
Orang ini berbalik dan memberi isyarat agar diikuti. Nilan melihat sekeliling, sangat gugup karena semakin banyak pria di lantai atas, di bawah juga semakin banyak. Beberapa dari mereka membawa senjata api panjang.
"Ya Tuhan!"
Nilan pun mepercepat langkah kaki.
Pria-pria lain yang Nilan lewati langsung berhenti dan membungkuk. Nilan jadi mengernyit.
"Kok semua yang liat gue pada ngebungkuk sih? Aneh deh."
Nilan bingung, harus tersenyum atau apa ke mereka, yang beberapa berdiri tak bergerak, tampak waspada, seakan siap jika ada yang menyerang.
"Mana si Tesla?" dia bertanya kepada pria yang menemaninya berjalan tadi.
"Bos di dapur, Kak," si pria menjawab tanpa menoleh.
"Oh, okey ...."
Sekarang Nilan menghela napas lega, karena sudah sampai di dapur. Dia melihat, Tesla masih telanjang dada, tetapi memakai celemek.
"Hah! Si Tesla kok masak? Masak apaan tuh?"
Nilan takbisa menahan senyum. Ini benar-benar sesuatu yang takterduga baginya.
Pria tadi segera pergi, meninggalkan Nilan di dapur.
"Duduk," Tesla memerintah pelan, tanpa mengalihkan pandangan.
Nilan merasa aneh, mengapa Tesla bisa merasakan kehadirannya.
"Dia masih marah gak, ya?" batinnya.
Dia kemudian duduk di bangku, depan meja, jadi bisa melihat punggung Tesla sepenuhnya; memperhatikan bahwa otot-otot di punggung Tesla melentur, seirama dengan setiap gerakan yang dilakukan.
Nilan melihat tengkuk Tesla.
"Wah, ternyata lo punya tato, Tes!?" serunya.
Sebelumnya, dia mengira bahwa Tesla adalah lelaki dingin yang tak bertato. Sekarang, Tesla justru terlihat sangat seksi di matanya, dengan tato berbentuk unik.
Dia berdiri kemudian mengitari konter; berjinjit untuk melihat desain tato: Sebuah gambar belati, dengan pegangan yang terlihat seperti ekor ayam. Dia pun melihat lebih dekat, lalu menyadari bahwa ini adalah lambang preman, karena ada inisial di tengahnya yaitu FTP.
Sambil melongo, dia menelusuri tinta dengan ujung jari, lalu sadar karena Tesla jadi menegang. Dia pun segera menurunkan tangan.
"Ma maaf. Etapi, ini keren," ucapnya, lalu kembali ke tempat duduk, "orang-orang yang pakek baju hitam itu, apa mereka bagian dari kelompoknya lo?"
Tesla menoleh kemudian menatap Nilan.
"Ya, kenapa!?"
__ADS_1
"Jadi ...," Nilan melanjutkan, "Furqon sama bosnya cerita ke gue tadi malam. Ternyata itu benar, ya?"
Tesla memindahkan piring ke nampan kemudian meletakkannya di depan Nilan.
"Ya," hanya sebuah kata darinya, untuk menjawab kedua pertanyaan Nilan.
Kini Tesla berbalik, lalu berjalan menuju lemari es.
Nilan melihat apa yang disajikan: puding, rendang, dan telur.
"Saya gak tau apa yang kamu suka," Tesla berkata sambil meletakkan segelas susu segar di depan Nilan.
"Klo susu sih gue suka."
Tesla duduk menghadap Nilan.
"Makan sekarang," perintahnya
Nilan memutar mata kemudian mengambil garpu. Dia mau makan bukan karena Tesla memaksa, melainkan karena sangat lapar.
"Makan aja, gak usah liat-liat muka saya," ucap Tesla kemudian.
Nilan sadar bahwa dengan jumlah makanan yang disajikan, tidak ada piring selain piring untuknya.
Tesla menggeleng, "Saya gak lapar," lalu berkata seraya menyesap kopi.
"Ini ambil," ucap Tesla.
Nilan terheran karena Tesla memberinya sebuah kapsul.
"Kelihatannya lumayan akrab, mirip vitamin kehamilan. Eh, kok lo tau, Tes?"
"Saya dapet dari Hasmi."
Nilan seketika terkejut; mengangguk kemudian menelan obat. Tesla pun memberinya segelas air. Nilan jadi semakin merasa aneh dengan perlakuan Tesla.
Kini dia berdiri; menatap Tesla, "Makasih, ya, sarapannya," lalu berucap, "betewe, lo tau gak ponsel gue di mana? Gue mau nelpon Hasmi, mau minta jemput."
Seketika, Tesla menatapnya dengan serius.
"Kamu gak boleh ke mana-mana, Nilan."
"Apa!?"
"Mulai sekarang, kamu tinggal sama saya."
"Hadeuh!"
Nilan pun memutar mata.
__ADS_1
"Nilan, duduklah yang tenang. Saya mau cerita"
*
Tadi malanya, "Bos, gue gak nyangka deh. Kok lo bisa sih pacaran sama temannya Hasmi, pacar si Wili entu? Dia itu kan cewek perokok!" Yanra bertanya.
Tesla menatap Yanra dengan buruk, dan ingin sekali membunuhnya. Kalau Yanra bukan anak buah, Tesla pasti sudah menembaknya tepat di kepala.
Jadi, Yanra seketika mengangkat kedua tangan..
"Tenang, Bro. Lo gak perlu bunuh gue. Gue tau kok Nilan punya lo. Cuma gue kasih tau, kalo dia ngerokok. Soalnya itu gak baik," ucapnya, "eh, ya-ya, gue bakal diam sekarang."
Itu karena Tesla terlihat sedang mengeluarkan senjata.
Resma berkomentar, "Bagus, suara lo aja udah bikin gue sakit, Ra," sambil melihat sesuatu di ponselnya.
"Duh ... kenapa sih klean pada kejam sama gue?” respons Yanra.
Tesla menghela napas; menghabiskan isi gelasnya, lalu menyandarkan kepala ke sofa kulit di bilik VIP—tempat mereka bertiga berada malam itu, di bar. Sejak Nilan berjalan ke luar, dia langsung pergi ke sana untuk minum.
Dia kemudian berbatin, "Saya emang udah nyium si Nilan. Dia benar-benar menggoda, sampai saya gak tahan."
Bahkan, pada upacara kelulusan, saat melihat Nilan berbicara dengan Wili, dia datang hanya untuk melihat lebih dekat. Karena Nilan, dia sering takbisa tidur malam.
Wajah cantik Nilan terus menghantui. Meskipun berdua sedang mabuk, Tesla tahu bahwa Nilan masih perawan. Itu terbukti dengan noda darah yang tertinggal di sprei tempat tidur. Sebagai pemula, Nilan sudah mahir luar biasa. Semua wanita yang bersama Tesla, tidak ada apa-apanya dibandingkan Nilan. Nilan sangat energik. Tesla jadi semakin gila, sampai mencari-cari Nilan di antara semua wanita yang pernah dia tiduri. Itu tidak berhasil, malah kehilangan selera pada wanita lain.
"Tesla, gue punya sesuatu yang kali aja mau lo beli," kata Resma.
"Kalau cuma gambar, jangan liatin ke Tesla. Dia gak bakal tertarik!" Yanra menyela, lalu mundur sambil melihat Tesla yang menodongkan pistol, "hehe. Maaf, Tes. Gue cuma bercanda."
Yanra, Resma, dan Wili, mereka adalah orang yang Tesla percaya dari semua anggota, di bawah kendalinya. Karena selain dekat satu sama lain, mereka juga pernah tumbuh bersama. Orang tua mereka merupakan anak buah Kola—ayah dari Tesla. Namun, karena Kola sudah mati, Tesla bersama adik laki-lakinya—Gesya, menjadi pemimpin.
Tesla pun mengabaikan Yanra yang ketakutan, lalu menoleh ke Resma.
"Jadi, apaan tadi, Res?"
"Nih!"
Resma menyerahkan ponsel kepada Tesla. Itu foto Tesla dan Nilan saat berciuman di lantai dansa. Tesla menggulirnya: lima foto ada di sana. Semuanya terpotret dengan indah. Itulah kelebihan Resma: tidak hanya memegang pistol seumur hidup, tetapi juga kamera.
"Oke, saya ambil semua," Tesla merespons seraya mengembalikan ponsel.
Resma mengangguk.
"Beli-in Enmax dulu, baru gue kasih. Hehe."
"Tenang aja," ucap Tesla, dingin.
Yanra melotot karena frustrasi, "Whoa! Terus buat gue mana!? Ini gak adil!" lalu memprotes.
__ADS_1