Tentang Diana

Tentang Diana
Epilog


__ADS_3

6 tahun kemudian


"Dokter Diana!"


Yang dipanggil pun mendongkak. Menyipitkan kedua matanya menatap si pemanggil. Sepertinya ada sesuatu yang disembuyikan oleh dia. Tak biasanya dia datang dengan wajah berseri-seri.


Dr. Diana Starla. Ia sudah menjadi dokter di salah satu rumah sakit yang lumayan besar di London. Hidupnya kini terarah,  ia lebih sering tertawa daripada menangis di sini. Banyak orang yang menyayanginya. Benar, roda kehidupan selalu berputar kadang sedih, kadang senang, kadang di bawah dan juga kadang di atas tak ada orang yang selalu menetap di bawah. Tuhan selalu membulak-balikan keadaan, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua orang pasti bisa asal orang itu berusaha dan terus berdoa.


"What's wrong, Ners Darena?"tanya Diana pada Darena.


Ya. Darena adalah sahabatnya, sahabat yang selalu mengerti dirinya dan menerima kekurangannya. Sahabat yang menemaninya selama 6 tahun ini dan dia menjadi perawat sekaligus asistennya.


"Ini dokter--"


"Diana saja!"sela Diana tahu kalau Darena akan mengunakan bahasa Indonesia ketika ingin berbicara pribadi.


"Diana ada surat dari Indonesia untukmu,"ucap Darena sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat.


Diana mengambil amplop itu. "Dari siapa?"


Darena mengangkat bahunya, pertanda tidak tahu. "Di sana sepertinya ada nama pengirimnya."


Cahaya Bulan Edarra


Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Jujur saja ia sangat merindukan mereka, Bulan, Alterio, Dessi dan Dean. Pasti mereka semua sudah sukses, pikirnya.


"Baiklah Dokter, aku izin pulang duluan ya."pamitnya.


Diana mengangguk. Darena pun keluar dari ruangan Diana. Ia membuka amplop itu dengan hati-hati. Takut kalau isi di amplop itu rusak atau robek.


Ada secarik kertas di dalamnya. Langsung saja ia membacanya.


Teruntuk Bintang


Hai apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja ya. 6 tahun yang lalu aku udah baca surat kamu dan surat kamu udah bikin aku gak bisa tidur 7 hari. Kamu harus tanggung jawab Bintang! Kamu harus datang ke acara pernikahanku minggu depan.


Aku ingin memaksamu Bintang. Apa kamu tidak merindukanku, please aku mohon sama kamu. Anggap ini permintaan terakhirku. Aku ingin di acara pernikahanku kamu datang.


7 hari Bintang, aku jarang makan, susah untuk tidur dan berakhir di rawat di rumah sakit. Aku yakin kamu orang yang bertanggung jawab. See you, sampai jumpa minggu depan.


Tertanda


Bulan Cantik:)


Bulan ingin menikah? Ia tersenyum bahagia tapi sedetik kemudian wajahnya murung. Apa Bulan menikah dengan Alterio? Apa nanti ia akan sanggup melihat detik-detik Bulan menjadi Istri Alterio.


Dadanya sesak. Ia masih mencintai Alterio, berusaha untuk melupakan dia pun rasanya sangat sulit. Di setiap tidurnya ia selalu memimpikan Alterio.


Diana bangkit dari kursinya. Sebaiknya ia tidak datang, daripada menerima kenyataan pahit kalau Alterio akan menjadi milik Bulan seutuhnya. Bukankah ini yang ia inginkan? Bukankah dulu ia sendiri yang yang meminta Bulan untuk membahagiakan Alterio?


Ia keluar dari ruangannya. Melewati koridor yang masih terlihat ramai. Banyak orang yang menyapanya dan ia balas dengan senyuman dan anggukan.


Alterio adalah orang pertama yang datang di saat dirinya benar-benar terpuruk dan dia juga yang menyembuhkan gagapnya. Kalau saja Alterio tidak datang ke dalam hidupnya mungkin ia tidak bisa seperti sekarang ini.


Ia memutuskan kalau ia akan datang ke acara pernikahan Bulan dan Alterio. Tak menyangka mereka berdua akan berjodoh, ia turut berbahagia.


"Good afternoon doctor Diana,"sapa seorang dokter berambut pirang.

__ADS_1


Diana tersenyum. "Doctor Gerald's afternoon too,"balasnya.


"Any schedule this afternoon?"tanya dokter Gerald.


"No doctor. I want to go home as soon as possible because my niece is celebrating a birthday," jawab Diana sopan.


"Okay, alright, want me to go?"tawarnya.


"Thanks, Doctor, but I've been picked up by Brother Revan,"ucap Diana sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan rumah sakit.


"All right. Be careful, see you tomorrow."Dokter Gerald melambaikan tangannya.


Dokter Gerald adalah seniornya. Derena bilang kalau Dokter Gerald menyukainya tapi sepertinya tidak, ah sudahlah kenapa jadi bahas Dokter Gerald.


"Gimana-gimana lancar?"tanya Revan saat Diana sudah masuk ke dalam mobil.


"Lancar dong kak!"


"Kak?"


"Hmm?"


"Minggu depan aku ke indonesia--"


"Bulan?"potong Revan.


"Kok kakak tahu?"


"Surat undangannya ada di rumah,"jawab Revan dingin.


"Kakak mau ke sana?"


"Aku bakal kesana kak,"lirih Diana.


"Sanggup? Kalau gak sanggup lebih baik gak usah, kakak gak mau kamu di sana nangis."tatapan Revan masih pokus ke depan mengemudikan mobilnya.


"Aku-aku gak akan nangis."


                            OoO


"Tante Kia!!"


Baru saja Diana turun dari mobil. Seorang anak perempuan berumur 5 tahun datang berlari kearahnya. Anak itu adalah Keyla, anak dari Revan. Revan menikah saat Diana lulus sekolah.


Diana memeluk tubuh mungil Keyla. Mencium keningnya setelah itu menggenggam telapak tangannya erat.


"Tante lama banget tih? Yeya nunggu tante lama banget."dengus Keyla.


"Maaf ya Yeya pasien tante banyak banget soalnya."


"Kado Yeya mana tan?"


"Key! Tante lagi cape masa kamu tagih kado sih!"sahut Micely-istri Revan.


Keyla mendengus sedangkan Revan, Micely dan Diana terkikik lucu melihat perubahan raut wajah Keyla.


"Maaf ya Yeya... tante lupa beliin kamu kado,"ucap Diana wajahnya berubah menjadi sedih.

__ADS_1


Keyla menundukan kepalanya, merasa sedih karena sedari tadi dia menunggu Diana tapi Diana tidak membawa apa yang ia inginkan. Revan tersenyum, mengambil sesuatu di dalam mobil kemudian memberikannya kepada Diana tanpa sepengetahuan Keyla.


"Tante gak lupa kok,"ucap Diana menyodorkan sebuah kado ke hadapan Keyla.


Keyla mendongkak. Matanya berbinar saat melihat kado tersebut. Bukannya mengambil kado itu Keyla malah memeluk Diana.


"Thanks aunt Kia ... I love auntie,"kata Keyla mengeratkan pelukannya.


"Jadi sayangnya kalau dikasi kado doang nih?"Diana melepaskan pelukannya kemudian menaikturunkan alisnya.


"Ngaklah tan, aku sayang tante selamanya!"


"Khem... Tante doang nih yang disayang? Oma ngak?"


Keyla menoleh mendapati Felicia yang baru saja keluar dari rumah.     Keyla berlari memeluk Felicia.


"Yeya sayang semuanya! Yeya sayang Oma, Tante, Dad, Mom, Opa sama Oma Tata."


Diana tersenyum. Kebahagian ini, tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kalau ada yang bertanya apa arti keluarga baginya maka ia akan menjawab 'Keluarga adalah kekuatannya, kebahagiaannya dan tempatnya bersandar' Masih banyak arti tentang keluarga, yang tak bisa terungkap melalui kata-kata. Hanya hatilah yang bisa menjelaskan makna keluarga yang sebenarnya.


Diana memeluk Felicia diikuti dengan Revan dan Micely. Semuanya saling berpelukan, Diana sangat bahagia. Ia bersyukur pada Tuhan karena telah memberikannya matahari kehangatan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2