Tentang Diana

Tentang Diana
Perlindungan lagi


__ADS_3

Felicia-Mamah Diana, bergerak gelisah menunggu anaknya pulang. Satu jam yang lalu ia melihat berita seorang gadis menyelamatkan seorang pemuda dari kecelakaan truk, di taman depan komplek. Air matanya tak berhenti-henti mengalir, pasalnyaΒ  wanita itu mirip dengan anaknya dari mulai rambut, baju serta tinggi badannya. Untung saja dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa, berita tentang kejadian itu bermula dari sebuah vidio yang kini sedang viral di media sosial. Jika Revan melihat vidio itu pasti dia akan langsung terbang ke Indonesia.


Putrinya seperti pahlawan. Dia rela mengorbankan nyawanya sendiri demi orang lain. Ia terharu sekaligus sedih, terharu karena anaknya telah menyelamatkan orang lain dan sedih karena putrinya hampir kecelakaan. Nyaris sekali truk itu mengenai Diana. Ia sangat bersyukur Tuhan masih melindungi putrinya.


"Assalamualaikum Mah!"


Felicia menatap anaknya sendu. Bibirnya mengantup rapat, tak berniat untuk menjawab salamnya. Anak itu-- anak itu kenapa seperti biasa saja, padahalΒ  tragedi besar baru saja menimpa anak itu.


"Mamah kok nangis? Sama siapa Mah? Nila buat Mamah nangis ya?"


Felicia berlari dan memeluk Diana. Diana tersentak kaget, apa mamah tahu kalau dirinya hampir saja kecelakaan?


"Kia kamu ngak papa sayang? Mamah--Mamah takut hiks...."


Nah kan!


"Kia baik-baik aja Mah, kenapa Mamah khawatir?"


"Kamu, kamu hampir ke tabrak truk besar kan? Kenapa kamu ngelakuin itu sayang, kamu hampir aja buat Mamah jantungan,"kata Mamah melepaskan pelukannya.


"Mama ngomong apa sih? Kia memang ada di sana tapi itu bukan Kia."bohongnya.


"Jangan bohong Kia! Mamah tahu itu kamu! Kamu jangan lakuin itu lagi ya, Mamah takut sayang,"ucap Felicia memohon.


"Maafin Kia Mah, Kia udah buat Mamah khawatir,"ucap Diana menyesal.


"Kamu boleh nolong orang sayang, tapi jangan ngebahayain kamu sendiri. Jangan buat Mamah khawatir sayang."


"Iya Mah, maafin Kia."


"Tapi janji ya jangan ngebahayain diri kamu?"


"Iya Mah janji,"jawab Diana sambil tersenyum.


"Kalau kakak kamu lihat vidio itu, pasti--"


Belum saja Felicia melanjutkan bicaranya, tiba saja suara dering HP-nya memotong ucapannya. Felicia mengambil HP-nya yang terletak di meja ruang tamu. Ia menatap Diana sekilas, menunjukan handphonenya ke arah diana.


RevandraπŸ’• is Calling


"Tuh kan! Kakak kamu pasti liat!" Felicia menggeser tombol hijau.


"Louspheker Mah,"ucap Diana menyuruh Felicia menekan tombol louspheker.


"Halo Revan."


"Halo Mah, Kia kenapa Mah? Ini Revan udah ada di Bandara mau berangkat ke Indonesia."terdengar suara terburu-buru dari Revan.


Diana menggeleng cepat. "Mah, bilang ke kak Revan supaya dia ngak kesini,"bisik Diana.


Felicia mengangguk. "Kia ngak papa sayang, kamu beneran mau ke Indonesia?"


Revan berdecak di sana. "Mah! Jangan becanda! Revan ngeliat kalau Kia mau ke tabrak truk!"kata Revan kesal.


"Mah, Kia mau bicara sama kak Revan,"bisik Diana


"Revan... Kia mau ngomong nih,"kata Felicia menyodorkan HP-nya ke Diana.


"Kia?"


"Iya kak?"


"Kamu ngak papa sayang, kakak khawatir."


"Kia ngak papa kak, kakak gak usah khawatir. Jangan bilang kakak mau ke Indonesia cuma mau liat Kia?"


"Iya... kakak takut kamu kenapa-kenapa,"kata Revan khawatir.


"Kia bener-bener gak papa Kak. Kia mau kakak pokus aja ke pekerjaan kakak,"tegas Diana.


"Tap--"


"Kakak! Kia ngak papa lagi pun disini ada Mamah,"potong Diana.


"Oke, dua minggu lagi kakak pulang. Jaga kesehatan kamu, jangan buat kakak sama Mamah khawatir lagi!"


"Siap kak!"


"Kamu dua minggu lagi pulang? Padahal belum satu bulan,"sahut Felicia.


"Revan udah kangen, gimana dong?"


Diana dan Felicia terkekeh, membuat Revan yang mendengarpun ikut terkekeh.


"Yaudah, kamu cepet-cepet pulang, Mamah sama Kia juga kangen."


"Iya Mah, Revan tutup ya."


Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  OoO


Setelah makan malam bersama Felicia, Diana memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Menyelesaikan tugas rumah yang akan dibawa besok. Ia membuka Handphonenya, melihat beberapa notif dan beberapa panggilan tak terjawab.


Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Diana. Alterio dan Bulan pasti sudah melihat vidio itu, kalau tidak mana mungkin mereka menelponnya sampai sebanyak ini.


Β  Β  Β  Β  Ini grup gak pentingπŸ˜’


Anda


Aku ngak papa


γ€€


γ€€


Diana seakan tahu apa yang ingin ditanyakan mereka berdua. Padahal di grup itu tidak ada Chat sama sekali, tapi Diana tiba-tiba mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Mungkin orang kalau melihat pesannya, akan mengatakan 'G-R BANGET'


γ€€


γ€€


Tak lama handphonenya kembali bergetar singkat, menandakan ada pesan whatsapp masuk.


γ€€

__ADS_1


γ€€


Langit


Knp kamu ngak angkat telpon aku? @Diana


γ€€


Bulan


Iya! Aku juga nelponin kamu


γ€€


Anda


Maaf:( Hp aku mode silent


γ€€


Bulan


Vidio itu beneran kamu?


γ€€


γ€€


Anda


Iya tapi aku ngk papa


γ€€


Langit


Kamu ngapain nolongin orng yg gk kamu kenal Star? Sampe ngebahayain diri kamu sendiri lagi!


γ€€


Anda


Aku ngk bisa liat orang celaka didepan aku sendiri


γ€€


Bulan


Tapi Bintang! Kamu bikin jantung aku mau copot tau! Mana joging gk ngajak2 lagi!πŸ˜‘


γ€€


γ€€


Anda


Maaf, aku kira kamu sibuk


γ€€


γ€€


Langit


γ€€


γ€€


Anda


Gk usah Lang! Aku bisa sendiri @Langit


γ€€


γ€€


Langit


Knp? Biasanya juga aku jemput kamu kan?


γ€€


γ€€


Bulan


Sama aku aja ya Bin @Diana


γ€€


γ€€


Anda


@Bulan iya😊


γ€€


γ€€


Langit


Sama Bulan mau tapi sama aku ngk mau😢


γ€€


γ€€


Bulan


Bintang Ilfeel sama lo karna lo suka garuk2 pantat🀣 @Langit


γ€€

__ADS_1


Alterio


Brsik! Ketikan lo bau azab @Bulan


γ€€


γ€€


Bulan


Bodo wle😝


γ€€


γ€€


Saat itu juga Diana menutup aplikasi whatsapp. Biarkan mereka beradu ketikan sampai pagi hari nanti. Melihat kedekatan mereka membuat hatinya sakit, semakin mereka dekat semakin pula hatinya sakit. Bulan adalah sahabatnya begitupula Alterio, seharusnya ia bersyukur. Karena kedatangan mereka di dalam hidupnya, membuat hari-harinya berwarna dan gangguan bicaranya sedikit demi sedikit menghilang.


γ€€


γ€€


Ia menyimpan HP-nya di atas nakas. Mematikan lampu dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba HP-nya berdering.


γ€€


γ€€


Diana bangun, mengidupkan kembali lampunya. Melihat siapa gerangan yang menelponya malam-malam begini. Ia berpikir, kalau bukan Revan dan Alterio pasti Bulan.


γ€€


γ€€


Tidak! Tebakannya ternyata salah! Di layar Hp-nya terdapat nomor tak dikenal. Dengan sangat ragu ia mengangkatnya.


γ€€


γ€€


"Halo?"


γ€€


γ€€


"Halo Diy... lo udah baikan?"tanya seseorang diserbang sana.


γ€€


γ€€


Dari suara dan panggilan untuknya, ia sudah tahu kalau si penelpon itu adalah Dean. Kalau boleh tahu dia mendapatkan nomornya dapat dari mana?


γ€€


γ€€


"Iya,"jawab Diana.


γ€€


γ€€


"Kalau lo kenapa-kenapa bilang sama gue ya,"kata Dean.


γ€€


γ€€


Diana mengerutkan dahinya. "Kok kamu?"


γ€€


γ€€


"Iya, gue beneran merasa berhutang nyawa sama lo Diy... gue mohon sama lo. Kalo lo butuh sesuatu bilang sama gue dan juga--lo gak boleh nolak perlakuan baik gue."


γ€€


γ€€


"Aku beneran ikhlas nolongin kamu. Kalau aja kamu itu orang lain, aku juga akan melakukan hal yang sama."


γ€€


γ€€


"Ya gue tahu itu. Terserah lo mau bilang apa, tapi gue bakal lindungin lo--"


γ€€


γ€€


"Aku ngak selemah yang kamu kira! Yang harus di lindungi semua orang!"potong Diana kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya.


γ€€


γ€€


Apakah aku selemah itu?


Apakah aku pantas untuk dilindungi?


Dan apakah orang melindungiku akan pergi setelah membuatku terbang ke atas?


Sudah cukup! Aku tidak mau mendapatkan perlindungan dari orang lain,


Karena hal itu akan membuatku ketergantungan.


Setelah mereka pergi, aku akan kembali terpuruk.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2