
"Ternyata Hasmi benar, si Tesla pantas dijuluki sebagai Dewa Sesk! Cara dia nyentuh bikin kacau keharmonisan sistem pancaindra!" batin Nilan.
Karena takingin hilang kewarasan lagi, dia berusaha mundur dan menjauh.
Kini tangan Tesla sudah ke samping, tetapi tatapannya malah semakin fokus. Nilan jadi ingin melompat ke atas tulangnya, lalu menggigit.
"Oh Tuhan! Jadi benar si Tesla sesakti ini? Gue jadi gila sesk beneran! Gak! Itu buruk, paling gara-gara hormon kehamilan aja!" pikirnya.
Dia pun mengambil napas dalam-dalam; mengendalikan diri, lalu mengalihkan pandangan.
"Gu ... gue gak ngerti apa maksud lo, Tes!" karena tergugup-gugup, dia segera memunggungi Tesla dan langsung menuju ke bar.
Akan tetapi, karena ingat takboleh minum alkohol, dia berbalik pergi ke lantai dansa; bersembunyi di dalam lautan manusia sampai mencapai tengah, lalu memastikan agar tak dilihat Tesla. Beberapa orang mencoba menyentuhnya, tetapi dia mendorong tubuh-tubuh yang menggiling ini ke samping.
Dia melemparkan tangan ke udara, menggerakkan tubuh seirama dengan musik, lalu memejamkan mata untuk menyatu dengan nada. Beberapa kali juga dia merasa ada tangan di pinggang, tetapi dilepaskannya begitu saja—meski sudah terbiasa. Baginya, siapa pun yang memegangnya harus menjaga tangan, tidak tersesat di bagian lain.
Nilan mengernyit, karena merasa ada seseorang yang mengusir tangan mereka. Memang, semua orang kini menjauh, karena ada yang mencegahnya berdekatan. Dia jadi semakin terkejut, karena tiba-tiba berada di tengah lingkaran manusia, bahkan berjarak 1 meter.
Tiba-tiba, seorang pria membalikkan tubuhnya. Dia pun jadi terengah-engah. Wajahnya kini terjebak di sebuah dada, karena pinggangnya terkunci. Jadi, dia mendongak untuk mengidentifikasi, tetapi malah membuat rahangnya hampir saja jatuh.
"Hah! Te ... Tesla!?"
Nilan langsung mendorong Tesla menjauh.
Akan tetapi, Tesla tetap tak bergerak; malah semakin mempererat pelukan, bahkan menarik Nilan lebih dekat sampai tenggelam di dadanya.
Tanpa sadar, Nilan semakin mengendus dada Tesla. Aromanya membuatnya ketagihan, karena menciptakan rasa aman dan santai.
"Ya ampun! Jangan-jangan si Debay suka bau surgawinya!" Nilan membatin; menarik napas dalam-dalam, lalu menghirup aroma lagi dan lagi.
Kini dia semakin menundukan wajah, hingga mendengar detak jantung Tesla; merasa geli karena suaranya bernada sinkron dengan miliknya, baginya terdengar sangat damai.
"Wah, jangan-jangan gue tersesat nih? Apalagi pas dadanya bergetar waktu ketawa, kayak ada air es yang tumpah di kepala. Ya Tuhan! Gue harus apa!?" batinnya.
Nilan menjauh karena panik. Lengan Tesla sudah mengendur sekarang. Nilan pun menelan ludah, sambil melihat wajah Tesla. Pikirnya, saat ini benar-benar butuh portal ajaib, agar bisa kabur seketika.
__ADS_1
Tesla menyeringai; matanya tertuju ke dada Nilan.
"Ke kenapa li li liatin gu gue begitu?" Nilan bingung hendak berkata apa.
Tesla membungkuk, lalu menangkup wajah Nilan dengan kedua tangan. Nilan jadi menahan napas.
"Matanya gelap banget, sampai tembus ke hati gue yang terdalam!" batinnya.
"Kamu manis banget, Nilan, kayak es krim," Tesla memuji dengan suara serak.
Ini melemahkan lutut Nilan.
Air liur Nilan malah keluar. Baginya, justru Teslalah yang terlihat seperti es krim.
"Sialan! Napas panasnya kayak ngehipnotis!" Nilan membatin lagi.
Kini dia larut dalam angan serta dihimpit waktu; menggigit bibir bawah karena gugup, lalu mengerang. Dengan ibu jari, Tesla melepaskan bibir Nilan dari gigi.
"Yang terjadi antara kita waktu itu, rasanya lezat banget, Nilan," ucap Tesla.
Dalam hitungan sepersekian detik, bibir mereka pun bersentuhan.
Tesla mencium Nilan di tengah lantai dansa, banyak mata yang menonton. Salah satu tangannya, yang berada di belakang punggung Nilan, pun menarik lebih dekat. Tangannya yang lain, tetap memegang wajah Nilan. Dia kemudian menciumnya.
Nilan juga taktahu kenapa tidak mendorong Tesla, meskipun berpikir harus. Dia sungguh gagal berpikir jernih karena Tesla menyerang mulutnya.
Tesla mencium dengan penuh gairah. Bibir Nilan seolah memiliki otak sendiri untuk membalasnya. Tangan Tesla bergerak ke belakang kepala Nilan, lalu menekan cengkeraman, hingga ciuman semakin dalam. Lidah Tesla juga menyapu lipatan bibir Nilan, mencari jalan masuk—yang tidak Nilan berikan. Dengan geraman, Tesla menyerang bibir bawah Nilan; mengisap kemudian menggigit; menariknya dengan sensual. Akhirnya Nilan menghela napas, jadi Tesla memasukkan lidah ke dalam mulutnya. Nilan mengerang lagi. Jika bukan karena kerasnya musik, Tesla sudah mendengar geramannya.
Menanyakan apakah Tesla pandai berciuman adalah pernyataan yang meremehkan. Dia adalah seorang pencium yang hebat—pikir Nilan.
"Tesla!? Berani-beraninya lo!" suara wanita lain.
Ciuman mereka seketika berhenti, dan aroma wanita ini sangat memuakkan Nilan. Nilan jadi teringat seorang wanita di acara wisuda. Namun, karena aroma Tesla lebih dominan, dia tidak jadi muntah. Baginya, aroma Tesla seperti penangkal bau wanita yang memuakkan.
Nilan kemudian mendorong Tesla, lalu melangkah mundur untuk membuat jarak. Dia si wanita, yang matanya sedabg melebar dan menangis sambil melihat Tesla.
__ADS_1
"Ternyata lo selingkuh, Tes! Bukannya lo bilang milik gue malam ini?!" ia membuat keributan, tetapi bagus menurut Nilan.
Takada seorang lun yang memperhatikan, karena teriakan dan tarian di lantai dansa masih berlanjut.
"Saya ini bukan milik siapa-siapa, Goblok," Tesla merespon.
"Ta tapi, lo udah janji mau jalan sama gue ini malam!" si wanita membalas kemudian menatap Nilan dengan ttajam, "kenapa juga lo cium-cium dia!?"
"Saya gak pernah janji apa-apa."
"Tapi kemarin lo udah cium gue!"
"Kamu sendiri kok, yang nyerahin diri."
Tesla mengangkat bahu.
Bibir si wanita berkedut; tangannya mengepal. Jika ruangan tak gelap, rona merah di pipinya pasti terlihat.
"Gue benci lo, Tes! Sana sama pelacur lo!"
Ia memelototi Nilan kemudian langsung berbalik. Namun, Tesla menghentikan. Dengan rahang bergetar, tangan mengepal, Tesla mencengkeram lengannya.
"Satu-satunya pelacur di sini itu ya kamu! Ngomong ke Nilan kayak gitu lagi, saya bunuh kamu," kemarahan terdengar jelas dari suara Tesla, "sekarang pergi dari sini!'
Wanita ini pun pergi, tanpa teguran Tesla yang kedua. Meskipun gelap, kepucatannya terlihat jelas. Dengan sangat cepat, ia berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Sekarang, Tesla berada tepat di sisi Nilan. Kemarahan yang tertahan masih terlihat dari ketegangan rahangnya. Dia menghela napas, lalu menatap ke Nilan.
"Maaf ya, Es Krim. Kamu gak kenapa-napa, kan?" ucapnya.
Dia membelai pipi Nilan lagi.
"Gak semudah itu, Tesla!" Nilan lantas membatin kemudian melangkah mundur, lalu hampir saja tertawa, "dia nanya gue baik apa enggak? Serius?"
Dia memang bisa berdalih, serta membela diri, saat tidur bersama Tesla bulan lalu. Namun, sekarang dia takbisa, karena baru saja berciuman, bahkan sudah disebut pelacur oleh wanita tadi.
__ADS_1
Tanpa ragu, Nilan setuju. Alasan kenapa dia tak pernah berebut perhatian Tesla, adalah karena takingin menjadi seperti banyak wanita, yang selalu memamerkan diri. Dia merasa tak berbeda dengan mereka.
"Munafik banget gue, kalo bilang Tesla bukan selera, padahal disentuh dikit sama dia aja, udah gemeter!" batinnya.