Tentang Diana

Tentang Diana
Kesedihan Diana


__ADS_3

Sedari tadi hujan tak berhenti. Angin yang lumayan kencang serta hujan yang deras namun tak ada petir. Bulan berlari sekencang mungkin, meninggalkan mobilnya yang terparkir di depan cafe. Ia kembali masuk ke dalam hobinya, menangis di tengah-tengah derasnya hujan. Berteriak dan meluapkan semua emosinya.


Ia duduk di rerumputan basah yang tergenang oleh air. Tangannya mencengkram rumput dengan kuat, sampai telapak tangannya tergores oleh rumput yang sedikit tajam.


Darah keluar dari telapak tangannya. Dengan cepat terhapus oleh air hujan. Tak sakit, lebih sakit hatinya penuh dengan rasa penyesalan.


                           OoO


Alterio tersenyum kecut memandang kotak yang mirip sekali dengan kotak yang di bawa Bulan. Ia ragu untuk membuat kotak dari Diana, ia takut lebih merasa bersalah setelah melihat apa isinya nanti.


Ia berdecak. Cepat atau lambat ia akan mengetahui isi dari kotak itu. Ia membuka kotak itu dan isinya--


Secarik kertas dan gantungan gitar yang terbuat dari kayu. Di bawah gantungan gitar itu tertulis  'Bintang di Langit'. Ia mengeluarkan surat itu dan membacanya.


Dear Alterio


Makasih atas semua dukungan serta perhatian khusus yang membuatku melambung tinggi. Yang membuatku, merasakan kelap-kelip Cahaya dari sang kunang-kunang. Aku mencintaimu, namun aku sadar, aku tidak pantas untukmu.


Bulan mencintaimu, aku tidak akan menganggu kalian lagi. Jangan cari aku, aku pergi sangat jauh dari kehidupanmu.


Ketika kita bertemu nanti, tanpa sengaja mungkin. Aku mau saat itu juga kamu bahagia bersama Bulan.


Udah liat gantungannya kan Lang? Kalau kamu gak suka buang aja ya, aku beli itu udah lama banget soalnya.


Makasih matahariku, tidak! Matahari semua orang maksudnya hehe.


Selamat berbahagia! See you


-Starla


Alterio melipat suratnya kembali. Meletakan surat itu ke dalam kotak. Ternyata benar, Diana mencintainya. Ia salah seharusnya ia dari dulu menyatakan cintanya kepada Diana mungkin ia sedang berbahagia sekarang.


Ia mengambil gantungan kunci itu. Memandangnya dalam-dalam, gitar? Ya! Gitar sebuah kenangannya bersama Diana. Untuk pertama kalinya Diana tersenyum bahagia dan untuk pertama kalinya juga Diana telah membuktikan ke teman sekelasnya kalau dia bisa.


Seorang wanita yang sedang berteriak-teriak di tengah derasnya air hujan, mengalihkan perhatiannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, apakah wanita itu tidak waras? Hey tunggu! Bukankah itu Bulan? Sedang apa dia?


Alterio turun dari mobil. Mengambil payung dan membukannya.

__ADS_1


"Bulan!"panggil Alterio.


"Bulan!"panggilnya sekali lagi.


Bulan masih diam. Menunduk, menatap genangan air yang membasahi kakinya.


"BULAN!"teriak Alterio.


Bulan akhirnya membalikan badan. Menatap Alterio dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Alterio tahu, kalau Bulan sedang menangis. Walau air hujan dan air mata menyatu, ia tak bisa di bohongi kalau tentang kesedihan dan kebahagian seseorang. Mau sehebat apapun orang itu menyambunyikannya, ia akan tahu.


"Lo bisa maki gue Ter! Gue emang sahabat yang buruk! Bener kata Dean, gue muka dua! Di depan baik di belakang BUSUK! Lo hati-hati Ter sama gue."


Alterio diam. Memperhatikan gerak-gerik Bulan seperti cacing kepanasan. Ke sana kemari, sesekali menghentak-hentakan kakinya.


"MAKI GUE TER! Diana salah paham, gue gak suka sama lo! Gue nganggep lo sebagai kakak gue sendiri, gue anggep lo sebagai superhiro gue! Seharusnya gue gak bikin Diana sedih, seharusnya gue bikin Diana bahagia bukan menangis hiks...."


"Bulan... kita salah. Ini bukan salah lo sepenuhnya, ini salah kita."ucap Alterio memayungi Bulan.


"Singkirin payungnya Ter, percuma Ter gue udah basah."Bulan menyingkirkan payung yang di pegang Alterio.


"Kita neduh dulu, kalau lo terus di sini nanti lo bisa sakit."


"Diana bakal ke sini. Gue yakin banget Diana bakal balik lagi ke sini. Mau besok, lusa ataupun bertahun-tahun lagi Diana bakal balik ke sini dengan sosok yang lebih kuat."


"Bener kan Ter, Diana bakal balik lagi ke sini?"


"Iya."


Alterio tersenyum tipis. Ia bisa menenangkan orang lain namun tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Ia hancur, kata 'iya' yang keluar dari mulutnya hanyalah penenang untuk Bulan. Ia bukan Tuhan yang tahu kapan Diana akan kembali ke sini.


                           OoO


"Mas, Diana pergi ke mana mas hiks hiks...."Shinta menangis didekapan Diko.


Shinta dan Diko sudah lelah mencari keberadaan Diana namun tak kunjung menemukanya. Rumah baru yang di singgahi Revan ternyata sudah kosong dari seminggu yang lalu. Menurut para tetangga di sana, Revan sekeluarga pergi ke luar negeri dan akan menetap selamanya di sana.


"Mas tahu alamat perusahaan Revan. Semoga saja, Diana tinggal di sekitaran sana."

__ADS_1


"Mas tahu?"


"Iya, Mas tahu. Besok kalau kamu tidak lelah, kita ke sana."


Shinta menggeleng. "Sekarang aja Mas!"seru Shinta.


"Jangan sayang. Nanti kamu sakit, kamu sudah kelelahan, sebaiknya kita beristirahat dulu."


"Yaudah iya Mas. Kita istirahatnya di rumah kita yang dulu kan? Aku kangen rumah itu."


Diko mengangguk. "Iya. Kita akan istirahat di sana."


Shinta tersenyum, kemudian memeluk Diko. "Makasih Mas."


                           OoO


Shinta dan Diko terdiam saat ia menginjakan kaki di ruang tamu. Banyak sekali paper note bertempelan dibingkai foto keluarga, dulu saat keluarganya belum hancur seperti ini.


Bukan kamauan Diana tetapi ini semua kemauannya dan juga suaminya. Karena rasa malu, ia pergi meninggalkan Diana tak salah kalau Diana sekarang membencinya.


Shinta menarik sebuah paper note bertuliskan 'I Hate Mom!'. Ia tersenyum kecut, ia sadar akan semua kesalahannya. Ia ibu yang buruk, menelantarkan anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan ayah. Diana pantas membencinya, Diana juga pantas memaki-makinya. Ia akan berusaha untuk selalu mendapatkan maaf dari Diana.


Ia berjanji sebelum dirinya benar-benar lenyap dari dunia ini, ia akan mendapatkan maaf Diana.


"Hiraukan saja tulisan itu. Kau butuh istirahat Shin,"ujar Diko mengambil paper note yang sudah basah oleh air mata Shinta.


"Tapi Mas, Diana membenci kita hiks...."


Diko menggeleng, menarik paper note yang tertumpuk di tengah-tengan paper note yang berdominan bertulis 'I hate'.


"Lihat ini, Diana masih mencintai kita. Walau Diana membenci kita tapi dilubuk hati yang terdalamnya mungkin masih ada rasa sayang untuk kita,"ujar Diko menunjukan paper note bertulis 'I  love Mom'


"Kamu istirahat ya. Mas mau nyari makanan keluar sebentar,"ucap Diko diangguki oleh Shinta.


Diko tersenyum kemudian mencium pundak kepala Shinta sebentar. Diko pergi keluar sedangkan Shinta menatap sendu kepergian Diko.


Di sinilah Shinta berada sekarang, di dalam kamar putrinya. Putri yang ia tinggalkan, dia mandiri sangat mandiri. Dia mampu bertahan tanpa ada kedua orang tua di sampingnya, terlihat dari foto Diana dengan seorang laki-laki seumuran dengan anaknya terpajang di meja belajar. Ia yakin lelaki itu adalah pacar anaknya.

__ADS_1


Saat sesuatu menganggu pandangannya. Sebuah diary berwarna biru tua yang kira-kira jumlah halamannya ada 350 lembar. Ia membukanya, membacanya dengan teliti agar tak satu katapun terlewat olehnya. Air matanya menetes, Diary ini ditulis sejak ia meninggalkan Diana. Kesedihan, kesedihan dan kesedihan, tak ada yang membuat anaknya bahagia di dalam diary itu.


Baru 5 lembar halaman pertama sudah membuat matanya sembab dan hatinya bergetar, akankah ia sanggup membaca semuanya? Sepertinya tidak.


__ADS_2