
Kenyataan ini membuat Nilan malu, hingga merasa terpukul sangat keras.
"Tinggalin gue sendiri, Tesla!"
Tanpa menunggu jawaban, dia segera meninggalkan lantai dansa. Air mata keluar deras, sampai penglihatan menjadi kabur. Dia menyekanya dengan telapak tangan, seraya berjalan membabi buta ke kamar kecil. Namun, karena tidak melihat ke depan, dia terus bertabrakan dengan sesuatu.
Kebetulan si Hasmi lewat. Dia segera menyentuh Nilan yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Nilan?" ucapnya, "kamu kenapa, Lan?"
"Jangan tanya sekarang."
Nilan kemudian menggeleng seraya menutup mulut, supaya tak menangis lebih keras. Hasmi memeluk dan membawanya ke toilet pria, agar takada seorang pun yang mendengar percakapan mereka—karena di toilet wanita, pasti banyak sekali yang keluar-masuk.
"Sekarang cerita, kenapa kamu nangis?" Hasmi bertanya seraya mengunci pintu.
"Tesla," Nilan mulai menceritakan apa yang terjadi di lantai dansa, menunduk, bersama air mata yang terus mengalir, "gue malu. Gue udah tidur sama dia, terus malah ciuman barusan. Astaga, bego banget, kan?! Padahal gue bertekad, gak mau ngelakuin apa-apa lagi sama dia. Ya Tuhan, gimana klo dia tau kehamilan gue?” lalu meraih tangan Hasmi, "kayaknya gue harus ke luar negeri, Has. Dunia kita terlalu kecil di sini."
Hasmi pun membelai punggungnga.
"Haduh, gak usah mikir kek gitu, Lan. Dia gak bakal tau. Satu lagi, kalo dia tau, gak bakal ngubah apa pun juga. Mending kita minta dia tanggung jawab. Ayolah!" ucapnya.
Nilan menghapus air mata kemudian mengangguk.
"Semoga saran lo yang terbaik, Has."
Hasmi pun menepuk pipinya, "Maklum, cewek klo lagi hamil emang emosian," lalu menenangkan, "kayaknya sih, si Debay bakal jadi aktris sinetron deh. Xixixi!"
"Gila lo!" Nilan merespon sambil tersenyum, "makasih ya, Has. Gue jadi ngerasa lebih baik, tapi gue mau pulang. Mumpung Tesla gak ada."
Hasmi pun membuka pintu keluar di samping, lalu menoleh.
"Kalo gitu, saya telpon Ayank dulu ya."
"Gak usah, Has," respons Nilan, "gue bisa pulang sendiri, takut ngerusak malam kalian. Nanti gue naik taksi aja."
"Ih, tapi kan ...."
"Gak papa, Has."
Hasmi kemudian menghela napas.
"Ya udah, tapi telpon ya kalau udah sampe!"
"Ya, Ibu Hasmi!"
Nilan pun keluar dari bar kemudian menunggu taksi. Tiga menit berlalu, ada suara pria yang memanggil. Nilan menoleh ke belakang: seorang pria keluar dari bar, lalu berjalan ke arahnya.
"Lo mau pulang, Lan?"
__ADS_1
"Eh, lo si Furqon, ya?"
"Iya. Mau gue anter gak?"
Nilan tersenyum.
"Ah, gak usahlah. Gue lagi nunggu taksi."
"Lo udah nyakitin perasaan gue, Lan," sambil meremas dadanya, Furqon menggoda, "sekaliiiii aja, siapa tau ini terakhir kali kita ketemu?"
Nilan menghela napas dan menyerah. Pikirnya, si Furqon benar: masing-masing memiliki karier yang harus dikejar, dan jalannya saling bersilangan. Selain itu, Furqon juga pernah main mata, tetapi Nilan memilih untuk berteman dengannya—karena Furqon tak romantis.
"Yaudah deh."
"Yeeaaay!" Furqon berteriak, lalu membukakan pintu kursi penumpang.
Nilan menyelinap masuk.
"Makasih ya."
"Sama-sama, Nyonya," jawab Furqon dengan alis yang turun naik.
Nilan tertawa, lalu menyesuaikan sabuk pengaman, sedangkan Furqon duduk di kursi pengemudi.
"Kita ke mana nih?" tanya Furqon.
Nilan pun langsung memberinya alamat kost, lalu bersandar dengan nyaman di bagian belakang mobil, sambil mengamati cahaya redup jalan.
Nilan menoleh kemudian menjawab, "Gak kok," sedangkan Furqon masih tampak muram dan mencengkeram kemudi lebih erat.
Nilan berfirasat, bahwa Furqon kelihatan marah ketika menyebut nama Tesla. Dia pun menggeleng, tak mau dipermainkan imaji. Menurutnya, apa alasan Furqon bercemburu?
"Gue liat kalian joget bareng tadi," Furqon menambahkan; melirik Nilan sejenak, lalu kembali menatap jalan di depan.
"Iya sih."
Nilan bergeser karena taknyaman.
"Si Furqon ini kayaknya abisnliat drama gue sama Tesla tadi," pikirnya.
Perhatiannya beralih lagi ke luar jendela.
Akan tetapi, "Ah, gak ada gunanya juga ngejelasin ke dia. Takutnya dia malah ngambil kesimpulan yang jauh nanti," dia membatin.
"Tesla sialan!" seru Furqon.
Nilan tak mau berkomentar, tetapi Furqon masih tenang mengemudi.
Akan tetapi, Nilan baru sadar bahwa mobil menuju ke arah yang berbeda.
__ADS_1
"Furqon, ini kan bukan jalan ke kost gue!"
"Iya gue tau kok."
"Furqon!"
"Lo gak bakal pulang sekarang."
Nilan tertegu mendengar nada bicara Furqon. Detak jantungnya juga meningkat. Namun, dia berusaha agar tak panik, lalu menghadapnya.
"Maksud lo apa, Qon? Gue gak punya waktu buat bercanda. Gue mau pulang. Kalau emang gak mau nganter ...."
Tiba-tiba Mobil berhenti. Berkat sabuk pengaman, kepala Nilan tak jadi membentur jok.
Apa-apaan lo! Mau bunuh gue!?
"Diam! Kalo enggak, gue bunuh lo!"
Mata Nilan kini terbelalak; seluruh tubuhnya terasa dingin.
"Wah, tatapan Furqon ngeri juga, kayak marah banget. Kayaknya dia bisa aja buktiin ancamannya," dia pun membatin.
Furqon bukan lagi teman yang ceria dan suka bercanda—pikir Nilan—matanya sudah penuh kebencian. Dia pun mundur dengan ketakutan, lalu ... takbisa membuka pintu. Furqon sudah menguncinya!
"Jangan coba lari! Kalo gak mau gue tembak!" Furqon membentak.
Dia menunjuk Nilan dengan pistol.
"Ya Tuhan, kenapa sih dia? Rasanya gue pengen lari yang jauh, tapi kayaknya gak mungkin jih!" Nilan membatin lagi karena merasa ngeri.
"Fu Furqon ... kenapa lo jadi kayak gini?" ucapnya.
Furqon malah menyeringai.
"Menurut lo!?"
"Gu gue gak ngerti."
"Gue bakal ngelakuin apa aja buat ngedapetin lo! Gue yang ngasih lo obat biar kita bisa tidur bareng kemarin. Tapi lo malah ...."
Nilan membeku, kata-kata Furqon sudah meresap ke otak.
"Jadi ... lo yang masukin obat ke minuman gue!?"
"Ya, itu gue, tapi lo ngerusaknya. Lo malah tidur sama Tesla. Dasar ******!"
Nilan kemudian menangis, karena sekarang tahu bahwa Furqonlah si dalang . Pikirnya, Furqon harus disalahkan atas semua yang terjadi.
"Ya Tuhan, untung dia gak berhasil tidur sama gue!" Nilan berbatin ngeri..
__ADS_1
Akan tetapi, dia jadi merasa lega, bahkan berterima kasih kepada Tesla. Pikirnya, Tesla adalah penyelamat, dan yang terbaik.
"Gue bakal bunuh tuh, si Tesla! Lo milik gue, Nilan! Gue juga bakal ngebunuh bayi lo sama dia!" Furqon membentak.