Terjebak Cinta Ketua Preman

Terjebak Cinta Ketua Preman
Dosa


__ADS_3

1


"Gue udah gituan, Has,” ucap Nilan.


Saat ini, Nilan Pitasari sadar bahwa takada jalan lagi untuk kembali. Dia sudah keluar dari gelembung impian, dan harus menghadapi kenyataan.


"Maaa ... maksud lo?" Hasmi–sahabatnya, bertanya karena takpercaya; matanya melebar dan fokus menatap Nilan.


Karena gugup, Nilan memalingkan muka darinya, lalu membalikkannya ke bantal di pangkuan.


"Udah ada yang ngambil keperawanan gue, Has," Nilan berkata lagi dengan nada monoton, berusaha terdengar sebiasa mungkin.


Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya, dia merasa panik.


Hasmi hanya terdiam. Nilan bisa mendengar detak jantungnya yang liar, di empat sudut asrama yang mereka tinggali, karena kesunyian yang ekstrem.


Nilan mendongak dari bantal kemudian menatapnya. Hasmi juga menatap Nilan, dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar, malah terus menggeleng.


"Gue serius,” Nilan menambahkan.


Hasmi menggeleng lagi, "Gak! Itu gak mungkin," lalu berkata lebih kepada dirinya sendiri daripada Nilan, “saya kenal kamu, Nilan!”


Sambil mendesah, Nilan bersandar di sofa kemudian meletakkan kaki di meja tengah.


“Tapi emang bener, Has. Gue udah berhubungan ****, jadi udah gak perawan lagi," sahutnya, dengan suara rendah.


Nilan dan Hasmi mulai berteman saat tahun pertama kuliah, lalu jadi teman sekamar di asrama. Mereka memiliki sikap serupa, jadi bisa begitu cocok; memiliki sikap yang riang, juga menyukai pesta; bebas dalam berpikir dan berpakaian, tetapi sama-sama menganut kesucian pernikahan: pernikahan sebelum ****. Nilan tahu seberapa kuat pendirian Hasmi tentang **** pranikah, jadi memaklumi sikapnya. Sama—Nilan merasa seperti masih dalam mimpi buruk dan tidak ingin bangun.


"Gi gimana kejadiannya? Kapan? Di mana?"


"Ingat gak, pesta terakhir kita di bar?" jawab Nilan


Hasmi mengangguk. Bar yang dimaksud Nilan adalah bar elite yang populer. Tentu saja, mudah untuk Hasmi ingat, karena itu adalah pesta terakhir yang hampir semua lulusan pergi, sebelum ujian akhir dan mengurus persyaratan kelulusan. Itu hampir empat minggu yang lalu.


Saat itu Hasmi pulang terlebih dahulu, serta memaksa Nilan untuk tetap tinggal. Nilan jadi sendirian. Ada yang memberinya minum sehingga penglihatannya menjadi kabur. Badannya panas, Nilan merasa ingin melepas baju. Kemudian, dia pergi ke lantai dansa, lalu berdansa dengan seseorang dan menciumnya. Besok paginya, Nilan bangun, telanjang dengan seorang pria di sampingnya yang juga telanjang. Ada noda darah di seprai, dan Nilan merasa sakit di bagian bawah tubuhnya.


"Tapi waktu kamu pulang pagi-pagi, kamu bilang abis nginep di rumah teman yang perempuan kok.”


Nilan bersujud, "Gue bohong, Has," lalu mengaku sambil menggigit bibir bawah—kebiasaan yang biasa dia lakukan setiap kali merasa bersalah, atau tegang.


"Ya Tuhan, Nilan! Itu kan sebulan yang lalu, kenapa baru jujur sekarang?"


"Iya, maaf ya, Has.”


Hasmi berdiri, lalu mulai mondar-mandir.


"Ini beneran sulit dipercaya. Saya cuma gak bisa ... kita berdua kan tau, walau mabuk, kamu gak bakal ngebiarin kejadian kayak gitu!”


"Ya, pikiran gue juga sama waktu itu, Has. Masalahnya, gue emang bertingkah aneh abis minum."


Hasmi menarik napas kemudian berhenti mondar-mandir.


“Kamu udah dibius, Nilan! Ya Tuhan! Ada bajingan yang racunin minuman kamu, terus ngambil keuntungan dari kamu! Saya bakal bunuh dia ! Kenapa baru cerita sekarang, Nilan? Harusnya kita penjarain tuh pemerkosa!”


Seketika, Nilan menggeleng dengan panik, lalu menatap mata Hasmi.


“Haduh, lo salah paham, Hasmi."


Nilan pun menghela napas, lalu menekuk lutut dan memeluk kaki.


“Cowok yang tidur sama gue, kebetulan ada di sana. Gue yang mulai ngegiiling tubuh ke tubuhnya. Gue juga yang memulai ciuman! Gue udah kayak pelacur, kan?” Nilan berseru kemudian tertawa tanpa humor.


"Jangan bilang begitu, Nilan. Kamu dibius. Kamu bukan diri Nilan yang asli waktu itu!"


Nilan menatap Hasmi dari bawah bulu matanya. Dia yakin, Hasmi akan mengajukan pertanyaan yang paling ditakuti.


"Siapa sih cowoknya?"


Nah, seluruh tubuh Nilan membeku mendengar pertanyaannya. Detak jantungnya semakin cepat. Dia berkeringat; menggigit bibir. Dia ragu apakah akan memberitahukannya.


"Ayo jawab!” Hasmi menuntut; satu alisnya terangkat dan lengannya terlipat di depan dada.

__ADS_1


Tenggorokan Nilan menjadi kering. Dia menelan ludah–takut jika Hasmi akan menganggapnya rendah.


"Em, anu," sahut Nilan.


Hasmi pun memutar mata. Jelas, dia tahu apa yang Nilan lakukan.


"Siapa yang metik mawar kamu?" tanya Hasmi lagi.


Mata Nilan melebar mendengar keterusterangan Hasmi. Mereka saling memandang, lalu ... tertawa. Nilan tertawa begitu keras hingga perutnya menjadi sakit. Ketegangannya kini benar-benar hilang.


“Dasar goblok! Hahaha …,” Nilan meracau sambil menyeka mata—benar-benar kelelahan, menangis karena tertawa.


"Ayo cepetan bilang!" Hasmi menuntut lagi, "siapa yang pecahin perawan kamu?"


Karena tersadar, Nilan menatap Hasmi dengan saksama, lalu memukul wajahnya dengan bantal.


"Gue bakal cerita, asal lo tetap mau jadi sahabat gue," ucapnya.


"Sialan!" sahutnya.


Nilan menarik napas dalam-dalam. Tadinya dia berpikir bahwa persahabatannya akan berakhir: "Hasmi bakal benci gue ni. Ya Tuhan! Gue bakal berakhir sendirian sampai umur 90 tahun, terus cuma hidup berdua sama kucing. Terus ...."


Nilan berhenti membatin karena wajahnya terkena bantal. Hasmi juga memelototinya. Namun, Nilan membungkuk; mengambil bantal dari lantai kemudian meletakkannya di pangkuan.


"Udah gak usah banyak mikir, Nilan. Bilang aja siapa yang ...."


"Tesla."


"Apa?"


"Iya, Tesla orangnya."


"Tesla yang tukang mainin cewek itu?"


Nilan meringis dalam hati, "Ya," lalu menjawab.


Dia tidak berani melihat ke atas–ketakutan, takberani melihat kebencian atau belas kasihan dari reaksi Hasmi. Mereka berdua tahu bahwa Nilan ... sekarang ada dalam daftar panjang wanita yang ditiduri Tesla.


Tesla Pundalisa—pemain wanita, sebagaimana Hasmi memanggilnya. Mau tak mau, Nilan harus setuju dengannya.


Tesla seperti minuman anggur bagi wanita, dan, Nilan menyadarinya. Pikir Nilan, dengan tampang setengah dewa dan kekayaan yang sempurna, siapa yang tidak menginginkan Tesla?


"Kalau gue sih enggak. Gue gak pernah naksir sama dia, gak pernah tertarik sekali pun! Gue gak pernah delusi kayak cewek lain yang cari-cari perhatian. Gak! Gue gak bakal pernah!" ucapnya dalam hati.


Akan tetapi, ironisnya Tesla malah mendapatkan keperawanan Nilan.


"Ya Tuhan! Kamu malah ngeseks sama si maniak ****, Nilan!" ucap Hasmi.


Sekarang Nilan berani menatap Hasmi.


"Kok kayak gak ada vonis apa-apa nih di mata kamu?" ucapnya, "keliatan tenang sama lega, malah."


Hasmi lantas menyeringai dan bergeser ke samping Nilan; menepuk pipi Nilan.


"Saya emang marah, karena kamu baru cerita, tapi saya masih bisa tenang. Lagian, itu bukan salah kamu. Tesla itu baik, dia bukan orang yang bakal bius kamu," khotbahnya.


Pikir Hasmi, yang penting Tesla itu tampan—asli dan bukan hasil operasi plastik; yang penting, lelaki yang tidur dengan Nilan tidak buruk rupa.


Dia pun mengerutkan hidungnya dengan jijik.


"Saya gak jadi khawatir. Setidaknya, pengalaman pertama kamu gak buruk, soalnya kamu tidurnya sama Tesla. Saya yakin, dia udah kasih kamu pengalaman **** terbaik yang pernah ada," Hasmi melanjutkan, sambil menggoyangkan alis.


Nilan mendengkus.


"Gue ngerasa hina banget, jijik kalo inget."


"Saya yakin, Nilan, kalian pasti luar biasa," sahut Hasmi, "udahlah, kalo.sama Tesla, kamu masih mending. Reputasinya oke, dia bakal bisa ngelindungin kamu."


Kata-kata Hasmi yang seharusnya membuat Nilan merasa lebih baik, ternyata tidak. Sebaliknya, Nilan malah merasa lebih buruk. Dia bisa merasakan perut yang bergolak, gugup karena masalah yang lebih besar meresap.


"Hasmi ...," ucapnya.

__ADS_1


Dia menggigit bibir, tetapi tidak cukup keras untuk bisa berdarah, lalu menatap Hasmi—menatap matanya, karena tahu Hasmi bisa melihat ketakutan di dalam dirinya.


Pemahaman pun muncul di wajah Hasmi, yang kini menarik napas dengan tajam.


"Ya Tuhan ...," ucapnya.


Nilan pun mengambil seteguk udara.


"Gu ... gue kayaknya hamil!"


*


Sekarang sudah pagi. Nilan baru saja bangun; merasa pusing, dan ... tiba-tiba muntah.


"Ah, palingan karena makanan tadi malam," pikirnya.


Jadi, dia mengabaikannya dan takingin meyakinkan diri bahwa tengah hamil.


Beberapa jam berlalu.


Kini Nilan berada di toserba dekat kampus; melewati pajangan pembalut, lalu tersadar bahwa sudah tidak haid. Seharusnya minggu lalu dia haid, ternyata tak jadi. Dia lupa karena stres dan banyak hal yang harus diurus, untuk wisuda mendatang.


Tadinya Nilan mengira bahwa Hasmi akan panik, seperti biasa. Ternyata Hasmi hanya tercengang sejenak karena pengakuan Nilan, lalu sedikit melirik perut Nilan yang tertutup bantal di pangkuan—kalau Hasmi mengharapkan pembengkakan perut Nilan, dia tidak akan melihatnya.


Hasmi menerimanya dengan tenang; tidak mengucapkan sepatah kata pun, meski Nilan terkejut ketika Hasmi menariknya berdiri dan keluar dari asrama.


"Kita mau ke mana nih?" Nilan bertanya.


Sekarang mereka berada di tempat parkir. Nilan tetap diam sampai keduanya tiba di mobil.


"Ke suatu tempat," kata Hasmi, lalu masuk ke mobil.


Nilan mendengkus kemudian membuka sisi penumpang.


"Has, kita mau kemana?" Nilan bertanya lagi.


Mereka sedang dalam perjalanan. Nilan menyandarkan kepala.


"Nanti juga kamu liat," jawab Hasmi, samar.


Dia melirik Nilan sebentar, lalu melihat kembali ke jalan. Jari-jarinya terus mengetuk setir.


Sekali lagi, kegugupan muncul di perut Nilan.


"Tuhan! Apa sih rencana Hasmi?" gerutunya, dalam hati.


Dia bertanya-tanya, apakah Hasmi akan membawanya ke Tesla?


Hasmi dan Tesla bukanlah teman, tetapi saling kenal— karena pacar Hasmi adalah salah satu teman Tesla.


"Hasmi!"


"Nah, di sini nih," ucap Hasmi.


Dia menghentikan mobil karena menemukan tempat yang bagus, di tempat parkir mal. Nilan mengernyit bingung. Ini adalah tempat terakhir yang Nilan harapkan untuk dikunjungi.


Nilam keluar dari mobil.


"Serius, Has? Kita mau belanja apaan?"


"Siapa bilang kita mau belanja?"


Nilan memutar mata kemudian menyamai langkah Hasmi. Dia masih bingung, mengapa setelah pengakuannya, Hasmi langsung mengajaknya pergi ke mal.


Tiba-tiba jantung Nilan berdegup kencang, karena menyadari alasan Hasmi menyeretnya ke sini, di mal—bukan untuk berbelanja, melainkan membeli sesuatu yang akan membuatnya takut sepanjang hari.


Nilan menggigit bibir; tidak bergerak dari tempatnya berdiri, sambil melihat label toko: Farmasi.


"Kita mau beli alat tes kehamilan, Nilan Phitasari," Hasmi berkata.


Dia menyebut nama lengkap Nilan untuk menarik perhatian. Nilan yakin, Hasmi sedang serius dan mengharapkannya untuk tidak keberatan.

__ADS_1


"Kita harus yakin," tambah Hasmi.


"Ya Tuhan!" sahut Nilan.


__ADS_2