Tentang Diana

Tentang Diana
Teman Baru lagi


__ADS_3

Cukup rumit bagi Bulan untuk menyelesaikan rubik yang masih tercampur aduk. Angin menghembus kencang, meniup-niup helai demi helai rambut yang digerainya. Hatinya berkecamuk ketika tahu bahwa super heronya mencintai orang lain, tidak! Bukan orang lain tapi, sahabatnya sendiri.


Memang benar, ada perbedaan yang cukup besar untuk dilihat oleh mata. Alterio berbicara lembut pada Diana tapi, kalau dirinya ketus dan orang lain dingin. Sikapnya juga sama, hanya pada Diana dia bersikap lembut, tidak pada yang lainnya. Kenapa bisa ia tidak melihat seekor gajah di depan mata, padahal semua orang tahu Alterio mempunyai rasa pada Diana. Tak mungkin sahabat memperlakukan sahabat lainnya seperti pacar bukan?


Dirinya terlalu bodoh. Bodoh karena mencintai orang seperti Alterio, tak apa kalau di hatinya masih kosong tapi ini, hati dia sudah ada Diana yang mengisi.


Semoga saja ada penganti super heronya, yang bisa memberikan sinarnya untuk orang lemah sepertinya ini. Alterio adalah super hero Diana, hanya Diana seorang.


Ia tak bisa menjauhi Diana karena masalah sepele seperti ini. Lagipun Diana tak bersalah di sini, Alterio juga tidak salah begitupula dirinya tidak salah. Tidak ada yang patut disalahkan disini. Hal ini memang normal terjadi, ketika seseorang merasakan jatuh cinta merasakan kebahagian dan sakit yang amat mendalam.


"Aya sayang," panggil seseorang.


Bulan menoleh kemudian tersenyum. Ia beranjak dari kursi dan berlari mendekati orang itu. Terlihat sorot mata kebahagian yang terpancar dari wajah orang itu. Bulan memeluknya erat, betapa rindunya ia terhadap orang ini.


"Mamah Aya kangen."


OoO


Hari minggu pagi, Diana pergi untuk sekedar jalan-jalan mengelilingi komplek. Banyak orang yang melakukan lari pagi di sini, tujuannya sih ke taman. Disana banyak sekali aktivitas yang dilakukan, seperti senam irama, bermain bola voli ataupun bermain basket karena di samping taman terdapat lapangan yang lumayan luas. Di sana juga banyak sekali pedagang kaki lima yang mangkal jadi tak heran, setiap hari libur di sekitar taman ini selalu ramai.


Ia sendirian, biasanya ada Alterio yang menemaninya tapi, ia takut mengganggu. Mulai sekarang ia harus membiasakan diri untuk mandiri tanpa bantuan Alterio. Kalau saja ada Revan, pasti Revan sudah mengajak tanpa diajak terlebih dahulu. Namun sayang, Revan sedang berada di London.


Matanya kini terfokus pada seorang pemuda yang sedang bertelpon di tengah jalan. Tunggu--tengah jalan!?


Sebuah mobil truk melaju dalam kecepatan cukup kencang dari arah timur. Ia menggeleng pelan, pemuda itu harus cepat-cepat menyingkir.


Diana berlari secepat mungkin sambil berteriak-teriak kesusahan karena kalau dirinya sedang panik dan ketakutan gangguan suaranya akan muncul. Pemuda itu tidak sadar kalau dia sedang dalam bahaya.


Diana mengamati supir yang sedang menyetir. Ia melambai-lambai tapi tak ada respon sama sekali dari sang supir, sepertinya supir itu mengantuk. Jantungnya berdetak kencang, mobil truk semakin mendekati pemuda itu.


"BERHENTI PAK!" teriak Diana dengan nafas tersengal-sengal.


Para pengunjung taman itu ikut panik, mereka berusaha untuk memberitahu pemuda itu. Tapi pemuda itu tak mendengar, pantas saja tak mendengar orang dia memakai headshet.


Tepat waktu, Diana sampai sebelum mobil truk itu benar-benar menghantam tubuh pemuda itu. Ia mendorong tubuh pemuda itu sampai jatuh ke pinggir aspal, syukurlah dia tidak kenapa-kenapa tapi-- ia melupakan dirinya sendiri kalau ia pun ada di tengah-tengah mara bahaya.


Ia meringkuk, menutup kepalanya mengunakan kedua lengannya. Apakah ini akhir hidupnya? Tapi masih ada Revan dan Mamah yang menunggunya pulang.


"Aaa!"


CKIITTTTTTTT

__ADS_1


Diana membuka matanya, kakinya bergetar hebat. Ia memberanikan diri untuk melihat keadaan sekitar, jarak antara dirinya dan mobil truk hanya sejari telunjuknya saja. Tuhan masih menyayanginya ternyata, mobil truk itu berhenti. Semua pengujung taman berkumpul di mengerumuni Diana serta menggedor-gedor pintu mobil, menyuruh supir untuk keluar.


Diana syok berat, tiba-tiba saja ada yang memeluknya. Pemuda itu--memeluknya. Tangan dan kakinya bergetar hebat karena ketakutan, setelah itu pandangan Diana memburam.


OoO


"Diana kamu gak papa?"


Diana mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal yang pertama kali dilihat adalah pemuda itu. Pemuda itu membantu Diana untuk bangun, menyandarkannya di sofa.


"Hiks... mo-mobil itu?"


"Udah ngak ada Diana. Kamu gak papa?"


Diana menggelengkan kepalanya pelan. Pemuda itu membuka botol mineral dan meminumkan Diana. Diana sangat syok, bagaimana tidak? Kalau saja supir itu tak berhenti tepat waktu mungkin tubuh Diana akan terpental jauh saat itu juga. Seharusnya dirinya yang ada di posisi diana, seharusnya mungkin dirinya sudah tidak ada di dunia ini lagi.


"Ma-makasih," lirih Diana pelan.


"Gue--gue gak tau harus bagaimana Diy, lo-lo udah nyelamatin hidup gue."


"Gak papa," jawab Diana pelan.


What? Gak papa? Pemuda itu tersenyum gemas.


"Ja-jangan kasih tau Mamah! Jangan kasih tau kak Revan! Bulan atau Langit! Please," ucap Diana memohon.


Dalam keadaan seperti ini pun dia masih mementingkan keluarga dan sahabatnya.


"Kenapa?"


"Nanti mereka khawatir," jawab Diana menghapus air matanya.


"Yaudah sementara ini lo di sini dulu, setelah membaik nanti gue anter lo pulang."


"Ka-kamu--"


"Dean! Panggil gue Dean!" potong pemuda itu.


"Ka-kamu ta-tau nama aku?"


Pemuda bernama Dean itu mengangguk. "Lo satu sekolah sama gue, kita juga pernah berpapasan,"jawab Dean.

__ADS_1


"Ak-aku gak inget," sahut Diana.


"Gimana gak inget orang lo nunduk terus kalo jalan."


Diana terdiam, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tangannya masih bergetar karena syok. Dean menggenggam tangan Diana erat, tangan Diana dingin malah sangat dingin. Dean tidak heran, Diana bersikap seperti ini karena dia syok berat.


"Ka-kamu tahu aku gagap kan?" tanya Diana melepaskan genggaman tangan Dean.


"Tahu," jawab Dean singkat.


"Kenapa gak menjauh? Kenapa gak nyuruh aku pergi, aku udah ngak papa kok."


"Heran gue sama lo! Tetep aja ngerasa ngerendah. Buka mata lo lebar-lebar dan lihat di sekeliling lo, cuma Dessi dan teman-temannya yang ngehina lo!"


Diana mengerutkan dahinya, merasa bingung. Kenapa dia marah-marah? Padahal ia hanya memberitahunya dan, kenapa dia bisa kenal dengan Dessi?


"Padahal mereka semua ngak bakalan peduli kalau Dessi gak berbuat ulah. Gue cuek, gue merasa gak peduli waktu itu karena gue pikir lo cewe lemah. Cewe yang gak bisa bertindak saat ada masalah. Cewe yang hanya bisa ngeluarin semua keluh kesahnya pada benda mati!"


"Tapi, gue sadar lo-- lo cewe terkuat yang pernah gue lihat,"sambungnya.


"Ka-kamu... gak benci aku?"


"Benci! Gue benci banget sama lo! Bisa-bisanya lo ngorbanin diri lo sendiri demi gue! Demi orang yang gak lo kenal!" teriak Dean.


"Hiks... maaf," lirihnya.


"Lo ****! Lo ***** Diy! Lo ngorbanin diri lo sendiri. Satu detik! Kalau satu detik mobil itu gak berhenti mungkin lo udah mati!"


"Maaf, aku ngak mau lihat orang celaka di depan mataku sendiri. Selama aku masih bisa nolong, aku akan tolong," ucap Diana.


Dean menarik lengan Diana, mendekap tubuh Diana erat. Dean menangis sedangkan Diana masih terdiam, membeku. Seumur hidupnya, ia tidak akan pernah lupa akan jasa Diana. Hidupnya masih sangat panjang dan berharga. Dan, masih ada yang menyayanginya.


"Lo bisa Diy, lo bisa ngatain gue cengeng! Gue terima makian dari lo," kata Dean yang masih memeluk Diana.


"Ak-aku gak bisa, aku ngak mau orang tersakiti karena ucapanku," ujar Diana.


"Diana, gue belum pernah ngelakuin ini sebelumnya tapi, lo mau ngak jadi teman gue?"


"Aku ga-gagap, kamu gak malu?"


Dean melepas pelukannya. "Seharusnya gue yang nanya begitu, lo malu ngak di deket gue?"

__ADS_1


"A-aku ngak pernah malu dekat dengan siapapun,"jawab Diana pelan.


"So, lo mau jadi teman gue?"tanya Dean dibalas anggukan oleh Diana.


__ADS_2