
Mereka semua menatap Wili yang baru saja masuk, bersama pacarnya—Hasmi.
"Tenang dong, Yank," ucap Wili.
"Tenang? Kamu gila, ya? Gimana saya bisa tenang kalo Nilan gak jawab telponnya! Gimana kalau dia kenapa-napa!" Hasmi menyahut kemudian menepuk dahi Wili, "harusnya saya anter dia pulang, tadi."
"Ayolah, Sayang. Jangan terlalu khawatir. Nilan pasti baik-baik aja!"
Di sisi lain, perhatian Tesla langsung tersita saat nama Nilan disebut.
Hasmi berucap lagi, "Kamu gak tahu apa yang dialami Nilan sekarang. Saya bener-bener khawatir."
"Makanya jujur. Gue tau kalian nyimpen rahasia. Udah 2 minggu gue liat keanehan dari gerak-gerik kalian!" protes Wili.
"Maaf gak bisa, belum waktunya saya kasih tau."
Hasmi menekan ponsel, lalu menempelkannya di telinga.
"Oh, ayolah! Angkat telepon, Nilan!" ucapnya.
Dia melakukannya beberapa kali, tetapi tetap tak terjawab. Wajahnya jadi semakin terlihat cemas.
Tesla tiba-tiba berdiri, lalu bertanya, "Nilan kenapa emangnya?"
Hasmi pun mendongak. Matanya menyipit, lalu ingin menendang Tesla, tetapi dicegah Wili.
"Ini semua salah kamu, Bajingan!" Hasmi berteriak, seraya berjuang menyingkirkan Wili.
Tesla seketika mengepalkan tinju, lalu menatap tajam ke arah Wili.
"Bilang sama pacar kamu, Wil. Suruh dia diam," ucapnya.
Yanra dan Resma juga berdiri di kedua sisi.
"Harusnya kamu yang diam, Tesla! Nilan kesal gara-gara kamu! Saya tau apa yang terjadi di antara kalian, bulan kemarin." Hasmi berteriak, memelotot, serta menunjuk-nunjuk, "asal kamu tau ya, Tes, saya beneran mau tendang pantat kamu, karena udah nyakitin Nilan!"
"Tunggu!" Yanra membentak, matanya melebar, 'gue gak salah denger nih? Jadi Tesla mukul teman lo? Maksud lo ...."
Tiba-tiba ponsel Hasmi berdering. Wili pun segera melepaskan Hasmi yang ingin membuka SMS. Setelah membaca, Hasmi menjadi pucat; melepaskan ponsel, lalu merosot ke lantai.
"Nilan ...!"
Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Tesla mengambil ponsel itu, lalu terkejut setelah membaca isinya:
__ADS_1
"Furqon culik gue. Tolongin bayi lo nih, Tesla! Cepat ke sini."
Dia membaca pesan Nilan berulang kali. Itu seperti satire, tetapi Tesla mampu memahaminya dengan baik.
Rahangnya mengatup keras. Seraya mengepalkan tinju, dia membatin, "Nilan hamil anak saya ternyata. Mereka gak niat ngasih tau. Kalo bajingan itu gak culik dia, gue gak bakal tau sekarang."
Hasmi pun berteriak, "Ya Tuhan, kita harus panggil polisi, sebelum terlambat, Wili Goblok!"
"Emang ada apa sih?" sahut Wili.
Tesla menahan amarah atas apa yang mereka rahasiakan. Dia membaca lagi pesan terakhir Nilan—dua teks, tetapi hanya membaca yang terakhir. Itu membuatnya ingin melakukan pembunuhan besar-besaran, karena Furqon mengancam ingin menggugurkan bayinya.
"Dia mau bunuh bayinya. Kita harus cari bantuan, Yank!" ucap Hasmi.
"Siapa? Bayi siapa?" jawab Wili.
"Oh, jadi begitu," Tesla menyela.
Perhatian semua orang beralih padanya. Wili, Yanra, dan Resma pun terlihat bingung, sedangkan Hasmi hanya menatap Tesla.
Tesla berkata lagi, "Jadi si Nilan hamil anak saya?"
Wajah ketiga abak buahnya tampak terkejut. Hasmi—diam-diam menangis sambil masih memelototinya. Rahang Tesla mengencang. Hasmi cukup beruntung, Tesla membiarkan dan memilih untuk memprioritaskan Nilan. Jika tidak, Hasmi sudah tak bernyawa di lantai, takpeduli meskipun Hasmi adalah pacar Wili.
"Lain kali, gue yang bakal ledakin tengkorak lo, Ra," kata Wili seraya menurunkan pistol, lalu menghadap Tesla, "gimana situasinya?"
"Furqon lagi nyandra si Nilan," jawab Tesla.
Ucap Resma, "Brengsek! Kita harus ke sana secepat mungkin. Kita gak tau pikiran si idiot itu. Dia kan dendam banget sama lo, Tes!"
Resma benar: Furqon memang dendam kepada Tesla. Sebagai anggota Cupid—salah satu kelompok yang ingin menggulingkan FTP—kemarahannya meningkat ketika Tesla memberitahu Gesya, tentang identitasnya. Dia mencoba menyusup dan menggulingkan FTP, melalui Gesya. Namun, Teala telah menyelidiki, segera setelah Gesya memperkenalkan. Tesla langsung meragukan kepribadian Furqon, dan dugaannya benar.
"Lacak ponsel Nilan!" Tesla memerintahkan Yanra, yang memang seorang 𝘩𝘢𝘤𝘬𝘦𝘳 yang hebat.
"Apa gue harus panggil pasukan lainnya?" Resma menyala, sambil mengeluarkan ponsel pribadi.
Tesla terkejut.
"Gak usah."
"Wuhuuu!" Yanra berteriak.
Dalam waktu 5 menit, dia sudah menemukan lokasi Nilan.
__ADS_1
"Bagus, ayo pergi! Kita bakal numpahin darah di sana," Resma menyahut sambil mengeluarkan pistol.
Dia langsung berjala ke luar. Namun, Hasmi menghalangi pintu dengan mata terbelalak, pandangannya beralih ke pistol yang dipegang Resma dan Wili.
*
"Tunggu!" Nilan menghentikan Tesla yang sedang asyik bercerita, "jadi begitu ceritanya? Terus, kenapa gue harus tinggal sama lo?"
Dari semua hal yang Tesla katakan, satu yang membuat Nilan tertawa adalah pernyataan terakhir. Dia tertawa hingga membuat Tesla terlihat kesal.
"Sudah selesai ketawanya?" ucap Tesla.
Dia melepaskan celemek kemudian membuangnya begitu saja.
"Belum," Nilan menjawab di sela tawanya, "serius Tesla, lo gak bercanda, kan?" lalu tertawa lagi.
Bagi Nilan, pernyataan Tesla yang menyuruhnya tinggal bersama adalah kegilaan. Mereka belum menikah, tidak pula berpacaran. Lebih-lebih, Tesla adalah seorang 𝘱𝘭𝘢𝘺𝘣𝘰𝘺, wanitanya berbeda setiap hari. Hidup bersama satu wanita takmungkin ada dalam kamus Tesla.
"Es Krim, saya gak bercanda. Serius, dan kamu gak bisa nolak. Kamu tetap harus tinggal di sini, sama saya. Hasmi sama Wili bakal datang bawain barang-barang kamu."
Tesla pun memberi isyarat suara, lalu muncul si Wili dengan Hasmi di sampingnya, diikuti Yanra dan Resma.
Hasmi langsung menatap, memekik, lalu dengan kekanak-kanakan berlari ke arah Nilan. Dia menarik tubuh Nilan ke dalam pelukan.
"Nilan! Saya bener-bener khawatir! Apa yang Furon lakuin ke kamu? Emang beneran gila dia. Untung udah dibunuh sama Tesla. Jadi Furon yang bius kamu?" Hasmi terus meracau; Nilan hanya mengangguk, "bajingan! Makanya, saya bilang kalo Tesla itu masih lebih baik. Kalo si Furqon itu orang gila! Dia gak pantes dapetin perawan kamu!"
Nilan merasa ingin menghilang, karena para pria terbatuk dan tertawa. DIA mengerang.Hasmi benar-benar telah membuatnya malu, karena meracau sembarangan tanpa melihat situasi.
Tesla merasa puas, "Es Krim, kamu perawan, ya?" lalu menggoda Nilan sambil tersenyum lebar.
Dalam hati, Nilan menilai bahwa suasana hati Tesla bisa berubah begitu cepat: dari dingin dan mematikan, menjadi sombong dan genit.
"Tutup mulut lo, Has!" dia pun meneriaki Hasmi.
Gara-gara Hasmi, semua jadi tahu bahwa Tesla adalah pria pertama Nilan.
Mesk Nila memelototi, Hasmi masih sibuk mengoceh.
Kini Hasmi dan Nilan duduk.
"Saya khawai banget, Lan. Apa sekarang Debay baik-baik aja?"
"Gue baik-baik aja. Debay juga," jawab Nila.
__ADS_1
"Bagus."