Tentang Diana

Tentang Diana
Kenangan


__ADS_3

"Stars gak masuk lagi?"gumam Alterio.


Alterio menepuk kursi yang biasa di tempati oleh Diana. Ia merasa sangat khawatir, bertanya-tanya dalam hati kemana dan kenapa Diana. Ia sungguh menyesal, kenapa ia tidak menghentikan Bulan saat dia membuly Diana. Kenapa ia diam saja?


Ia dapat merasakan sakitnya menjadi Diana, kenapa ia tidak bergerak sedikitpun untuk memeluk dan menyemangati Diana.


Kenapa?


Kenapa?!


Berteriak dalam hati rasanya tak berguna. Sepulang sekolah! Ia harus minta maaf kepada Diana, egonya harus di singkirkan terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat. Biarkan Bulan tak setuju, biarkan dia pergi. Yang ia inginkan sekarang hanya Diana. Tak peduli ada Dean yang menghadangnya.


"Lo kenapa sih Ter?"


"Gue mau minta maaf ke Diana."


"Lo gila?"


"Lo yang gila!"ketus Alterio.


"Kok lo tiba-tiba ketus sih ke gue?"tanya Bulan duduk di tempat Diana.


"Berdiri! Gue bilang berdiri! Itu tempat Stars gue, gak ada yang boleh nempatin selain dia!"ketus Alterio sambil menunjuk wajah Bulan.


"Lo kenapa sih Al? Dia itu udah lupa diri sama kita!"


"Lo tau apa sih tentang dia? Lo gak tau apa-apa!"sentak Alterio pergi meninggalkan Bulan.


                           OoO


Alterio tersentak kaget saat ada tulisan 'RUMAH INI DIJUAL!' Tertempel di pintu rumah Diana. Apa mereka sudah pindah rumah? Tapi kenapa? Apa karena masalah satu hari yang lalu?


Ia memencet bel berulang kali seperti orang bodoh. Mengetuk-ngetuknya dengan sangat keras hingga seorang satpam tetangga sebelah menghampiri Alterio.


"Sedang apa De? Orangnya udah pindah,"ucap satpam.


"Pindah? Pindah kemana?"


"Gak tau deh, kayaknya pindah ke Bandung kalo gak salah,"jawab satpam.


"Oh yaudah makasih ya pak."Alterio menjambak rambutnya frustasi kemudian pergi.


                          OoO


Felicia terkikik melihat wajah Alterio. Sebenarnya ia belum pindah, tapi Revan sengaja menempel tulisan itu di pintu dan bekerja sama dengan satpam tetangga. Biarkan saja anak itu merasa bersalah, toh memang dia salah.


Revan berdecih, ia membenci Alterio. Walau Alterio adalah adik sahabatnya, karenanya lah ia kini membenci sahabatnya juga. Untung saja ia tepat waktu memasang kertas itu, ia sudah tahu dari Dean kalau Alterio mau ke sini.


"Kia udah makan Mah?"


Felicia menggeleng. "Belum Van, dia masih ngunci diri di kamar."


Revan berdecak sebal. "Ini semua gara-gara mereka berdua. Kalau saja mere--"


"Shutt Rev, udah! Kia udah sama kita,"sela Felicia menepuk bahu Revan.


"Iya Mah. Revan janji, Revan gak akan biarin adik Revan nangis lagi."


Ting nong


Suara bel rumah berbunyi. Felicia menatap bertanya pada Revan.


"Revan buka dulu Mah pintunya."


Revan berlari membuka pintu. Sebelum membuka pintunya, terlebih dahulu ia mengintip melalui jendela. Ia melihat Dean di luar, sesegera mungkin ia membuka pintunya dan mengajak Dean untuk cepat-cepat masuk.


"Alter tadi ke sini kak?"tanya Dean dibalas anggukan oleh Revan.


"Cara lo emang hebat kak. Salut gue sama lo."Dean mengacungkan sebelah ibu jarinya ke arah Revan.


"Iya lah, gue gitu loh,"sahut Revan percaya diri.


"Besok jadi?"


"Ya."


"Selamanya?"

__ADS_1


"Maybe, 95 persen gue menetap di sana."


"Gue kayaknya bakal kangen,"ucap Dean.


"Kangen gue?"


"Kangen Diana lah, masa lo? Siapa lo emang?"


"Idih! Gak bakal deh gue restuin lo sama ade gue."


"Sebenernya gak peduli sih, kan ada Mamah Felic."


Revan memutar bola matanya malas sedangkan Dean terkekeh lucu.


"Diana mana kak?"


"Dia lagi ngunci diri di kamar, gue udah berapakali ngetuk, ngancem dobrak tapi tetep aja ade gue gak mau bukain."


"Gue boleh masuk ke dalem kamar ade lo gak?"


"Sama gue!"


"Iya, yang penting gue ketemu Diana."


                           OoO


"Diy buka dong, pegel nih kaki dari tadi."Dean mengeluh, sedari tadi dia berdiri di depan kamar Diana.


"Buka aja! Orang gak di kunci!"teriak Diana dari dalam kamarnya.


Dean menatap Revan tak percaya, begitupun Revan dia mengumpati dirinya sendiri akan kebodohannya. Apa dari pagi ia bertingkah seperti orang gila? Mengetuk-ngetuk pintu, berteriak-teriak dan mendorong-dorong pintu yang ternyata pintu itu tidak di kunci?


"Sebenernya yang bego di sini siapa ya? Gue atau lo?"tanya Dean.


"Lo! Ayo masuk!"Revan membuka pintu kamar.


Revan dan Dean ternganga sejenak, melihat Diana sudah berpakaian rapih. Revan duduk di sebelah Diana.


"Kamu?"


"Kenapa kak? Aku baik-baik aja."


"Aku mau keluar kak, bosen di rumah terus."


"Sama siapa?"tanya Dean cepat.


"Sama Dean aja mau ngak? Besok aku udah berangkat, memangnya nanti kamu ngak kangen sama aku?"


Dean tersenyum senang. "Kangen lah, yaudah kita berangkat sekarang?"


Diana mengangguk kemudian menatap Revan. "Kak aku boleh keluar sama Dean?"


"Boleh tapi jangan malam-malam ya. Kamu harus istirahat, besok kita berangkat."


"Siap kak!"


"Dean, tolong ajak makan adik gue dulu. Dia belum makan dari pagi."Revan menepuk bahu Dean.


"Siap kak ipar!"


                            OoO


"Enak apa lapar Diy? Lahap bener?"tanya Dean sambil terkekeh lucu.


Diana mengembungkan pipinya. Tidak tahu apa, dari kemarin dirinya belum sempat makan. Ucapan Bulan masih saja terngiang-ngiang di kepalanya membuatnya kembali tidak nafsu makan lagi. Dean yang menyadari perubahan Diana itu pun langsung menggenggam sebelah tangan Diana, menatapnya seolah mengatakan 'Jangan dipikirin!'.


"Jangan di pikirin Diy. Mereka gak pantes lo pikirin,"ucap Dean sedari mengambali tisu dan mengelap sisi mulut Diana yang terkena saus.


Diana sontak terdiam. Mengamati  tangan Dean yang mengelap sudut bibirnya bagai gerakan slow motion.


"Kamu gak makan?"tanya Diana memecah keheningan.


"Udah kenyang, tadi makan martabak manis di jalan,"jawab Dean santai.


"Kamu makan martabak gak bagi-bagi, males!"dengus Diana.


"Astaga Diy, lo udah makan 3 piring astaga! Perut lo sebesar apa? Gentong?"

__ADS_1


"Kamu ngatain aku gendut?"


Dean mengeleng horor. Sepertinya Diana sedang PMS mangkanya dari tadi dia sensi terus. Sebaiknya ia harus lebih banyak diam, daripada kena ocehan mak mak PMS, kan rese.


"Gue gak ngatain lo gendut Diy,"jelas Dean.


"Yaudah nanti beliin martabak manis ya,"pinta Diana sambil tersenyum.


Itu senyum? Real kan gak bohongan? Refleks ia menganggukan kepala tanda setuju. Ia sangat bersyukur dalam hati, akhirnya Diana bisa sedikit melupakan masalahnya.


Diana bersorak gembira, kakinya meloncat-loncat bak anak kecil yang kesenangan jika di berikan permen kaki. Dean tertawa lucu, tanpa sengaja ia mengacak-ngacak rambut Diana gemas.


Diana mendengus kesal. "Ih! Dean! Rambut aku berantakan."


Dean tertawa kembali. "Mau es krim?"


"Mau!"


"Di luar ada kedai es krim. Kita ke sana sekarang,"ajak Dean menarik pergerangan tangan Diana.


"Ki-kita belum bayar Dean!"Diana menghentikan langkahnya, begitupun dengan Dean.


"Udah dibayar, santuy elah."


"Iya."


Setelah keluar dari restoran tadi. Tepat di samping restoran ada sebuah kedai es krim. Dean menarik kursi yang ada di kedai tersebut.


"Lo duduk di sini, nanti gue pesen ok?"


"Baik pak Bos!"


Dean tertawa lagi. Kenapa bisa Dean hari ini banyak sekali tertawa, hanya karena hal-hal kecil? Sangat receh sekali dirinya. Tak perlu waktu lama, Dean sudah kembali dengan dua cone es krim dua rasa, yaitu vanila dan cokelat.


Diana terdiam. Jika melihat es krim Vanila ia mengingatkan pada Alterio.


"A-ku gak su-suka makan es krim va-vanila,"ucap Diana.


Alterio menaikan sebelah alisnya. "Why?"


"Va-va-vanila terlalu ma-manis. A-aku gak suka mem-membohongi di-diri aku s-s-sendiri ka-karena hidup ak-aku g-gak ada ma-manis-man--"


Ucapan Diana terpotong karena Alterio langsung menempelkan es krim vanilanya ke bibir Diana. Seketika kedua tatapan beradu, seketika pula terjadi keheningan di sekitar.


"Semua orang pasti pernah merasakan pahitnya kehidupan tapi, bukan berarti kamu menolak semua hal-hal manis yang akan masuk ke dalam kehidupan kamu. Itu sama aja, kamu ingin terus menerus berada dalam lingkaran hitam."


"Diy!"panggil Dean membuyarkan lamunanya.


"Eh!"


"Kamu bengong?"


"Gak kok."


"Yaudah, mau es krim cokelat atau Vanila?"Dean menyodorkan kedua es krim ke hadapan Diana.


"Cokelat aja."Diana mengambil es krim cokelat di tangan Dean.


"Bener nih gak mau Vanila? Biasanya lo suka beli yang vanila, kenapa tiba-tiba cokelat."


"Emang gak boleh?"


"Bukan begitu sih, gue her--"


Dean terbengong. Diana mengambil es krim vanila tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Dia memakan kedua es krim dengan lahap. Ia menggeleng kepalanya pelan.


"Abis ini beli martabak lagi ya Dean."


"I-iya,"jawab Dean lemah.


"Kalo kamu gak ada uang bilang. Nanti aku bisa bayar sendiri."


Dean menggeleng ribut. "Gak! Gue masih bisa bayar! Sekalipun lo makan 100 es krim dan 50 martabak gue sanggup Diy! Gue sanggup!"


"Yaudah. Aku pengen 100 es krim!"pinta Diana.


Dean tersenyum penuh arti. Merasa gemas dengan Diana.

__ADS_1


"Tapi boong, aku bukan cewe matre kok."


__ADS_2