
Sekarang Nilan terbangun, lalu melihat bahwa di sebelahnya sudah kosong. Ya, Tesla sudah takada.
*
Dua minggu pun berlalu, sedangkan Tesla masih belum kembali. Namun, Nilan merasa beruntung, meski masih tinggal di sini, rumah Tesla, dia tak merasa terkurung. Sehari setelah pergi, Tesla menelepon Yanra, memerintahkan agar Nilan bisa pergi, ke mana pun bila mau, asal selalu didampingi satu orang. Jika bukan Yanra, maka Resma-lah yang menemani. Selain itu, ada juga anggota lain, yang mengikuti dalam jarak aman. Bahkan, sekelas presiden dan pengawalnya saja kalah, jika dibandingkan perlakuan Tesla.
Sebenarnya dia juga taknyaman ditinggal Tesla, tetapi tak mau berkomentar, karena Tesla mengizinkannya berjalan-jalan di luar istana.
"Ra, kita bisa gak pergi ke mal, kalo dokter bilang boleh?" tanya Nilan.
Dia dan Yanra sedang dalam perjalanan menuju dokter, untuk memeriksa kehamilan. Ini karena Hasmi sedang sibuk mengurus pernikahan dengan Wili. Pernikahan mereka akan berlangsung selama sebulan. Persiapannya berlangsung cepat karena akan dilakukan secara privat. Hanya keluarga dan teman terdekat yang hadir—dan Nilan adalah tamu kehormatan.
"Gue mau makan bakso, Ra,” Nilan merengek.
Sejak terbangun pagi tadi, dia memang sudah menginginkan kuah bakso.
"Gak usah cari bakso di luar kali. Suruh aja koki di rumah, bikin bakso."
"Gak mau! Gue mau makan di tempat jualnya!”
"Hilih! Sama aja, Lan!”
"Gak mau! Tetap beda rasanya! Pokoknya kita ke mal nanti!"
Yanra pun menghela napas.
"Terserah lo ajalah, dasar nyonya!”
Nilan menatapnya dengan buruk.
"Gue bukan seorang nyonya!"
Yanra pun mengangkat kedua tangan, seperti menyerah.
“Jangan lepasin stir, Ra! Dasar goblok!”
ne
Yanra segera mengembalikan satu tangan, yang lain menutup telinga.
"Astaga! Gak usah teriak-teriak, Nilan! Gue bisa gak ganteng lagi nanti, kalo gendang telinga pecah!”
"Makanya jangan banyak gaya! Nanti gue mati ketabrak!” Nilan menyahut; menangis, seraya membenamkan wajah di telapak tangan, "nanti Debay gimana kalo gue mati? Bakal jadi bayi tanpa ibu, terus niru bapaknya jadi preman, playboy, sama ngewarnain rambutnya kayak lo! Ya Tuhan! Jangan sampai bayi gue mirip lo!" lalu mengangkat wajah seraya memelototi Yanra.
"Iya gue ngerti, Lan," Yanra membalas kemudian tersenyum, "gue bisa maklum, namanya juga ibu hamil. Gue ngerti kok, jadi jangan marah-marah terus.”
“Diam! Suara lo bikin kuping gue sakit!" Nilan malah membentak, lalu bersandar di jok kulit, "bisa ngebut dikit gak? Biar kita cepat sampe ke dokter. Gue udah ngantuk, rasanya mau pulang terus tidur."
"Wokeeey," Yanra merespons dengan antusias, lalu bergumam, "lama-lama gue suruh Tesla pulang kalo gini. Galak banget.”
"Lo bilang apa!?”
__ADS_1
"Gak!”
Nilan pun menyipitkan mata, berpikir bahwa Yanra sedang mengiranya tuli.
"Jadi lo anggap gue gila, ya?”
"Yaelah! Iya-iya gue minta maaf!"
Tiba-tiba ponsel Yanra berdering. Jadi, dia memasang 𝙚𝙖𝙧𝙗𝙪𝙙 ke satu telinga, lalu menyetir dengan satu tangan.
"Halo! Eh, Si Bos! Gimana-gimana?"
Dia pun melirik Nilan, lalu beralih ke jalan.
"Ya, Nilan lagi sama gue!”
Nilan mengangkat alis.
"Siapa yang telpon?”
Yanra pun tertawa, "Lo dengar?" lalu menoleh, "ini si Tesla."
"Oh, jadi Tesla masih hidup?” sarkasme Nilan.
Beberapa hari terakhir ini, Tesla hanya menelepon, saat menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu. Biasanya, Resma atau Yanra yang dipanggil.
"Sudah gue bilang, Bos. Dia cukup sensitif, mungkin lo udah buat mood-nya makin buruk. Hahaha!" Yanra sedang merespons Tesla di telepon.
"Jangan bohong lo, Ra! Gue gak mau bayi gue dengar kebohongan. Tadi kan gue udah bilang, jangan banyak ngomong!"
"Kenapa lo senyum-senyum!? Dasar jelek!"
Yanra langsung cemberut, karena taksuka dipanggil jelek. Dia kini mengarahkan mobil ke tempat parkir rumah sakit.
"Gue punya kejutan buat lo, Lan," ucapnya.
Dia kemudian turun dari kursi pengemudi; Nilan membuka sabuk pengaman, Yanra membukakan pintunya.
"Kejutan apaan?" tanya Nilan yang kini sudah berdiri di samping mobil.
Yanra tersenyum lagi.
"Nanti juga lo liat."
"Bodo amat!"
Nilan pun hendak meluncur ke dalam rumah sakit.
"Nilan! Cepat masuk!"
Tiba-tiba Tesla datang kemudian langsung menarik Nilan memasuki mobil.
__ADS_1
"Demi Tuhan, gak bakal saya biarin kamu kenapa-napa."
Dia meremas tangan Nilan, lalu melepaskannya.
Sebenarnya Nilan ingin memberitahu Tesla agar tidak melepaskan tangan, karena ini membuatnya merasa aman, hanya saja malu mengatakan. Dia takingin dianggap lengket. Pun, Tesla akan sulit memegang pistol, karena salah satu tangannya berada di setir.
Nilan menjerit ketika seseorang di dalam mobil lain menembak. Tesla dengan cepat memutar setir, menghindari agar peluru tidak mengenai. Dia menginjak gas hingga mobil berlari cepat. Untung saja sabuk pengaman Nilan kencang. Tesla memang terbiasa menembak sambil mengemudi.
Tesla berhasil menembak, menjatuhkan seorang pria; menembak lagi, mengenai yang lain lagi.
"Pegang setirnya."
"Apa?"
Nilan terbelalak mendengar ucapan Tesla. Hampir saja dia takmengerti.
"Kamu mau makan bakso, kan?"
Nilan mengernyit, heran.
"Apa hubungannya bakso sama setir?"
Akan tetapi, dia mencoba menuruti.
"Baik, gue usahain."
"Tahan, minimal 10 detik, Es Krim. Saya bakal selesaikan permainan mereka," Tesla memerintah sambil menembaki, sehingga musuh tiba-tiba oleng dan bertabrakan dengan yang lain. Namun, mereka tetap tak berhenti, saling mengejar dan menembak. Tesla terus bermanuver untuk menghindari peluru, tetapi seseorang menabrak kaca di belakang. Dia mengutuk dan memberi isyarat, agar Nilan tetap memegang kemudi.
"Oke," Nikan menurut, meskipun kesulitan mengontrol dari kursi penumpang.
Dadanya berdebar-debar. Dia tak pernah menyangja bakal terlibat dalam baku tembak. Namun, sebagian dari dirinya merasakan sensasi ini. Dia melihat Tesla, yang tidak ketakutan sedikit pun di, malah sebaliknya, Tesla tampak bersenang-senang, tersenyum ketika berhasil mengenai sesuatu.
Nilan benar-benar takmengerti. Terakhir kali, dia ngeri saat melihat Tesla menembak Furqon. Sekarang, dia malah asyik menatapnya.
Kini Tesla mengambil pistol baru dari dasbor. Nilan hampir kehilangan konsentrasi mengendalikan setir, takbisa menahan perasaan heran: Tesla memegang pistol berwarna pink dengan motif bunga anggrek. Dalam benaknya, dia merasa dihadapkan pada sisi lain dari Tesla, yang tak pernah terlihat.
"Jangan liatin saya kayak gitu, Es Krim," Tesla berkata karena menyadari tatapan Nilan, "sekarang kita harus ...," lalu mengeluarkan setengah tubuh melalui jendela yang terbuka; mengarahkan pistol merah muda ke dua kendaraan yang mengejar, "kita harus hancurkan para bajingan itu!"
Jantung Nilan berdebar karena musuh mulai menembak lagi. Nilan bukan ahli seperti Tesla, jadi hanya sujud saja saat peluru mengenai jendela.
Tiba-tiba terdengar suara ban belakang meledak keras.
"Persetan!" teriak Tesla.
Dia menembak para musuh lagi dengan senjata besar. Mobil musuh akhirnya meledak kemudian menabrak kendaraan lain.
"Oh Tuhan! Senjata jenis apaan tu? Apa bazoka?" Nilan berbatin, "Tesla!" lalu berteriak karena takbisa lagi mengendalikan mobil.
Dua roda belakang menjadi lebih banyak lubang. Tesla dengan cepat kembali ke kursi depan kemudian meraih kemudi.
Nilan bersandar di bantal; berpegangan erat pada sabuk pengaman. Saat ini, dia memang belum mati karena serangan orang-orang tadi, tetapi Nilan berpikir akan mengalami kecelakaan. Namun, Tesla tergolong berani saat bermanuver.
__ADS_1
"Tesla!" Nilan berteriak lagi karena akan bertabrakan dengan pohon, dan itu takbisa dihindari, "ya ampun!"
Dia mengkhawatirkan bayi di perut, lalu memejamkan mata dan menunggu dampaknya.