
Nilan terbangun sambil memegang kepala yang terasa berat. Dia melepaskan tangan, lalu terkejut karena jari-jarinya berdarah, berarti keningnya yang berdarah. Apa yang terjadi sebelum dia pingsan, kini terlintas kembali di ingatan.
"Ya Tuhan! Furqon aslinya beda! Ternyata sikap baiknya cuma kepura-puraan aja, padahal mah aslinya busuk!"
Pipinya masih merasa perih karena tamparan Furqon, yang sebelumnya menodong dan memukul dahinya dengan pistol, sampai berdarah.
"Dia benar-benar kriminal dan gila!"
Kini dia melihat sekeliling, jadi sadar bahwa sedang di sebuah kamar tidur yang khusus, terbaring di kasur. Satu tangannya terborgol di tiang. Karena tirai jendelanya terbuka, dia tahu bawa di luar begitu gelap, jadi yakin hari itu sudah malam.
"Udah berapa lama nih gue pingsan?"
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Furqon masuk membawa nampan berisi makanan. Dia tersenyum melihat Nilan.
"Cie, udah bangun lo ternyata. Baguslah! Gue kira lo gak bisa bangun, karena pukulan gue terlalu keras," katanya, santai sekali.
"Dasar setan!" Nilan berbatin.
Dia ingin sekali berteriak, lalu menusuk mata Furqon dengan garpu. Namun, pikirnya, sulit memprovokasi orang seperti Furqon. Dia takut jika ancaman Furqon terbukti. Menurutnya, Furqon seolah pandai untuk terdengar serius. Dengan refleks, dia memegangi perut secara protektif.
Furqon kemudian melirik perut Nilan, lalu menyeringai.
"Jangan khawatir, Lan. Anak Tesla itu aman, setidaknya buat hari ini. Hahahah!"
"Dasar iblis," desus Nilan.
"Emangnya lo bisa apa?"
Furqon tersenyum sambil mendekat; Nilan meremas seperai tempat tidur.
"Gue bakal kasih lo obat aborsi," tambah Furqon.
Dengan ngeri, Nilan menatapnya.
"Mudah-mudahan ancamannya gak terbukti, karena kandungan gue ini baru 6 minggu, apalagi belum sepenuhnya berkembang!" dia pun berbatin kemudian bertanya, "kenapa lo bisa tau gue hamil?"
"Kalian ga tau klo gue ada di WC, karena terlalu fokus ngomong. Gue udah dengar semuanya. Jaid, silakan aja klo mau nyalahin takdir," jawab Furqon.
Dia kemudian terbahak seraya meletakkan nampan di meja samping, lalu duduk di sisi tempat tidur; mendorong; membungkuk; dan meraih wajah Nilan. Nilan berpaling.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan kasar Furqon menyentuh dan hampir menenggelamkan jari di pipinya.
"Kita bakal jadi pasangan yang sempurna, Nilan. Gue mau lo hamil anak gue."
Nilan menatap mata Furqon.
"Itu gak bakal terjadi! Gue gak mau kalo ...."
Plak!!!
Nilan menjerit, karena Furqon menamparnya lagi. Darah mengalir di bibirnya.
Furqon kemudian menarik rambut Nilan dengan paksa, wajah mereka berhadapan lagi. Mata Furqon menyala-nyala.
"Emangnya siapa yang lo mau? Anak Tesla itu?" ucapnya.
Nilan tak menjawab, hanya terus merintih kesakitan.
"Kenapa harus Tesla! Lagi-lagi dia!" Furqon berteriak, sangat jijik menyebut nama Tesla, "lo udah buat gue tambah benci sama dia. Asal lo tau, dia udah pernah tidur sama cewek yang gue suka. Kali ini, gue gak ngebiarin itu terjadi lagi. Gue bakal bunuh dia. Tapi sebelum itu, anak lo dulu yang gue bunuh, di depan mata lo," lalu mengelus pipi Nilan, "lo harus bersyukur, Nilan, soalnya bos gue suruh nunggu lo lahiran dulu, biar lebih terasa sensasinya."
"Ya Tuhan, di depan mata gue ternyata seorang iblis. Pikirannya udah bengkok! Gimana bisa dia mikir kek gitu? Dia nunggu bayi gue lahir, terus dia bunuh? Semarah apa dia ke Tesla sampai mau ngelakuin itu? Karena gue? Siapa pula bos yang dia maksud? Semakin lama mendengar ocehannya, gue jadi semakin bingung!" batin Nilan.
"Lebih baik gue mati daripada nikah sama lo!" Nilan menyahut dengan tatapan jijik, "apa dia gak jijik sama diri sendiri?" lalu membatin.
"Lo gak punya pilihan, Nilan!" jawab Furqon.
Dia mencengkeram wajah nilan dengan erat, lalu mencium dengan kasar.
Nilan melawan: menggigit bibir Furqon, sampai Furqon mengeluarkan darah dan berhenti mencium. Furqon menamparnya lagi.
Nilan melotot. Pipinya terasa mati rasa karena ditampar.
"Dasar ******!" Furqon memaki; meludah dan berdiri, "sekali lagi kayak gitu, gue gak bakal ragu ngebunuh bayi lo. Persetan sama rencana bos gue!"
Dia menatap Nilan lagi dengan tajam, lalu keluar dari ruangan; membanting pintu hingga tertutup.
Air mata Nilan langsung terlepas, malang sekali. Hanya gara-gara kecemburuan Furqon pada Tesla, bayi Nilan terancam. Nilan takbisa membayangkan, betapa gilanya jika kehilangan bayi.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menyeka pipi yang basah.
__ADS_1
"Gue gak boleh lemah. Kalo mau bayi gue aman, gue harus mikirin cara buat ngehindar dari dia!" batinnya.
Akan tetapi, hal pertama yang harus dilakukan adalah melepaskan borgol. Dia mencoba menariknya, ternyata malah semakin kencang. Dia pun melihat sekeliling, untuk menemukan sesuatu yang bisa digunakan. Pandangannya beralih ke nampan. Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di benak, karena melihat garpu. Dia berharap garpu ini bisa dimanfaatkan sebagai kunci. Namun, masalahnya posisi meja agak jauh, dan borgol membuatnya susah menjangkau. Bahkan, garpu tetap tak terjangkau meski dengan kedua kaki.
Dia jadi mengerang dan frustrasi.
"Seandainya ada cara, terus bisa nelpon ke luar buat minta tolong .... Nah!" dia ingat ada ponsel terselip, dalam saku rahasia gaun korsetnya, "mudah-mudahan Furqon gak tau!
Harapan meledak di dalam dirinya. Dengan satu tangan yang bebas, dia membawa ponsel ke bagian dada gaun; melirik ke pintu sejenak, untuk memastikan Furqon tidak menangkap jika tiba-tiba masuk.
Dia memeriksa ponsel: beberapa panggilan tak terjawab datang dari Hasmi.
"Mungkin, dia lagi khawatir sekarang," pikirnya.
Akan tetapi, dia bersyukur bahwa telepon dalam mode senyap, jika tidak, Furqon bakal mengetahuinya.
Dia buka kunci ponsel kemudian mengetik pesan. Jika menelepon Hasmi, dia takmampu mendengar Furqon. Jadi, pesan WA akan lebih aman. Beberapa saat pun berlalu, akhirnya pesan terkirim.
"Semoga Hasmi cepet baca sebelum terlambat!"
*
Nilan membuka mata, baru saja bangun dari tidur. Dia merasa begitu nyaman, lebih nyaman dari yang pernah ada selama hidup—itu karena ranjangnya sangat empuk.
"Eh, kapan ranjang gue bisa se-empuk ini?"
Bahkan, tubuhnya jadi terasa lebih segar.
Tanpa membuka mata, dia meremas bantal dan semakin mengeratkan pelukan, bahkan seperti takingin terbangun lagi. Aroma bantal membuatnya ingin terus mengendus.
"Oh Tuhan! Bau surgawinya bikin gue inget sama Tesla, benar-benar sama! Tunggu, jangan-jangan ... ah, gak mungkin! Gak mungkin sama, kecuali .... Tesla ...!?"
Matanya seperti ingun keluar. Dia baru sadar bahwa memang Tesla yang jadi bantal. Nilan ingin memastikan lagi, terapi kecepatan detak jantungnya mengaburkan pandangan.
"Kok gue tidur di atas dadanya?"
Sebelah tangan Nilan melingkari tubuh Tesla, sebelah tangan lagi memegangi bahu Tesla. Dagu Tesla di atas kepala Nilan, dan lengannya meliliti pinggang Nilan. Kaki mereka saling tumpang tindih.
"Dia ... dia ... dia telanjang!"
__ADS_1