Tentang Diana

Tentang Diana
Makasih Bunda


__ADS_3

Alterio sudah benar-benar kehilangan cintanya. Hidupnya dan tujuannya. Alleo masih menghindarinya dan sekarang rasa penyesalan yang masih senantiasa berkeliling di sekitarnya. Ia sudah lelah, ia akan menuruti kemauan Diana untuk tidak mencarinya.


Ia benar-benar menyerah. Disetiap sudut sekolah ini, ada saja kenangannya bersama Diana terutama kursi ini.


"Gak boleh ada yang nempatin! Terutama lo Bulan!"desis Alterio saat Bulan hendak duduk di kursi yang dulu Diana duduki.


Bulan mengangguk, menarik kursi lain untuk ia duduki. "Jangan kayak gini Ter. Nilai ulangan fisika lo buruk, lo bukannya ngisi malah bengong. Nilai lo dulu selalu bagus apalagi di fisika, tapi sekarang lo lebih kecil dari gue."Bulan menyerahkan kertas ulangan fisika dengan nilai bertinta merah.


Alterio mengambil kertas ulangan itu dalam sekali kepalan kertas itu sudah menjadi bola kertas. "Jadi lo ngerendahin gue?"tanya Alterio dingin.


"Iya kenapa? Gue ngerendahin lo! Nilai lo 40 Ter! Lo gak malu apa? Lo boleh berubah dalam sikap tapi please lo jangan rubah prestasi lo, lo masih punya Bang Alleo. Buktiin ke Diana kalau lo itu bisa hidup tanpa dia, lo bisa lebih baik lagi tanpa Diana, bukan malah sebaliknya,"tutur Bulan.


"Lo pernah bilang kan? Kalau Diana bakal balik ke sini? Emang Diana mau liat lo jadi kayak gini? Diana pasti akan kecewa pada diri dia sendiri kalau lo kayak gini,"lanjutnya sementara Alterio diam pandangannya lurus ke depan.


"Gue yakin Diana bakal balik lagi. Gue akan nunggu kamu Stars sampai kapanpun juga,"gumam Alterio pelan.


                            OoO


Diana sedang menunggu kedatangan teman barunya di sofa ruang tamu. Baru juga seminggu ia tinggal di sini, ia sudah mempunyai teman baru. Kalian tahu? Teman baru Diana asli orang sunda, Indonesia yang menetap di London.


Ting Nong


Senyumnya tercetak lebar. Dengan langkah bersemangat ia membuka pintu rumahnya.


"DARENA--"


Seketika tubuhnya lemas melihat dua orang paruh baya yang bertahun-tahun tidak di lihat olehnya dan menyakiti mentalnya. Mereka menangis menatap Diana sendu sedangkan Diana hanya diam bergumam pelan.


"Ayah Bunda,"panggilnya pelan.


"Sayang... maafin kami,"lirih Ayah Diana.


Diana masih diam. Apa ini sebuah mimpi? Kenapa mereka datang dan meminta maaf? Ia sangat merindukan mereka ingin memeluk mereka tapi, tangan ini, kaki ini, semua anggota badannya kaku secara tiba-tiba.


"Maafin Bunda,"lirih Bunda meraih tangan Diana.


"Ja-jangan de-deket! Di-diana cuma bi-bikin malu ka-kalian,"ucap Diana terbata-bata.


Diana sengaja berbicara gagap lagi. Ia sebenarnya bisa, bisa memaki mereka ataupun mengusir mereka membuktikan kalau Diana sudah bisa berbicara lancar. Hatinya tidak tega untuk menyakiti hati orang lain apalagi ini orang tuanya, bagaimanapun mereka tetap orang tuanya meski sudah dibuang sekalipun.


"Ke-kenapa malu?"


Mereka spontan menggelengkan kepala mereka. "Gak sayang. Maaf dulu kami terlalu mendengarkan ucapan orang-orang, kami-kami minta maaf,"kata Diko-ayah Diana.


"Rena-nya di ajak masuk dong sayang, masa--"


Ucapan Revan terhenti saat dia benar-benar sampai di pintu. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras dan mulutnya mengumpat melihat mereka berdua datang ke sini dengan wajah sembab. Ia berdecih, baru sadar? Hey dari dulu kemana saja?


"Kia? Siapa mereka?"tanya Revan tatapannya masih tertuju pada dua orang di hadapannya.


"Hm... kak-"


"Pengemis ya? Padahal di depan sana sudah ada spanduk besar bahwa pengemis di larang masuk."Revan tersenyum miring sedangkan Diko mengepalkan tangannya marah.


"REVAN! Ayah gak pernah ngajarin kamu seperti ini!"teriak Diko.

__ADS_1


"Ck. Astaga Kia, bahkan pengemis ini mengaku sebagai Ayahku,"ucap Revan dramatis.


"Kakak, itu Ayah kita-"


"Diana masuk!"perintah Revan.


Diana menatap Diko dan Shinta. Ia ingin sekali memeluk mereka.


"Masuk Diana!"perintah Revan sekali lagi.


Diana masih diam tatapan masih tertuju pada mereka.


"Masuk! Atau kakak akan pergi ninggalin kamu selama-lamanya!"ancam Revan.


Diana mengangguk. Ia tidak mau kehilangan Revan, tapi, ia juga tidak mau melihat Ayah dan Bundanya menangis karenanya ataupun ucapan menusuk Revan.


"Diana!"panggil Shinta.


Diana menoleh kemudian tersenyum. "I'm sorry mom, aku tidak mau kehilangan Mama dan kak Revan yang sudah menemaniku saat aku sendirian."


"Diana maafin Bunda!"teriak Shinta diiringi isakan tangisnya.


Diana mengangguk.


"Masuk Saskia!"


"I'm sorry,"gumam Diana kemudian masuk ke dalam rumah.


Revan menutup pintunya kembali. Menatap tajam pada dua orang yang sedang berhadapan dengannya. Tak ada rasa takut sedikitpun dari diri Revan. Mereka memanglah orang tua Revan, ya orang tua, orang tua yang sangat buruk di matanya.


"Minta maaf? Segampang itu kalian mengucapkan kata maaf? Kalian membuang Diana! Kalau saja saya tidak mengembalikan barang-barang menjijikan itu ke rumah kalian, pasti kalian tidak akan sadar!"sakras Revan tajam.


"Kami sadar dari dulu Revan tapi--"


"Apa! Saya sudah bilang bukan, saya tidak akan pernah membiarkan kalian bertemu Diana untuk sekadar melihat wajahnya saja dan sekarang, saya akan buktikan ucapan saya."


"Revan tolong mengertilah. Kami ingin bersama Diana,"kata Shinta memohon.


"Bersama? BIG NO! Jangankan bersama, melihat wajahnya saja tidak bisa!"tegas Revan.


"Kami yang menyekolahkannya, kami yang memberinya uang Revan. Walau kami tidak serumah dengan Diana tapi kami selalu memantau Diana dari jauh."


Revan menujukan smirk-nya. "Berapa yang harus saya bayar?"


Shinta menangis. Maksud suaminya bukan seperti itu. Dia hanya menjelaskan kalau ia dan suaminya masih memberikan kasih sayang lewat uang.


"Kamu salah paham Revan,"jelas Shinta.


Revan berdecak. "Memantau dari mana? Dari langit? Dari teropong? Saya tahu kalian tidak seperti itu. Kalian hanya memberikan Diana uang!"


"Revan!"sepertinya kesabaran Diko sudah habis.


"Anak durhaka!"maki Diko.


Revan menaikan sebelah alisnya. Kalau dirinya anak durhaka lantas mereka apa? Orang tua brengsek?

__ADS_1


"Oh ya? Berarti kalian juga?"


"Kamu sangat kurang ajar Revan!"


"Ya saya memang kurang ajar!"balas Revan.


"Sudah Mas."Shinta mengusap-usap punggung Diko menenangkannya.


"Sebaiknya kalian pulang, saya tidak mau Diana melihat tangisan buaya kalian,"ucap Revan tak memperdulikan mereka.


Shinta menggelengkan kepalanya. Ia sungguh merasakan sakit yang luar biasa, hatinya sesak dan kepala yang tiba-tiba sakit sekali. Tubuhnya ambruk memeluk kaki Revan, apapun ia akan lakukan demi Diana. Ia ingin memeluk dan mencium Diana, sekali saja biarkan ia menemuinya.


"Aku ingin memeluk anakku,"lirih Shinta kemudian matanya terpejam, dia tak sadarkan diri.


                          OoO


Di sinilah mereka sekarang. Di rumah sakit. Kalau bukan karena Diana yang merengek dan menangis memintanya untuk memaafkan Diko dan Shinta, ia tidak akan pernah mau memaafkan mereka. Terbuat dari apakah hati adiknya? Hingga dia sekuat itu. Hingga ia tidak menyebutkan satu kata umpatan pun terhadap orang yang telah menyakiti dia.


Revan merangkul Diana. Sedari tadi dia hanya diam, menunggu dokter keluar dari ruangan Shinta. "Tenang saja okay? Kamu gak perlu sesedih itu,"ucap Revan mengelus rambut Diana.


"Kakak udah maafin bunda dan ayah kan? Kakak jangan berantem lagi sama ayah, ayah itu ayah kak Revan."


"Iya sayang, kamu aja maafin mereka masa kakak egois sih?"


Ceklek


Diana, Revan dan Diko berdiri saat pintu ruangan Shinta terbuka. Dokter keluar, langsung saja Diko maju menghadap dokter itu paling pertama.


"What's wrong dock with my wife?"


"Your wife is only dehydrated and also excessive stress makes the patient feel dizzy enough,"kata dokter itu.


"Is this serious dock?"tanya Diko lagi.


Dokter itu menggeleng. "No. But we need enough rest and drink lots of water, to replace lost fluids. We recommend that your wife be treated here until tomorrow, so we can check the patient's condition at any time."


"Can we see the dock?"tanya Diana.


"Please. If so, excuse me,"ucap dokter itu kemudian pergi.


Diana, Diko dan Revan masuk ke dalam ruang rawat Shinta. Diana duduk di samping brankar, mengenggam erat tangan Shinta. Ada rasa bahagia dihatinya. Setelah bertahun-tahun akhirnya ia betemu dengan Bunda, menggenggam tangannya. Seburuk-buruknya perlakuan mereka tehadapnya dulu tetap saja mereka adalah orang tuanya. Orang yang melahirkannya, orang paling bahagia saat kelahirannya, orang pertama yang menjadi senderannya dulu.


Perlahan kelopak mata Shinta terbuka. Yang pertama kali ia lihat adalah Diana. Air matanya kembali menetes, ia bangun dan langsung memeluk Diana.


"Maafin Bunda,"lirih Shinta.


"Iya Bunda. Diana udah maafin Bunda sama Ayah. Maaf Diana gak pernah nerima hadiah dari kalian,"ucap Diana.


"Maafin Bunda hiks..."


"Bu-bunda udah! Diana udah maafin Bunda tapi maaf... Diana gak bisa ikut sama Bunda, Diana mau tinggal sama Mama,"balas Diana melepaskan pelukannya.


Shinta mengangguk. Tak apa Diana tak tinggal bersamanya yang terpenting ia bisa bertemu dengan Diana, memberikan kasih sayang yang sempat hilang dan menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


"Ngak papa sayang, yang penting Bunda bisa ketemu kamu. Setiap Bulan Bunda akan ke sini, nemuin kamu."

__ADS_1


"Makasih Bunda."


__ADS_2