
Nilan tak pernah membayangkan, bahwa dirinya akan membeli alat kehamilan pada usia 20 tahun. Bahkan, dia tak menyangka bakal kehilangan keperawanan. Adegan ini, dia berharap, harusnya terjadi bertahun-tahun dari sekarang—jika sudah memiliki karir yang stabil sebagai arsitek, atau menikah dengan bahagia. Namun, takdir memiliki selera humor yang buruk, menurutnya, terkadang hal-hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan.
"Kita mau ngapain?" tanya Nilan.
"Nilan!" Hasmi menyahut, lalu menghela napas, "satu pertanyaan lagi, saya bersumpah bakal ..."
Dia sudah kehabisan kesabaran. Mereka sudah berada di mal sekitar 30 menit; masih belum memasuki apotek, melainkan hanya tinggal di luar.
"Begini, Nilan. Stop mengulur-ulur waktu, oke? Kita harus tau secepat mungkin."
"Gue takut, Has."
"Cepat atau lambat, kamu juga bakal tau. Apa pun hasilnya, saya bakal selalu ada di samping kamu."
Nilan bergeser; menarik napas dalam-dalam. Baginya, Hasmi benar. Takpeduli berapa banyak penundaan, pada akhirnya, mereka tetap akan tahu. Jadi, Nilan juga berpikir bahwa lebih baik tahu sedini mungkin.
"Oke, kita beli," ucapnya.
"Gud Gerl," sahut Hasmi seraya menyeringai, lalu melingkarkan lengannya di tangan Nilan—membimbing ke apotek.
Ada banyak orang yang membeli di konter, jadi si Nilan gugup. Dia takut jika ada yang kenal, lalu melihatnya membeli alat tes kehamilan. Terlebih, jika universitas tahu, dia bakal diberhentikan dalam dua minggu.
"Tenang, biar saya yang urus," bisik Hasmi.
Mereka pun berbaris di konter, dan kini berada di urutan ketiga. Hasmi mengeluarkan ponsel, lalu tiba-tiba meletakkannya di telinga. Nilan menatapnya dengan penuh tanya, tidak tahu apa yang Hasmi rencanakan.
Nilan sekarang mengerti, apa yang Hasmi lakukan dengan pembicaraannya di telepon:
"Rani! Tenang dulu, okey? Ya, saya tau. Saya tau!"
Hasmi sengaja meninggikan suaranya sedikit, untuk menarik perhatian pelanggan lain dan kasir di konter.
Dia meletakkan tangannya di dahi, lalu mendesah secara dramatis.
"Nilan sama saya udah di apotek ni. Ya, kami beli tiga alat tes supaya bisa mastiin kamu hamil apa enggak. Kamu gak usah panik."
Nilan tercengang; Hasmi menoleh ke arahnya, lalu meletakkan ponsel kembali ke saku; mengedipkan mata ke Nilan, lalu dengan percaya diri menghadap kasir kemudian meminta tiga alat tes.
Nilan menghela napas lega.
"Untung ada Hasmi," pikirnya.
*
Kini mereka telah kembali ke asrama.
"Oke, ini dia. Ada petunjuk cara penggunaannya," Hasmi berkata sambil menyerahkan kantong berisi alat kepada Nilan.
Dengan tangan gemetar, Nilan mengambilnya.
"Kamu harus bisa, Nilan," ucap Hasmi.
Dia menepuk pundak Nilan, memberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Nilan juga berharap hal yang sama.
__ADS_1
Dia melenggang ke kamar mandi, lalu mengunci diri di dalamnya; membuka paket; menggigit bibir, lalu membaca petunjuk penggunaan.
Dia menatap bayangan diri di cermin, berpikir bahwa apa pun hasil dari ini, akan mengubah hidupnya. Meskipun ada pikiran lain, dia mengabaikannya.
Tiga batang sudah dicoba, tetapi hasilnya sama. Meski Nilan menyangkalnya, buktinya tetap muncul. Kini dia duduk di lantai ubin kamar mandi, sambil bersandar ke dinding; menekuk lutut kemudian memeluknya, sementara air mata mengalir.
Dua baris: positif.
Nilan hamil.
Dia takbisa berbuat apa-apa. Semua sudah terjadi.
"Ya Tuhan! Gue bakal jadi seorang ibu!" pikirnya.
Nilan taktahu sampai kapan akan berada di posisi ini. Sudah terlalu lama juga bagi Hasmi untuk khawatir, dia telah mengetuk pintu dari tadi, tetapi Nilan tidak menjawabnya. Nilan benar-benar takbisa bicara, hanya terus menatap ketiga batang alat sambil menangis dalam diam; berharap satu baris terakhir negatif. Namun, doanya tidak terkabul. Dua baris masih muncul.
"Ya Tuhan, Nilan!"
Hasmi tersentak melihat Nilan. Sebelumnya dia memutuskan untuk membuka kamar mandi sendiri, karena tidak mendapat jawaban dari Nilan.
Dia segera bergegas ke samping Nilan, lalu menariknyabke dalam pelukan; melirik sekilas ke tiga batang alat di lantai. Dia membelai punggung Nilan.
"Tenang, Nilan. Saya di sini."
Nilan malah terisak lebih keras. Bahunya bergetar karena menangis—tak memedulikan air mata yang membasahi pakaian. Dia hanya mencengkeram Hasmi lebih erat, mencurahkan semua perasaan.
Akan tetapi, Nilan akhirnya berpikir untuk tetap menjaga bayi. Baginya, ia adalah bagian pribadinya. Takpeduli betapa kesal sekarang, dia takingin menyingkirkannya. Tangisnya sekarang hanya dikarenakan emosi—kekecewaan dan kemarahan pada diri sendiri, pada orang yang membiusnya: Tesla; kebahagiaan karena sekarang punya bayi di dalam rahim; ketakutan karena taktahu apakah bisa menjadi seorang ibu.
Hasmi membantu Nilan berdiri, sehingga Nilan berhenti menangis, lalu mencuci muka.
Kini mereka berada ke ruang tamu. Nllan meringkuk di sofa; tidak berbicara. Hasmi duduk diam di sampingnya.
Hasmi bangun kemudian pergi ke dapur, lalu kembali dengan semangkuk besar es krim dan sebungkus besar Snack.
"Kayaknya kamu butuh ini," katanya.
Dia pun menyerahkan es krim ke Nilan.
Nilan mengangguk; duduk di sofa.
"Terima kasih," katanya, parau.
Hasmi tersenyum; meyakinkan, "Kamu bakal baik-baik aja, Nilan."
"Ya."
Mereka makan dalam diam. Nilan menenggelamkan kesengsaraan ke dalam es krim, sedangkan Hasmi mengunyah Snack-nya. Tiga mangkuk es krim sudah Nilam habiskan, dan dia sudah merasa lebih baik. Ya, untungnya si Hasmi membawa es krim.
Nilan meregangkan tubuh dengan lesu di sofa, lalu meletakkan kakinya di pangkuan Hasmi.
"Apa rencana kamu sekarang?" tanya Hasmi.
"Besok gue mau buat janji sama dokter."
"Oke. Tapi nunggu lulus aja, gimana?"
__ADS_1
Nilan pun menghela napas, sambil menyisir rambut dengan jari.
"Gue kayaknya mau pulang. Tapi nanti minta izin dulu sama dosen, buat nunda kelulusan."
Nilan tidak mau stres karena ujian selama hamil. Dia juga tidak perlu mencari pekerjaan, karena stabil secara finansial—dengan uang warisan orang tua. Menurutnya, itu lebih dari cukup untuk biaya hidup selama masa kehamilan.
"Kamu yakin mau pulang? Siapa yang temenin kamu di sana? Kamu nanti sendirian!"
"Nanti gue bakal cari asisten."
Orang tua Nilan memang sudah meninggal, hanya pembantu yang bertanggung jawab atas rumahnya. Dia juga tak punya kerabat di sini, karena sebagai anak tunggal, sedangkan kerabatnya tinggal di luar negeri.
Sekarang Hasmi menghadap Nilan.
"Kayaknya gue gak setuju deh. Kamu tau, kan, Wili sama saya lagi cari kontrakan. Mending kamu ngekost di samping kami."
Hasmi dan Wili memang telah berpacaran, selama hampir setahun. Mereka benar-benar menyukai satu sama lain, bahkan memutuskan untuk menikah setelah kuliah.
"Ayolah, Nilan. Saya gak bisa tenang kalo kamu sendirian apalagi lagi hamil. Saya mau dekat sama kamu terus sampai si cantik Debay lahir."
Nilan mengangkat alis.
"Lo yakin kalo anak gue perempuan?"
Hasmi menyeringai.
"Ya, dia juga harus mirip sama saya. Xixixi."
Nilan memutar mata.
"Hadeuh, terserah lo, lah."
Hasmi juga ada benarnya, pikir Nilan. Nilan harus punya seseorang yang dikenal selama kehamilan, agar membuatnya nyaman.
"Bagus! Jadi, kita mulai cari kost besok?"
"Besok gue mau ke dokter, Has."
"Kalo gitu saya ikut."
"Ya, oke."
*
Hari ini, mereka dalam perjalanan kembali ke kampus—Hasmi yang mengemudi. Barusan mereka baru kembali dari pertemuan dengan dokter. Seperti yang diharapkan, dokter mengkonfirmasi kehamilan Nilan. Nilan hamil tiga minggu; jatuh tempo pada tanggal 22 Desember. Kata dokter, Nilan bisa melahirkan sebelum atau beberapa hari setelahnya. Ia meresepkan Nilan vitamin; menginstruksikan apa yang boleh dan takboleh dilakukan, lalu menyuruhnya kembali bulan depan.
"Jadi," seru Hasmi, "kamu mau ngasih tau gak?"
Nilan melirik sedikit ke Hasmi, lalu melihat ke luar jendela. Dia tahu apa yang Hasmi maksud—dan siapa yang dimaksud.
"Gue gak tau," katanya, jujur.
Sambil mendesah, dia menyeka telapak tangan yang berkeringat di celana jin.
"Kita berdua tau, Tesla tipe orang yang suka pergi sesukanya. Gue gak yakin, berani gak gue ngasih tau dia," Nilan menambahkan tanpa melihat Hasmi.
__ADS_1