
Sepanjang hari ini, Nilan sama sekali belum melihat Tesla. Sekarang hanya Yanra dan Hasmi yang mengobrol bersamanya. Kata mereka, Tesla sedang ada urusan dengan Wili dan Resma. Nilan sudah tak penasaran, karena menurutnya, ini masih berhubungan dengan kelompok preman. Namun, ada perasaan takenak dalam hatinya, atas ucapan yang kemarin dia lontarkan ke Tesla. Kata Hasmi, seorang preman sangatlah keren. Bahkan, dia selalu bersemangat saat diajari cara memegang senjata oleh Wlli. Ya, hanya dia yang pikirannya begini.
*
Sekarang sudah malam, Hasmi, Yanra, dan Nilan sedang makan bersama. Tiba-tiba, Wili dan Resma muncul di pintu, lalu segera bergabung.
"Wah, cuci tangan dulu sana!" tegur Nilan.
Dia menampar tangan Wili, yang hendak mengambil makanan, lalu memelototi.
"Ini punya gue, punya lo yang itu," dia berucap lagi seraya menunjuk ke nasi.
"Ish, pelit," sahut Wili.
Dia kini duduk di sebelah Hasmi, sedangkan Resma duduk di samping Yanra.
"Udah buat wanita hamil aja, Wil," ucap Yanra, "dia emang lagi sensitif."
"Sok bijak lo!"
"Gue emang bijak keles," Yanra membangga sambil menepuk dada, "lagian lo bakal ditembak sama Tesla, klo makanan istrinya lo rampok!"
Nilan mengernyit; melirik ke pintu, "Kalian gak sama-sama Tesla?" lalu bertanya.
Yang lain langsung menoleh.
"Emang kenapa?" Yanra menyahut, lalu menyeringai sambil mengunyah.
Karena bersebelahan, dia menabrak bahu Nilan, "Cie, Nyonya kangen sama Bos Tesla, ya?" lalu menggoda seraya mengedipkan mata.
Seketika bayi di perut Nilan menendang-nendang, jadi Nilan hampir tersedak.
"Diam lo, Ra. Gak mungkin gue kangen dia, sembarangan!" ucapnya.
Dia marah, dan menampik jika dikatakan sedang merindukan Tesla. Baginya wajar jika bertanya, karena mereka bilang, Tesla tadinya pergi bersama Wili. Pun, sudah lama dia ingin meminta maaf. Namun, bukan berarti dia setuju untuk tinggal bersama Tesla, karena masih mengira betapa konyolnya ide tersebut.
"Cih, dasar Yanra!" Wili teriak kemudian tertawa.
"Hahaha ...," tawa Resma.
"Ada masalah sama ketampanan gue, Wil?" Yanra menuntut dengan alis terangkat, tetapi malah langsung ditodong pistol, "eh, apa-apaan lo?!"
Mina menampar tangan Wili, yang sedang mengarahkan pistol ke arah Yanra.
"Turunin, Ayank," ucapnya, "kita lagi makan. Kita juga gak butuh otak Yanra pas keluar karena kamu tembak."
"Emang Yanra punya otak? Gak bakal ada otak yang keluar dari kepalanya nanti," Resma menambahkan sambil terus menyantap makanan.
"Terima kasih atas pujiannya," Yanra membalas dengan sarkastik, sambil memelototi Resma dan Hasmi.
Wili kini menjatuhkan pistol.
Nilan berdirindan hendak meninggalkan meja makan. Dia juga baru menyadari, bahwa Tesla adalah koki untuk para anak buahnya di sini—yang takbisa tenang saat makan bersama.
"Nilan," Resma memanggil.
"Ya?"
"Teala lagi sama Gesya sekarang, mungkin beberapa hari lagi mereka pulang ke sini."
"Siapa Gesya?"
"Adik laki-lakinya."
"Oh, gitu. Mumpung dia gak ada, gue boleh gak gue pulang gak?"
Wili menoleh ke Nilan, "Kami sih gak masalah, Lan. Tapi Tesla nyuruh buat ngawasin lo di sini," lalu berbisik, "jadi lebih baik, lo tetap di sini sampai dia balik."
Nilan pun langsung mendorong piring, dan sudah tidak bernafsu makan. Dia baru tahu, bahwa Tesla masih bisa memerintah meski sedang takada.
"Kenapa gue juga harus nurut sama dia? Dia kan bukan bos gue!" batinnya.
Akan tetapi, Wili bukan orang yang bisa diajak bekerja sama. Kesetiaannya pada Tesla sudah takbisa Nilan ragukan.
Sekarang Nilan tak berniat lagi melarikan diri. Karena teringat apa yang diceritakan Yanra, dia takut apa yang terjadi pada Eva Pundalisa akan terulang, padanya, jika jauh dari Wili.
__ADS_1
Dia berdiri kemudian mendorong kursi ke belakang.
"Mudah-mudahan Teala pulang cepet. Gue gak mau lama-lama tinggal di sini," ucapnya, "gue mau tidur dulu."
Pintu kamar Tesla terbuka, Nilan jadi tergoda untuk masuk. Lebih-lebih, dia memang lebih suka kamar Tesla daripada kamar yang lain.
Jarum pada jam dinding menunjukkan pukul 10 malam.
Kini dia sedang asyik menggeliat. Tiba-tiba, ada sesuatu yang dia dengar seperti sedang masuk. Dia pun menyalakan kap lampu, cahaya redup segera menyelimuti ruangan. Akhirnya dia melihat bahwa orang ini adalah Tesla, yang berjalan menuju lemari.
Keningnya jadi berkerut.
"Lah, kok dia malah muncul?" batinnya.
"Tidurlah, Es Krim," ucap Tesla.
Dia memunggungi Nilan, menghadap lemari; mengambil pistol dari saku belakang celananya, lalu memasukkannya ke dalam lemari; melepas kaos, celana ....
"Ya Tuhan!" batin Nilan.q
Dengan mata melebar, "Ma mau ngangapain lo?" dia berteriak, "kenapa buka baju di depan gue!?"
Mau tak mau, dia melihat tubuh Tesla yang hanya mengenakan Boxer. Matanya menjelajah dari tengkuk Tesla yang bertato, turun ke punggung, lalu turun ke ikat pinggang celana.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh, Es Krim!" sahut Tesla.
"Ish, apaan sih!"
Nilan mengalihkan pandangan, malu, jadi berpaling ke tempat tidur. Tesla tertawa pelan. Nilan mendengar suara pintu terbuka, lalu tertutup. Beberapa saat berlalu, tersengar suara guyuran air di kamar mandi.
Nilan mengigit bibir bawah, lalu manarik selimut hingga dagu; menutupi wajah dengan bantal, sehingga takada lagi mendengar suara kamar mandi. Dia mencoba memejamkan mata untuk kembali tidur, tetapi rasa kantuknya seolah telah hilang, malah mencium bau Tesla di bantal. Kemarin-kemarin, dia langsung ketiduran karena bau Tesla, sedangkan sekarang malah sebaliknya.
30 menit berlalu.
Tesla menarik bantal dari wajahnya.
"Tesla! Itu punya gue!"
Nilan menyipitkan mata sambil menatap Tesla, yang kini memegang bantal dan tersenyum. Rambut Tesla masih basah, dia juga masih telanjang dada dan hanya memakai Boxer.
Nilan semakin terkejut karena Tesla mengangkat selimut, lalu meluncur ke samping Nilan.
"Eh, minggir! Lo gak boleh tidur di sini!"
Dia mendorong tubuh Tesla.
"Klo dia di sini, gue gak bakal bisa tidur. Ngeganggu aja!" batinnya.
"Yaelah, Es Krim. Ini kan kamar saya," Tesla memprotes.
Nilan melipat tangan, menatap dengan tajam.
"Selama gue tinggal di sini, kamar ini punya gue. Lo cari kamar sendiri sana!"
"Lah? Kok kamu ngusir saya dari kamar sendiri?"
"Bodo amat."
Tesla tak menjawab, melainkan hanya menutup mata dengan lengan.
"Dia ni gak denger apa cuma pura-pura?" Nilan berbatin.
Sambil menggertakkan gigi, dia berlutut kemudian mendorong Tesla agar turun dari kasur, tetapi gagal. Bahkan, Tesla tak terguncang sama sekali.
Nilan mencobanya lagi, tetapi malah kehabisan energi dan takada yang terjadi. Karena kesal, dia mengambil bantal kemudian menampar Tesla.
"Kenapa sih, Lan!?" Tesla terkejut, lalu menatap Nilan dengan tatapan jahat.
"Keluar!" perintah Nilan.
"Gak mau!"
Tesla berbaring lagi.
"Gue gak biasa tidur berdua sama cowok!"
__ADS_1
"Lah, bukannya semalam lo tidur sama gue?"
Nilan jadi merengut, "Ngomong apa dia? Maksudnya, gue suka meluk dia gitu? Lah ... bukankah dia juga sama?!" lalu berbatin.
"Yaudah, kalo gitu lo tidur aja sendiri di sini! Gue mau cari kamar lain," dia kini merajuk sambil mengambil boneka beruang raksasa, lalu turun dari ranjang.
Akan tetapi, Tesla mencengkeram tangannya, "Jangan ke mana-mana, Lan, di sini aja. Biarin saya di sini, sebentar aja. Nanti juga saya pergi lagi," lalu berkata.
Nilan menghela napas; melepaskan tangan, lalu kembali ke tempat tidur. Dia pun menarik selimut sampai ke dagu.
"Awas kalo nanti lo gak pergi," ancamannya.
Tesla tertawa, "Gak sabaran banget sih?" lalu mengiyakan.
"Jelaslah!" sahut Nilan yang kini memunggungi Tesla, sambil memeluk boneka beruang, "kenapa lo pulang? Katanya lo pergi beberapa hari ke depan?"
"Saya pulang cuma mau meriksa kamu."
Nilan menyipitkan mata.
"Gak usah khawatir, Tesla. Gue gak ada niat buat kabur. Tapi bukan berarti gue setuju tinggal sama lo."
"Gak usah banyak ngebantah, Es Krim."
Nilan pun tersentak karena lengan Tesla sudah di pinggangnya.
"Ih, apaan sih!" serunya.
Tesla tak menjawab, melainkan menarik Nilan lebih dekat, lalu mengeratkan pelukan. Dagunya diletakkan di bahu Nilan.
Nilan terpaku, merasa seperti tersengat listrik, apalagi posisinya semakin intim, jadi merasa canggung sekali.
"Tesla!"
"Cuma sebentar, Es Krim," Tesla bersuara seperti mengantuk, "saya suka aroma tubuh kamu, jadi gampang tidur nyenyak," lalu mengendus-endus leher Nilan.
Nilan menggigit bibir bawah, merasakan sensasi yang dilakukan Tesla. Bulu roma di lehernya berdiri, karena merasakan napas Tesla.
"Dia sadar gak sih? Nyaman banget tau kayak gini ni!" batinnya.
Meskipun canggung, dia takbisa mendorongnya. Mereka berdua sama saja. Nilan mudah tertidur karena mencium bau Tesla, bahkan merasa rileks dan aman.
"Kayaknya gue gak cuma suka sama masakannya, tapi sama aroma badannya juga."
Dia menguap, lalu membenamkan wajah di bantal, seraya merasakan keberadaan Tesla selama beberapa menit. Tesla hanya diam, tetapi Nilan merasakan napasnya. Dia takyakin apakah Tesla sudah tidur.
"Dah pulas ni orang."
"Ya? Kenapa, Es Krim?" Tesla menyahut, lemah.
"Maaf, gue pernah bilang ****** sama kakak lo."
"Gak papa. Kamu kan emang gak tau."
"Tapi ...."
"Gak apa-apa, Nilan. Tidurlah," Tesla menyela, "jangan khawatir, nanti saya pergi satu jam lagi," lalu mengelus perut Nilan, "Debay Sayang bobo ya ...."
Bagi Nilan, gestur Tesla begitu manis, seolah-olah sedang membelainya sampai ke dalam hati. Meski baru sehari Tesla tahu kehamilan Nilan, dia sudah mengajak si bayi berbicara. Nilan pun tersenyum dan menangis.
"Kamu nangis?" tanya Tesla, "ada masalah?"
"Gak papa," Nilan menjawab sambil menghapus air mata, "gak usah sok peduli. Ini cuma pengaruh hormon kehamilan, Bodoh!"
Tesla pun menghela napas; menggeleng, lalu berbaring lagi, merebut posisi sebelumnya. "
"Maaf ya, kalo saya buat kamu kesal."
"Gak kok biasa aja."
"Iya tau, itu hormon yang bilang."
Nilan tak mau menjawab lagi, melainkan hanya menguap.
Tesla memeluk lebih erat, lalu membantingkan wajah ke leher Nilan.
__ADS_1
"Tidur," ucapnya.
Nilan pun seketika tertidur.