
Di tempat lain, Sheila baru saja sampai di depan tenda tempat Rangga biasa inap. Namun saat ia di depan tenda, Ia mendengar sesuatu seperti suara samar-samar seorang wanita sedang menangis di dalam.
"Ada apa di dalam..?? batin Sheila berpikir, Ia pun langsung memanggil Rangga dari luar.
"Kak Rangga.. Kak Rangga..." panggil Sheila dari luar namun tidak terdengar oleh wanita yang ada di dalam tenda. Karena wanita yang di dalam itu masih menangis di pelukan Rangga.
"Aneh..." batin Sheila berpikir. Ia pun tak banyak berpikir panjang, ia langsung memutuskan untuk masuk kedalam saja melihat keadaan Rangga.
Kreeeet....
Bilik pintu tenda telah dibuka, gadis itu sontak kaget melihat keadaan di dalam sangat kacau dan berantakan apalagi melihat Rangga di bawah dan Mikha yang sedang menangis di atas pelukan Rangga. Ia pun langsung memanggil Mikha yang berada di situ.
"Ada apa yang terjadi Mikha..??" suara bariton Sheila terdengar di telinga Mikha yang sedang memeluk pria itu. Sontak tubuh Mikha yang berada di atas dada Rangga langsung melepaskan pelukan dan tangisnya seketika berhenti.
"Argghhhhh..." wajah Mikha tampak tegang melihat Sheila ada hadapannya, merasa ia telah melakukan kesalahan.
"Apa yang terjadi Mikha...???"tanya Sheila lagi dengan mata menyorot tajam
"Aa..aku tidak tahu dokter Sheila, tiba-tiba saja dokter Rangga terjatuh dan ia tak sadarkan diri di samping ku... " jawab Mikha dengan terbata dan mata tertunduk ke bawah merasa tak enak hati.
Sheila langsung lari menghampiri mereka dan menatap Rangga dengan nanar melihat keadaan pria itu yang tidak sadar.
"Kak Rangga.." panggil Sheila dengan lirih
"Ahh denyut nadi nya sangat lemah sekali...!!" gumam Sheila dengan cemas seraya mengecek urat nadi di pergelangan tangan Rangga.
"Tolong Mikha bantu aku mengangkat tubuh kak Rangga ke atas segera..!!" pinta Sheila
"Hemmm..." balas Mikha mengangguk
Mikha dan Sheila sama-sama mengangkat tubuh besar Rangga ke atas brangkar. Sheila di bagian kepala sampai dada kemudian Mikha bagian perut sampai kaki Rangga
"Haahh berat sekali dia..." keluh Sheila dengan nafas terengah-engah telah mengangkat tubuh Rangga yang besar itu
"Haaaahh....haaaah...." Mikha
__ADS_1
pun juga sampai nafasnya terengah-engah.
Sheila langsung mengecek permulaan keadaan Rangga dengan menggunakan stetoskop untuk mendengar detak jantung pria itu. Beruntung ia membawa peralatan medis kesini dari infus sampai obat-obatan, ia sengaja bawa takut terjadi apa-apa dengan keadaan Rangga. Ternyata dugaan dia benar hal itu akan terjadi, mengingat pria itu semalam dalam keadaan tidak mood berbicara dengan dirinya.
"Ahh syukurlah masih ada detak jantungnya tapi sepertinya sangat lemah sekali.." gumam Sheila dengan cemas sembari mengeceknya.
"Sepertinya kak Rangga dehidrasi ..." batin Sheila berpikir sembari membuka kotak medis yang ia bawa dan dengan cekatan ia memasang infus dan alat-alat medis pada tubuh Rangga. Ia mengingat kembali kemarin melihat Rangga sebelum melakukan tindakan dengan pasien, pria itu tidak makan sama sekali, apalagi di tambah luka lebam pada dadanya yang semakin memperparah.
"Syukurlah lah Mikha..kita bisa tahu keadaan kak Rangga dengan cepat jika tidak nyawa kak Rangga bisa tidak terselamatkan..." gumam Sheila sembari memasang alat bantu nafas pada hidung Rangga.
Mikha yang melihat kelihaian Sheila yang mengatasi kegawatdaruratan pada Rangga, Ia merasa tidak berguna tadi saat Rangga telah tak sadar kan diri berada di dekatnya.
"Bodohnya aku yang tidak bisa berbuat apa-apa..."batin Mikha lirih sambil menunduk kepalanya.
"Mikha.. biar Rangga aku yang urus semua kau bisa diluar sementara membatu pasien di posko.. jika Rangga telah sadar dan pulih aku akan membantu mu disana.." ujar Sheila
Mikha menoleh wajah Sheila. Ia hanya mengangguk saja.
"Untuk tempat biar aku yang membereskannya... "ujar Sheila lagi dengan mata melihat sekitar tempat sangat berantakan. Ia tahu pasti Rangga ingin mengambil sesuatu tetapi pria itu yang terjatuh beserta barang-barang disekitarnya.
"Terima kasih dokter Sheila telah membantu keadaan dokter Rangga dengan cepat.." ucap Mikha sambil menundukkan kepala
"Tentunya aku sudah mengetahuinya keadaan Rangga semalam.." balas Sheila dengan senyum
Mikha terhenyak dari pernyataan Sheila tadi, berarti gadis itu semalam bersama dengan Rangga hingga tahu keadaan sebenarnya. Ia pun tak mau berlama-lama disini dan ingin langsung keluar dari tenda.
"Aku keluar dulu dokter Sheila..." pamit Mikha dengan menunduk kepalanya sopan dan akhirnya gadis itu pun keluar dari tenda Rangga.
Tak...Tak...Tak...
"Sepertinya dia menyukai kak Rangga..." batin Sheila berpikir
"Tapi aah.. itu tidak mungkin.. Mungkin itu hanya perasaan ku saja..." sergah Sheila yang melihat Mikha sudah pergi. Ia pun melanjutkan aktifitasnya untuk merapikan tempat sembari menunggu Rangga sadar.
Sheila sudah mengetahui lama kalau Rangga telah memiliki istri. Mungkin itu perasaan dirinya saja, jika pun Mikha suka sama Rangga paling hanya bisa mengagumi sosok pria tampan itu saja, tetapi tidak mungkin bisa memilikinya.
__ADS_1
🍃🍃🍃
Mikha jalan dengan tatapan kosong menuju posko, setelah ia pergi meninggalkan tenda tempat Rangga inap. Ia mengingat ucapan Rangga yang terngiang-ngiang, jika pria itu mengucapkan cinta pada dirinya, berarti secara tidak langsung cinta ia terbalaskan. Namun ia bodoh sekali tidak bisa berbuat apa-apa saat Rangga tadi tak sadar dan hanya bisa di lakukan oleh Sheila. Hati gadis itu pun merasa sakit.
Tak jauh dari sana, ada seorang pria tampan yang sedari tadi melihat Mikha yang jalan tampak tak semangat. Kebetulan sekali ia semalam sengaja tidur di dalam posko untuk minta di obati luka lukanya dengan Mikha dan tidak mau dengan suster atau dokter lain. Mengingat semalam ia cukup tahu diri keadaan Mikha yang moodnya sedang tidak baik dan waktu menunjukkan larut malam juga. Pria itu pun tak butuh waktu lama lagi untuk menunggu, akhirnya ia memanggil Mikha dari kejauhan.
"Mikha..." panggil Rendy, beruntungnya gadis itu menoleh karena tempat tersebut ramai banyak lalu lalang orang.
"Ahh pak Rendy...!!" gumam Mikha dengan kaget yang menoleh wajah Rendy dari kejauhan. Ia Pun dengan segera berlari kecil menuju Rendy yang duduk di brangkar itu.
"Pak Rendy kau..." ucap Mikha terputus saat telah sampai di hadapan Rendy yang sedang duduk, namun Rendy langsung berbicara.
"Kau lupa aku tidak obati..?? pipiku semakin kesini semakin bengkak Mikha ..!! makanya aku kesini.." pinta Rendy yang sengaja mengajak gadis itu tidak kaku berbicara dengannya.
"Maaf kan ku pak Rendy..." ucap Mikha yang masih nampak lesu dan menunduk.
"Kutahu kau masih mengingat si dokter itu, tapi baiknya kau harus ingat..!! kau ingat lah aku ini korban dari mu juga.. lihat nih luka ku banyak sekali... !!" ucap Rendy sembari menunjukkan luka di pipinya pada Mikha.
"Semalam aku ingin meminta mu tapi karena sudah malam aku undur saja besok.." ucapnya lagi
"Baiklah-baiklah pak Rendy aku minta maaf sebelumnya, sini aku obati lukamu.." ucap gadis itu sembari membuka kota medis yang berada diatas meja nakas dekat brangkar Rendy.
Sedangkan pria itu hanya tersenyum sendiri melihat Mikha yang sudah kembali tidak murung dan ingin mengobati dirinya.
"Semoga luka hatimu cepat pulih dan bisa membuka hatimu itu untuk ku Mikha... "batin Rendy dengan sabar sembari tersenyum simpul melihat gadis itu yang sedang mengobati sudut-sudut luka pada bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo kakakku jangan lupa kakak klik tombol vote ,hadiah dan bintang nya yah biar author semangat cari ide-ide buat ceritanya....
Dan silahkan beri kritik atau sarannya juga, Ini novel author yang kedua loh..Sekalian ijin promo novel pertamaku nih ( Jatuh Cinta Pada Mahasiswiku ) 🤭🤭
Mohon dukungan nya yaa kakak-kakakku..
__ADS_1