Tentang Diana

Tentang Diana
Extra part


__ADS_3

Hari ini cuaca sangat cerah, tidak terlalu panas ataupun dingin. Matahari pagi pun terasa menghangatkan tubuhnya. Ia merindukan suasana ini, suasana menyedihkan di negara kelahirannya. Tepat jam 7 pagi ia sekeluarga mendarat dengan selamat di bandara soekarno hatta dan sekarang ini ia sedang ada di rumah Shinta dan Diko, bersiap-siap untuk pergi ke acara penikahan Bulan.


Diana sudah benar-benar siap dari pakaian sampai dengan hati ia sudah siap. Siap melihat Bulan dan Alterio berpegangan tangan duduk di singgasana.


Sedaritadi Keyla duduk dipangkuannya. Bukan hanya duduk, dia bahkan tertidur dipangkuannya karena saking nyamannya. Ia, Felicia, Keyla, Revan dan Michely berada dalam satu mobil sedangkan Diko dan Shinta berada dalam mobil lain.


Sungguh, jantungnya berdetak dengan kencang ketika mobil memasuki halaman parkir tempat di mana Bulan melangsungkan acara pernikahan.


"Yeya sayang, bangun yuk kita udah nyampe,"ucap Diana menepuk pelan pipi Keyla.


Keyla mengerjap-ngerjapkan matanya imut. Dia bangun dari pangkuan Diana.


"Udah sampe ya?"


"Key? Sini Daddy gendong,"ajak Revan yang sudah turun dari mobil.


Keyla mengangguk pelan. Dia turun dari mobil dan langsung hinggap di gendongan Revan. Diana terkekeh, ia mencubit pipi Keyla gemas.


"Tante sakit ish!"dengus Keyla.


"Kita langsung masuk aja kali ya?"tanya Diko tatapannya tertuju pada Revan.


"Yaudah kita masuk,"ajak Revan.


"Eh kalian duluan aja ya. Aku mau ketemu Dean sama Dessi dulu,"ucap Diana pada mereka.


"Yaudah hati-hati ya sayang. Kami duluan,"ucap Felicia dibalas anggukan oleh Diana.


Setelah mereka masuk, tak lama Dessi dan Dean sampai. Dessi memakai dress berwarna abu-abu selutut sedangkan Dean memakai jas berwarna hitam dengan dasi abu-abu, tunggu--apa mereka sepasang kekasih? Terlihat sangat serasi.


"Sasa! Ya ampun!"teriak Dessi histeris memeluk singkat Diana.


"Lo berubah banget Sa, gue sampe pangling tadi."


Diana tersenyum kikuk. Sedikit canggung dengan kehadiran Dessi dan Dean, maklum saja 6 tahun tidak bertemu.


"Apa kabar?"tanya Diana.


"Baik dong!"jawab Dessi semangat. "Kalau lo?"lanjutnya.


"Baik juga."


"Hmm... Dean?"


"Gue baik Diy, gue kaget aja liat perubahan lo."Dean melirik Dessi singkat.


"Kalian pacaran?"


Dessi mengangguk antusias. "Kita pacaran!"


"Ralat kita tunangan,"sela Dean.


Diana tersenyum bahagia. Dari rival akhirnya berjodoh juga. Ia Sempat berpikir kalau Dean dan Dessi akan selamanya menjadi kucing dan tikus yang tak pernah akur. Garis takdir memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan sang pencipta yang maha tahu.


"Wah selamat ya!"


"Kita berdua bersatu karena patah hati. Dean patah hati karena lo pergi ke London untuk selama-lamanya dan gue--kakak lo nikah,"ungkap Dessi.


"Jadi kamu suka sama kak Revan?"


"Iya dulu. Semenjak kakak lo marahin gue, gue bukan takut tapi malah kagum, aneh kan?"


"Khem!"


Dessi dan Diana menoleh ke arah Dean sepertinya dia tidak suka kami membicarakan masa lalu. Dessi tertawa senang, melihat Dean cemburu.


"Pak Dean cemburu ya?"


"Diem!"ketus Dean.


"Cie cemburu, uh... makin tayang deh."Dessi menoel-noel pipi Dean.


"Diem!"

__ADS_1


"Eh Diy, kamu udah jadi dokter ya?"tanya Dean tak ingin larut dalam lelucon Dessi.


Diana mengangguk. "Iya Dean, kalau kamu?"


"Cita-cita gue gak tercapai Diy,"jawab Dean lirih sementara Dessi menepuk bahu Dean pelan.


"Kenapa? Kamu gak kuliah?"


"Kuliah. Gue pengen jadi dokter tapi--bokap maksa gue buat lanjutin perusahaannya."


"Ck. Kok jadi melow sih!"decak Dean kemudian terkekeh.


"Lo yang duluan sih!"kesal Dessi.


"Kamu harus jalanin apa yang kamu kerjakan sekarang Dean. Orang tua kamu pasti pengen yang terbaik,"ucap Diana pada Dean. "Eh, kalau kamu Des?"tanyanya.


"Gue sih ngelola Ćafe Sa,"jawab Dessi.


Diana tersenyum. "Kalian hebat. Kalian sukses semua, aku seneng dengernya."


"Lo juga sukses Diy,"sahut Dean.


"Yaudah yuk kita langsung masuk aja!"ajak Dessi menggenggam tangan Diana.


Dessi menarik lengannya untuk masuk ke dalam gedung. Banyak tamu undangan yang sudah berdatangan. Diana melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 10 ternyata, pasti akadnya sudah selesai. Baguslah, jadi ia tidak melihat detik-detik Alterio menjadi milik Bulan seutuhnya.


Ia melihat seorang pengantin berdandan khas jawa dengan sanggul besar di kepalanya. Ia tahu dan Bulan pernah bercerita kepadanya kalau nenek Bulan itu asli orang jawa. Tak pernah terpungkiri kalau Bulan memanglah cantik, apalagi dengan busana khas jawa menambah kesan ayu dalam diri Bulan.


Bulan berdiri dari duduknya, menyadari kalau sedari tadi ada yang menatapnya. Itu Diana, apakah matanya tidak salah? Ia kira Diana tidak akan datang lagi ke sini tapi ternyata dia datang demi dirinya.


Diana tersenyum ke arah Bulan. Entah kenapa kakinya terasa sangat berat untuk melangkah dan memeluk Bulan. Ia merindukan Bulan saat kakinya hendak melangkah, ingatan tentang Bulan yang membentak dan memakinya tiba-tiba terlintah kembali di otaknya.


Ia mengalihkan pandangannya. Tak sengaja matanya menangkap seseorang yang mungkin sedari tadi dia berdiri di sana. Dia tersenyum tipis, sangat tipis hanya ia yang bisa melihat senyuman itu.


Dia adalah Alterio, cinta pertamanya, mataharinya, kekuatannya. Dia tersenyum dan melangkah kearahnya. Ia hanya diam, tak berniat untuk menghampiri Alterio yang berjalan semakin mendekat kearahnya.


Semua tatapan tertuju pada Alterio dan Diana termasuk Bulan. Diana melirik Bulan sebentar kemudian beralih lagi ke Alterio.


Sudah dekat. Jarak keduanya hanya 5 cm. Hembusan nafas Alterio pun terdengar jelas olehnya.


Diana terdiam.


"Kamu gak mau peluk aku?"


Diana masih terdiam.


"Kamu benci aku?"


Refleks Diana menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku cinta kamu Stars,"lirih Alterio namun terdengar sangat jelas.


Deg


Diana menggeleng lalu mendorong dada Alterio pelan agar dia sedikit menjauh darinya. "Sadar Lang! Bulan udah jadi istri kamu!"ucap Diana pelan.


Alterio mengangkat sebelah alisnya heran. Tangannya mendorong kecil bahu Diana agar dia menghadap ke Bulan.


"Lihat! Aku cinta kamu bukan Bulan. Bulan sudah jadi istri orang,"ujar Alterio.


Diana terdiam. Di sana ada seorang laki-laki tampan berdiri di samping Bulan. Apakah ini nyata? Kenapa Bulan tidak bersama Alterio? Padahal ia sering menstalk akun Bulan dan di sana banyak foto kebersamaan Alterio dan Bulan yang terunggah.


"Kamu jangan salah paham Bin, aku gak pernah cinta Alterio. Aku dari dulu nganggap Alterio itu kakak aku Bin, aku pikir aku suka sama Alterio tapi ternyata gak Bin. Surat yang kamu baca itu--tulisan pertama kali aku ketemu Alterio. Aku--aku gak tau kalau kamu juga suka Alterio."cerita Bulan merasa bersalah.


"Aku minta maaf karena aku pernah bentak kamu, tampar kamu, maki-maki kamu. Berusaha jauhin Alterio dari kamu--aku pikir kamu udah berubah, kamu lebih mentingin Dean daripada kita ternyata--kamu mau aku bersatu sama Alterio. Maaf...."lanjutnya.


Diana menyimak sedikit melirik Alterio. Dia diam tetap menujukan muka datarnya.


"Kamu sama Alterio saling cinta, kenapa gak bersatu? Kami sudah menikah loh,"ucap Bulan menggandeng lengan suaminya.


"Jadi?"tanya Alterio menggantung.


Alterio menggenggam kedua telapak tangan Diana. Dia tersenyum manis ke arahnya. Ah, rasanya ia ingin terbang. Ia yakin ini semua pasti mimpi. Mana mungkin Alterio seperti ini?

__ADS_1


Alterio mengambil sesuatu di kantong jasnya. Itu sebuah kotak cincin, dia berjongkok di hadapannya.


"So? Will you marry me?"


Jedarrr


Sebuah bom meledak di dalam jantungnya. Matanya mengerjap-ngerjapkan, masih berpikir apa ini semua mimpi?


Ini sebuah lamaran kah?


Ini mimpi kah?


Sungguh ia tidak percaya akan hal ini.


"Kamu ngelamar aku?"tanya Diana tak percaya.


"Iya dokter Stars."


"Terima!"seru seseorang membuatnya menoleh.


Itu Revan dan keluarganya. Mereka tersenyum kemudian mengangguk. Ia masih bingung, ada apa dengan mereka semua? Bukannya mereka membenci Alterio dan Bulan tapi kenapa mereka menyuruhnya untuk menerima?


Diana tersenyum canggung. "Ini beneran?"


"IYA!"jawab para undangan yang merasa gemas dengan Diana.


"So?"


"Yes I do"jawab Diana mantap.


Mereka semua tepuk tangan tanpa terkecuali termasuk Keyla, dia meloncat-loncat kegirangan karena jawaban dari Diana. Alterio memasangkan cincin pada  jari manis Diana.


"Pasangin cincinnya dong Stars,"ucap Alterio tak sabaran.


Dengan ragu Diana mengambil cincinnya dan memasangkannya di jari manis Alterio. Setelah itu Alterio menarik lengan Diana ke dalam dekapannya. Detakan mereka beradu, sangat kencang hingga keduanya dapat merasakan hal yang sama.


"Ini mimpi ya?"gumam Diana.


"Ini gak mimpi Stars,"balas Alterio.


"Kalau gak mimpi kenapa keluarga aku setuju?"


Alterio melepaskan pelukannya. Menghapus air mata yang hendak mengalir di mata Diana. "Sebenarnya aku sudah merencanakan ini udah lama. Kamu pikir ngeyakinin kakak kamu, bisa satu hari dua hari? Gak Stars kakak kamu harus di yakinin dua bulan baru luluh dan itupun bantuan dari Bulan, Dessi dan Dean,"ungkap Alterio, refleks Diana menoleh ke arah Bulan, Dessi dan Dean.


"Awalnya kakak kamu masih gak percaya tapi katanya dia ngeliat kamu lagi mandangin foto aku,"ucap Alterio sambil terkekeh.


Wajah Diana bersemu merah. Ia menatap Revan tak percaya sedangkan yang ditatap malah membalas tatapan Diana dengan senyuman.


"Kata kakak kamu. Kamu sering mikirin aku, maaf--dulu aku gak ngejar dan ngebela kamu. Dulu aku masih bingung, aku masih frustasi karena kamu pacaran sama Dean. Tapi setelah tau kebenarannya--aku bertekad kalau kamu pasti datang ke sini dan sekarang akhirnya aku bisa mengikat kamu dalam pelukanku."


"Makasih Stars... kamu udah nerima aku,"lirih Alterio langsung memeluk Diana.


Alterio memeluk Diana erat. Mengusap lembut rambutnya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan Diana lagi. Ia berdoa pada Tuhan, semoga ia dan Diana akan selamanya bersatu sampai ajal yang memisahkan mereka.


Tentang Diana yang selalu menjadi semangat dalam hidupku.


Tentang Diana sang wanita terkuat yang pernah ia kenal.


Tentang Diana, yang selalu tersenyum dan tertawa.


Semuanya tentang Diana, tentang Bintangnya yang bersinar untuknya.


Hai garis takdir! Aku ingin mengatakan jagalah hubunganku sampai aku benar-benar hilang dari dunia ini,


Sampai aku benar-benar berambut putih.


Sampai aku tak mempunyai gigi untuk mengunyah makanan.


Sampai aku mendengar suara anak kecil dari anak-anakku nanti


Semoga hubunganku dengan dia kekal sampai di akhirat nanti.


-Alterio Langit

__ADS_1


END


__ADS_2