Tentang Diana

Tentang Diana
Akhir


__ADS_3

Diana menatap sebuah kotak berpita biru yang tadi Dean berikan padanya. Ini adalah hari ulang tahunnya, apa mungkin Dean memberikan kotak ini sebagai ucapan selamat ulang tahun. Tapi kenapa Dean tidak mengatakan apapun, dia hanya berucap'Nih buat lo, kenang-kenangan dari gue.'


Dengan sangat excited ia membuka kado itu. Sebuah kalung berliontin bintang, sangat indah, ia sangat menyukainya. Pelan-pelan tangannya terulur pada secarik kertas di samping kalung itu.


Happy birthday


Pasti lo heran kan, kenapa gue gak langsung ngomong aja ke lo? Kenapa gue harus cape nulis-nulis demi ngucapin selamat ulang tahun buat lo.


Kayaknya baru beberapa hari gue ketemu lo, eh kenapa takdir misahin kita ya? Hahah alay bat dah gue


Gw suka liontin itu, semoga aja lo suka ya. Udh ah cape gue nulis


Untuk Diy, wanita terkuat yang gw pernah kenal.


Diana terharu membaca surat dari Dean. Ia menganggap Dean seperti kakaknya sendiri sama seperti Revan. Dia, orang pertama yang mengucapkan selamat ulangtahun padanya. Dia selalu punya cara tersendiri untuk membuatnya tersenyum dan tertawa.


"Selamat malam?"


Diana bangkit dari duduknya. Menatap orang yang meyapanya tadi.


"Iya malam,"balas Diana.


"Ini ada kiriman buat Diana Saskia." Kurir itu menatap nama yang tertera dalam kotak.


Diana mengangguk, ternyata abang kurir penghantar paket. "Iya, saya harus tanda tangan di mana ya?"


Abang kuring itu menunjukan sebuah kertas untuk ditandatangani. Setelah Diana menandangi kertas itu, Diana menerima sebuah paket kotak berukuran sedang.


"Bunda,"gumamnya tatkala melihat nama si pengirim.


"Kia?"


Diana membalikan badannya, mendapati Revan berdiri dihadapannya sambil membawa secangkir teh. Revan berdehem singkat, menatap lekat-lekat pada kotak yang dipegang Diana.


"Bunda?"Revan meletakan cangkirnya di atas meja.


Diana mengangguk lemah.


"Jangan diterima! semua kado-kado yang ada di kamar kamu juga sebaiknya langsung di kirim kembali ke sana atau kalau bisa bakar saja,"ucap Revan dingin.


Deg


"Ta-tapi kak--"


"Kamu mau kado apa dari kakak? Kamu minta apa aja kakak akan turutin, tapi kakak mohon, kembalikan semua barang yang pernah bunda ayah kasih!"


Diana menunduk. Sebegitu marahnya kah Revan pada ayah bundanya? Ia tahu mereka berdua salah tapi mereka kan tetap orang tuanya juga. Revan menarik lengan Diana ke dalam dekapannya.


"Selamat ulang tahun adik kecil kakak, maaf banget kakak telat ngucapin. Masuk kedalam yu, mamah udah nyiapin semuanya buat kamu,"bisik Revan.


"Makasih kak."


"Yuk masuk."


OoO


Pukul 8.30 wib


Bandara soekarno hatta


Mata Diana jelalatan. Mencari-cari keberadaan seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang. Entah kenapa ia sangat berharap kalau Alterio dan Bulan datang kesini, menemani detik-detik kepergiannya.


Tiba saja ada yang mengelus-ngelus pucuk rambutnya. Ia mendongkak, ternyata itu Revan. Dia duduk di sebelah Diana.


"Nyari siapa Dean?"


Diana diam. Ia ingin mengatakan kalau yang ia tunggu adalah Alterio dan Bulan tapi, Revan pasti nanti akan marah jika telinganya mendengar nama Alterio atau Bulan.


"Halo Diy,"sapa seseorang dari arah kejauhan.


Itu Dean dan--Dessi? Kenapa Dessi ada di sini? Ia melirik Revan takut-takut, pasalnya Dessi dulu suka membulynya dan Revan tahu itu.

__ADS_1


"Halo juga Dean,"sapa Diana balik.


"Hai Sa! Hai Kak Revan!"kini Dessi menyapa.


"Hai juga Des."Diana melirik Revan lagi.


"Hai Des,"balas Revan.


"Ka-kakak jangan marah sama Dessi,"ucap Diana panik.


Revan terkekeh begitu juga Dessi. "Kakak udah cape marahin dia, dia juga cape dengerin abang ngoceh ya gak Des?"


"Eh, i-iya kak,"jawab Dessi malu-malu.


"Jadi kakak ngak marah?"


"Buat apa sayang? Dia juga gak bully dia lagi kan? No problem, selama dia baik sama kamu, kakak juga baik sama dia."


Wajah Dessi bersemu merah, sepertinya Dessi menyukai Revan. Mereka cocok sih, tapi kayak ada yang aneh aja. Apa karena Revan, Dessi berubah? Ah entahlah hanya Dessi dan Tuhan yang tahu.


"Mamah mana kak?"


Revan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hm... katanya sih, lagi beli roti sebentar,"jawab Revan.


Diana mengangguk.


"Sasa, gue punya sesuatu buat lo,"ujar Dessi mengambil sesuatu di dalam tas-nya.


"Nih!"Dessi menyerahkan sebuah paper bag batik.


Diana mengambil paper bag yang disodorkan Dessi dengan mata berbinar. "Wah apa ini Des?"


"Itu hoddie, kita couple loh Sa."Dessi memamerkan hoddie yang dipakainya.


"Lah? Kia doang? Gue ngak?"sahut Revan.


Dessi memutar bola matanya malas. "Beli lah, jangan kayak orang susah deh!"sungut Dessi.


"Kalo gue emang susah gimana?"


Revan berdecak sebal. "Gue gak bakal pulang ke sini!"


Dean dan Diana saling bertatapan bingung kemudian kembali menatap kedua sejoli itu.


"Sa, lo bakal pulang kan? Kalo gue nikah nanti masa lo ngak dateng sih?"pinta Dessi.


"Idih, masih kecil juga ngomonginnya nikah,"cibir Revan.


"Kan nanti. Lo udah tua masih rese ya kak!"


"Hello gue masih 28 tahun ya!"kesal Revan.


"Kak! Des! Udah dong jangan ribut terus."omel Diana.


"Eh Sa, itu hoodenya dipake dong!"


"Oh, iya."Diana mengeluarkan hoode berwarna pink senada dan langsung memakainya.


"Diy! Lo gak malu?"tanya Dean.


"Kan gak buka baju Dean!"ucap Diana sedikit ngegas.


"Iya tapi ini di bandara sayang,"ucap Dean gemas.


Revan melotot. Menoyor kepala Dean hingga Dean kehilangan keseimbangannya. "Sayang? Makan tuh sayang!"


"Tuh kan cakep! Selfi yuk!"Dessi mengeluarkan handphonenya dan membuka fitur kamera.


Dessi merangkul Diana sedangkan Revan dan Dean ikut mendekat ke samping.


"Satu dua tiga-"

__ADS_1


Cekrek


"Sekali lagi!"


Dessi memanyunkan bibirnya. "Manyun dong! Masa gue doang!"


Diana, Dean dan Revan spontan memanyunkan bibir mereka.


Cekrek


"Khem!"


Suara deheman sesorang menyudahi aktifitas foto mereka. Mereka tersenyum canggung, melihat kedatangan Felicia.


"Kok Mama gak diajak sih!"


Revan, Diana, Dean dan Dessi tertawa. Mereka pikir, Felicia akan menceramahi mereka ternyata Felicia ingin ikutan foto.


Felicia ikut mendekat, berdiri diantara Diana dan Dessi. Diana tersenyum, bersiap-siap untuk difoto.


"Satu dua-"


Cekrek


"Lagi lagi!"teriak Dessi semangat.


"Satu dua-


"Eh pesawat kita!"teriak Revan.


Diana dan Felicia menoleh ke arah Revan.


Cekrek


"Ih! Dessi emang ***!"maki Revan tak terima foto hasil jepretan jelek.


"Revan!"tegur Felicia.


"Ayo kita masuk,"sambung Felicia.


Diana memeluk Dessi lama. Dessi menangis, baru sebentar rasanya ia bersama Diana tapi Diana ingin pergi lagi. Tangannya bergetar, ia menyesal, menyesal sedalam-dalamnya. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia akan mencoba membahagiakan Diana.


"Udah Des,"ucap Diana menenangkan Dessi.


"Gue minta maaf Sa. Minta maaf. Minta maaf sama lo. Gue-gue pengen jadi sahabat lo,"ucap Dessi melepaskan pelukannya.


Diana menghapus air mata Dessi. "Dessi, kamu udah minta maaf ke aku berkali-kali. Aku udah maafin kamu dari dulu, sebelum kamu sadar apa yang kamu perbuat ke aku hmm--"ungkap Diana menggantung, "kita sahabat,"sambungnya sambil menunjukan jari kelingkingnya.


"Bener?"


"Iya Dessi."


Dessi tersenyum bahagia, menyatukan hari kelingkingnya dengan Diana.


"Kita sahabat?"


"Ya kita sahabat!"


"Dessi udah ya. Acara dramatisannya, Diana mau pergi,"ucap Dean dibalas decakan oleh Dessi.


"Kita pergi dulu ya, semoga kalian semua bahagia,"ucap Felicia menggenggam tangan Diana.


"Iya Mah, semoga kalian juga bahagia di sana,"balas Dean diangguki oleh Dessi.


"Hm... jangan lupa ya Dean,"ucap Diana pelan kemudian tersenyum ke Dean.


Dean mengerti apa yang Diana ucapkan, ia mengangguk.


"Sa! Lo harus dapat teman baik ya di sana jangan kayak gue,"ucap Dessi sedikit berteriak karena Diana sudah menjauh.


"Iya, aku bakal nyari temen yang kayak kamu,"sahut Diana yang sudah menjauh, benar-benar menjauh.

__ADS_1


Dessi menunduk. "Ini terlalu cepat, kalau saja si muka dua gak dateng ke sekolah kita. Diana masih di sini,"lirih Dessi.


Dean tersenyum tipis. Menepuk bahu Dessi pelan. "Semoga aja mereka bakal balik ke sini."


__ADS_2