
"Sial! Ini bukan ide yang bagus," batin Nilan.
Saat ini, dia dan Yura sedang berada dalam mobil, untuk membuntuti Tesla. Hasmi tetap tinggal di Istana, menjaga Wili yang taksadar karena meminum obat tidur.
Suara tembakan terdengar, membuat Nilan terkejut, "Menurut lo, mereka baik-baik gak?" lalu bertanya kepada Yura.
Yura malah meletakkan kaki di dasbor sambil menatap Nilan, "Tenang aja, mereka merem juga bakal selamat, ga pake cedera. Untung Yura ada di sini, soalnya mereka butuh kejeniusan Yura," lalu menjawab.
Nilan menghela napas. Menurutnya, membuat keputusan saat marah takada gunanya. Dia dan Yura memang mengikuti Tesla, tetapi hanya berdiam di dalam mobil. Dari percakapan sebelumnya, Nilan tahu bahwa Yura menciptakan alat seperti kamera mata-mata, juga senjata yang digunakan Kelompok Tesla. Meski hanya seorang remaja, Yura sangat pandai dalam teknologi. Dia tak terlatih untuk menjadi penyerang, tetapi bisa membantu karena punya peran penting.
"Ada yang datang ke arah kita," Yura berkata sambil melihat ke luar dengan teropong π£ππππ© π«ππ¨π€π£.
Nilan juga melihat ke luar jendela, tetapi yang terlihat hanya kegelapan.
"Siapa?" tanyanya.
"Salah satu ketua kayaknya."
Yura membungkuk kemudian mengambil sesuatu dari sepatu botnya. Nilan Nilan karena melihat pistol kecil.
"Lo mau pergi?" Nilan bertanya, panik karena Yura keluar dari mobil.
"Yura mau bunuh orang itu, Kak."
"Yur ...."
Tiba-tiba Yura menembak.
"Wah, si anjing kabur!" ucap Yura.
Karena berpikir bahwa pria tadi sudah mendekati mobil, Nilan menyalakan lampu depan kemudian keluar. Dia pikir sudah melakukan langkah yang salah karena perhatian si pria beralih padanya. Pria ini berusia akhir 20-an dan memiliki tubuh yang besar. Ia menyeringai, menatap Nilan kemudian mengalihkan fokus pistol ke Nilan.
"Wah, ternyata kalian nih, dua wanita penting Pundalisa," ucapnya, "berani sekali mereka ngirim kalian ke sini?"
Nilan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya terfokus pada senjata si pria. Dia kemudian menelan ludah. Ini kedua kalinya dia ditodong senjata.
"Kak Nilan, masuk ke mobil sekarang!" ucap Yura.
Dia kini saling menembak dengan si pria.
"Tetap di tempat, Gadis Kecil. Saya gak bakal tembak teman kamu," pria berkata kepada Yura, tetapi tidak mengalihkan pandangan dari Nilan.
Ia pun melangkah lebih dekat. Nilan mundur hingga bersandar di mobil.
__ADS_1
"Gue bakal bunuh lo duluan, dasa anjing!" Yura menyahut dengan tenang.
Si pria berhenti kemudian menyeringai lagi, "Kayaknya gak bakal deh," lalu berucap.
Ia kemudian mengambil sesuatu dari belakang celana, senjata lain, yang diarahkannya ke Yura.
"Lihat, Gadis Kecil, saya bakal bunuh kalian berdua dulu," ucapnya.
Nilan terbelalak. Yura mengutuk. Dada Nilan berdebar-debar. Yura dan pria sudah saling menodongkan senjata.
Nilan ragu apakah bisa keluar dari sini hidup-hidup, "Ya Tuhan! Ini semua salahku," jadi bersimpati pada Yura.
Si pria tertawa seperti setan. Jarinya menekan pelatuk. Nilan melirik Yura sejenak, yang masih menodongkan pistol ke pria tanpa ketakutan.
"Gak nyangka, kalo saya sendiri yang bakal bunuh pacar Tesla? Kematian anak buah saya memang sepadan sama nyawa kalian!"
Nilan berbatin: takada Tesla yang akan datang untuk menyelamatkan, karena taktahu bahwa Nilan membuntuti. Semua usaha Tesla untuk melindungi bayinya jadi sia-sia, karena Nilan sendiri menawarkan diri untuk mati.
Nllan pun menyesal.
"Ada kata-kata terakhir gak nih, buat Tesla? Jangan khawatir, kamu bakal saya ...," 'dor!' ucapan pria terpotong.
Nilan berteriak karena mendengar suara tembakan. Si pria kini tergeletak di tanah. Karena tersinari lampu depan mobil, Nilan bisa melihat darah yang mengalir, dari kepala pria.
"Terlalu banyak bacot si anjing," suara seseorang.
Nilan menatap pembicara dengan terbelalak: Gesyaβdia memegang pistol seraya berjalan ke arah Nilan, melewati pria yang sudah tergeletak tak bernyawa. Nilan merasa ingin pingsan melihatnya. Kaus putih di dalam jaket kulit Gesya sudah berwarna merah.
Nilan jadi bertanya-tanya: apakah itu darah?
Dia pun segera menghampiri Gesya, lalu memegang lengannya.
"Ya Tuhan! Gesya!!! Kamu gapapa?" ucapnya.
"Baik, Kak," Gesya menjawab seraya memegang bahu Nilan.
"Ah, kamu pasti luka! Banyak darah gini kok. Ayo ke rumah sakit!"
"Ini bukan saya, Kak," Gesya menjawab tanpa emosi, "kenapa Kakak di sini?" lalu melirik Yura, "oalah, pasti kamu yang ngajak, kan, Yura?"
"Bukan, Ges. Yura gak salah. Gue yang bersikeras tadi," Nilan membela, "gue yang paksa dia buat ngikutin kalian. Soalnya gue kesal karena Tesla gak jujur."
"Terus kamu nempatin diri sendiri dalam bahaya gitu?" Tesla menyela.
__ADS_1
Nilan tak menyadari kehadirannya, yang di belakangnya ada Resma dan Yanra. Karena mereka mengenakan pakaian hitam, Nilan taktahu apakah mereka terluka.
Dia kini menggigit bibir bawah, karena melihat kemarahan di mata Tesla, tetapi akhirnya menjulurkan lidah.
"Untung Gesya bunuh di anjing duluan, kalo enggak, kalian berdua yang mati sekarang," Tesla menambahkan.
Nilan tidak menjawab, tertunduk. Tentu saja, dia tahu apa yang akan terjadi jika Gesya tak datang.
"Ayo pergi," Tesla berkata lagi dengan muram; meraih tangan Nilan, membuka pintu kursi penumpang, "masuk!" lalu membanting pintu hingga tertutup.
Dia juga masuk, duduk di kursi pengemudi.
Di luar, Yura sedang dimarahi Yanra Di belakangnya, Resma hanya tertawa sampai sakit perut.
Tesla menyalakan mobil. Tanpa memasang sabuk pengaman, dia melajukannya begitu kencang, bahkan melebihi batas kecepatan di jalan raya. Untungnya, jalanan tidak terlalu banyak mobil.
"Pelan-pelan, Tesla! Lo mau buat kami terbunuh?" ucap Nilan.
"Sekarang kamu peduli?" Tesla menjawab sambil meludah dengan marah, lalu mempercepat laju mobil, "apa sih yang ada di otak kamu? Hah?"
"Gue minta maaf, Tesla."
"Apa kamu bisa minta maaf kalo udah mati?"
Nilan tak mau menjawab lagi. Karena pipinya basah, dia memalingkan wajah ke luar jendela, takingin ketahuan menangis. Namun, air matanya jatuh sendiri.
"Ah!"
Dia hampir jatuh karena mobil tiba-tiba mengerem.
Tesla pun meraih dagu Nilan, lalu mengutuk karena melihatnya menangis.
"Saya benar-benar marah sama kamu sekarang," ucapnya.
Nilan membuka mulut untuk meminta maaf lagi, tetapi gagal karena Tesla mencium bibirnya begitu kasar.
Sampai beberapa saat berlalu, Tesla mengakhiri ciuman, tetapi wajahnya tetap dekat dengan wajah Nilan.
Dia menempelkan dahi ke dahi, "Saya gak pernah kenal rasa takut, sebelum ada kamu sekarang. Kamu gak tahu kalo saya takut kehilangan bayi kita. Jadi, jangan pernah ngelakuin hal bodoh kayak gini," lalu berkata.
Dia kemudian menciumi bibir Nilan lagi. Kali ini, ciumannya lembut dengan sedikit penekanan.
"Kayaknya kita harus segera menikah, Nilan," ucapnya.
__ADS_1
Akhirnya, mobil melaju kembali ke Istana Pundalisa. Hati Nilan kini merasa lebih tenang dan lega.