
"Assalamualaikum Mah."Diana masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikum salam sayang,"jawab Mamah sedari menghampiri Diana.
Diana menyalimi Mamah, kemudian memeluknya sebentar.
"Mamah kesepian ya di rumah?"
"Gak kok, malah Mamah seneng banget. Ayo tebak Mamah seneng karena apa?"
Diana mengetuk-ngetukan jarinya ke dagu, berpikir apa yang membuat Mamah sebahagia ini. Apapun itu, ia ikut senang karena telah membuat Mamahnya bahagia.
"Apaan emang Mah?"
"Kita punya asisten rumah tangga baru!!!"teriak Mamah exited.
ART baru?
Hanya asisten rumah tangga. Diana ternganga seketika. Ia menatap Mamahnya datar sedangkan Mamah sedang bernyanyi-nyanyi menyalurkan kebahagiannya.
"Dan sayang kamu tahu? Anaknya mba Yana asisten rumah tangga kita itu punya anak dan anaknya lucu banget, ih gemes!"
Pantas saja Mamah telihat bahagia, ternyata dia bertemu dengan anak kecil. Ia tahu kalau anak ART itu kecil karena, Mamahnya menyebutnya lucu. Lucu dan gemas itu pasti anak kecil pikirnya.
"Nila! Sini sayang, kenalan sama kakak Kia,"panggil Mamah.
Seorang anak perempuan kira-kira umurnya 5 tahun berjalan kearahnya. Rambutnya lurus tak diikat, kulitnya seputih susu dan pipinya yang tembam membuat siapa saja ikut gemas ketika melihat anak itu.
"Hai Kak Kia,"sapa anak itu.
Diana tersenyum kemudian jongkok menyamakan tinggi anak itu. "Hai juga hm--"
"Nila kak,"potong anak itu.
"Oh... hai juga Nila,"sapanya balik sambil mencubit pipi Nila pelan.
"Mamah mau ngajak kalian makan di luar, kalian mau??"
"Nila mau Nila mau!"kata Nila sambil meloncat-loncat kegirangan.
Diana tertawa pelan karena tingkah lucu Nila. Mamah melihat anaknya tertawa pun ikut senang. Diana memang cantik apalagi kalau tertawa, menunjukan kedua lesung pipitnya menambah kesan imut pada Diana.
"Kia mau?"
"Mau Mah,"jawab Diana.
"Hei Nila cantik, kamu izin dulu sana ke Ibu kamu."suruh Mamah menoel-noel pipi tembem Nila.
Nila hormat layaknya hormat kepada bendera merah putih. "Siap Mah!"
OoO
Sebuah restoran bergaya minimalis dan juga simple menambah kesan kecerian dan kebahagian. Sesekali Diana tertawa melihat Nila bertingkah konyol di depannya dan juga Mamahnya. Sebelum Diana, Nila dan Mamah pergi ke restauran ini mereka pergi ke kedai es krim terlebih dahulu. Menikmati beberapa cone es krim di sana. Diana habis dua cone es krim, Mamah hanya satu dan Nila, anak itu habis tiga cone es krim sekaligus, katanya es krimnya enak.
"Kak Kia! Nila mau tanya... satu ditambah satu sama dengan berapa?"tanya Nila ke Diana.
"Dua lah!"jawab Diana.
__ADS_1
"Kalau Mamah?"
"Dua dong masa satu,"jawab Mamah.
"Kalian salah! Jawabannya jendela!"kata Kia membuat Diana dan Mamah syok.
Mana bisa pertambahan angka bisa jadi jendela? Fiks Nila memang aneh.
"Kok bisa?"tanya Mamah.
Nila mengambil sesuatu di kantong roknya. Ternyata di kantong Nila ada secarik kertas dan pulpen berwarna biru. Nila mulai menulis sesuatu, membuat Diana dan Mamah dibuat penasaran oleh Nila.
"Nih! Satu ditambah satu sama dengan jendela kan?"Nila menunjukan gambarnya ke Mamah dan Diana.
Mamah menggeleng-geleng tidak percaya. Satu ditambah satu ada sama dengan di atasnya, sungguh pintar. Terlihat seperti gambar jendela tapi ini sebuah lelucon anak-anak, dasar.
"Iya iya Nila cantik,"ucap Mamah mengalah.
"Nila kok ngak dimakan?"tanya Diana pada Nila karena sedari tadi dia hanya diam menunduk.
"Nila keinget sama Ibu, Ibu di rumah udah makan belum ya?"
Diana menatap Mamahnya seakan mengode Mamahnya agar bertindak sesuatu. Nila yang tadinya ceria kini dia menjadi murung karena teringat ibunya.
"Kamu makan aja, nanti Mama bungkusin buat Ibu kamu,"kata Mamah.
"Beneran Mah?"tanya Nila berkaca-kaca.
"Ya beneran dong sayang, masa bohongan!"ucap Mamah sambil terkikik.
"Makasih ya Mah. Mamah baru kenal Nila tapi Mamah baik banget sama Nila..."
"Mau mau!"jawab Nila bersemangat.
"Kia cape ya? Yaudah deh lain kali aja kita ke Mall--"
"Ngak kok Mah! Kia mau!"potong Diana cepat.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan tatapannya. Ada Alterio dan Bulan di sini mereka sedang makan. Ternyata mereka tidak langsung pulang melainkan ke tempat lain terlebih dahulu. Mereka berpacaran kah? Terlihat romantis sekali kalau dilihat dari sini. Bulan ketumpahan jus dan Alterio langsung mengelapnya mengunakan tisu, romantis bukan?
Ada rasa sesak di dalam hatinya. Melihat mereka berdua terlihat mesra. Matanya masih tertuju pada mereka berdua, ia menggeleng cepat. Ia tidak boleh merasa cemburu, hei! Mereka berdua adalah sahabatnya.
Satu tetes air mata menetes di pipinya, cepat-cepat ia hapus takut ketahuan oleh Mamah.
"STARS!"
"Aish! Kenapa mereka ke sini!"batinnya.
Diana menutup matanya pelan kemudian menoleh. "Eh, Langit Bulan! Ka-kalian disini?"
"Temen Diana?"tanya Mamah tatapannya tertuju pada Bulan.
Alterio tersenyum, menyalimi punggung tangan Mamah. Bulan mengangguk, ikut menyalimi tangan Mamah juga.
"Iya Mah ini temen Kia, namanya Bulan,"ucap Diana memperkenalkan Bulan pada Mamah.
Mamah mengangguk. "Al, kakakmu sehat?"tanya Mamah pada Alterio.
__ADS_1
"Alhamdulilah Mah, sehat,"jawab Alterio ramah.
Well, Alterio dan Mamah sudah pernah bertemu sewaktu Alterio masih balita dan saat tahu, Alterio adalah teman anaknya, tak butuh waktu lama mereka berdua akrab.
"Oh... bagus lah kalau gitu."
"Kita boleh gabung gak Tan?"tanya Bulan pada Mamah.
"Hmm... kamu temen deket Kia kan?"tanya Mamah dibalas anggukan oleh Bulan.
"Kenapa manggil Tante? Panggil Mamah aja kayak Nila sama Alter,"sambung Mamah.
"Emang boleh Tan?"
"Boleh dong! Eh, tadi kamu minta untuk gabung ya? Maaf banget ya, kami mau pergi ke Mall jadi gak bisa lama-lama disini."
"Oh iya ngak papa Tan, eh, Mah maksudnya,"kata Bulan.
"Yaudah kita pergi dulu ya,"ucap Mamah bangkit dari duduknya begitupun Diana dan Nila.
"Ayo Kia Nila, kita pergi!"ajak Mamah.
Diana tersenyum, menatap Bulan dan Alterio secara bergantian kemudian pergi mengekor di belakang Mamah.
"Padahal pengen lebih deket lagi sama camer,"gumam Alterio.
"Huh!"
"Apa?! Rambut lo bau asem!"sakras Alterio.
"Apaan sih! Kok rambut?"
"Kita pulang!"
Bulan berjalan mengikuti arahan dari Alterio. Alterio ke kanan ia ikut ke kanan, Alterio ke kiri ia ikut kiri, Alterio berhenti ia ikut berhenti. Alterio mendengus kesal kemudian menarik lengan Bulan agar dia berjalan di sampingnya. Ada sesuatu hal yang belum terjawab oleh Alterio, kalau ia belum mendapatkan jawaban dari Alterio dirinya tidak akan tenang.
"Ter, lo suka kan sama sahabat gue?"tanya Bulan menghentikan langkah Alterio.
Alterio mengangguk. "Iya, dia cinta pertama gue,"jawab Alterio membuat hatinya teriris.
"Ter?"panggil Bulan menggantung.
"Hmm?"
"Kalo lo bener-bener cinta sama Bintang gue dukung tapi, kalau lo cuma mau nyakitin dia lebih baik lo mundur."
Alterio menatap Bulan. "Gue bener-bener cinta dia Bul, dari dulu... gue--udah suka sama dia."
Bulan tersenyum. "Gue dukung lo Ter!"
__ADS_1