
Di dalam perjalanan menuju posko, Rangga berusaha menahan rasa sakit pada dadanya. Ia jalan pun masih tertatih-tatih sambil memegangi dada hingga akhirnya, pria itu telah sampai di depan tenda besar miliknya yang di sediakan oleh pihak desa untuk menginap selama disana.
Kreeeggg....
Rangga sudah duduk diatas kasur brangkar, Ia mencoba membuka pelan kancing baju kemejanya yang menampakkan bahu yang lebar. Namun ia tersentak kaget melihat dada bidangnya itu nampak kebiruan seperti lebam hingga ia merasakan sendiri tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Arghhhhh sial dadaku semakin kesini semakin sakit saja.." keluh Rangga yang nampak lemah tak berdaya sambil memegangi dadanya.
Ia pun lebih baik mencoba merebahkan tubuhnya saja pelan-pelan diatas brangkar untuk sekedar mengistirahatkan badan agar rasa sakitnya itu sedikit hilang.
Kreeeggg...
Ketika Rangga sudah tiduran di atas brangkar, ia diam mengingat kejadian tadi sambil menatap langit-langit atap tenda. Ia mengingat sendiri netra mata gadis yang ia sukai itu nampak seperti menyukai Rendy, tak bisa dipungkiri ia pun sebenarnya juga menyukai gadis muda itu.
Namun ia cukup tahu diri jika dirinya telah memiliki istri, ia tidak mungkin menggapai cinta pada gadis muda itu, Maka dari itulah ia harus rela melepaskannya dan melupakan bayang-bayang gadis itu lagi.
"Haaaaaaahhhh.... " Rangga menghembuskan nafas dengan kasar sambil memegangi dadanya.
Kemudian pria itu mencoba mengambil ponselnya dari dalam saku celana, Ia mengambil ponselnya pun nampak agak kesulitan karena dadanya masih sakit.
"Arghhhhhhhh.... haaaah...haaaah...." Rangga lega telah berhasil mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
Ia langsung membuka galeri foto dan mencari foto gadis itu yang ia diam-diam pernah memotretnya, saat ia tak sengaja melihat gadis itu berada di kantin rumah sakit.
"Cantik..." batinnya dengan seulas senyum mengembang telah menemukan foto itu. Ia memandangi lama foto Mikha sambil mengusap lembut foto itu untuk terakhir kalinya.
"Haaaahh.." Rangga menghela nafasnya kembali, Ia sebenarnya masih berat hati untuk mencoba menghapus foto gadis itu, namun dengan tekadnya yang tidak ingin terbawa perasaan terus-menerus pada gadis itu, ia pun harus mengalahkan egonya.
"Maafkan aku Mikha harus melupakan mu....." gumam Rangga yang sudah yakin dan ingin melupakan bayang-bayang gadis itu lagi, Ia langsung menghapus foto Mikha dari dalam ponselnya dan telah mengikhlaskannya juga jika gadis itu dekat dengan Rendy ataupun dengan pria siapa pun.
Klik...
Kemudian Rangga membuka kembali ke layar beranda telepon, Ia ingin menghubungi istrinya saja. Karena hari ini ia sama sekali belum memberikan kabar pada Maya selama ia pergi.
Tuttttt....
Tidak ada jawaban
Tuttttt....
"Kemana Maya apa ia sudah tidur..??" gumam Rangga berpikir sambil melihat layar ponselnya, kemudian ia mencoba menghubunginya kembali.
Tuttttt......
Tiba-tiba ia mendengar suara dari luar ada yang memanggilnya, ia mencoba berdiri dari tidurnya namun ia tidak bisa justru ponselnya telah jatuh ke bawah brangkar.
Dug...
"Kak Rangga...Kak Rangga..." panggil seorang gadis dari balik pintu luar tenda.
"Sial....Arghhhhh...." gumam pria itu kesal melihat ponselnya telah jatuh ke bawah, Ia ingin mengambilnya tetapi ia sudah tidak kuat lagi berdiri dan hanya bisa pasrah duduk dari atas brangkar saja karena masih sangat kesakitan
"Kak Rangga...." panggil Sheila lagi dari luar tenda, namun karena merasa tidak ada jawaban dari pria itu Sheila pun mencoba masuk ke dalam tenda saja.
Kreeeet ....
__ADS_1
"Kak Rangga.." panggil Sheila yang telah masuk dan menghampiri Rangga.
Sedangkan pada ponsel Rangga yang telah terjatuh, panggilan telepon Rangga telah tersambung dan diangkat oleh seseorang tetapi tidak terdengar oleh Rangga karena Sheila telah masuk ke dalam.
"Halooo Halo ..." jawab suara serak seorang pria di seberang sana seperti orang khas bangun tidur.
"Kak Rangga aku panggil kakak berkali-kali tapi kenapa kau tidak menjawabnya...!!" gerutu Sheila yang telah masuk tenda dan melihat Rangga yang di dalam hanya diam saja.
"Wah apa ini ponselmu berada di bawah kasur kak.. apakah kau tidak melihatnya..?" ucap Sheila yang kaget melihat ponsel Rangga berada di bawah kasur dan ia langsung mengambilnya.
Sedangkan di seberang sana, pria itu telah memutuskan panggilan telepon karena merasa tidak ada jawaban.
Tut..Tut...Tut...
"Ini ponsel mu Kak.. " ucap Sheila sambil memberikan ponsel itu pada Rangga. Sedangkan pria itu hanya diam saja melihat gadis itu berbicara.
"Terima kasih tolong kau simpankan saja di atas meja..." pinta Rangga datar dengan menggerakkan dagunya ke arah meja memintanya menaruhkannya di sana
"Hmmm..." Sheila mengangguk dan langsung menaruh ponsel itu di atas meja nakas yang tak jauh dari brangkar.
"Kak kau mau ku obati aku bawa alat kompres untuk dadamu dan aku juga membawa beberapa obat tadi sebelum aku kesini..." pinta Sheila menawarkan diri
"Hmmm... terima kasih.."ucap Rangga kembali. Tubuh ia sudah lelah dan tak kuat lagi untuk bergerak apa lagi banyak berbicara, Ia sudah tiduran kembali di atas brangkar sambil memegangi dadanya.
"Astaga kak tubuh mu panas sekali..!!kau demam kak..!!.dada kakak juga penuh dengan luka lebam.." ucap Sheila dengan cemas sambil memegang lengan kokoh Rangga yang merasakan hawa panas pada tubuh pria itu, ia juga melihat dada pria itu penuh lebam kebiruan.
"Sini biar aku yang bantu kak.." Pinta Sheila dengan cepat mengambil alat kompres itu dari atas meja dan menaruhnya pada dada Rangga, namun Rangga menahan tangan Sheila.
"Aku bisa melakukannya sendiri....kau berikan saja obat demam untuk ku biar aku akan meminumnya.." perintah Rangga dengan datar dan menolaknya, pria itu sudah tidak mood lagi karena ia ingin cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya.
"Tapi kak luka mu parah sekali...??" ujar Sheila
"Sudah lah kau istirahat saja jangan buang waktu mu untuk mengurusi hidup orang..." celetuk Rangga sekenanya.
Hati gadis itu merasa sakit dengan ucapan Rangga. Padahal ia ingin membantunya saja, tetapi mau gimana lagi mungkin pria itu kondisinya sedang tidak mood. Mungkin baiknya ia akan mengontrolnya besok pagi untuk memantau Rangga dalam pikirnya.
"Hmmmph baiklah... aku pamit Kak...." balas Sheila mengangguk
"Ini obat dan air hangatnya kak.." ucap Sheila sambil mengambil obat yang ia simpan di atas meja nakas tadi dan memberikan pada Rangga untuk meminumnya.
"Hmmm terima kasih.." balas Rangga singkat. Rangga langsung menaikkan sedikit kepalanya untuk meminum obat dari Sheila
Gadis itu pun hanya mengangguk, kemudian ia menaruhkan gelas dan obat ke atas meja kembali dan ia keluar dari bilik tenda meninggalkan Rangga istirahat.
Kreeeet....
Rangga hanya menghela nafas dengan panjang setelah Sheila pergi dari disini, pria itu tidak mengompres kan dadanya untuk mengobati diri atas saran dari Sheila. Ia sudah tidak kuat lagi dengan mata dan tubuhnya yang sangat lelah hingga seketika pria itu telah tertidur lelap dengan bertelanjang dada di atas brangkar.
🍃🍃🍃
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali gadis cantik itu telah rapi dengan penampilannya karena hari ini ia akan memulai bekerja kembali namun, ia mengingat kejadian malam yang menimpa pada kedua pria yang dekat dengannya sambil menggunakan jas putih kebesarannya itu.
"Haaaah.... Sebaiknya aku harus meminta maaf terlebih dahulu dengan dokter Rangga karena kejadian semalam... " batin Mikha dalam diam. Ia mengingat, ia sama sekali belum meminta maaf pada Rangga, ia hanya minta maaf dengan Rendy saja waktu malam itu. Kemudian dengan perasaan yakin gadis itu kembali merapikan jas putih dan penampilannya sebelum memulai bekerja. Setelah semuanya sudah beres, ia keluar dari bilik pintu tenda tempat ia inap menuju tenda Rangga.
🍃🍃🍃
Di lain tempat, kedua orang insan yang berbeda itu mereka baru saja bangun dari tidurnya dan mereka masih bermalas-malasan di atas ranjang. Maya mengambil ponselnya yang berada di dekat bantal sekedar ingin membuka aplikasi media sosialnya, lalu ia kaget baru saja membuka layar ponsel, Ia melihat ada panggilan telepon suaminya itu dan telah di angkat oleh kekasihnya. Ia pun langsung memberitahu pada Daniel yang nampak masih ingin melanjutkan tidur lagi.
"Sayang kau kenapa mengangkat telepon Rangga sih semalam...??? bagaimana kalau dia mendengarnya...!!" panik Maya sambil melihat-lihat layar ponselnya kembali
__ADS_1
"Aku mana tahu salah sendiri kau tidak silent ponselmu.." balas Daniel dengan malas dan masih bergumul pada selimutnya karena ia masih mengantuk.
"Lalu kalau Rangga mendengar suara kamu bagaimana..??" tanya Maya dengan cemas.
"Kau ini cerewet sekali, tinggal kau telepon lagi saja dia..!!! kalau benar dia mendengar sesuatu itu hanya salah paham saja.." gerutu Daniel dengan kesal membuka selimutnya yang menutupi wajah karena merasa kekasihnya itu telah mengganggu dirinya dan menutupinya kembali untuk melanjutkan tidur.
"Yasudah aku akan menghubunginya lagi..!!" balas Maya pasrah.
Maya pun langsung memencet tombol panggilan Rangga.
🍃🍃🍃
Kriiiiing....Kriiiiing... Kriiiiing....
Rangga dengan mata yang sayup-sayup terbangun dari tidurnya karena mendengar suara bising telepon yang memanggil. Namun ia sangat lemah sekali untuk beranjak dari brangkar wajahnya pun sudah sangat pucat. Tetapi ia mencoba berusaha sekuat tenaga untuk bangun dari tidurnya untuk mengambil ponsel dari atas meja nakas yang tak jauh dari brangkar.
"Dokter Rangga...Dokter Rangga..." terdengar suara seorang wanita dari luar pintu tenda.
Di dalam ia mendengar suara samar-samar ada seseorang yang memanggilnya namun ia menghiraukan dan ia ingin mengambil ponselnya saja dulu yang terlalu bising.
"Dokter Rangga...." panggilnya lagi
"Hmmm mana dia ..?? Apa aku baiknya coba masuk saja yah..." batin Mikha berpikir. Ia mencoba mengintip dari luar jendela tenda terlebih dahulu, namun ia justru melihat pemandangan Rangga yang nampak kesusahan mengambil sesuatu, Ia pun dengan segera membuka bilik pintu tenda itu.
Kriiiiing....Kriiiiing....
Rangga yang sambil memegangi dadanya yang masih kesakitan untuk meraih ponsel dari atas meja, justru ia terjatuh duduk bersimpuh hingga ponselnya telah terangkat oleh Rangga tetapi ponselnya telah jatuh lebih dulu entah kemana.
Dug.....
"Arggggghhhh...." Teriak Rangga yang nampak kesakitan sambil memegangi dadanya.
"Halo... Halo... Halo...." telepon Maya yang telah tersambung namun tidak di jawab oleh Rangga karena pria itu juga ikut terjatuh duduk ke bawah.
"Dokter Rangga..." panggil Mikha yang telah masuk ke dalam tenda.
"Arggggghhhh....." Rangga berteriak kembali karena kesakitan
"Ahhhh Dokter Rangga ....."teriak Mikha yang kaget melihat Rangga telah jatuh duduk. Ia pun dengan segera mencoba memapahkan Rangga untuk berdiri, namun kaki gadis itu tidak hati-hati. Ia tak sengaja menyenggol kaki meja nakas hingga semua barang-barang diatas meja terjatuh semua termasuk dirinya juga terjatuh diatas tubuh Rangga.
"Arghhhhhhhh..." teriak Mikha
Praaaaaaaaaangg......Praaaang......
Bruuuuuukkk...
Greb....
Mikha tersentak kaget telah terjatuh di atas tubuh Rangga dan matanya seketika membulat sempurna merasakan bibirnya itu menempel pada bibir Rangga.
*Mohon maaf kalau author apdet nya sangat lama, karena author lagi isi mohon di maklumi yaa 🙏
Jangan lupa Kembang dan Vote nyaa kakak 🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo kakakku jangan lupa kakak klik tombol vote ,hadiah dan bintang nya yah biar author semangat cari ide-ide buat ceritanya....
__ADS_1
Dan silahkan beri kritik atau sarannya juga, Ini novel author yang kedua loh..Sekalian ijin promo novel pertamaku nih ( Jatuh Cinta Pada Mahasiswiku ) 🤭🤭
Mohon dukungan nya yaa kakak-kakakku..