Terjebak Cinta Ketua Preman

Terjebak Cinta Ketua Preman
Wisuda


__ADS_3

Nilan duduk di depan kloset; merasa mual; benaknya terus saja memaki Tesla. Diraihnya segelas air dan obat kumur; mendengkus, lalu bersandar di dinding. Seingatnya, mual sepagi ini sudah dirasakannya sejak 3 hari lalu, tetapi sudah merasa seperti akan mati.


Dia pun mengeluh: mengapa hanyaĺ wanita yang menderita selama kehamilan, sedangkan pria hanya merasakan kenikmatan saat ejakulasi.


"Nilan, gimana kuat gak?"


"Ya," suara Nilan agak parau.


Dia tersenyum lemah kepada Hasmi, yang mengintip melalui terbukanya pintu kamar mandi, dengan kening berkerut, sehingga kekhawatirannya terlihat jelas di mata Nilan.


"Kayaknya kamu gak bakal kuat deh."


"Lo tenang aja, Hasmi," Nilan menjawab kemudian berdiri, "jangan khawatir, gue baik-baik aja. Ini kelulusan kita. Gue udah berjuang beberapa tahun buat ini. Jadi, gak mungkin gue gak hadir cuma karena mual."


Nilan meninggalkan kamar mandi kemudian pergi ke lemari, lalu mengeluarkan gaun halter selutut berwarna biru tua, dengan renda di bawahnya—yang kemudian diletakkannya di tempat tidur.


"Ya udah, kamu mandilah. Nanti saya rapiin rambut kamu," ucap si Hasmi, yang sudah duduk di depan meja rias sambil memoles wajah.


"Ya, Bu."


Sambil terkikik, Nilan menjulurkan lidah ke Hasmi kemudian memasuki kamar mandi lagi.


Setengah jam berlalu.


Dia mengenakan jubah; mengeringkan rambut, lalu membungkusnya dengan handuk, gaya sorban.


Di luar, Hasmi sudah berpakaian dan siap.


Hasmi mengenakan gaun Strapless merah selutut, yang dipasangkan dengan sepatu kasual hitam; meluruskan rambut pirang stroberinya, lalu memasang pin dengan hidung badak di tutupnya. Dia benar-benar cantik.


"Duduk," Hasmi menuntut.


Nilan memutar mata dan menurut. Hasmi melepas handuk dari rambut Nilan, lalu mengeringkannya. Nilan menata rambut coklatnya di sepanjang bagian tengah punggung, menjadi gelombang. Hasmi juga merias wajah Nilan.


Beberapa menit berlalu, Nilan mengenakan gaun biru serta sepatu hitam, lalu menutupinya dengan gaun.


"Siap?" Hasmi bertanya sambil mengenakan kembali gaunnya.


"Ya."


"Barang-barang kamu yang lain mana?"


"Di sana."


Nilan menunjuk ke sebuah koper mini di atas tempat tidur, penuh dengan barang-barang yang tidak dia bawa ke kos, saat mereka pindah minggu lalu. Mereka memutuskan untuk tinggal di asrama ini saja sampai lulus—hari ini. Nanti malam, mereka baru akan tidur di sana.


Beruntung, mereka menemukan kos yang sesuai dengan selera. Sebenarnya Wili yang mencari kos. Karena Hasmi berkata bahwa masih ingin bersama Nilan, dia mencari unit kos yang bersebelahan. Dia taktahu tentang kehamilan Nilan, tentu saja. Meski sebagai pacar, Hasmi takbisa memberitahu Wili, karena Tesla adalah teman dekatnya.


"Kalo punya lo?" Nilan bertanya.


"Saya punya ada di mobil."


"Oke, gue bawa ni barang ke mobil aja, biar kita langsung ke kos selesai acara."


Nilan hendak mengambil koper, tetapi Hasmi menghentikannya.


"Biar saya aja. Kamu gak boleh ngangkat yang berat-berat."


Nilan memutar mata lagi. Setelah dia memastikan kehamilan, Hasmi memperlakukannya secara berbeda—bagai induk ayam yang menjaga telur agar tak pecah. Nilan hampir takbisa bertindak leluasa, karena sikap Hasmi terlalu protektif. Nilan bersih-bersih saja takboleh.


Hasmi juga tak mau menggendongnya. Dia bilang bayi Nilan bakal sakit. Dia terlalu khawatir. Nilan hanya bersyukur saat Hasmi membiarkannya mengendarai mobil sendiri, meskipun kadang-kadang, Hasmi bersikeras bahwa Nilan harus ditemani.


Nilan menghela napas; meraih gagang koper, lalu menatap Hasmi yang juga memegang gagangnya.


"Gak papa, Hasmi. Gue hamil baru 1 hari. Gak usah terlalu protektif kek gini. Hadeuh!"


"Gak, Lan. Kamu lagi hamil. Jadi serahin aja ke gue, oke?"


"Gak! Gue bisa sendiri kok."


"Kita harus jaga-jaga supaya bayinya gak stress, Nilan."


Akan tetapi, genggaman Nilan malah semakin erat pada gagang, lalu menariknya.


"Bayi gue baik-baik aja."


Nilan menarik koper.


"Iya, saya tau. Tapi jangan terlalu percaya diri. Ponakan gue belum bisa ngomong kalo ada yang gak beres, jadi biar gue aja."


Nilan menarik koper lagi, lalu memelototinya.


"Emang dia belum bisa ngomong, tapi gue tau dia baik-baik aja. Gue ini ibunya."


"Bayi kamu perempuan!"


"Bayi gue laki-laki."


"Baik! Angkat sendiri!"


Hasmi mendengkus kemudian melepaskan koper.


"Tapi bayinya perempuan," tambahnya.

__ADS_1


"Hadeuh, terserahlah."


"Nah!"


Nilan tertawa; menarik koper, lalu mengikutinya turun. Akhirnya Hasmi menyerah juga, pikirnya.


Mereka telah berbicara tentang jenis kelamin bayi sejak pertama kehamilan. Hasmi memang sangat mengharapkan bayi perempuan. Nilan selalu menertawakan ekspresi masamnya, setiap kali bersikeras bahwa bayinya laki-laki. Namun, tidak masalah bagi Nilan apa jenis kelamin bayinya. Dia hanya ingin bayi yang sehat.


Acara wisuda sudah berlangsung selama tiga jam. Orang tua Hasmi datang, memberi selamat serta mengundang mereka makan siang. Nilan takingin ikut sebenarnya, karena ini adalah perayaan keluarga. Namun, mereka bersikeras, terutama ibu Hasmi yang tahu bahwa Nilan sebatang kara.


"Ma, Nilan sama Hasmi nanti nyusul aja. Soalnya mau nunggu Wili dulu"


"Oh, ya udah."


Nilan dan Hasmi mengangguk, lalu berbaur dengan teman sekelas dan teman-teman yang lain kemudian berfoto.


"Hasmi, selamat ya," William menyapa sambil tersenyum; mendekat; memeluk Hasmi, lalu mencium bibirnya.


"Makasih, Ayank," sahut Hasmi.


Mereka pun berpelukan.


Kini Wili menoleh ke arah Nilan, lalu memeluk.


"Halo, Nilan Mumut. Selamat ya," ucapnya.


"Okey, makasih, Wilcan."


Nilan menepuk punggungnya. Karena memakai hak tinggi, dagunya bersandar di bahu Wili.


Dia mendongak. Pandangannya langsung terkunci ke mata coklat seorang pria. Jantungnya juga berdetak lebih cepat. Dia gugup. Tesla berdiri di belakang Wili, menatap Nilan.


Tatapan Tesla membuat Nilan bertanya-tanya: apa yang ada di pikirannya? Wajahnya terlalu pasif dan tak menunjukkan emosi apa pun!


Nilan kini menelan ludah, ngeri jika Tesla ingat apa yang terjadi malam-malam di bar; berharap agar Tesla tak bertanya, apakah dia hamil atau tidak, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun, dia yakin bahwa Tesla tidak mengingatnya; yakin bahwa dirinya adalah salah satu wanita tak berwajah yang ditiduri Tesla. Jadi, dia merasa tak perlu khawatir.


Nilan mengalihkan pandangan, lalu melepaskan pelukan Wili. Dia terkekeh karena wajah Wili tak terlukiskan. Bahkan, Hasmi tertawa.


"Sialan lo, Lan," William geram, "sudah gue bilang, jangan panggil gue Wilcan. Aneh banget dengernya."


Akan tetapi, Nilan menjulurkan lidah.


"Makanya, lo juga berhenti manggil gue Mumut!"


"Lah, kenapa emangnya? Wong cocok kok sama lo."


"Dasar Wilcan!" sahut Nilan.


Hasmi pun tertawa; Willi mengerang frustasi kemudian mencubit hidung Nilan.


Nilan seketika tegang karena mendengar suara timbre Tesla yang dalam; membeku, terutama karena Tesla tidak berpaling darinya, meski sedang berbicara dengan Wili.


Nilan kini melirik cemas ke Hasmi yang juga menatapnya.


Hasmi jadi melirik perut Nilan, lalu ke Tesla kemudian kembali ke wajah Nilan. Hasmi dan Nilan memikirkan hal yang sama sekarang, tetapi Nilan sembari menggigit bibir.


"Lo diem aja, Tes. Kalo gue panggil lo Tessi, mau?"


"Coba aja, paling nanti saya bunuh kamu."


Nilan langsung merinding mendengar ucapan Tesla. Meski hanya lelucon sederhana antar teman, Nilan tetap merasa ngeri dengan nada bicaranya. Bahkan, bukan hanya Nilan yang terpengaruh, Hasmi pun menelan ludah dan menempel di lengan Wili.


Kini Tesla menoleh ke Hasmi.


"Selamat ya, Hasmi."


"Ma ... makasih, Tes."


Tesla mengangguk kemudian menatap Nilan lagi, dengan tatapan menyengat. Nilan menggigit bibir lagi, lalu melirik Hasmi dengan gugup.


"Tesla, ini sahabat saya Nilan. Nilan, ini Tesla," Hasmi memperkenalkan.


Nilan malah canggung.


Mereka berdua kini saling diam, dan hanya menatap. Namum, dentuman di dada Nilan semakin kuat. Mata coklat Tesla begitu tajam, sehingga Nilan hampir tersesat di dalamnya, lututnya juga melemah. Hadeuh!


"Tes, kamu naksir, ya, sama Nilan Mumut?" Wili bertanya sambil tertawa.


Berkat dia, Nilan bisa lepas dari tatapan hipnotik Tesla, karena menoleh ke arah Wili dengan alis berkerut serta tatapan tajam. Wili berhenti tertawa dan menggaruk kepala.


Semenit berlalu, Nilan tersesat di dalam mata coklat Tesla lagi—mata yang bisa menggelap karena nafsu saat berciuman, serta menyentuh Nilan.


"Eh, hai," Tesla berbicara lagi.


Nilan hanya melongo, taktahu Tesla berbicara dengan siapa.


"Hai, Tesla," sapa seorang wanita yang merupakan rekan lulusan, sambil terus mendekat.


Dia memandang Tesla dengan tatapan menggoda, lalu memegang lengannya. Sayangnya, Tesla malah sedang menatap Nilan—dengan mata yang kian menggelap.


"Tesla Sayang ...."


Selebihnya ucapan wanita ini tak masuk ke telinga Nilan, karena angin bertiup kencang.

__ADS_1


Karena menghirup parfum si wanita, Nilan seketika mual, jadi langsung membekap mulut sendiri.


"Lo kenapa, Lanmut?" Wil bertanya dengan cemas, karena dia melihat tingkah Nilan.


"Ni Nilan ...."


"Gue baik-baik aja," Nilan menyela Hasmi sambil menghadapnya.


Dia bisa merasakan tatapan Tesla, juga tatapan si wanita.


Akan tetapi, "Gue baru aja nyium sesuatu yang gak enak. Gue permisi dulu ya," dia berkata, lalu buru-buru berjalan ke kamar kecil.


Dia segera berkumur kemudian langsung pergi ke tempat parkir, tidak kembali lagi ke Hasmi.


Dia masuk ke dalam mobil; mengambil ponsel dari dompet, lalu mengirim pesan ke Hasmi: "Cewek tadi baunya kayak tikus mati. Bayi gue gak suka!"


Hasmi: "Oke, nanti saya kasih tau ibu kalo kamu lahi gak enak badan."


Sambil mendesah, Nilan memasukkan ponsel kembali ke dalam dompet, lalu pergi ke kos untuk beristirahat.


*


"Siap?" ucap Hasmi.


"Ya."


Nilan mengangguk ke Hasmi. Mereka keluar dari kos: Nilan, Hasmi, dan ;William. Kos mereka bersebelahan.


"Halo, Wilcan."


"Hay juga, Nilan Mumut," jawab William dengan gigi terkatup.


Nilan tertawa; mengunci pintu kos, lalu mendekati Hasmi. Dia mengaitkan lengannya ke lengan Hasmi.


"Benar, kan, kamu gak kenapa-napa?" tanya Kristal, khawatir.


Nilan tahu bahwa Hasmi menanyakan kejadian tadi, saat Nilan muntah dan mual karena bau parfum si wanita, teman Tesla.


Akan tetapi, Nilan hanya tersenyum.


"Gue baik-baik aja, lagian udah istirahat kok. Gue juga gak mungkin ngelewatin pesta ini!"


"Hadeuh, kayaknya badai sama hujan lebat juga gak bakal bisa deh, nahan si tukang pesta!"


"Tenang aja, Mamak Ayam! Gue mau nikmatin ni malam,” Nilan yang sedari tadi bersikutan dengan Wili pun menjawab.


Mereka berdua juga yakin bahwa ini adalah pesta terakhir, sampai melahirkan. Jadi, menurut Nilan, lebih baik bersenang-senang saja. Tentu, sekarang dia tahu batasannya: takboleh minum alkohol. Ironisnya, pesta digelar di bar yang sama. Terlebih, bar ini bukan sekadar bar baginya, tetapi memicu kenangan yang ingin dia lupakan.


Pesta sedang berjalan lancar. Nilan, Hasmi, dan Wili baru saja tiba. Seperti biasa, mereka tampak modis—takpeduli dengan mata siapa pun.


"Woy!" Tesla berteriak.


Nilan membeku lagi mendengarnya. Dia mengencangkan cengkeraman di lengan Hasmi. Hasmi membalas dengan meremas tangannya, untuk meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Eh lo, Tes," William menyahut sambil tersenyum, "mana pacar lo?"


"Gak ada."


Tesla megacungkan dagu ke Hasmi, lalu menatap Nilan—seperti sedang menonton wanita tanpa busana.


"Tes, gimana kalo lo pacaran sama Nilan dulu! Soalnya gue sama Hasmi juga mau berduaan. Hehe."


Seketika, Nilan menatap Wili dengan mata terbelalak. Hasmi juga terkejut dengan saran Wili. Dia menatap Nilan dengan cemas lagi.


"Sayang, kita gak boleh ninggalin Nilan. Kita datang ke sini bareng-bareng. Lo juga tau, kan, kalo dia gak enak badan tadi? Bahaya kalo dia gak sama-sama saya.


Nilan jadi merasa bersalah, karena Hasmi takbisa menikmati pesta sendiri bersama kekasihnya. Dia masih memikirkan Nilan.


"Gak usah khawatirin gue, Has. Gue bisa kok sendiri."


"Tenang, gue bakal temenin," Tesla menyela.


Nilan menatapnya.


"Gak usah, makasih."


Dia langsung menghindari tatapan Tesla, lalu mengembalikan perhatian ke Hasmi.


"Sana, kalian pergi berdua. Nikmati malam ini."


"Ta tapi, Lan?"


"Gue bakal baik-baik aja, Has."


Ya, pikirnya, selama jauh dari radar Tesla.


"Tes, jaga Nilan ya. Jauhin tangan lo dari dia. Dia masih perawan!" ucap Wili.


Dia tertawa, bercanda, menepuk pundak Tesla, lalu menuntun Hasmi pergi.


Nilan bersyukur karena tempat ini lumayan gelap. Pikirnya, rona di pipi jadi takterlihat.


Beberapa detik berlalu, salah satu tangan Tesla sudah menangkup wajah Nilan. Ibu jarinya membelai sudut bibir Nilan, dengan cara sensual.

__ADS_1


"Saya khawatir, peringatan Wili datang terlambat," Tesla berbisik di telinga.


Hembusan napasnya lumayan panas, menerpa kulit, membuat bulu kuduk Nilan berdiri.


__ADS_2