
Istirahat kedua adalah waktu yang lumayan senggang. Waktu itu dipergunakan untuk sholat bagi yang muslim, makan serta minum dan bergosip ria dengan teman. Kadang juga ada yang mengunakan waktu satu jam itu untuk tidur di kelas atau sekedar membaca buku dan Diana ingin memilih opsi membaca buku.
Hari ini ia sedang diguyur hujan merah. Hari pertama datang bulan itu sangat menyakitkan terlebih lagi ada sesosok orang menjengkelkan membuatnya naik pitam.
"Diy, lo kenapa sih?"
"Dean aku mohon sama kamu, aku lagi pengen sendiri!"ucap Diana menyatukan telapak tangannya di dada.
"Tapi Diy?"
"Sholat sana!"seru Diana sambil berjalan meninggalkan Dean.
"Udah,"balas Dean mengejar Diana.
Semakin Dean mengejar Diana, semakin pula Diana mempercepat langkahnya. Bukan tak ingin berteman dengan Dean tapi Diana tidak ingin membuat Dean merasa malu jika berada dia di sampingnya. Ia masuk ke dalam perpustakaan, kakinya berhenti melangkah. Tatapannya tertuju pada dua orang yang sedang asik membaca buku.
Dean memperhatikan kemana pandangan Diana tertuju. Ia mengangguk paham, ternyata Diana sedang menatap Alterio dan Bulan. Tanpa ragu ia menarik lengan Diana untuk duduk di tepi perpustakaan, di sana tempat yang strategis untuk membaca ataupun memata-matai orang.
"Lo suka Alterio?"tanya Dean dibalas gelengan oleh Diana.
"Terus kenapa lo sedih?"tanyanya lagi.
Diana tersenyum dengan manisnya. Berniat untuk mengubah pertanyaan Dean tadi. Ia tidak boleh sedih bukan? Mereka adalah sahabatnya dan mungkin mereka saling mencintai. Bukan Dean namanya kalau langsung percaya dengan senyuman palsu itu. Dean menatap kearah pandangan Diana, pandangan Diana masih tertuju pada Alterio dan Bulan.
"Lo diem berarti lo suka Alterio,"ujar Dean.
"Gak kok,"balas Diana.
"Lo suka Alter tapi lo ngerelain dia buat Bulan kan?"
Diana melotot, tangannya refleks memukul lengan Dean. "Eh, maaf."
"Bener kan?"
"Ja-jangan berisik Dean!"
"Tepat sasaran! Lo ngak bisa bohong Diy, karena gue gak bisa dibohongin kalau ngomongin soal cinta,"kata Dean pindah tempat, yang semula di samping Diana kini berhadapan.
"Kamu ngalangin!"ketus Diana.
"So, gue emang sengaja,"balasnya santai.
"Sengaja?"beo Diana.
"Kalo lo terus-terusan liatin mereka yang ada lo kebakar api cemburu."
"Ak-aku gak cemburu!"
"Kita pacaran aja yuk!"
"HA?"
"Iya pacaran. Lo mau ngerelain Alter buat Bulan kan? Sekarang lo harus jadi pacar gue."
"A-apa hubungannya?"
__ADS_1
"Lo harus move on Diy. Lo gak bisa terus-terusan tertimbun dalam keterpurukan come on Diy gets up!"
"Ta-tapi kenapa harus pacaran sama kamu?"
"Cuma bohongan Diy. Lagipun kalo lo beneran suka sama gue, gue bakalan tanggung jawab kok."
"Ta-tapi__"
"Demi Alterio dan Bulan."
OoO
Apakah ini keputusan yang tepat? Berusaha untuk melupakan cintanya untuk Alterio dan menjauhi dia. Diana sangat merasa sangat rapuh sekarang, walau ada Dean di sampingnya tapi, tanpa Alterio dan Bulan ia benar-benar rapuh.
Alterio tampak seperti biasa saja, bahkan Alterio tidak menyadari kalau ia telah berusaha untuk menjauhi Alterio.
Matahari tidak bersinar pada satu orang saja. Matahari menyinari semua orang, sama seperti Alterio menyinari semua orang tak hanya dirinya.
"Stars kita pulang."
Diana mendongkak tak lama kemudian menggeleng pelan. "Gak deh Ter, a-aku--"
"Dia pulang bareng gue!"potong seseorang yang baru saja datang.
"Lo!"tunjuk Alterio mengeraskan rahangnya.
"Iya kenapa?"
"STARS! kamu jangan deket-deket sama dia! Dia itu, dia pernah bunuh orang Stars,"kata Alterio meyakinkan Diana.
"Lo emang udah bunuh orang! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri!"
"Gue udah bilang berapa kali, itu semua salah paham. Walau lo udah bikin ayah gue benci sama gue, tapi gue gak pernah sedikitpun untuk benci lo Ter, gue masih nganggap lo sahabat."
Alterio berdecih, menatap bengis ke arah Dean. "Sahabat? Pembunuh kayak lo gak pantes sahabatan sama gue! Gue peringatin lo, untuk jauhi Diana!"
"Maaf Ter... gue gak bisa ngejauhin pacar gue sendiri."Dean menggenggam sebelah tangan Diana.
"Pacar? Mimpi lo!"ketus Alterio melepas paksa tangan Dean dari Diana.
"Lo ngak percaya? Tanya sana sama pacar gue."
Alterio menatap Diana intens meminta penjelasan kalau ucapan Dean hanya sebuah lelucon. Diana menunduk, air matanya mengalir begitu saja.
"Stars?"
"I-iya Lang, aku pacaran sama Dean,"jawab Diana mengepal kedua ujung roknya.
Alterio tersenyum kecut. Tak percaya dengan apa yang telah diucapkan Diana. Dia menatap Diana dengan tatapan kecewa, Diana dapat menyadari itu.
"Puas Ter? Lo boleh kok temenan sama pacar gue tapi ingat, tau batasan!"kata Dean sambil tersenyum kemenangan.
"Dean, Langit, aku pulang duluan ya. Kak Revan udah nunggu di depan,"ujar Diana berbohong.
OoO
__ADS_1
Pandangan Diana kosong, pikirannya entah melayang-layang kemana. Apa ia salah karena telah berbohong pada Alterio? Tatapan itu, menisyaratkan kalau dia merendam kekecewaan.
Apa mungkin Alterio mencintainya? Rasanya tidak mungkin. Bulan menyukai Alterio dan Alterio menyukai Bulan. Tidak masalah bukan, kalau ia mengaku telah berpacaran dengan Dean?
TITTTT
Tiba saja lengannya di tarik. Diana syok, nafasnya tidak beraturan. Hampir saja ia tertabrak oleh motor tadi, ia mendongkak menatap orang yang telah memolongnya tadi.
Dessi
Orang yang telah menolongnya adalah Dessi. Setelah menolongnya, dia langsung pergi meninggalkan Diana. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa sikap Dessi sangat aneh.
Ia berusaha mengejar Dessi tapi Dessi semakin mempercepat langkahnya.
"Des!"
"Dessi!"
"Dessi!"
Dessi berhenti, membalikan badannya. Begitupun dengan Diana, ia diam menatap Dessi dengan mata yang sudah berair.
"De-dessi makasih,"ucap Diana menggenggam tangan Dessi, ia tak peduli walau Dessi akan menghempaskan tangannya.
Dessi terdiam, memandangan tangan Diana yang menggenggam tangannya. Dugaannya ternyata salah, Dessi tidak menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Maafin gue Diana,"lirih Dessi.
"Ma-maaf?"
"Entah kenapa sekarang gue sadar, perlakuan gue ke lo itu sangat jahat. Gue nyesel Sa, gue sungguh nyesel. Tatapan lo ke gue--"
"Gue ngerasain sakitnya saat lo natap gue datar. Gue bisa ngerasain, gimana rasanya kalau gue ada diposisi lo,"lanjutnya sambil menghapus air matanya.
"Dari kecil, gue gak nyangka gue bisa sekejam itu. Mungkin kalau gue ada diposisi lo, gue udah--arghh!"Dessi menjambak rambutnya sendiri.
"Dessi udah! Ja-jangan nyakitin diri kamu sendiri!"ucap Diana memegangi tangan Dessi yang hendak menjambak rambutnya lagi.
"Please Sa! Lo jangan marah lagi sama gue, gue... gue bener-bener gak sanggup!"
"Aku gak marah Des, aku anggap kamu teman aku Des."
Dessi menggelengkan kepalanya. "Jangan Sa! Gue gak pantas jadi temen lo!"
"Tap--"
"Hati-hati Sa, jangan melamun. Dua kali lo hampir ketabrak Sa, gue gak mau kejadian kemaren dan sekarang terulang lagi."Dessi pergi sambil mengusap air matanya.
__ADS_1