdua. Mereka salah mengartikan, mereka kira Diana menjauh karena dia sudah mendapatkan kebahagian yang baru dan melupakan mereka."terang Dean.


"Makasih, lo udah berusaha jagain ade gue. Setelah ini gue yang bakal jagain dia sepenuhnya, karena dia akan gue ajak ke London."

__ADS_1


__ADS_2