
Alterio sembunyi di balik pohon saat seseorang keluar dari gerbang rumah Dean. Bulan, orang itu adalah Bulan. Dia berlari sambil menangis, ditangannya menggenggam sebuah kotak berpita hitam.
Setelah mobil Bulan benar-benar menghilang. Alterio masuk ke dalam rumah Dean. Ia memencet bel beberapa kali, sesekali mengetuk pintu.
Ceklek.
"Apa lagi?!"
"Gue mau nanya Diana,"jawab Alterio dingin.
"Ckckck, tadi Bulan sekarang lo! Mau ngapain nanyain dia huh?"
"Dia liburan kemana?"
Dean berdecak, menatap Alterio dengan penuh kebencian. Ia pikir Alterio akan berubah, tapi nyatanya tidak.
"Dia gak liburan, dia pindah untuk selama-lamanya dan... itu semua gara-gara lo!"
"Karena gue?"
"Lo sakit hati kan? Lo harus tahu, dia itu suka sama lo!"
Suka? Bukankah Diana menyukai Dean. Kalau dia menyukainya kenapa dia berpacaran dengan Dean.
"Lo pasti bingung kan? Gue sama Diana itu cuma pacaran bohongan! Diana ngerelain perasaannya sendiri demi lo sama Bulan bersatu-"
"Gue gak suka Bulan!"potong Alterio cepat.
"Tapi Bulan suka sama lo, kalian salah paham. Diana menghindar bukan karena udah nemu kebahagian, dia mau satuin lo dan Bulan."
"Gue suka Diana. Gue suka Diana. Gue suka Diana. Dean... gue mohon kasih tau alamat Diana yang sekarang,"lirih Alterio, pandangannya kosong.
"Nih, titipan dari Diana. Semoga lo bisa ngertiin dia."Dean memberikannya sebuah kotak yang sama persis seperti yang dibawa Bulan tadi.
"Semua jawaban lo ada di sini."
OoO
__ADS_1
"Kosong?!"
"Iya Bu, Pak rumah ini sudah lama kosong."
"Bapak tahu orang yang ngisi ini, pindah kemana?"tanya Diko.
"Kayaknya gak jauh dari sini deh. Soalnya 5 kilometer dari sini ada perumahan elit, coba aja Bapak sama Ibu tanya-tanya di sana."
"Yaudah pak, makasih ya,"ucap Shintha ramah.
"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi dulu,"pamit satpam komplek itu.
Shinta memeluk sang suami erat. "Diana pergi kemana Mas, ak-aku takut Diana--"
"Shutt ada Revan dan Felicia yang menjaga putri kita. Kita akan cari sampai ketemu."
OoO
Bulan berhenti di salah satu cafe langganannya. Berniat untuk berteduh dari derasnya hujan serta petir yang menyambar-nyambar. Memang ia suka dengan hujan tapi sekarang ini sedang musim pancaroba. Hujan dan panas yang tak menentu, dimusim inilah banyak orang yang terjangkit berbagai macam penyakit.
Roti bakar cokelat ditambah dengan kopi susu, bisa menghilangkan sejenak kesedihannya. Dean si mulut cabe mercon, bisa-bisanya hatinya tergores karena ucapan dia. Ia menatap kotak berberian dari Dean tidak! Maksudnya pemberian dari Diana.
Sebuah kalung berliontin Bulan dan Bintang yang diberikannya dulu kepada Diana dan secarik surat. Ia mengambil surat itu dan mulai membacanya.
Dear Bulan
Hai Bulan ini aku Bintang. Aku cuma mau minta maaf soal kejadian kemarin-kemarin:) pasti kamu mikir aku ini pengecut, orang yang sangat lemah, digertak seperti itu saja langsung lari. Kalau kamu belum tahu, aku ini udah biasa Bul. Dulu sebelum kamu datang ke kehidupan aku juga aku setiap hari diperlakukan seperti ini sama teman-temanku:)
Aku gak bakal lupa siapa yang udh bikin aku kuat, buat aku percaya diri, buat aku tertawa lebar. Aku ngak bakal pernah lupa!
Maaf Bul, aku pernah baca selembaran yang ada di dalam diarymu. Maaf aku tidak sengaja, maaf aku pura-pura nemuin buku kamu padahal buku itu ada di aku. Waktu itu pas pulang sekolah, buku kamu ketinggalan. Aku berniat untuk menggembalikannya besok tapi, selembaran itu jatuh dan terbaca olehku.
Kamu suka Langit dan Langit, mungkin suka sama kamu. Kalian cocok, aku berniat menghindar karena aku tahu aku bakal ngeganggu hubungan kalian. Maaf karena aku pura-pura pacaran sama Dean, aku mau jujur sama kamu, aku gak suka Dean tapi aku suka sama Langit. Aku pacaran sama Dean karena aku sadar aku ini bukan apa-apa dibandingkan kamu.
Deg
Bulan terkejut. Ternyata Diana juga menyukai Alterio, kenapa dia tidak bilang? Ini semua salah paham. Ia tidak betul-betul menyukai Alterio, ia hanya menganggap Alterio seperti seorang kakak. Rasa sayangnya itu seperti rasa adik yang menyayangi kakaknya.
__ADS_1
Tangannya refleks menjambak rambutnya, menarik-nariknya hingga rambutnya berantakan. Diana bodoh! Ia juga lebih bodoh! Diana pergi karena ucapannya. Ia baru menyadari semua kesalahannya.
Bulan memandangi kedua telapak tangannya. Tangan ini, tangan ini yang sudah menampar sahabatnya. Ia kembali membaca surat itu yang sempat tertunda tadi.
Aku gak lemah Bulan! Aku pergi karena kakak aku. Aku pergi untuk kalian, kalian benci aku kan? Makasih buat aku sadar kalau kalau di dunia ini tidak ada yang benar-benar tulus, mau berteman denganku si cewe serba kekurangan.
Aku tahu kamu cari aku karena mau maki aku kan? Maaf Bulan, aku gak tahan denger makianmu. Jangan cari aku ya, anggap aku udah pergi dari dunia ini. Tolong jaga Langit ya Lan, kamu satu-satunya orang yang bisa buat Langitku tertawa.
Aku sayang kamu Bulan. Titip salam ya buat Dean sama Dessi. Maaf-- janji ini maaf yang terakhir kalinya, maaf aku balikin kalung itu karena aku gak pantas jadi sahabat kamu.
Semoga bahagia
-Dianas
"Arghhh!!!"teriak Bulan mendapatkan perhatian dari beberapa pengunjung.
"Bego! Bego! Bego! Lo salah paham Bin! Gue gak suka Alter!"maki Bulan pada dirinya sendiri.
"Hiks... tangan ini,"ucap Bulan memandangi telapak tangannya. "Tangan ini yang udah nyakitin kamu Bin...."
Tubuhnya lemas, Bintang tidak seperti yang ia pikirkan. Dia rela berkorban deminya meski ia tak sungguh menyukai Alterio. Andai saja Dia bilang dan jujur dari dulu kalau sebenarnya dia menyukai Alterio, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Dua hati yang tersakiti. Alterio dan Diana, mereka saling mencintai. Dirinya adalah sumber masalah. Seharusnya ia tak hadir di kehidupan Diana.
"Bulan?"
Bulan menoleh ke sumber suara. Ia menatap orang itu sendu kemudian ia berlari dan memeluk orang itu. Orang itu kebingungan, dia mengelus rambut panjang milik Bulan dengan lembut.
"Bulan, lo kenapa?"
Bulan diam, tubuhnya bergetar menahan isakan tangisnya. Baju orang itu basah karena air matanya.
"Arkan hiks... gu-gue salah! Gue mau minta maaf--"
"Bulan, cerita sama gue okay? Kalau lo gak cerita gue gak bakal tahu apa masalah lo."Arkan melepaskan pelukannya.
"Arkan hiks... hiks, gue--maaf belum bisa cerita sama lo."Bulan menghapus air matanya.
__ADS_1
"It's okay, gak papa, tapi sebaiknya lo cerita ya. Gue gak mau lo nanggung beban sendirian.
Bulan mengangguk. Memeluk Arkan kembali. Setelah puas memeluk Arkan, Bulan melepaskan pelukannya dan berlari sekencang mungkin keluar dari Cafe tersebut.