
"Ya Tuhan! Gue kangen banget sama ini!" Nilan berteriak, "iihat, Hasmi!"
Pandangannya bukan ke Hasmi, melainkan tertuju ke TV sambil melahap semangkuk es krim. Dia menyilangkan kaki di sofa, menonton film komedi romantis.
Dia sadar betapa rindu pada Hasmi. Sejak Tesla mengetahui tentang kehamilannya, serta menyuruhnya tinggal di Istana Pundalisa, dia dan Hasmi akhirnya melakukan kebiasaan ini—menonton film bersama.
Tadi pagi, saat sarapan, Tesla menyetujui permintaan Hasmi untuk mengajak Nilan jalan-jalan. Nilan juga setuju, meskipun sedang kesal karena Tesla memaksanya menikah. Lagi pula, dia memang bosan di rumah.
Di kamar lain, Willi sedang tertidur—karena diberi obat tidur oleh Hasmi. Pikir Nilan, jika nanti Wili bangun, pasti akan mengajak Hasmi bertengkar.
Hasmi menabrak Nilan dengan bahu.
"Untung kamu setuju diajak jalan-jalan," ucapnya.
Nilan memutar mata.
"Sebenarnya, gue gak yakin dia bakal ke sini," jawabnya.
"Dia gak bakal nyusahin kamu sekarang, Lan."
"Dia baru aja ngancem gue nikah!"
Nilan memasukkan sesendok eskrim ke dalam mulut.
Hasmi tertawa.
"Itu normal, Nilan, kamu kan hamil anak dia dia, ya wajarlah."
"Gue sih gak keberatan kalo dia mau ngurus ni anak, Has. Tapi gue masih belum mau nikah sama dia."
"Loh, kenapa?"
Nilan meletakkan mangkuk kosong di atas meja, lalu meregangkan kaki sambil membelai perut yang belum terlalu besar.
"Dia aja belum ngelamar sama sekali kok!"
"Rencana kamu apa dong? Tesla itu ayah dari bayi kamu, jadi dia bakal selalu ada dalam hidup kamu. Terus, kayaknya dia emang ngotot namain bayinya pakek nama belakang Pundalisa. Saya juga tau artinya."
Ya, arti nama Pundalisa adalah teratai kuat di tengah badai.
Nilan menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata. Film sudah dia lupakan.
"Entahlah, terlalu rumit!" ucapnya.
"Kamu tahu gak, Nilan?"
"Apa?"
Nilan menoleh ke Hasmi. Hasmi berbalik menghadapnya, lalu menyilangkan kaki juga, dengan ekspresi seolah sedang memikirkan solusi, lalu menatap mata Nilan.
"Gak bakalan rumit kalau kamu cinta sama Tesla," ucapnya.
"Apa?!" Nilan mencicit; duduk tegak, llau menatap Hasmi, seolah-olah tumbuh dua tanduk di kepala, "Gila lo, Has!"
Sekarang Hasmi yang memutar mata, lalu melambaikan tangan ke depan dan ke belakang.
"Nilan, saya ini udah lama kenal sama kamu. Kamu emang mau nikah dengan sama orang yang kamu cinta, saya tau itu. Saya yakin kamu bakalan cinta sama Tesla."
"Ha ha ha ...."
"Hei, saya serius, Nilan!"
"Gue juga," Nilan menjawab, lalu meletakkan bantal di pangkuan, "itu gak bakal terjadi, Has. Eh, bukannya lo sebentar laginnikah sama Wili?"
__ADS_1
"Ya, saya gak bakal kawin lari kok," jawab Hasmi dengan mata berbinar, "udah lama kami rencanain nikah. kami juga udah dapat restu dari keluarga. Dua minggu lagi kami bakal nikah, semoga."
Pembicaraan mereka terhenti karena ponsel Hasmi berdering. Dia meraihnya dari meja kaca.
"Halo, Sayang," jawabnya.
Nilan memutar mata sambil memajukan bibir, meniru cara menggoda Hasmi.
Hasmi pun memukulnya dengan bantal, membuatnya melotot.
"Okey, Sayang. Kami pasti suka. Oke, sampai jumpa lagi. Iya, saya cinta kamu kok," Hasmi mengakhiri panggilan, lalu menoleh ke arah Nilan, "mereka ngajak kita makan siang sekarang, Lan."
Nilan berdiri kemudian melemparkan bantal ke arahnya, "Asal lo jangan cuekin gue nanti, karena sibuk pacaran sama Wili. Gue gak punya pacar soalnya," lalu mengoreksi.
"Halah!" sahut Hasmi.
Nilan tidak menjawabnya lagi, melainkan langsung masuk ke kamar untuk menyiapkan diri.
"Ayo pergi," Nilan berkata.
Rambutnya telah disisir dan wajahnya telah dirias sedikit.
Mereka pun segera menaiki lift untuk mencapai lobi.
Beberapa detik berlalu. Mereka melihat Willi duduk di sofa, dan Tesla tampak sedang menggoda seorang wanita Wanita ini meletakkan tangan di lengan Tesla, sambil tersenyum dan tampak berkata.
Nlan menatap Hasmi, lalu menyipit, karena wanita tadi tertawa genit sambil membelai lengan Tesla. Nilan mengepalkan tinju, dan kuku jarinya hampir menusuk telapak tangan. Ini menjengkelkannya.
Mereka pun mendekati keberadaan Wili dan Tesla. Willi mendongak dan tersenyum pada Hasmi, "Hai, Sayang," lalu berkata.
Hasmi terkikik, "Saya juga kok, Yank," lalu membalasnya.
Mereka berdua pun berciuman.
Nilan pun melipat tangan kemudian menoleh ke Hasmi, denga wajah kesal.
"Ayo pergi, Has," ucapnya.
Dia kini keluar dari gedung, langsung menuju mobil Willi.
Tesla menghadang, "Bukannya kamu mau pacaran sama saya, Lan?" lalu berucap sambil memegang tangan Nilan, yang sedang membuka pintu mobil.
Nilan dengan kasar menarik tangannya, lalu menatap Tesla dengan jahat.
"Gue gak mau satu mobil sama lo! Sana balik ke cewek tadi! Tidur bareng sekalian!" amarahnya.
Tesla mengernyit kemudian menyeringai.
Sambil mengangkat alis, "Kamu cemburu, ya?" dia menggoda.
Nilan lun berpura-pura muntah.
"Ngarang lo, Anjir!"
Tesla merangkul dan mencoba mencium pelipis Nilan, tetapi Nilan menggoyangkan lengannya.
"Nilan, saya tadi cuma ngobrol sama dia."
Nilan menatapnya dengan dingin, "Bodo amatlah, Tes," lalu berkata.
Dia pun masuk ke dalam mobil. Tesla pun sama.
Akhirnya, Tesla berhasil membujuk Nilan untuk makan siang bersama. Namun, Nilan tak mau diajak bicara sampai acara makan selesai.
__ADS_1
"Sekarang waktunya belanja!" kata Hasmi.
Nilan takbisa menolak, karena Hasmi memegang lengannya dan membawanya ke mal. Kedua pria mengikuti di belakang.
"Hasmi, gue gak mood nih, beneran!"
"Hust! Lupain kecemburuan kamu sama Tesla. Ayo, kita belanja barang buat Debay!"
"Gue gak cemburu, oke?"
Nilan memandangnya dengan buruk.
"Oke-oke, terserah kamu, Lan," ucap Hasmi, "yang penting, sekarang kita belanja buat Putri Debay!"
"Kita belum tau jenis kelaminnya apa, Hasmi," sahut Nilan.
Hasmi mendesah.
"Oke, baiklah. Kita gak jadi belanja. Kita manfaatkan aja hari ini sebaik-baiknya, oke? Soalnya, kita gak bakal ketemu lagi sampai beberapa bulan ke depan."
Nilan langsung merasa bersalah. Alasan Hasmi ingin menghabiskan waktu bersamanya, karena setelah pernikahan, dia dan Willi akan menghabiskan dua bulan untuk berbulan madu, di Eropa.
Nilan pun tersenyum, "Kenapa kita gak cari gaun baru buat gue aja?" lalu menawarkan.
"Maksudmu dia ...."
"Hai, Ledis, kalian mulai berdebat lagi," kata Willi.
Dia datang bersama Tesla; menyeringai, lalu memeluk Hasmi. "Sayang, kalo lo mau anak perempuan, kita bisa buat sendiri."
Nilan memutar mata.
Hasmi tersipu kemudian menyikut Willi, lalu mencondongkan tubuh ke depan; melepaskanku; melepaskan tangan Willi, lalu mengambil langkah cepat bersama Wili.
Nilan hanya menggeleng. Kini dia ditinggalkan bersama Tesla.
"Nilan ...," ucap Tesla.
Nilan masih mengabaikan. Sebaliknya, dia mengejar Hasmi dan Willi, tetapi Tesla menghentikan.
"Kamu bisa kepeleset jatuh, Nilan," ucap Tesla, "saya juga harus dekat terus sama kamu, supaya kamu tetap aman."
Nilan hanya menarik lengan sendiri, tetapi Tesla tak mau melepaskan.
Sambil mendesah, Tesla menyisir rambut dengan satu tangan, lalu membuat Nilan menghadapnya. Dia menatap mata Nilan dengan ekspresi serius.
"Saya tau kamu cemburu, tapi jujur, saya gak ngapa-ngapain sama cewek itu. Saya juga gak pernah berhubungan **** sama siapa pun pas udah tau kamu hamil, terus ...."
"Banyak bacot lo, Tes. Gue gak tertarik," Nilan menyela.
Tesla menghela napas dalam-dalam. Salah satu tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nilan, lalu menyelipkannya ke belakang telinga Nilan.
"Kita nanti ngobrol di rumah, okey?"
"Terserah," Nilan menjawab kemudian mendengkus.
Tesla menyeringai, lalu menggerakkan tangan. Dia menyelipkan tangan ke tangan Nilan, mengikat jari-jari. Nilan membelalak, lalu berusaha melepaskam tangan.
Tesla menggeleng, "Izinkan saya meluk kamu, Eskrim. Saya gak mau kamu ilang," lalu memohon.
Nilan menghela napas kemudian mengangguk.
Kini, mereka berdua berjalan-jalan di mal; mencari ke mana Hasmi dan Willi pergi, sambil bergandengan tangan. Nilan merasa sedikit menggelitik karena kulitnya bersentuhan dengan Tesla.
__ADS_1